Perspektif…Budaya Demo Mahasiswa

Tahun Seribu Sembilan Ratus Empat Puluh Lima, Indonesia Merdeka. Sebuah konstitusi disahkan oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 yang ditujukan untuk menjadi cetak biru penyelenggaraan negara yang demokratis yang disebut UUD 1945. Dalam UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945 telah tertuang secara tekstual pasal yang membuka ruang untuk memberikan kebebasan berpendapat baik lisan maupun tulisan. Setelah empat kali amandemen sejak tahun 1999-2002, pasal ini tak sedikitpun mengalami rekonstruksi yang dimaksudkan untuk mengubah maksud harfiahnya sekalipun. Adapun pada amandemen kedua yang menjadikan pasal 28E ayat 3 dari pasal 28 sebelumnya hanya terdapat perubahan redaksi tanpa menggeser maknanya.

Walaupun telah diutak-atik di parlemen, pasal tentang kebebasan berpendapat ini tidak melunturkan eksistensinya sampai hari ini. Justru pengeja wantahan pasal ini melahirkan UU No.9 tahun 1998 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum. Penyampaian pendapat di muka umum dalam Undang-Undang tersebut tentu saja dihalalkan dengan berbagai cara sepanjang mengikuti prosedur. Unjuk rasa atau demonstrasi, pawai, rapat umum, dan mimbar bebas. Demonstrasi lalu terkesan menjadi trend yang paling representatif dalam menyuarakan pendapat dan tuntutan di muka umum. Terlebih lagi, yang menjadi kampiun demonstrasi adalah kalangan yang menyandang status orang terdidik klaster papan atas alias mahasiswa.

Sebagai agen perubahan, mahasiswa telah menjadikan demonstrasi dengan kekuatan massanya yang dimobilisasi sebagai aji pamungkasnya. Walaupun sejarah pergerakan mahasiswa yang pertama kali memiliki struktur pengorganisasian modern dimulai sejak tahun 1908 melalui Boedi Oetomo, namun tercatat pada tahun 1970-an elemen mahasiswa memulai gerakan ganyang korupsi dengan berdemonstrasi. Yang paling menggores sejarah baru adalah aksi 1998 yang menuntut reformasi dan memaksa Presiden Soeharto meninggalkan singgasana kepresidenannya. Tindakan represif untuk meredam berbagai pergerakan mahasiswa pada saat itu telah menewaskan aktivis mahasiswa, mulai dari Peristiwa cimanggis, Peristiwa Gejayan, Tragedi Trisakti, Tragedi Semanggi I dan II, Tragedi Lampung, hingga ke Pemilu 1999.

Terlepas dari gerakan mahasiswa pasca reformasi yang mengarah pada persoalan-persoalan friksi, seperti pepatah Perancis sejarah akan selalu berulang sejarah heroisme mahasiswa terus menginspirasi gerakan perjuangan mahasiswa mutaakhirin (kader-kader pasca reformasi).

Konstelasi pergerakan mahasiswa sepanjang sejarah telah melukiskan warnanya tersendiri. Penjara, darah, peluh, dan nyawa sekalipun menjadi taruhannya. Walaupun demikian, DEMONSTRASI akan terus bergulir entah sampai kapan (mungkin sampai the last day of the world). Betapa tidak, aksi-aksi berbau unjuk rasa di tempat-tempat khalayak ini sudah menjadi asupan bak ASI (Air Susu Ibu) bagi mahasiswa sejak berstatus MABA (Mahasiswa Baru). Tidak elit nampaknya menjadi mahasiswa sebelum mencicipi pahit manisnya menjadi demonstran di tengah guyuran gas air mata dan semprotan air bertekanan dari water cannon polisi. Apalagi kata ‘pecundang’ selalu menjagi jargon para demonstran untuk menstereotipkan mereka yang enggan ikut demo.

20 Oktober lalu, satu tahun pemerintahan SBY-Boediono. Aksi demonstrasi besar-besaran kembali menyeruak diberbagai pelosok daerah. Lagi-lagi, dimotori oleh mahasiswa sebagai ungkapan ketidak puasan atas penyelenggaraan pemerintahan SBY-Boediono selama setahun. Aksi dalam rangka setahun pemerintahan SBY-Boediono ini berbuntut pada penembakan seorang mahasiswa Universitas Bung Karno. Farel Restu, mahasiswa Fakultas Hukum UBK angkatan 2008 ini harus meringkik atas timah panas yang menembus tungkai kaki kirinya sedalam 10 cm. Walaupun oleh Prof. Mun’im Idris, dokter forensik RSCM saat memberikan keterangannya menyebutkan bahwa peluru tersebut adalah pantulan, yang pasti adalah dari semua titik aksi pada hari itu dapat disaksikan dengan mata telanjang di media bagaimana aksi frontal tak terelakkan antara polisi dengan mahasiswa sehingga tak sedikit yang berakhir ricuh. Catatan boldnya adalah dari semua yang namanya demonstrasi hampir semua itu pula berujung pada benturan, baik fisik maupun mental, penahanan/penangkapan paksa, terganggunya aktifitas umum, hingga jatuhnya korban dan seterusnya. Impact ini bukan tanpa tepisan, ya setiap pilihan didepannya selalu menanti konsekuensinya sendiri.

Akhirnya, demonstrasi adalah opsi perjuangan yang tak dapat dinafikan di kalangan mahasiswa. Secara sistematis, gen ini rupanya tak pernah alpa untuk diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Inilah wajah iron stock negeri yang sudah carut-marut dengan segenap catatan coreng-moreng ini, INDONESIA.

Tanpa mengurangi tekstur emas yang telah diukir para demonstran mahasiswa terdahulu, hari ini demonstran yang tak ayal lagi turun ke jalan sepertinya butuh sejenak bertafakkur (introspeksi dan evaluasi diri) mencompare sumber daya, motivasi, dan nilai perjuangan antar generasi dari berbagai konstruksi zaman. Kaca benggala sederhananya, terkait demo memperingati setahun pemerintahan SBY-Boediono.

Dibawah pemerintahan SBY yang oleh Koalisi Masyarakat Sipil disebutnya suka mengeluh, apakah yang telah dilakukannya sehingga ada demonstran yang memintanya turun dari tampuk kekuasaannya?. Bandingkan dengan penguasa lembah sungai Nil pada Kerajaan Mesir Baru Fir’aun (diperkirakan Ramses II) pada zaman Musa dengan peradaban barbar dan telah memaksa umat secara sistemik untuk menelan racun akidah mentah-mentah. Lalu apakah yang di perintahkan Allah kepada Musa pada waktu itu di lembah Thuwa?, Allah SWT tidak menginstruksikan untuk mengumpulkan pengikutnya lalu pawai, demo menuntut Fir’aun turun dari takhtanya. “Faqul Hallaka ilaa Antazakkaa”(Maka katakanlah (kepada Fir’aun),”Adakah keinginanmu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)”) (An-Naazi’aat:18), itulah yang diperintahkan Allah kepada Musa.

Sudut pandang ini tentu belum sepenuhnya dapat diterima oleh mahasiswa sebagai pengharaman atas demonstrasi dan aksi/tuntutan perbaikan terhadap sebuah rezim oleh kalangan mahasiswa, tetapi sebagai masyarakat ilmiah yang berbudaya sepertinya menjadi pekerjaan baru bagi mahasiswa untuk meramu, menterjemahkan perintah Allah kepada Musa tadi dalam konteks kekinian.

Oleh sisa-sisa kader LDK-FKMI
Uban Pamungkas

2010

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: