ROMANTIKA SEKOLAH DASAR NEGERI 153 BARUTTUNG

Oleh: Muhlis H. Pasakai

Di Sekolah inilah aku menyelesaikan jenjang Pendidikan Dasar 6 tahun. Mengingat masa-masa dulu di Sekolahku ini masih terbayang beberapa wajah guruku yang begitu dekat denganku, ada Pak Nur Kepala Sekolahku, Pak Yonta guru agamaku, Pak Ramli guru kelas 6 ku, Pak Jamal yang hampir tiap hari aku cabuti ubannya atau kupijati kakinya sambil berbagi cerita. Teringat pula kegaduhan dengan teman-temanku yang lucu tapi serius. Aku tidaklah memulai masa pendidikan SDku di Sekolah ini tapi aku langsung duduk di kelas 3 pindahan dari SD 111 Lembang Gogoso Mannanti. Perpindahanku ke Sekolah ini cukup meyedihkan, tapi ada di judul kisahku yang lain. Sekolah ini bukanlah seperti sekolah anak-anak yang ada di kota, aku dan teman-temanku datang ke sekolah kadang dengan cukup rapi memakai sepatu yang tak karuan, kadang memakai sendal, sering juga tanpa sendal tanpa sepatu pula, buku-buku kadang cukup dikantongi, dipegangi, meskipun juga sudah ada yang memakai tas yang mungkin termasuk anak orang cukup berada, tapi anak selevel aku paling sering manjadikan kantong plastik bekas pembungkus sendal jepit merk “Swallow” atau “Sky Way” sebagai tas atau pembungkus buku ke sekolah. Sekali aku pernah memaki tas, itupun pemberian sepupuku, tas perempuan pula, tapi akupun dengan bangga memakai tas ini ke sekolah tak peduli cocok atau tidak. Pagi-pagi aku biasanya berangkat kadang memakai celanaku yang resletennya rusak sehingga harus ditutupi dengan memakai pentul.

Di dalam kelas kami biasa di puji-puji guru dan tak jarang pula di marahi bahkan dicubit atau dihukum berdiri di depan kelas. Setelah belajar, keluarmainpun tiba,wah..ribut di jam ini, ada yang teriak-teriak, ada yang bertengkar, ada yang menangis, ada yang kejar-kejaran, pokoknya gaduh suasana disini. Aku biasanya main perang-perangan baku lempar buah belimbing sehingga ketika baju kena warnanyapun jadi bervariasi. Pernah juga akibat bermani-main kepalaku terbentur di tembok hingga mengeluarkan darah yang tidak sedikit, bahkan beberapa guruku histeris melihat kejadian ini, aku tak menyangka kalau akan separah ini, ketika topiku kubuka darah segarpun memencrat dari kepalaku, guruku yang pertama kali melihat dengan mimik takut segera meminta guruku yang satu untuk segera menolongko, Pak Jamallah yang segera membacakan do’a lalu meniupi lukaku, guru-guru lain segera berdatangan termasuk tanteku sendiri yang dengan suara tangis memintaku segera di bawa ke puskesmas terdekat, baju pramukaku kulepas dan temanku yang bernama “Ambo Rabbi” mengusap seluruh darah di tubuhku agar tidak mengalir ke seluruh celanaku, tak lama kemudian dalam posisi berdiri tenang akhirnya darah yang keluar mulai berkurang dan aku pun di bawa pulang ke rumah nenekku yang cukup dekat dari sekolah, teman-teman dan guru-guruku mengantar hingga ke rumah nenekku itu. Setelah beberapa hari aku sembuh dan siap lagi beraksi dengan teman-temanku dan bercengkrama dengan guru-guruku. Alhamdulillah….

Dimasa-masa sekolahku ini peringkat satu di kelas yang sering disebut ranking satu sangat di damba-dambakan setiap siswa sehingga menjelang ulangan caturwulan(cawu) 1,2,atau 3 atau ulangan penaikan kelas, kami dengan keras belajar untuk bahu-membahu memperebutkan posisi itu. Setelah ulangan itu berlangsung pembagian laporan hasil belajar pun tiba yang dirangkai dengan acara makan-makan di kelas, diacara makan-makan ini semua jenis makanan ada, mulai dari yang produksi nenek-nenek sampai makanan super tradisional yang sekarang dianggap makanan tidak gaul seperti spageti, mc donald, kentucky fried chicken, dsb.makanan orang barat itu. Meskipun makanannya seperti itu kamipun dengan lahap menikmatinya, sebelum acara makan dimulai telur-telur pemberian siswa ke guru-guru sudah menumpuk di meja yang hampir tidak ada telur ayam ras. Setelah acara makan pengumuman pun dimulai, wah…meriah sekali tepuk tangan saat itu apalagi buat yang ranking satu, aku sendiri mengoleksi dua jenis ranking di sekolah ini, kalau bukan dua ya satu.
Cukup beragam lukisan warna kisahku yang lucu dan aneh di sekolah ini yang tak dapat kuceritakan satu-satu, termasuk ketika aku diminta jadi pemimpin upacara yang pertama kalinya dimana suaraku yang sangat keras terdengar oleh omku di rumah nenek sehingga membuat teman-temanku tertawa meskipun setelahnya kepala sekolah memujiku dan meminta aku untuk menjadi pemimpin upacara berikutnya.

Sekilas menyimak kisahku yang remeh-temeh ini, aku dan teman-temanku tumbuh dari didikan sekolah yang bukan sekolah anak kotaan yang katanya sudah maju, kami hidup di lingkungan yang boleh dibilang masih kuno itu, perlengkapan sekolah yang apa adanya, alat tulis-menulis yang serba terbatas, dan seribu satu jenis kekurangan lainnya. Meskipun seperti itu, tidaklah mengurangi keceriaan kami bersama guru-guru dan teman-teman, tidak menghambat semangat belajar kami, tidak pula menyebabkan kami bersikap inferior, sebab tidak menutup kemungkinan dari rahim kegaduhan sekolahku inilah tumbuh embrio-embrio yang akan lahir menjadi sosok yang patut menjadi panutan bagi masyarakat disekitarnya, tidak harus menjadi pemimpin birokrasi atau tokoh politik besar, atau menjadi orang kaya-raya, tetapi cukup memahami akan keberadaannya di Dunia dan mampu memanifestasikannya dalam megemban misinya sebagai manusia, Insya Alllah…

Makassar, 2007

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: