Aku pencuri pisang goreng

Oleh: Muhlis H. Pasakai

Hari itu adalah hari yang menjengkelkan lagi buat saya dan teman-teman, yaitu hari dimana jadwal mata pelajaran eksak tiba, ada matematika,fisika,dan kawan-kawannya yang membuat kening berkerut dan keringat bercucuran.

Biasanya kalau hari ini tiba pagi-pagi aku bergegas dengan pakaian sekolahku yang rapi, dan satu hal yang pasti bahwa teman-temanku sudah menunggu ditempat persembunyian yang cukup rapat dan aman dari pantauan guru-guru sekolah. Kenapa harus pagi-pagi? Iya, supaya mendahului jadwal berangkatnya guru-guru, sebab sesuai pengalaman sebelumnya banyak modus rencana persembunyian kita terbongkar karena dalam perjalanan sempat dilihat oleh guru namun tidak hadir ketika proses belajar-mengajar dikelas berlangsung, sementara wajah-wajah kita dengan mudah dikenali karena beberapa orang ini memang manjadi “selebriti pembolos” di sekolah sehingga sosoknya menjadi mudah dikenali.

Akupun berangkat dengan semangat tampak begitu meyakinkan orang tua, keluarga, dan tetangga bahwa aku ini orang rajin ke sekolah. Aku dengan cepat menuju ke tempat persembunyian, aku yakin ada teman-teman yang menunggu disana. Ternyata betul, hanya saja kali ini personelnya tidak seramai biasanya, hanya ada seorang disana. Ternyata teman-teman lain ada yang tidak berangkat ke sekolah dan ada yang menempati tempat persembunyian lainnya. Meskipun demikian, tidak menyurutkan semangat kami untuk menjadi siswa yang rajin bolos.

Matahari sudah beranjak tinggi dengan sinar-sinarnya yang mulai menyengat, sepertinya guru-guru dan siswa-siswa lainnya sudah tak satupun yang lalu-lalang dijalanan. Ini waktu yang aman untuk keluar sarang, bergabung dengan orang lain yang bukan anak sekolahan, mengisi waktu untuk menunggu sampai jam pulang tiba. Ada banyak kesibukan di waktu ini, kadang main domino, cerita sampai tidak tahu kemana ujungnya, kadang minum minuman keras, dan masih banyak lagi yang lain. Dalam kesibukan ini tetap harus waspada akan adanya sesuatu yang dapat membocorkan aktifitas pembolosan ini, baik ke pihak guru maupun orang-orang di rumah atau tetangga lainnya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 12.00,tidak lama lagi lonceng tanda pulang akan berbunyi. Sebelum pulang kami biasanya istirahat membaringkan badan sejenak, aku dan teman segera kembali ke kandang. Rupanya waktu istirahatku terusik dengan nyanyian perut tanda kelaparan, maklum sejak dari pagi belum sedikitpun makanan yang masuk ke perut. Tiba-tiba ide cemerlang temanku muncul, “Eh..dengar tidak, suara mesin gergaji itu(senso dalam bahasa daerahku)?.” Tanyanya dengan serius. “Iya, kenapa?.” Jawabku, “Kamu lapar kan?.” Tanyanya kembali, “Iya.” Jawabku lagi. “Biasanya nih..kalau ada suara yang kayak gitu tuh..artinya ada kue disana, kan lumayan bisa menjanggal perut, stok kalori untuk pulang, kan lumayan jauh kita akan berjalan kaki..” Tandasnya meyakinkan. “He..he..he..pintar juga kamu.” Balasku dengan tawa membenarkan ucapannya. Meskipun suara mesin itu datangnya jauh dari hutan, kami nekat untuk menelusurinya. Ternyata dugaan temanku benar, tepat beberapa meter dihadapanku tampak setumpuk pisang goreng yang telah ditata rapi dalam sebuah mangkok besar dengan transparan dan minuman siap saji di dekatnya, untungnya lagi tukang gergaji itu sedang menebang sebuah pohon kayu yang lebat letaknya cukup jauh dari kue itu, semak belukar yang bisa melindungi kami dari pandangan mata orang-orang disitu semakin meyakinkan aksi pencurian pisang goreng akan sukses. Tanpa pikir panjang temanku dengan gesit segera mengambil mangkok yang berisi pisang goreng itu lalu membawanya lari. Sebelum jauh meninggalkan tempat itu, kami sepakat untuk tidak mencuri semua pisang goreng itu apalagi dengan tempatya sekaligus. Rasa iba kami tiba-tiba muncul ketika memikirkan bagaimana nasib pekerja nantinya setelah tenggorokannya kering dan perutnya menciut kelaparan lalu harapan besarnya akan adanya pisang goreng itu tinggallah harapan sebab telah dicuri oleh dua orang “siswa teladan”. Akhirnya temanku mengembalikannya, meskipun hanya akan menimbulkan rasa tanya besar bagi pekerja nantinya,”Kok tadi penuh..kenapa bisa jadi begini..kalau air bisa jadi tempatnya yang bocor,tapi ini pisang”. Kami bergegas meninggalkan tempat itu dengan membawa pisang goreng curian yang tidak sedikit. Setelah sampai di tempat semula, pisang goreng itupun kami makan dengan lahapnya tanpa pikir kalau itu adalah hasil curian, maklum entah sudah lagu keberapa yang dinyanyikan artis dalam perut sehingga syairnya sudah tak karu-karuan. ”Alhamdulillah, lumayan juga, ternyata pisang goreng curian enak juga..” Ucapku sambil tertawa.

Matahari mulai melesat menuju barat, suara keramaian mulai terdengar, tidak salah lagi pasti siswa-siswa lain yang sudah pulang. Kamipun pulang bersama, layaknya siswa lainnya yang baru pulang mendapatkan pelajaran dari bapak ibu guru di sekolah.
**
Kisah ini terjadi sejak aku duduk dibangku SMP, ini hanyalah salah satu dari pengalaman brutal sejenis yang pernah kualami. Masa itu memang masa yang sangat kritis dimana kita mencari jati diri dan salah satu pembentuknya adalah lingkungan pergaulan, sehingga benarlah sebuah pepatah Arab yang mengatakan “al-insan ibnul bi’ah” yang artinya manusia itu anak lingkungan. Sedikit atau banyak, kita tidak dapat menafikkan bahwa lingkungan pergaulan mengambil peran besar dalam menentukan corak kepribadian seseorang. Oleh karena itu, Opick dalam lagunya mengatakan bahwa obat hati ada 5 perkaranya, salah satunya adalah berteman dengan orang saleh. (Sayang sekali kata saleh ini kadang hanya diidentikkan dengan orang yang berjenggut panjang, celana gantung, jilbab besar, jidat hitam dan sebagainya).
Melalui sebuah proses yang panjang, dengan tidak ada tekanan ataupun paksaan apapun dan dari pihak manapun kebiasaan seperti ini perlahan saya tinggalkan. Saya yakin dan percaya Tuhan Yang Maha Mencintai punya rencana mulia untuk saya, dan untuk kita jika kita mau!.

Makassar, Desember 2009.

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: