Mimpi di telaga kearifan


Oleh: Muhlis H. Pasakai

Aku pernah bertanya apakah optimis itu?. Apakah keraguan sedang menghantui harapan dan cita-citaku?. Setumpuk uraian terjemah kamus dan kalimat-kalimat bijak motivator hanya menggantungku ditengah iman dan keputusasaan, dibelantara kata-kata dunia. Akankah aku mengembara di padang halusinasi untuk menjawab tanya yang genting itu?, hingga berujung dibalik jeruji akal yang memenjaraku dari hirauan orang-orang?.

Aku kadang menghela nafas yang panjang, menanti lakon deret cerita yang kurangkai di khayalku. Aku harus sadar semuanya hanya nafsu dan angan-angan belaka. Tahun ini adalah puncaknya, tatkala lembaran cita yang kutumpuk lapuk bersama datangnya musim hujan. Semuanya terasa berakhir ketika harus mengakhiri perjalanan diujung seragam putih abu-abu. Tak banyak yang bisa kulakukan, orang tuaku tak berdaya melanjutkan sekolahku.

Dihari pengumuman, betapa bahagianya aku dapat melihat namaku ada dalam daftar kelulusan. Gegap gempita kegembiraan meliputi suasana sepanjang hari itu. Konvoi pelajar yang meluapkan kegembiraannya mewarnai lalu lintas sejak pagi hingga sore hari. Namun justru disitulah awal keterasinganku, ketika teman-teman dekatku yang selama ini selalu bersamaku berbagi dan bercanda akan segera meninggalkanku. Mereka akan memulai kisah baru, merasakan kehidupan kampus yang juga selalu kurindukan. Hanya menyisakan kenangan baju putih yang dipenuhi bercak warna, momen paling terakhirku berkumpul dan tertawa. Aku sangat sadar setelah ini kami akan hidup dijalan yang berbeda. Aku juga begitu mengerti dunia mereka kelak adalah dunia kaum intelektual, cara berpikir dan pergaulannya jauh berbeda denganku. Aku juga menyadari kelak banyak diantara mereka yang tak lagi menghiraukanku, bahkan mungkin seakan tak pernah mengenalku. Aku sadar akan semua itu.

Dimasa-masa awal memasuki kehidupanku yang sesungguhnya, disitulah aku merasakan betapa sakitnya potensi yang kumiliki tidak disalurkan pada tempatnya.

Tahun lalu, aku mencoba mengobati luka perasaan yang menganga ini dengan mengikuti sebuah pendidikan profesi satu tahun di daerahku, kabupaten Sinjai. Berharap dari lembaga kursus ini aku dapat menemukan kembali simpul-simpul ambisi yang telah kubangun dikepalaku. Walaupun pilihan ini sepertinya menjadi pelarian dari duka yang menyengat hasratku, aku mencoba menggelutinya dengan penuh harap. Tak terlalu jelas arah yang akan kutuju. Hanya satu hal yang membuatku lebih hidup, kursus yang kuikuti ini adalah komputer dan bahasa Inggris, kemampuan yang memiliki magnet didunia kerja.

Satu tahun berselang, masa kursuskupun menjelang usai. Untuk mengenalkan penerapan pada dunia kerja, kami di PKLkan diintansi-instansi negeri maupun swasta, disitulah aku mendapatkan sedikit pengalaman dan honorarium, proyek SUSENAS (Survei Sosial Ekonomi Nasional) BPS waktu itu.

Setelah menuntaskan kursusku, aku dihampiri pilihan baru. Penerimaan Mahasiswa Pendidikan Olahraga Diploma Dua di UNM. Setahun tinggal bersama dikampung, orang tuaku sepertinya sudah begitu paham kondisi hari ini, aku harus dipacu untuk tidak senasib dengan mereka. Walaupun aku hanya mencoba mengalir mengikuti setiap peluang yang ada, aku selalu mencoba berprasangka baik apapun pintu yang kumasuki, kelak aku akan menemui mimpi-mimpi yang telah kususun apik didiary masa depanku. Akhirnya aku tak melewatkan kesempatan itu. Aku mengikuti semua seleksi dari tes tertulis hingga praktek dilapangan, satu yang tak terlupa olehku saat itu aku meraih angka tertinggi untuk poin kelenturan.
Beberapa hari kemudian pengumuman kelulusan sudah dapat dilihat di kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Sinjai. Aku tak sabar ingin melihat namaku disitu. Sayang, nama “Muhlis” tak tertulis di kertas pengumuman itu.

Aku merasa cukup kuat untuk menelan kegagalan ini. Hanya saja, didepan jalan buram kembali mengintai harapan-harapan yang telah kupintal perlahan. Setelah kegagalan seleksi di UNM itu, aku tak tahu jalan apa lagi yang akan kutempuh untuk mengait sisa-sisa harapan yang masih tertinggal dihari-hari ini.

Hari yang telah berlalu sudah begitu banyak. Pergantian tahun dari 2005 ke 2006 rasanya baru saja kemarin. Harapan yang kunanti dibalik mimpi memang tak kunjung datang. Sepertinya inilah tahun terakhirku untuk berharap banyak di pendidikan formal.

Aku mencoba bijak menyikapi semua keadaan. Di rak-rak bukuku yang reok itu masih tersusun tak rapi buku-bukuku. Didinding papan tak bercat rumahku juga msih tergantung radio kuno. Aku mencoba menyapa mereka. Sudah beberapa pekan ini aku tak akrab dengannya, padahal mereka itulah yang setia menemaniku selama ini. Ada buku-buku yang memiliki nilai kenangan yang kadang membuatku tertawa sendiri. Ada juga buku-buku pelajaran yang menjadi teman diskusiku. Radio, walaupun sudah berumur tua, masih sanggup menyiarkan stasiun radio andalanku ‘smart fm’. Aku hampir lupa dengan kesetiaan mereka. Aku akhirnya sadar, betapa mereka inilah yang selalu hadir mengisi kebutuhan-kebutuhan intelektual dan wawasanku.

Aku mundur lebih dekat, melihat ramainya anak-anak yang sedang asyik bermain di lingkunganku, menggambarkan sebuah keelokan lingkungan yang asli. Ternak-ternak ayamku yang ribut menyambut pagi. Teman-temanku yang intim dibalut canda dan riuh. Masih banyak lagi tatanan kehidupan kecil-kecil yang indah rupanya. Melihat semua itu, aku menjadi tertarik untuk tidak menghabiskan waktuku menyibukkan diri dalam penantian mimpi.

Akhirnya aku menyimpulkan, segala bentuk keterbatasan dapat diterjemahkan berbeda. Banyak hal yang bisa dinikmati dalam keterbatasan itu. Ada nilai-nilai juang, keremehan, dan ketakberdayaan yang bisa menjadi sebuah kelucuan-kelucuan yang memancing gelak tawa.

Begitu pula untuk menikmati semua mimpi-mimpi indah kita, rupanya tidak harus dijumpai dengan rupa aslinya. Bermimpi indah saja sanggup membawa kita kesebuah ruang rasa yang cukup hangat untuk semangat hidup kita. Betapa sempitnya dunia ini jika mimpi indah hanya milik orang-orang tertentu saja.

Terakhir, nampaknya soal mimpi indah ini akan berujung pada sebuah rasa. Siapapun ia, ketika sedang bermimpi, pasti muaranya menginginkan yang namanya rasa ini. Hidupnya terasa tenang dan tenteram. Lebih dekat lagi, rasa manis dan gurih dapat dinikmati dilidahnya. Jika kita memperhatikan, soal ketenangan dan ketenteraman hidup ini, rasa-rasanya tak ada alat ukur yang super pasti menyebut ini orangnya. Orang yang tenang dan bahagia hidupnya, justru biasanya adalah klaim dari orang-orang yang melihatnya, sehingga ketika ada orang yang mengatakan ‘betapa bahagianya anda ini’, pasti jawabannya ‘ah..tidak juga, biasa-biasa saja’. Itu artinya tenang dan bahagia ini memang tak dapat didefinisikan secara mutlak, apalagi wajib dirumuskan melalui autentitas kematerian. Jikalau demikian, dapat dipastikan soal tenang, tenteram dan bahagia ini adalah konsumsi rasa, maka untuk menciptakan ketenangan dan kebahagiaan ini, ciptakanlah rasa tenang dan bahagia. Jika kita melangkah, tentang manis dan gurihnya cicipan dilidah, maka ini juga konsumsi rasa. Makanan menjadi manis atau pahit atau gurih karena perasaan kita. Artinya, walaupun makanan itu manis dilidah orang, jika perasaan kita pahit, maka pahitlah makanan itu bagi kita. Jika manis yang dirasakan oleh sang presiden dengan mencicipi gula, lalu gula yang kita cicipi juga terasa manis, maka perasaan kita dengan sang presiden itu sama. Kalau begitu, kita telah merasakan seperti orang-orang besar merasakan. Justru jika kita memperhatikan, banyak diantara orang-orang yang disebut bahagia karena kelimpahan harta benda dan kekayaannya tidak dapat lagi merasakan rasa manis dan gurih seperti dilidah kita karena mendertia penyakit ‘dilarang makan’ yang enak-enak. Jadi, betapa bahagianya kita yang menyadari hal ini.

Sebagai penutup, ‘kita semua menginginkan perubahan, tapi untuk menikmatinya, tidak harus menunggu sampai kita berubah, sebab nafas tak pernah mengikat kontrak dengan perubahan’.

Sinjai, 2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: