Burhanuddin Muhtadi

Burhan dibesarkan dari keluarga kalangan Nahdliyin. Sejak duduk di sekolah dasar, Burhan terbilang siswa yang cerdas dan menjadi salah satu murid yang berhasil meraih Nilai Ebtanas Murni (NEM) tertinggi di Kabupaten Rembang. Namun, harapannya melanjutkan sekolah ke SMP favorit harus kandas karena keluarganya lebih berharap Burhan mengeyam pendidikan di Madrasah Tsanawiyah Mualimim Mualimat NU yang dikelola ayahnya.

Kemudian Burhan melanjutkan sekolah ke Madrasah Aliyah Negeri Program Khusus (MAPK) di Surakarta. Pesantren tersebut merupakan “proyek intelektual” Pak Munawir Sadzali (mantan Menteri Agama). Pendidikan yang diberikan di MANPK adalah perpaduan antara sistem salaf dan modern.

Setelah itu, Burhan memutuskan hijrah ke Jakarta untuk menjadi mahasiswa di IAIN Syarif Hidayatullah (sekarang UIN). Keputusan Burhan itu disebabkan karena dirinya kerap membaca buku yang ditulis para akademis lulusan IAIN Jakarta seperti Quraish Shihab, Nurcholish Madjid, Azyumardi Azra, Komarudin Hidayat, Bahtiar Effendy, Nasarudin Umar, dan sebagainya.

Awalnya ayah Burhan kurang setuju jika ia kuliah di IAIN karena hidup di Jakarta sangat mahal. Karena itu, Burhan harus rajin menulis untuk meringankan beban hidupnya. Sewaktu ospek belum dimulai artikel yang ia tulis sudah dimuat di salah satu Koran berjudul Era Keterbukaan Pasca Insiden 27 Juli, Setelah itu ratusan artikelnya dimuat di pelbagai media massa seperti Kompas, Media Indonesia, Koran Sindo, Republika, Suara Pembaruan, dan lain-lain.

Selama menjadi mahasiswa Jurusan Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin, IAIN Jakarta, Burhan aktif di berbagai organisasi seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci). Bahkan, dia terpilih sebagai Ketua Umum BEM IAIN 2000-2001 melalui pemilu raya mahasiswa.

Sekalipun menjadi aktivis di kampus, Burhan tidak melupakan studi formalnya di kampus. Burhan lulus dari IAIN dengan cepat dan nilai IPK terbaik se-Fakultas Ushuluddin dan kedua terbaik se-UIN dengan IPK 3,73,.

Saat gelar sarjana diraih, Burhan tidak bisa berleha-leha. Dia harus mencari nafkah karena sudah menjadi kepala keluarga sejak usia 23 tahun. Burhan menikahi Rahmawati sebelum wisuda. Dia tidak mengenal konsep pacaran, makanya mereka putuskan untuk menikah. Saat itu, Cak Nur yang memberikan khutbatun nikah.

Burhan pun mengabdikan diri menjadi dosen tenaga honorer mengajar sosiologi dan civic education di Fakultas Dakwah UIN Jakarta. Selain itu, dia juga aktif melakukan riset bersama Saiful Mujani dan kawan-kawan di Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM). Pada 2001, burhan mendirikan Jaringan Islam Liberal bersama Ulil Abshar Abdala, Luthfi Assyaukanie, Akhmad Sahal dan lain-lain.

Hari demi hari Burhan menjalankan aktivitasnya sebagai aktivis dan peneliti. Hingga akhirnya, Burhan mendapat kesempatan mengambil gelar master di Australia setelah mendapatkan beasiswa dari pemerintah Negeri Kangguru tersebut. Burhan pun kembali hijrah bersama isterinya selama dua tahun untuk belajar di Australian National University (ANU). Nilai kuliahnya di ANU termasuk salah satu yang terbaik dan mendapat penghargaan “Grade Point Above Distinction.” Sub-thesis Burhan di ANU yang disupervisi oleh Greg Fealy juga mendapat nilai sangat baik dari dua Indonesianis kondang Edward Aspinall dan William Liddle.

Setelah kembali ke Tanah Air, Burhan mencoba peruntungan sebagai konsultan politik dan bergabung dengan sebuah lembaga yang didirikan Bima Arya bernama Charta Politika. Dia juga mengajar di Pascasarjana Universitas Paramadina. Namun, sekitar tiga bulan, Burhan mengundurkan diri dari Charta Politika karena merasa tidak memiliki potongan menjadi konsultan politik.

Burhan pun kembali diajak Saiful Mujani bergabung dengan Lembaga Survei Indonesia (LSI) sebagai Direktur Bidang Public Affair. Menurut Burhan, menjadi peneliti adalah pilihannya ketimbang politisi. Itulah yang menjadi pilihan ayah dari Rayhan Adnan Mustafa, Avicenna Ananda Mustafa, dan Alexa Shakira Mustafa ini.

Kini, Burhan sudah terbilang menjadi pribadi yang sukses di usia muda. Namanya juga berkibar di tingkat internasional seiring dengan makin seringnya paper-paper ilmiahnya yang dimuat jurnal-jurnal peer-reviewed seperti Asian Journal of Social Science, Graduate Journal of Asia-Pacific Studies, dan Asian Journal of Social Policy.

Namun, pada saat namanya mulai dikenal publik, Burhan masih memiliki satu cita-cita yang belum tercapai. Bahkan dia pun siap meninggalkan popularitas demi mengejar harapannya. Apakah itu?

Popularitas bukan segalanya. Burhan ingin meraih gelar S3 secepatnya. Karena itu, ia berencana kembali ke Australia dan meraih titel doktor dalam usia muda. Cita-cita Burhan hanya ingin menjadi akademisi. Sampai sekarang ia belum terpikir untuk menjadi politisi. Burhan berharap bisa istiqomah dengan jalur ini.

Dari berbagai sumber.

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: