Petugas PLN yang memancing emosi

Oleh: Muhlis H. Pasakai

Entah sudah berapa hari, katanya sih semenjak aku masih di Makassar, orang-orang dirumahku tak dapat lagi menyaksikan siaran televisi dengan nyaman. Saat aku tiba, receiver dan semua perangkat tv sudah tenang damai tak pernah disentuh. Bagaimana tidak, siaran kadang muncul, kadang hilang. Menonton dalam kondisi seperti itu, selain ketidaknyamanan, mereka juga mengkhawatirkan berpotensi menyebabkan kerusakan yang lebih parah. Bukan Cuma kali ini tv 24 inc dan receiver ‘Goldsat’ itu mengalami kerusakan, beberapa bulan lalu bahkan sang ‘goldsat’ tak dapat lagi menyala, hampir saja diganti dengan yang baru, setelah ku periksa, ternyata hanya mengalami kerusakan pada tombol sakelar. Semua dapat berfungsi normal setelah masalah ringan itu kubereskan.

Berbeda kali ini, setelah semua komponen kuperiksa, tak ada masalah yang kutemukan dari perangkat kerasnya. Aku terus penasaran mencari letak kerusakannya. Setelah beberapa hari, aku tak berhasil mengidentifikasi penyebabnya. Kami akhirnya menyimpulkan bahwa kerusakan ini fatal dan rumit untuk diperbaiki lagi, solusinya harus diganti dengan ‘receiver’ baru.

Belum sempat kuucapkan selamat tinggal pada sang ‘goldsat’ itu, eh..muncul masalah lain lagi.
Hari itu angin bertiup menampar cucian yang bergantungan di teras rumahku. Sinar matahari waktu dhuha kala itu sedang teduh. Suara pepohonan beramai-ramai berjatuhan mendekap mencium tanah. Aku sudah menduga, biasa..itu pasti petugas PLN yang sedang memangkas pepohonan yang dianggap berbahaya terhadap warga dan arus listrik. Aku mencoba menengok memastikan dugaanku, ternyata betul.

Aku sedang tak menghiraukan mereka. Aku meyakini saja, pepohonan yang ada di halaman rumahku akan dipangkas sewajarnya saja.

Sepertinya kayakinanku kali ini tak sedang benar, wah..pohon sayur yang mekar itu pun digasak habis. Itu menarik perhatianku, bukan hanya soal tebang-menebang itu, tapi menurutku semestinya untuk tanaman yang sekelas sayur dan pohon yang buahnya dapat dinikmati pemiliknya, tak lantang untuk di habisi. Meminta izin kepada pemiliknya adalah keputusan terhormat yang seharusnya mereka ambil. Aku dan begitu pula warga disekitarku tentu bukan ingin diperlakukan bak raja, tapi begitulah kami orang bugis punya budaya sipakatau atau saling menghargai dalam tatanan insaniyah. Namun aku mencoba arif, memaafkan tindakan mereka. Mungkin saja, kali ini ia sedang lupa, atau ada masalah yang sedang
diidapnya sehingga konsentrasinya melempem, gaya klasik itulah yang coba kubangun dibenakku.

Belum berlanjut lama, tindakan berikutnya rupanya tak ingin membiarkan kesabaranku betah. Kali ini, ia yang menebang pohon itu sepertinya memang tak menaruh hormat dengan melihat rumahku yang kecil berdiri sempoyongan dan keluargaku yang remeh temeh. Pepohonan yang ditebang itu dibiarkannya jatuh kemana saja pohon itu hendak jatuh. Akibatnya, kabel antena parabolaku pun di sabetnya, tercabut dari LNB tempatnya menancap. Ia mencoba membayar kesalahannya dengan bergegas meraih kabel tersebut lalu sok peduli ingin memasangnya kembali, tentu saja sembari menyambutku ramah tatkala melihatku sontak merespon tindakannya itu. Seperti biasa, aku selalu menampakkan wajah bersahabat terhadap orang-orang yang bertindak kejam sekalipun kepadaku, apalagi hanya untuk kesalahan kecil yang diperbuat petugas PLN itu, itu respek yang sedang kupertontonkan dihadapannya, walaupun kejengkelan sekaligus telah meyelinap dipikirku. Aku meraih kabel antenna itu dari tangannya dengan sangat sopan dipoles tutur kata yang hormat, hal yang tidak biasa diperlihatkan oleh orang yang sedang dipancing emosinya, tapi aku mencoba tegar pada prinsipku. Orang itu tentu saja diam-diam bergembira melihat responku atas tindakannya.

“ Sudahlah Pak, ga papa, biar aku aja yang perbaiki, memang sudah tua ko’..”, itu yang kuucapkan padanya. Ia menunjukkan raut muka yang lega, lalu melanjutkan tugasnya dari satu pohon ke pohon berikutnya.
Aku memanfaatkan sebuah tangga yang terbuat dari bambu untuk memastikan dapat menjangkau bagian atas parabola untuk memasang kembali ujung kabel antenna yang berbentuk mur itu pada posisinya semula di LNB parabola. Setelah aku mencocokkan pasangannya, ada sebuah kondisi yang menjadikannya sulit terpasang kembali, keduanya sedang bergaya dengan teksturnya yang karatan. Aku mulai punya asumsi baru, sepertinya inilah biang kerok masalah yang selalu kutuduhkan pada sang receiver ‘goldsat’ itu. Aku membuktikan hal itu setelah menggantinya dengan serep yang disertakan saat pembelian dulu. Ternyata siaran yang selama ini putus-putus diakibatkan karena koneksinya dengan LNB yang tidak mulus akibat karatan itu. Setelah menggantinya, kami akhirnya dapat menikmati kembali tontonan dengan nyaman, khususnya sebuah channel berita favorit kami, tv one.

Hari ini aku dipaksa menyimpulkan, kalau bukan karena kesalahan petugas PLN itu, entah bagaimana lagi nasib receiver ‘goldsat’ itu, karena kemungkinan setelah diganti dengan yang baru, akan sama saja, karena begitu receiver baru itu datang, maka akan langsung dipasang pada portnya kabel antenna yang sesungguhnya bermasalah itu. Untung saja, kesalahan yang sedikit memancing emosi itu terjadi.

Akhirnya, ternyata solusi dan kebaikan itu tidak selamanya diantar oleh hal-hal yang menyenangkan, bahkan terkadang ia bersembunyi dibalik rupa yang begitu buruk. Rupanya hal serupa telah tertuang secara eksplisit dalam QS.Al Baqoroh ayat 216.

Uban Pamungkas,
Sinjai, 2010

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

2 Responses to Petugas PLN yang memancing emosi

  1. mia says:

    menginspirasi, makasih sudah share…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: