Mengapa Saya Berpoligami?

poligami-2Oleh: Muhlis Pasakai

Anita, mahasiswi tingkat akhir yang dikenalkan padaku menjelang rencana pernikahanku tahun itu. Orang yang dikenal baik orang tuanya di keluargaku. Orang berada yang hidup dalam lingkungan keluarga yang serba mewah.

Jujur, aku belum sepenuhnya siap untuk menikah saat itu. Apalagi, sesungguhnya dia bukanlah kriteria perempuan yang kuidamkan. Sebagai seorang aktivis di salah satu NGO, tentu saya mendambakan pendamping hidup yang berjiwa aktivis pula, cerdas, paham agama, dan bisa memahami kondisi keluargaku.

Hal itu sudah kuutarakan pada ayah-ibuku, tapi simpati orang tuaku pada ayahnya yang dermawan mengalahkan alasanku.

Read more of this post

PERJUANGANMU YANG TAK BERGEMING

Oleh: Muhlis Patunru

ust.said

Tergagap, hasad, terpojok, dipermalukan, tokoh takfiri. Seperti itulah diantara tulisan-tulisan orang syiah yang sering dialamatkan kepadanya. Dahulu kami sering mendengarkan materi-materi ceramah yang disampaikan beliau yang berkisar seputar kesabaran atau tazkiyatun nufus, namun entah kenapa setelah gelombang syiah mulai menampakkan “agresinya” di kota Makassar, tiba-tiba putar haluan menghabiskan hampir seluruh energinya untuk menghalau gelombang syiah yang dikomandoi oleh Jalaluddin Rakhmat seorang sosok yang berpamor di negeri ini, terlebih lagi setelah terbentuknya LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam) perwakilan Indonesia Timur dimana beliau diamanahkan menahkodai lembaga yang konsen dalam masalah aliran sesat itu.

Read more of this post

Kesenjangan Kesehatan dan Egalitarianisme

Oleh: Muhlis Pasakai

index

Kesehatan merupakan nikmat terbesar setelah Iman dan Islam. Begitulah yang disebutkan dalam salah satu hadits riwayat Abu Dawud yang berbunyi “Mohonlah kepada Allah kesehatan (keselamatan), sesungguhnya karunia yang lebih baik sesudah keimanan adalah kesehatan (keselamatan)”. Mungkin itulah mengapa dalam hadits yang lain dikatakan bahwa “Barangsiapa di antara kamu masuk pada waktu pagi dalam keadaan sehat badannya, aman pada keluarganya, dia memiliki makanan pokoknya pada hari itu, maka seolah-olah seluruh dunia dikumpulkan untuknya”(HR. Ibnu Majah). Bahkan dalam dzikir pagi petang kita memohon kepada Allah keselamatan (kesehatan) badan, penglihatan dan pendengaran.

Read more of this post

Mereka Cari Jalan, Bukan Cari Uang

renaldRhenald Kasali*

Duduk di depan saya dua perempuan muda. Mereka sarjana hukum lulusan UI. Wajah dan penampilannya dari kelas menengah, yang kalau dilihat dari luar punya kesempatan untuk “cepat kaya”, asal saja mereka mau bekerja di firma hukum papan atas yang sedang makmur, seperti impian sebagian kelas menengah yang memanjakan anak-anaknya.


Namun, keduanya memilih bergabung dalam satgas pemberantasan illegal fishing yang dipimpin aktivis senior Mas Achmad Santosa. Dari foto-foto yang ditayangkan presenter Najwa Shihab dalam program Mata Najwa, tampak mereka tengah menumpang sekoci kecil mendatangi kapal-kapal pencuri ikan. Dari Ambon, mereka menuju ke Tual, Benjina, dan pusat-pusat penangkapan ikan lainnya di Arafura.
Read more of this post

Opium Intelektual

suntik-silikon3Oleh: Muhlis Pasakai

Jalaluddin Rahmat, gembong syiah Indonesia dalam dialog sunni-syiah yang diselenggarakan di UIN Alauddin Makassar pada 24 Februari 2011 M./ 21 Rabi’ al Awwal 1432 H. mengutip perkataan salah seorang tokoh pendidikan Jerman yang mengatakan bahwa pendidikan adalah apa yang masih kita miliki setelah sebagian besar kita lupakan1.

Read more of this post

Untukmu Sang Bidadari

mtOleh: Muhlis H. Pasakai

Dalam salah satu surat Kartini yang ditujukan kepada Nyonya R.M. Abendanon atau Mandri pada agustus 1900 dibuka dengan kalimat: Bahasa apakah yang dapat kita kuasai untuk mengungkapkan perasaan? Sepertinya bahasa semacam itu tidak ada1.

Mungkin seperti itulah beratnya menggunakan kosa kata yang tepat untuk menjelaskan keputusanku dahulu, hingga redaksi apapun yang kugunakan dalam pesan singkat itu tak sanggup menjelaskan perasaanku yang sesungguhnya.

Read more of this post

Engkau Telah Pergi  

Oleh: Muhlis H. Pasakai
by
Remang-remang masa lalu melagukan irama
Sebuah puncak penantian ditelan hitam
Simfoni perpisahan beralun sendu
Mentari suci berdepak-depak
Nyanyian puing-puing harapan
Meninggalkan perang mendera
Read more of this post

Pandangan Prof. DR. H. Muhammad Galib M., M.A* tentang syiah

syOleh: Muhlis Pasakai**

Prof. Muhammad Galib, sebagai seorang tokoh agama dan guru besar sekaligus unsur pimpinan di Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan, tentu masyarakat membutuhkan kejelasan dan ketegasannya dalam menilai pemahaman syiah yang merebak khususnya beberapa daerah di Indonesia dibawah motor IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia) dan organisasi-organisasi yang berafiliasi dengannya.

Read more of this post

TANGGAPAN TERHADAP PANDANGAN PROF. DR. H. MUHAMMAD GALIB M., M.A TENTANG SYIAH

11إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

OBJEKTIFITAS DAN KEBERIMBANGAN

Secara umum kami menilai bahwa objektifitas prof. ghalib kurang baik ketika menjelaskan permasalahan syiah ini. Hal ini disebabkan karena kunjungan prof ghalib ke Iran bukanlah murni perjalanan menelaah tentang ajaran ini untuk membandingkannya dengan ahlus sunnah. Perjalanan tersebut hanya sekedar memenuhi undangan organisasi di Iran yang tentu memiliki tujuan tersendiri. Setahu kami pula, seluruh biaya dan akomodasi dari keberangkatan hingga kembali ditanggung oleh organisasi di Iran tersebut ditambah ‘uang saku’ yang terbilang tidak sedikit. Hal ini minimal akan membuka pintu adanya ‘utang budi’ sang professor kepada pihak syiah di Iran. Hasilnya, dapat berupa keperpihakan terhadap ajaran ini, baik secara tegas ataupun tidak. Hal ini terlihat dari kekaguman beliau yang (kami anggap) berlebihan ketika membandingkan ulama ahlus sunnah dengan ulama syiah secara umum.

Read more of this post

Jenggot dalam sebuah ulasan lepas

Oleh: Muhlis Pasakai

 

jenggotEntah apa yang melatar belakangi, akhir-akhir ini jenggot sering menjadi tema perdebatan khususnya dikalangan intelektual muslim. Dalam sepanjang catatan perdebatan yang pernah terjadi di negeri ini, tema ini baru mencuat beberapa waktu terakhir ini-setidaknya yang penulis ketahui-. Mulai dari perdebatan ringan di arus bawah, perang argumentasi via medsos (media sosial), polemik di media massa, hingga dialog resmi yang dibanjiri peserta.

Read more of this post

Menghidupkan Tradisi Debat

debatOleh: Muhlis Pasakai

Situs inilah.com pernah memuat artikel berseri Wakil Menteri Agama RI, Prof. Nasaruddin Umar yang bertemakan pentingnya dialog dengan judul Allah Menyukai Dialog. Sub-sub judul artikel itu adalah: The Power of Dialog, Berdialog dengan Manusia, Berdialog dengan Iblis, dan Berdialog dengan Malaikat. (www.inilah.com, diakses pada Minggu, 16 Februari 2014-12:23 WIB).

Ada beberapa kata yang similar dengan kata dialog, seperti diskusi, polemik dan debat. Dalam kamus-kamus Bahasa Indonesia, dialog sendiri sederhananya adalah sebuah percakapan atau dalam Bahasa Arab dikenal dengan hiwar. Diskusi merupakan sebuah pertemuan ilmiah untuk bertukar pikiran memecahkan suatu masalah. Debat adalah pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing. Sementara polemik sering diartikan sebagai perdebatan mengenai suatu masalah yang dikemukakan secara terbuka dalam media massa atau biasa juga disebut telediskusi.

Read more of this post

Traditional Story: Dari Nonton Bareng Hingga Berburu Ayam

imagesOleh: Muhlis Pasakai

TV One pernah menyiarkan berita tentang seks dan remaja yang mengungkapkan sebuah hasil penelitian bahwa sekitar 62% remaja di Indonesia tidak lagi perawan. Salah satu faktor penyebab pergaulan bebas remaja yang dimuat dalam berita tersebut adalah “masyarakat yang semakin individualistis”.

Individualisme belakangan ini memang semakin terasa. Ketidakpedulian, kehidupan yang semakin kompetitif, mungkin sebagai akibat dari pengaruh kapitalisme, perkembangan media sosial, dan liberalisasi diberbagai bidang kehidupan.

Sikap individualis atau egoisme masyarakat merupakan salah satu potensi besar pemicu konflik horisontal.

Read more of this post

Tikus Naas dan Senapan Frustasi

tikusOleh: Muhlis Pasakai

Entah sudah yang keberapa kalinya senapan angin itu kucerca. Sudah berkali-kali aku dikecewakan olehnya, terkadang bidikanku hampir 100% mengenai target, tapi eh tiba-tiba pelurunya nyangkut, dan akhirnya meloloskan sasaran.

Walaupun senapan itu telah banyak melumpuhkan binatang pemangsa ternak, sudah tak terhitung binatang sejenis biawak, tikus dan pemangsa ternak lainnya yang berakhir di ujung senapan ini, tapi akhir-akhir ini tembakan seringkali mengalami kegagalan.

Read more of this post

Selera Makan Ayam

aymOleh: Muhlis H. Pasakai

Untuk yang kedua kalinya, sebuah tulisan diangkat dari potret kehidupan sosial bangsa ternak, ayam. Bukan sebuah profesi, tapi hidup ditengah-tengah populasi ayam menjadi sebuah kegemaran. Berinteraksi dengan ayam yang beragam watak dan fisiknya memiliki daya hibur tersendiri.

Sejak dahulu, memelihara ayam kampung sudah menjadi aktivitas tak terpisahkan. Bangsa ternak ini sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Banyak hal yang telah kami elaborasi dari kehidupan mereka. Kali ini, ada watak sosial yang menarik untuk ditengok dari pergumulan “chicken society”, yaitu soal selera makan.

Read more of this post

Jauh Mimpiku

manfaat-mimpi-saat-tidurOleh: Muhlis H. Pasakai

Memang dahulu aku tak pernah bercita-cita mengenyam pendidikan hingga setinggi ini. Menyelesaikan pendidikan di sekolah dasar saja terasa sangat melelahkan. Pendidikan menengah pertama selesai dengan terlunta-lunta, bahkan nyaris tak tersentuh. Entah apa yang menggerogoti pikiranku saat itu hingga tak secuil pun yang mendorongku untuk mencintai kosa kata “terpelajar”. Bisa jadi lingkungan, atau memang kesadaran orang tuaku tentang pendidikan yang belum memadai.

Read more of this post