Yang tidak pacaran, yang tidak gaul..

Siapa sih yang ga’ pernah jatuh cinta?, gak ada kalee
Heheheh…itulah tepisan acuh bagi mereka “aktivis” cinta untuk menangkis nasehat orang-orang kalem sejenis ustad yang mungkin oleh mereka sok suci.

Jatuh cinta pada lawan jenis itu normal katanya. Itu naluriah, lebih tegasnya lagi terkesan ilmiah. Bukan homoseksual, bukan lesbian, bukan bestialitas, apa yang salah?.

Melihat lawan jenis yang begitu memikat dengan segala kerupawanannya memang menggetarkan hati setiap kita, apalagi terhadap para bidadari yang hari ini makin gesit saja dalam mengiklankan pesona keindahan tubuhnya.

Ngotot pada soal jatuh cinta boleh jadi mereka menang telak. Pacaran..?, tunggu dulu, sebab jika hukum kausalitas yang berlaku adalah ‘karena jatuh cinta sehingga pacaran’, maka, jatuh cinta pun harus digugat. Sayang, entah mau dibawa kepengadilan mana sengketa jatuh cinta dan pacaran ini, soalnya tidk ada kasus TIPIRAN (Tindak Pidana Pacaran), yang ada cuma TIPIRIN (Tindak Pidana Ringan), Heheheh…

Hasilnya, mau mau gua dong..!, mau jatuh cinta ke, mau pacaran, gua kan ga’ pake uang lo…!, ini hati..hati gua, ini cinta..cinta gua, ini tubuh..tubuh gua, mau diapaian aja itu bukan urusan lo, titik…!. Kalau sudah begini, tobbat ddah…! mata pisau dialogis langsung patah arang.

Akhirnya, pacaran juga dimenangkan dengan skor mutlak dengan prinsip demokrasi, yang banyak dia yang menang. Karena remaja yang melakoni dan menghalalkan pacaran jauh lebih banyak dengan sokongan pendukung-pendukung dan dalil-dalil pembenarannya, maka pacaran menjadi layaknya konstitusi yang disahkan di paripurna. Mari kemari…kita pacaran..!, Pacaran itu asyik, menantang, sarat seni lagi…seni bercinta..!.

Itulah sebuah presentasi dunia remaja yang dianggap selangkah lebih maju. Mereka yang jomblo dianggap lebay, gak laki, gak jantan. Lebih ekstrem sedikit, mereka yang taat beragama dan cenderung menghindar dari nuansa gemerlapnya dunia remaja saat ini disebut konservatif, diam-diam makan didalam, monoton, gak dinamis, gak romantis, gak laku-laku remaja model ini..!, Heheheh…

Hiruk pikuk budaya pacaran yang dianggap elegan ini tidak hanya menjadi gaya hidup remaja metopolis. Cepatnya arus informasi melalui media entertainment menyerobot ke setiap sudut-sudut ruang yang bisa dijangkaunya, mengalir disetiap saraf pusat untuk melahirkan keseragaman dalam memandang dan menilai pacaran sebagai trend, perilaku masyarakat modern yang dinamis dan eksis. Pacaran ditranslate menjadi sebuah peradaban seni dalam mengekspresikan gelora masa muda, masa paling indah dalam periode kehidupan dunia, sehingga tak gurih rasanya mengakhiri masa lajang sebelum mencicipi romantisme dimasa-masa tersebut.

Para orang tua yang perlahan tergiring pada proses ini sudah mulai minder, malu jika anaknya sudah gede tapi tidak ada yang pacari, apalagi sampai tidak ada yang melamar, itu bak aib yang memalukan bagi keluarga. Makanya kalau sudah ABG jangan sok jual mahal deh, saatnya untuk progresif dikit, biar kayak anak tetangga tuh, bangga orang tuanya karena anaknya banyak yang naksir , cantik soalnya, siapa dulu dong mamanya. Heheheh…

Untuk yang cowo’-cowo’, harus pinter pinter begaya’, biar mirip aktor-aktor korea, itu baru sreg, biar jadi idola dan dikerumuni cewek-cewek, apalagi pake ninja atau sekalian toyota yaris misalnya, wah..ini baru pemuda, arjuna penakluk cinta. Kalau sudah jadi jenderal dimedan ini, itu baru anak gaul namanya.

Pesona selebritas dan unjuk nyali menjadi orientasi mereka untuk tampil menjadi patron dalam giringan arus dalam memenuhi hasrat yang disebut pacaran itu.

Terciptanya society yang melebur dengan kelumrahan ini, menuai fatalitas dalam tatanan moralitas masyarakat, khususnya dari aspek pandangan islam.

Penyimpangan demi penyimpangan terus meregenerasi, membentuk rentetan cambuk bagi kehancuran derajat dan martabat manusia.

Buah pahit yang dihasilkan oleh kemerosotan yag disebut generasi elit ini lalu divonis sebagai takdir zaman, memang sudah zamannya..!. Ini yang lebih parah lagi, karena ujung-ujungnya akan menyalahkan Sang Pencipta, sehingga beralih keyakinan menjadi fatalisme (manusia dikuasai oleh nasib).

Mereka yang sudah diinabobokan, enggan untuk bangun, untuk menyadari penyakit kronis yang disepelekan ini. Akhirnya, kebusukan-kebusukan yang dulunya adalah aib yang memalukan, kini juga memiliki ruang “gagah” yang menjadi persemaiannya. Biasa..namanya juga anak muda..!, ciuman itu biasa, ini itu biasa, itu juga biasa, semua jadi biasa, akhirnya biasa-biasa saja…!.

Budaya lokal yang membendung penetrasi gaya hidup menyimpang ini, yang dulunya keras sampai parang dan badik harus ikut bicara, kini perlahan-lahan juga ikut-ikutan biasa-biasa saja. Siapa mau ambil resiko, orang pada setuju kok…!, keras..? gak bakal ada yang bela..!, boro-boro ngurus orang lain, diri sendiri aja mau,huuaahahaha…

Setelah kemelut berhasil diakhiri dengan seakan diformalkannya pacaran sebagai bagian dari falsafah masyarakat oleh pemilik suara terbanyak, bertebaranlah kemaksiatan yang dibungkus dengan kelaziman-kelaziman.

Hegemoni pemikiran barat liberal yang mendominasi dunia saat ini adalah simpul mati penyebab dari gaya hidup yang di dewa-dewakan kalangan muda-mudi yang tak karu-karuan ini.

Pada dasarnya problem yang menjalar dengan apik ini sudah diantisipasi dengan tegas dan lugas oleh syariat islam. Namun jika diperhatikan, mereka yang menjadi aktor, bahkan pembela-pembelanya adalah orang beragama islam sendiri, ini artinya agama tinggallah sebuah legalitas formal. Walaupun bisa juga disimpulkan bahwa mereka hanyalah korban.

Untuk soal jatuh cinta, memang telah disebutkan diantaranya dalam Al Quran Surah Ali Imran ayat 14 tentang kecenderungan nafsu terhadap wanita, zuyyina linnasi hubbusy syahawati minan nisaa.. (dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada wanita..), namun gejolak cinta ini harus dikanalisasi dalam poros yang dituntun sesuai syariat islam. Arahnya tentu saja menuju ke sebuah pernikahan, lalu bagaimana dengan yang belum mampu untuk menikah?, hal tersebut juga telah diberi solusi dalam Islam, diantaranya berpuasa dan hal-hal lainnya yang terlalu panjang untuk dijelaskan secara rinci disini.

Lalu apa sebenarnya yang ditawarkan oleh syariat islam terkait masalah pacaran ini? Inilah metode syar’i yang dikenal dengan istilah ta’aruf. Walaupun istilah ini disebutkan sebagai istilah yang baru (tidak secara khusus diistilahkan di zaman Rosulullah SAW seperti pada saat ini), berasal dari bahasa Arab ta’arafa ya ta’arafu, artinya upaya saling mengenal satu sama lainnya, seperti disebutkan dalam Al Quran Surah Al Hujurat ayat 13 ‘lita’arafu’. Namun pada dasarnya istilah ini digunakan untuk melabelkan pengamalan dalam upaya perkenalan seorang laki-laki dengan perempuan dalam menjajaki kecocokan untuk membangun hubungan suami istri yang sesuai tuntunan syariat islam.

Istilah ta’aruf kemudian terkesan kekanak-kanakan, bahkan kalangan remaja mengeramatkannya dan alergi terhadapnya. Ta’aruf lalu dipandang sebagai keterkungkungan dan keterbatasan dalam mencari pasangan hidup, tidak bisa berimprovisasi, atau tidak bisa bermanuver, tidak kreatif dan sebagainya. Akhirnya ta’aruf dikepak seperti sebuah perjodohan ala cerita fiksi Siti Nurbaya yang tidak didasari cinta. Hal ini selain karena pengaruh yang telah dijelaskan di beberapa paragraf sebelumnya, kekaburan terhadap metode ta’aruf tak ayal menjadi biang keroknya.

Lalu apa bedanya pacaran dengan ta’aruf yang diistilahkan ini?. Pacaran yang menggambarkan realita dari penamaannya jelas terlalu murah untuk mereka yang maskulin atau feminis, tapi hanya cocok bagi animalis (animal=hewan). Sebabnya?, karena pacaran serba boleh, dari a sampai z bisa jadi halal, sedangkan dipaksa-paksa bisa jadi, apalagi suka sama suka.

Masa pacaran yang disebut-sebut bergengsi ini dapat mengantarkan kedua pasangan muda-mudi untuk saling mengenal lebih dekat sebelum melangkah ke jenjang pernikahan. Namun tak sedikit yang kandas dijalan karena berbagai alasan ‘modern’, walaupun kedekatannya sudah tak dibatasi sehelai kain pun. Tak berlanjut ke jenjang pernikahan setelah lama jungkir balik bersama juga tak ada masalah, itu juga konsekuensi ‘modern’. Inilah pacaran..

Sementara itu, ta’aruf sesungguhnya bukan antitesis dari pacaran, ta’aruf bukan memilih jodoh seperti melot nama dalam arisan. Tak sebatas informasi biodata, sikap dan perilaku yang bisa diakses, tetapi melihat fisik dan kecantikannya pun dituntun dalam syariat islam. Tidak suka juga tidak ada yang memaksa. Banyak pilihan kok..!, heheheh…

Inilah bedanya pacaran dengan ta’aruf, dimana ta’aruf pada dasarnya adalah keseriusan untuk saatnya menikah. Sementara pacaran adalah fantasi hasrat keremajaan yang tak mempunyai frame dalam aksinya, tergantung sekreatifitas pelakunya.

Perbedaan berikutnya adalah pacaran memberikan ruang seluas-luasnya untuk mengoleksi dan menyeleksi calon pasangannya sesuai caranya sendiri. Sementara ta’aruf, yang sering dianggap mengekang perasaan cinta adalah karena sabda Rosululloh SAW untuk mengutamakan kriteria agama ketimbang harta, keturunan, dan kecantikannya. Sebenarnya anggapan ini hanyalah disebabkan karena kecenderungan manusia kepada syahwatnya masih mendominasi daripada menikmati aturan yang syar’i, padahal syariat Islam sendiri sedang ingin mengantarkan cinta jauh lebih ekspresif dengan keromantisannya.

**
Karena ta’aruf ini adalah jalan yang tak banyak dipilih, makanya yang merasakan romantismenya romantisme juga tak banyak.

Sebagai penutup…, jangan karena ta’aruf ini adalah istilah yang islami, lalu akan dijadikan keislam-islaman, sehingga yang doyan dengan gelar aktivis islam atau yang terlanjur berpenampilan muslim hendak menyisipkan penyimpangan-penyimpangan ala pacaran ke dalamnya atau menyebutnya pacaran islami dan sebagainya. Hal ini bisa melahirkan pelanggaran-pelanggaran berkedok islami lainnya. Mau diputar balikkan seperti apapun, jika didalamnya ada pelanggaran-pelanggaran syariat (berkhalwat/berdua-duaan khususnya), apapun namanya, itu sama saja dengan istilah-istilah sempalan yang tak ada bedanya dengan istilah pacaran yang telah dipaparkan sebelumnya.

**
Inilah uangkapan yang seharusnya dirasakan pengantin baru yang sejati.
“Indahnya malam ini, keteduhan dan kehangatan membalut keintimanku dengan istriku tercinta dalam dekapan kasih sayang karena saat inilah kupersembahkan cinta perdanaku”.

Makassar, 14 Jumadil Tsani 1432 H/17 Mei 2011 Miladiyah.

Uban pamungkas

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

8 Responses to Yang tidak pacaran, yang tidak gaul..

  1. Wah temen ku udah jago ngeblog nih🙂

  2. Muhammad Aswan Nas says:

    Singkat cerita buang pacar kamu pada tempatnya. Emang situ sudah ga punya Tuhan??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: