Menguak Kegagalan Bertarekat

mntOleh: Muhlis Pasakai

Tarekat yang saya artikan disini adalah menuntut ilmu mantraguna dari seorang guru yang dianggap memiliki kesaktian. Kisah ini kira-kira terjadi ketika saya beranjak remaja dan sudah benar-benar merasakan yang namanya jatuh cinta pada lawan jenis.

Saat itu kami memiliki perkumpulan remaja yang ramainya pada malam hari. Tempat berkumpul kami di sebuah rumah salah seorang guru silat kami yang sekarang sudah meninggal dunia (Allahummagfirlahu warhamhu). Hampir semua teman-temanku telah memiliki mantraguna jenis penarik cinta lawan jenis.

Setiap kami berkumpul, sebelum atau setelah permainan silat digelar, kami selalu berbincang soal pacaran, gadis cantik, dan berbagai topik yang mengasyikkan di kalangan remaja seusia kami. Beberapa diantara mereka menceritakan reaksi mantragunanya terhadap gadis-gadis yang ditemuinya, ada pula yang bercerita tentang keagresifan pacarnya setelah menggunakan mantragunanya.

Saya termasuk orang yang paling pasif ketika berbicara hal-hal seperti ini, karena belum memiliki hubungan istimewa dengan lawan jenis atau pacar, seperti tema yang sedang diperbincangkan, terlebih lagi saya tidak tahu-menahu soal mantra-mantraan sejenis itu.

Perbincangan yang menarik dengan segala jenis mantra sakti itu, semakin menarik dikalangan kami untuk mengoleksi berbagai jenis mantra lainnya, dan akhirnya mereka pun berguru ke sebuah kampung untuk mempelajari mantra sakti pemikat lawan jenis itu.

Mereka yang baru saja belajar ingin segera melihat sejauh mana mantraguna itu bekerja, dan hasilnya akan selalu diceritakan ketika kami berkumpul, ceritanya macam-macam dan hampir semua dari ceritanya mengatakan berhasil atau paling tidak memang berefek terhadap si gadis yang menjadi taargetnya.

Nah..kini tinggal saya sendiri yang belum memiliki mantra jenis itu, teman-temanku pun mempengaruhi, apalagi mungkin mereka melihat ketidakmampuanku berlagak seperti seorang remaja zaman sekarang yang identik dengan ‘usia pacaran’. Pengaruh ini cukup merasuki pikiranku, beberapa hari kemudian aku benar-benar memutuskan untuk ikut berguru mantraguna yang sakti itu, persiapanku sudah matang dan rencana pun sudah kuatur sedemikian rupa.

Tiba-tiba saja ketika hendak berangkat, hujan turun deras dengan guyuran yang kencang menyambutku malam itu, terpaksa rencanaku batal dan harus di tunda sampai malam berikutnya.

Kesokan harinya, sembari menikmati hembusan angin sepoi yang sejuk di salah satu sisi teras gubuk reotku, aku mencoba mendiskusikan dengan diriku sendiri soal rencana untuk bertarekat menuntut ilmu mantraguna itu. Keputusannya sangat kontradiksi dengan rencana awalku, entah kenapa tiba-tiba hadir di benakku bahwa apalah artinya dicintai oleh seorang gadis jikalau hanya dengan mantra yang sedang bekerja padanya, saya tidak boleh dicintai oleh seseorang karena mantra, tapi aku ingin mendapatkan cinta yang genuine agar bisa memberi warna romantisme yang tidak artificial.

Pupuslah sudah rencana untuk bertarekat ilmu mantraguna itu. Malam-malam berikutnya ketika berkumpul dan bercerita tentang mantra itu lagi, aku hanya tersenyum lega dan santai menanggapi argumen-argumen mereka.

Dalam hal menarik simpati lawan jenis, aku merasa bersyukur telah menemukan sesuatu yang kuanggap memiliki daya kerja yang jauh lebih artistik dari jenis mantra karena sifatnya tidaklah memanipulasi cinta tetapi menciptakan rasa cinta yang lebih garing, itulah kepribadian.

Awal 2007

 

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: