Selamat datang pemilu raya…

Masa jabatan periodik pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa akan segera menemui titik nadir pertanggung jawabannya kepada konstituen yang telah mempercayakan amanah kepadanya selama kurun waktu satu tahun. Hal ini ditandai dengan terbentuknya Komisi Pemilihan Umum Keluarga Mahasiswa (KPU KEMA) yang diamanahkan oleh AD/ART KEMA STMIK Handayani selaku pelaksana Sidang Umum dan Pemilu Raya.

Bulan Maret-April di kalender gregorian tahun 2009 silam, masa transisi kepengurusan di Lembaga Eksekutif ini menyisahkan catatan sejarah yang menyedihkan. Betapa tidak, setelah KPU KEMA membuka pendaftaran calon Presiden Mahasiswa baik utusan HMJ maupun independen, lembaga yang bergengsi ini tidak lagi diminati oleh sebagian besar kalangan mahasiswa yang katanya Iron Stock negeri yang carut marut ini. Terbukti Pemilu Raya akhirnya tidak diselenggarakan karena calon yang diutus salah satu HMJ menjadi calon tunggal. Proses verifikasi kriteria dan syarat calon pun harus dipermudah sedemikian rupa. Hasilnya, seperti apapun kualitas nahkoda Lembaga Tinggi di lingkup KEMA STMIK Handayani ini harus diterima, karena seburuk apapun sebuah institusi lebih baik ada pemimpinnya daripada ditiadakan sama sekali. Tidak cukup sampai disitu, pelantikan pengurus BEM yang telah ditetapkan KPU KEMA terpaksa harus di tunda karena belum terpenuhinya komposisi pengurus akibat sulitnya mencari orang yang mau menjadi pengurus di BEM. Akhirnya BEM sebagai prahara pergerakan mahasiswa seperti kehilangan tameng. Mengapa demikian.? Apakah BEM dimata mahasiswa tidak lagi sanggup menjadi inkubator fabrikasi untuk melakukan penggemblengan generasi yang pada gilirannya akan turut ambil bagian dalam pengambilan kebijakan dinegeri ini ?. Pertanyaan tersebut masih menjadi Pekerjaan Rumah yang harus dijawab bersama.

Lebih menyedihkan lagi, pesta perhelatan demokrasi mahasiswa yang seharusnya meriah dengan ciri khas masyarakat ilmiah berbudayanya sebagai miniatur sebuah negara sama sekali hanya memproyeksikan sebuah kelesuan spirit idealisme segenap mahasiswa. Ironisnya lagi, hal itu terjadi pada sebagian penggerak roda organisasi internal yang merupakan orang-orang pilihan sebagai representasi warga mahasiswa yang dinaunginya.

Melihat realita hari itu, alangkah berbedanya dengan kondisi Lembaga Eksekutif yang ada di Perguruan Tinggi lain. Bandingkanlah dengan antusiasme perebutan estafet kepemimpinan BEM seperti di Universitas Khairun Ternate, Maluku Utara bulan Juni 2009 yang harus ricuh bahkan nyaris baku hantam antara pendukung calon yang kalah dengan pendukung yang keluar sebagai pemenang (Liputan6.com). Lihatlah STAIN Kendari, pada bulan Oktober 2009 puluhan mahasiswa melakukan unjuk rasa di Gedung Rektorat STAIN yang menuntut agar Ketua STAIN Kendari segera mencabut SK pengangkatan Ketua BEM yang telah diterbitkan karena dianggap tidak berdasar. Simaklah Headline News Metro TV April 2010, ratusan mahasiswa Universitas Negeri Papua (Unipa) Manokwari, memprotes hasil pemilihan Presiden Mahasiswa karena menilai ada politik uang dalam pemilihan tersebut. Terakhir, Selasa 11 Mei 2010 aksi demo yang digelar mahasiswa Universitas Wiraraja (Unija) Sumenep yang memprotes pelaksanaan Pemilu Raya berakhir ricuh.

Ha..ha..ha.. . Yang ada dibenak setiap orang tentu akan mengatakan kita tidak bisa membandingkan antara STMIK Handayani dengan kampus-kampus lain, karena STMIK Handayani adalah kampus kecil dengan civitas akademik dan stakeholdernya serta struktur keorganisasiannya yang terlampau kecil untuk dibanding-bandingkan dengan kampus besar diluar sana. Tidak terlalu sulit untuk menepis alasan itu, mari kita sejenak merunut kebelakang menanyakan kepada para pelaku organisasi sebelumnya. Jawaban mereka akan sangat berbeda dengan kondisi yang terjadi saat ini. Tidak perlu bernostalgia terlalu jauh, masih segar diingatan, Pemilu Raya 2007 walaupun tidak sekaliber PILPRESMA di universitas-universitas ternama, tingginya tensi persaingan sangat terasa bahkan mencekam ketika terjadinya pemukulan (tindakan anarkis). Lalu, apakah suksesi tampuk kepemimpinan BEM yang dianggap sukses disini adalah identik dengan kericuhan plus anarkisme.? Realita yang berkembang mengindikasikan jawaban ya, tetapi idealnya tidak harus.

Selanjutnya, apakah kita hanya akan terus meratapi nasib yang menimpa icon kelembagaan kemahasiswaan kita ini.?. Juni-Juli 2010 adalah masa untuk menjawabnya, ya atau tidak kita akan nantikan dan saksikan bersama. Ada apa dibulan itu.? Dibulan itulah pesta Pemilu Raya akan ditunaikan. Menjadi harapan kita semua agar kiranya Lembaga Eksekutif ini bisa menampakkan senyumnya setelah melihat kader-kader potensial jatuh hati padanya, hal itu penting guna memancing animo mahasiswa untuk ikut berpartisipasi menyukseskan Pemilu Raya 2010. Tidak sepantasnya memang Lembaga ini menjadi sepi apalagi menjadi institusi mahasiswa yang tidak lagi sanggup unjuk taring alias impotensi, sebab Lembaga tinggi mahasiswa yang bernama Badan Eksekutif Mahasiswa bukan sekedar wadah pamor yang tak lebih sekedar nama dan gengsi-gengsian. Terbukti, tidak sedikit orang-orang yang pernah hidup di habitat yang namanya BEM bisa membuktikan kiprah mereka di pentas nasional. Sejarah telah mencatat aktivis mahasiswa yang berperan pada perjuangan reformasi angkatan 98 diantaranya adalah Haryo Setyoko (mantan Ketua BEM UGM), Bachtiar Firdaus (mantan ketua BEM UI), Ahmad Muhibuddin (mantan Presma IAIN 1998), Burhanuddin Muhtadi (Ketua Umum BEM IAIN 2000-2001) yang sekarang menjadi peneliti LSI dan masih banyak lagi aktivis BEM lainnya. Kita juga bisa melihat Deklarasi Calon Anggota Legislatif (Caleg) muda di Bekasi Oktober 2008 lalu yang hadir diantaranya caleg PDIP Budiman (mantan Ketua BEM Unisma) dan caleg dari PKS Sardi (mantan Ketua BEM Universitas Negeri Jakarta). Artinya, BEM tidak boleh dipandang sebelah mata, apalagi perhatian pemerintah terhadap lembaga BEM juga tidak terlalu buruk, paling tidak DIKTI pada bulan November 2009 lalu misalnya mengadakan Studi Banding ke Belanda yang diikuti 27 Delegasi BEM Seluruh Indonesia (BEM SI) walaupun menuai kontroversi dikalangan mahasiswa sendiri. Kebesaran institusi BEM ini tentu saja diharapkan menjadi motivasi bagi para kader untuk ikut berpartisipasi menata sejarah baru, bukan sebaliknya menjadikan BEM STMIK Handayani yang kita cintai terjebak dalam konservatisme yang larut dalam sindrom idealisme dan tendensi menilai diri establish.

Sekarang mari kita melihat gejala awal yang akan dialami BEM STMIK Handayani periode mendatang. Walaupun hari pertama pendaftaran belum terlihat ramai, tapi angin sepoi sudah memberi kabar bakal ramainya bursa calon Presiden Mahasiswa STMIK Handayani periode 2010/2011. Angin segar tentunya, meskipun kemudian akan melahirkan teka-teki baru, seperti apakah sosok calon panglima yang akan mengibarkan bendera di arena Pemilu Raya. Kita semua berharap putra-putri terbaik yang akan berkompetisi adalah pribadi yang mutsaqqaf (cerdas dan berwawasan luas) dan faqih/lihai dalam urusan yang akan diembannya. Oleh karena itu, menjadi beban tersendiri bagi pengutus, baik independen maupun HMJ untuk jeli melihat calon yang akan di usungnya pada pentas kontestasi. Patut kiranya dilakukan penjajakan terhadap kader-kader yang dalam dunia politik dikenal dengan istilah political tracking guna menghasilkan pemimpin yang komitmen menjalankan fungsi kelembagaan dan melakukan empowering (pemberdayaan) sumber daya yang bisa memantik potensi mahasiswa yang heterogen.

Semoga saja output dari Pemilu Raya kali ini bisa menjawab sekaligus memenuhi hasrat suci Lembaga Eksekutif ujung tombak KEMA STMIK Handayani. BEM sebagai ibu kandung yang pantas melahirkan satria, BEM STMIK Handayani harus ikut serta menyambut era dinamisasi yang serba pesat tak karuan. Namun seperti kata bijak “idealisme boleh menggelantung di langit tapi kaki tetap harus berpijak pada alam realita”, maka ambisi yang besar di bawah kendali Presiden Mahasiswa BEM STMIK Handayani periode yang akan datang harus dihitung dengan rumus proporsional agar selisih antara idealitas dengan realitas tidak terlalu besar. Melihat kesehatan BEM STMIK Handayani pada hari ini yang masih butuh perawatan intensif, maka bukan pesimis tapi sepertinya terlalu dini jika kita harus menaruh harapan besar BEM STMIK Handayani bisa menjadi rahim tempat embrio akan menelurkan insan-insan yang akan turut mewarnai peradaban di negara ribuan pulau ini. Walaupun demikian, optimisme para calon Presiden Mahasiswa menjadi pelaku sejarah di insitusi terhormat ini patut diapresiasi setinggi-tingginya.

Sekretaris KPU-KEMA 2009
uban pamungkas
1 juni 2010 Miladiyah

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: