Namaku Labbida

Oleh: Muhlis H. Pasakai

Kisah ini terjadi dari masa SMPku beranjak usia SMA.

Labbida adalah sebuah bahasa daerah (bugis) yang berarti orang yang selalu memakai sarung (mabbida). Mabbida artinya melilitkan sarung pada pinggang sehingga berfungsi sebagai celana yang mirip rok.

Bagi teman-teman, sebutan inilah yang cocok dan paling fasih untuk saya. Bukan tanpa alasan, hampir setiap sore atau malam hari, atau kadang disaat masih pagi ketika kami berkumpul, satu hal yang selalu berbeda dari kami yaitu ketidak alpaannya busana khas saya yaitu sarung. Tidak cukup sampai disitu, hampir sepanjang hari, dirumah atau dimanapun tak pernah lepas sarung yang terus melilit setia menemani hingga hari berganti malam.

Kebiasaan yang unik ini terus berlangsung dalam waktu yang sangat lama sehingga pertama kali sebutan “Labbida” akhirnya keluar juga dari mulut seorang sahabat yang bernama Mail atau sering saya panggil fudu. Sebutan Labbida ini akhirnya menjadi masyhur dan tenar di kalangan teman-teman sebayaku.

Sore hari adalah waktu yang paling indah untuk kami ngumpul bareng. Duduk sambil bercanda tawa membawa kami mencicipi nikmatnya kebersamaan. Namanya juga remaja, selalu ingin tampil keren sehigga waktu ngumpul inilah tempatnya untuk unjuk kekerenan itu. Mulai dari pakaian, asesoris, kosmetik, sampai pada parfum dan wewangian lainnya menjadi sasaran empuk demi untuk memenuhi kebutuhan di usia ini yang namanya keren, gagah, dan tampil trendy. Berbeda dengan seorang Labbida yang sampai di usia ini masih setia dengan sarungnya. Jangankan parfum, shampo saja menjadi sesuatu yang asing jika menyentuh rambut ubananku. Yang membuatku bangga adalah walaupun dengan keunikan yang kekunoan ini tak sedikitpun teman-temanku merasa terganggu ketampanannya dengan kehadiranku bersama mereka, bahkan tak lengkap nampaknya memajang kegagahan di pinggir jalan itu tanpa kehadiranku. Sepertinya kehadiran orang yang tak keren dan tidak tampil gaul seperti saya justru menambah saja kegagahan dan ketampanan teman-teman yang bersamaku karena dengan sendirinya saya akan tereliminasi dari pandangan gadis-gadis imut yang sedang lewat di depan tempat gaul kami.

Sudah menjadi nilai lebih bagi kawan-kawanku jika bersama saya karena penampilan dengan mabbida ini membuat mereka kehilangan saingan untuk nampang gagah di pinggir jalan. Rupanya dengan kekunoanku itu telah memberikan kesempatan kepada teman-temanku untuk merasakan kenikmatan dalam memenuhi hasrat jiwa keremajaan yang selalu ingin tampil lebih tampan ditengah rekan-rekannya.

Untuk membuat orang senang ternyata tidak harus selalu menjadi orang hebat…

Makassar, 2007

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: