Hasil karya, renungan, dan sentuhan nurani sang anak bangsa yang hidup ditengah keterpurukan sosial..

Hal-hal kecil seringkali dilalaikan dan dilupakan sementara yang kecil-kecil itulah yang seringkali mengorbankan betapa banyak kebahagiaan yang besar-besar. Logikanya, mengurus yang kecil-kecil saja susah apalagi yang lebih besar.

Melihat dan mengakui kesalahan saja begitu sulitnya, sementara kekurangan dan kesalahan orang lain begitu mudahnya dikritisi. Melempar senyum dan mengucapkan terima kasih saja begitu mahalnya, padahal senyum dan terima kasih itu sendiri betapa nikmatnya. Satu kesalahan saja yang diperbuat seseorang harus menghapus seribu macam kebaikannya. Belum lagi anak-anak yang memperbudak kedua orang tuanya, dan masih banyak lagi fenomena-fenomena yang harus terlewatkan begitu saja seakan-akan tak berarti. Ironisnya lagi, hal-hal semacam ini kadang-kadang terjadi bukan tanpa disadari.

Kadangkala kelebihan satu manusia itu dijadikan untuk melihat kelemahan dan kekuarangan orang lain, sehingga tidak sedikit kekurangan pada satu manusia itulah yang menjadi sekat diantara mereka. Prinsip kebersamaan sedikit demi sedikit akan habis dikorupsi oleh yang namanya kompetisi yang dilatarbelakangi oleh kemajuan IPTEK(Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) sehingga pada akhirnya nilai kebersamaan tinggallah jasad yang hampa karena disubtitusi ke kompetisi. Sayang sekali, kompetisi hanya seringkali mengakibatkan kesenjangan sosial yang tajam. Kalau begitu, mengapa harus berkompetisi kalau bisa maju bersama. Persoalannya adalah naluri manusia untuk menjadi yang terhebat masih saja menghantui sehingga saling menjatuhkan seakan-akan sudah menjadi sebuah seni dan hobi. Untuk menjadi yang terhebat memang tidak disalahkan, tetapi buat apa menjadi jawara kalau harus hidup sendiri diantara sejuta bangka-bangkai busuk musuh. Persoalannya berikutnya adalah perbedaan-perbedaan yang masih terus saja menjadi jurang pemisah yang pada akhirnya menimbulkan konflik sosial yang hanya berujung pada krisis multidimensi. Tidak pernahkan manusia itu memikirkan betappa indahnya kehidupan seandainya manusia itu saling menciptakan kemudahan-kemudahan diantara mereka. Tidakkah manusia itu malu pada hewan dan mahluk lainnya disekitar mereka yang begitu patuh pada hukum alam dan justru bisa melahirkan simbiosis mutualisme dari perbedaan-perbedaan.

Kesimpulannya adalah manusia di zaman sekarang yang peduli terhadap sesamanya sudah mulai bisa dihitung jari. Alasannya adalah mengurus diri sendiri saja belum mampu apalagi mengurus orang lain. Kalau manusia beralasan seperti itu, lalu kapan waktunya untuk berbuat?. Persoalannya adalah waktu tidak akan menunggu dan hari esok belum tentu datang.

Esai ini kutulis dihari-hari pertamaku menyandang status mahasiswa, melihat kelamnya kehidupan sosial dan krisis solidaritas (ukhuwah)yang menggerogoti setiap lapisan masyarakat. Tulisan ini kurangkai ditengah berbagai tekanan sosial yang timpang, sebagai lukisan rasa orang kecil.

Muhlis
Makassar, 2007

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: