Catatan diujung jalan

 

Oleh: Muhlis H. Pasakai

Aku tak sabar lagi ingin menemui bidadariku. Perjalanan da’wah ini sudah terlalu melelahkan. Mengajak, mengajak, dan mengajak. Makan telat, tidur tak tepat waktu, untuk memikirkan kelanjutan da’wah dikampusku.

Aku kadang berpikir, jikalau saja cukup dua atau tiga orang sepertiku, maka akan kukibarkan bendera syariat dikampusku. Tapi aku sendiri, sendiri. Sampai untuk halaqoh tarbiyah sekecil itupun tak lagi terurus tanpa diriku.
Dihari tarbiyah, pesan singkat kukirim kadang sampai tiga kali, untuk mengingatkan dengan segenap untaian kata-kata penyemangat. Tapi tak sedikit diantara mereka yang membalas dengan permohonan maaf, tak dapat hadir dengan berbagi alasan.

Menyedihkan, ketika murobbi setiaku datang dengan semangatnya yang tak pernah luntur. Tapi yang hadir cuma dua orang. Aku dan seorang yang kuamanahkan LDK kepadanya sebelum akhirnya dibawah kepemimpinannya seluruh organisasi mahasiswa dibekukan, termasuk LDK-FKMI.
**

Menjadi orang nomor satu di lembaga da’wah memang bukan urusan ringan. Ini adalah amanah yang kusebut antara surga dan neraka. Peluang masuk surga ada, tapi rentan masuk neraka. Betapa banyak muslim dikampusku yang akan kupertanggung jawabkan dihadapan Allah kelak.
Aku adalah orang yang tak pernah berpikir untuk mengemban amanah tersebut. Keterlibatanku hanya sekedar menjadi ketua panitia Muktamar untuk memfasilitasi mereka yang muslim untuk mengaktifkan kembali LDK-FKMI yang pada saat itu diwacanakan akan dibekukan karena sudah menjelang dua periode tidak ada aktifitas.
Aku sudah meminta kepada pengurus yang sempat kutemui agar mencari kadernya untuk menghidupkan kembali lembaga yang menaungi mayoritas mahasiswa di STMIK Handayani itu.

Aku sendiri pada saat itu digodok untuk menjadi salah satu kandidat ketua umum Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika (HMTI), dan peluang itu besar dengan mendengarkan berbagai dukungan yang mengalir dari berbagai kalangan, teman-teman seangkatan, senior, junior hingga dari pihak birokrat kampus. Selain itu, Presiden Mahasiswa terpilih pada saat itu menawarkan kepadaku posisi Sekretaris Jenderal (sekjen) di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).
Sebelum kedua pilihan itu kuputuskan, aku harus menyelesaikan terlebih dahulu tugasku sebagai ketua panitia Muktamar. Informasi pun kusebar agar mahasiswa yang beragama islam hadir dalam muktamar untuk mendiskusikan dan bersedia menjadi bagian dari kepengurusan LDK-FKMI mendatang jika dibutuhkan.
Alhasil, jauh panggan dari api. Hari H pelaksanaan Muktamar, hanya ada beberapa yang hadir dan kebanyakan panitia itu sendiri. Alhamdulillah beberapa mantan pengurus yang sudah menjadi alumni menyempatkan diri untuk hadir pula, mereka ini yang kemudian tergabung dalam Dewan Syuro.

Menjelang hari pelaksanaan Muktamar, aku telah menjumpai beberapa mantan Ketua LDK-FKMI untuk mencari kadernya untuk dijadikan ketua umum. Namun, hingga menjelang detik-detik musyawarah Dewan Syuro untuk menunjuk ketua umum, tak satupun dari mereka yang pernah menjadi pengurus atau kader yang datang untuk bersedia diamanahkan LDK kepadanya.

Tidak ada pilihan lain, kecuali aku. Walaupun sempat kutawarkan beberapa nama, termasuk salah satu diantaranya alumni pesantren, namun tidak ada yang bersedia dengan alasan kemampuan manajerial organisatif.
Hasil musyawarah Dewan Syuro akhirnya mengamanahkan LDK-FKMI kepadaku. Tentu saja sebagai orang yang telah sedikit mengenyam pengalaman organisasi, keputusan ini harus secara gentle kuterima. Ketika dimintai kesediaan, mulutku tak dapat mengatakan tidak bersedia, sebab jika aku menolak, maka siapa lagi, tidak ada. Selain muktamar yang kuhandle ini akan gagal, LDK-FKMI sebentar lagi akan tinggal nama. Aku hanya menyampaikan di depan forum hari itu bahwa aku bukanlah orang yang berlatar belakang pendidikan formal dengan platform islam, aku juga tidak lahir dari keluarga dan lingkungan pesantren, maka mohon untuk membimbing saya. Kemampuan organisasi akan kumanfaatkan dilembaga ini, tapi keislaman saya sendiri pada dasarnya belum dan sangat tidak pantas menduduki posisi puncak ini.
Hari-hari sebagai ketua LDK-FKMI pun kujalani. Sekretariat HMTI, habitatku selama ini kutinggalkan, masuk ke sebuah zona yang aku harus menyesuaikan diri.

Penerimaan mahasiwa baru tahun 2009 tiba. Sebagai mahasiwa baru di STMIK Handayani, mereka harus mengikuti Forum Orientasi Mahasiswa Tahunan (FORMAT). Dalam acara itulah aku membangun kesepakatan dengan panitianya untuk tidak mengeluarkan sertifikat FORMAT kepada yang muslim sebelum mengikuti pengkaderan LDK-FKMI.
Melalui kesepakatan tersebut akhirnya terselenggaralah pengkaderan LDK-FKMI yang diberi nama Studi Islam Intensif (SII). Untuk pemateri, aku menyurat ke salah satu ORMAS Islam yang berpusat di Makassar dengan bantuan seorang mantan Ketua LDK yang aktif di ORMAS tersebut. Alhamdulillah respon yang apresiatif. Aku sendiri sangat berbahagia dengan kedatangan banyak pemateri dan materi yang disuguhkan sangat bermutu.

Sebagai tindak lanjut dari Studi Islam Intensif tersebut aku membentuk beberapa kelompok dari peserta untuk selanjutnya akan mengikuti tarbiyah rutin pekanan. Segenap pengurus kutunjuk untuk mengkoordinir masing-masing kelompok.
Aku sangat berharap dari kelompok-kelompok tersebut akan lahir generasi-generasi yang akan terus mengawal perjuangan LDK-FKMI. Lagipula ini adalah tarbiyah untuk yang pertama kalinya dikampusku selama LDK-FKMI berdiri.

Namun pelaksanaannya tak semulus harapanku, setiap jadwal yang telah disepakati, aku datang untuk memantau kelompok-kelompok tarbiyah tersebut, namun jangankan pesertanya, koordinator yang kuamanahkan kepadanya untuk mengontrol adik-adiknya juga tidak muncul, padahal aku sudah bersama dengan pematerinya (murobbi). Akhirnya, aku hanya mengobrol sejenak, lalu kutinggalkan mushollah.

Aku terus membangun komunikasi agar kelompok tarbiyah ini bisa dipertahankan, namun hanya ada beberapa yang sempat mengikuti dua sampai tiga kali pertemuan, itupun aku yang harus langsung ikut dalam tarbiyahnya.
Aku sebagai orang yang baru dimedan da’wah dan sendiri pula, akhirnya dalam tempo yang tidak lama kelompok tarbiyah yang telah kubentuk itu tak dapat kupertahankan, bubar satu per satu dengan berbagai alasan, ikut dengan organisasi ekstra dan kesan kekunoan belajar-belajar tajwid dan sejenisnya sementara di organisasi lain belajar mengenal tuhan dengan logika, dan berbagai alasan lainnya.

Meskipun demikian, aku masih semangat karena halaqoh tarbiyah khusus untuk pengurus masih sangat ramai, walaupun pada akhirnya juga hilang satu per satu. Setelah kuajak komunikasi dengan pendekatan-pendekatan humanis maupun agamis, seribu satu alasan mereka untuk tidak hadir.
Disaat inilah aku betul-betul merasa sendiri. Mengambil amanah di lembaga da’wah, lain daripada yang lain.
Aku gagal, aku tidak kreatif, dan banyak lagi tidak tidak yang kusalahkan pada diriku.
Aku hampir saja putus asa, apalagi waktu terus berjalan, tidak lama lagi masa jabatanku akan berakhir.
Namun semangatku terus dipupuk oleh murobbiku yang sudah kuanggap seperti kakakku sendiri. Masih adanya satu dua orang yang masih setia ikut tarbiyah juga ikut menyelisihi keputus asaanku itu, diantaranya adalah seorang yang kemudian kuamanahkan kepadanya LDK-FKMI diperiode setelahku.

Di ujung masa jabatanku aku meyakinkan kepada kader-kader yang akan meneruskan kepengurusanku untuk menjadikan LDK-FKMI lebih baik. Langkah tersebut kutempuh dengan menjadi salah satu calon ketua umum Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM). Di lembaga yang tertinggi ini aku berharap bisa melahirkan regulasi dan perangkat-perangkat kebijakan lainnya yang akan menjadikan bendera LDK-FKMI berkibar tanpa diskriminasi dengan organisasi lain.
Alhamdulillah jabatan tersebut akhirnya ada dalam genggamanku. Baru saja dihari pelantikanku sebagai Ketua Umum Majelis Permusyawaratan Mahasiswa, dihari itupula mahasiswa dan seluruh organisasi internal kampus dibawah kendaliku dan BEM bermusyawarah mengenai masa depan kampus yang masih berstatus kontrak dan akan berakhir dalam waktu yang dekat. Walaupun sekedar isu utama, karena banyak hal-hal yang menjadi tuntutan rekan-rekan mahasiswa kepada yayasan, namun mobilisasi massa tidak terbendung lagi sehingga terjadilah aksi demonstrasi besar-besaran, pembakaran, pengrusakan fasilitas kampus, hingga melibatkan aparat keamanan dan media.
Aku dan Ketua BEM menjadi simpul utama atas pergerakan ini. Sebagai ketua umum, aku harus memikul tanggung jawab yang diamanahkan mahasiswa, berdemo ke DPRD, Dinas Pendidikan Propinsi, hingga ke Kopertis Wil.IX menjadi pengalaman pertamaku.

Titik puncaknya adalah Rapat Dengar Pendapat (RDP) di DPRD Sul-Sel yang tak dapat kuhadiri karena diselenggarakan pada saat liburan, dan pada saat itu aku sendiri menyempatkan diri untuk pulang kampung, apalagi kesehatanku lagi menurun, ditambah lagi informasi pelaksanaan RDP yang mendesak.
Pelaksanaan RDP dalam masa liburan saat aktivis kampus renggang komunikasinya ini saya menduga telah diatur sedemikian rupa. Hasilnya pun sama sekali tidak memihak kepada kepentingan mahasiswa.
Hasil dari semua pergerakan ini adalah pembekuan seluruh organisasi mahasiswa dan pemberhentian Ketua BEM dan salah seorang ketua UKM sebagai mahasiswa, berikut akan menyusul 10 orang diantaranya adalah saya. Belum cukup sampai disitu, semua pengelola kampus yang dianggap sepaham dengan mahasiswa diberhentikan dari jabatannya, diganti dengan orang-orang yayasan.

Mendengar kabar bahwa saya akan di DO, aku segera memaksakan diri ke Makassar, membicarakan baik-baik dengan pihak birokrat kampus yang baru. Hasil kesepakatan berupa peralihan sanksi, pemanggilan orang tua dan penandatanganan pernyataan untuk tidak akan berdemo lagi dan siap dikeluarkan jika kontra dengan yayasan.
Kesepakatan ini awalnya kami sepakati, namun belakangan saya berpikir ini adalah sebuah penjajahan. Namun disisi lain aku selalu memikirkan orang tuaku jika terjadi apa-apa pada diriku, di DO atau dipenjara.
Entah, waktu terus bergulir, wacana terhadap sanksi yang akan diberikan tersebut perlahan-lahan pudar dengan segala aktifitas dan kesibukan di awal semester.

Tugas baru di Majelis Permusyawaratan Mahasiswa telah menyibukkan saya, diakhiri dengan pembekuan organisasi internal membuat seakan kisah da’wah yang kuusung dulu telah berakhir.

Tapi tidak, tarbiyah sudah terlanjur terpatri dalam hatiku untuk terus mengawalnya. Bertarbiyah tanpa legalitas LDK lagi tak membuat saya untuk mundur.

Setelah berjalannya proses perkuliahan di semester genap, aku kembali mengkonsolidasikan dengan pengurus-pengurus LDK yang telah dibekukan untuk kembali bertarbiyah. Alhamdulillah, walaupun dengan jumlah yang masih sangat miskin itu, murobbiku lagi lagi terus memberikan motivasi dan semangat untuk tetap punya harapan.
Seiring perjalanan waktu, tanpa lembaga dan dengan jumlah yang super sedikit, tarbiyah sepertinya betul-betul akan menammatkan riwayatnya.

Walaupun demikian, aku tak pernah pesimis. Bahkan di akun facebook ku telah kutuangkan sebuah kalimat “biarkan tubuh ini cape’, letih, sampai sakit sekalipun sepanjang itu untuk mengurus agama Alllah”. Hal tersebut telah menjadi tekadku, sebelum kutinggalkan STMIK Handayani, bahkan setelah aku menjadi alumni, insya Allah tarbiyah di STMIK Hadayani harus tetap eksis, bahkan da’wah harus lebih progresif .
***
Catatan ini kutulis disaat aku lunglai, seakan tak berdaya, setelah beberapa hari panas, sakit hingga seluruh makanan yang kutelan keluar menjadi cairan melalui anus, nafsu makan segera hilang, dan tubuhku sesaat menjadi pucat dan kurus.
Meskipun demikian, aku merasa sangat bahagia. Walaupun sakit, kemarin aku masih menyempatkan diri untuk mengantar salah seorang murobbi ke kampusku untuk mentarbiyah kelompok tarbiyah baru dari mahasiswa semester dua yang kubentuk pekan lalu. Melihat antusiasme mereka, aku yakin dari halaqoh yang baru inilah akan menjadi tonggak regenerasi insan-insan pemilih jalan da’wah, jalan yang pahit dan terjal untuk melanjutkan perjuangan da’wah di STMIK Handayani.

Ketahuilah..jalan da’wah bukan jalan yang mulus..
hanya dipilih oleh mereka yang berjiwa ksatria..
tidak ada pendekar yang lahir diluar jalan ini..

Apa yang telah kurasakan, apa yang telah kualami, belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rekan-rekan penggerak da’wah dikampus lain, dengan para ustad yang terus mensyiarkan kemurnian islam, apalagi dengan mereka orang-orang terdahulu yang telah dipilih oleh Allah untuk mengambil jalan da’wah yang mulia.

Biarkan seluruh pahitnya dunia ini kita kecap.

Biarkan cadasnya kerikil-kerikil panas melelehkan langkah-langkah kita.

Karena itu semua lezat dan nikmat bagi orang yang beriman.

Ini bukan retorika, ini keyakinan.

Makassar, 8 Jumadil Akhir 1432 H/11 Mei 2011 Miladiyah

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: