Jenis-jenis sakit hati

Oleh: Uban Pamungkas

“Daripada sakit hati, lebih baik sakit gigi ini”, itulah kutipan lagu ciptaan Obbie Messakh yang pernah didendangkan oleh Meggie Z. dan populer sekitar tahun 90-an.

Walaupun ‘ulama mengharomkan musik dengan berbagai dalil yang disebutkan, bukan soal keharoman musik yang akan kita simak pada tulisan kali ini.

Petikan lagu diatas menyampaikan pesan bahwa betapapun sakitnya orang yang sedang menderita sakit gigi, masih lebih ringan ketimbang menderitanya seseorang yang sakitnya akibat hatinya yang terluka. Bagi yang pernah merintih akibat menahan rasa sakit gigi yang sedang berada pada puncaknya, akan berpikir panjang untuk sepakat dengan lagu tersebut. Namun sebaliknya, bagi yang telah meradang karena urusan sakit hati, akan mengkampanyekan kebenaran dari lagu tersebut, khususnya ketika sakit hatinya karena soal cinta.

Walaupun dengan mengutip lagu yang bergenre cinta diatas, apa yang dimaksudkan pada judul bukan semata-mata sakit hati yang disebabkan karena persoalan cinta.

Paragraf-paragraf diatas telah memberikan alamat kepada kita, bahwa kita tidak sedang membicarakan penyakit-penyakit hati yang dapat diteliti secara ilmiah berdasarkan ilmu biologi atau ilmu kesehatan, sejenis hepatitis misalnya. Adapun sakit hati yang dimaksudkan adalah yang sifatnya abstrak. Meskipun penyakit sejenis ini dapat disimpulkan dari berbagai perspektif, apalagi ketika diramu dari sudut pandang jasmani dan rohani akan menghasilkan interkoneksi yang kuat antara sakit hati yang abstrak dapat menyebabkan sakit fisik yang konkrit, namun kita tidak mengarah kesana, karena kita tidak ingin membedah sakit hati ini secara teoretis berdasarkan disiplin ‘ilmu yang ada, terlebih ketika memang belum ada buku yang memuat secara khusus bahasan-bahasan tentang sakit hati seperti yang dimaksudkan ini.
Ada sebuah padang kecil yang dari sudut pandang umum mungkin cenderung tidak menarik, apalagi ‘ilmiah, namun itulah yang penulis lihat dan elaborasi secara sederhana.

Mari melihat secara umum terlebih dahulu. Penyebab sakit hati dapat dilihat dari dua kelompok, yaitu pengaruh eksternal maupun internal. Pengaruh dari luar biasanya selalu dikaitkan dengan perilaku atau sifat orang-orang atau subjek-subjek diluar dirinya yang menyebabkan ia sakit hati. Sementara itu, pengaruh internal biasanya dikaitkan dengan kondisi penderita, seperti keadaan emosional, kondisi kejiwaan, psikologis, faktor usia dan sebagainya.
Ketika sedang sakit hati, orang akan serta merta memvonis kesana kemari, karena ini dan karena itu. Hal ini menjadi sangat maklum ditengah-tengah kita dengan tabiat manusia yang selalu ingin benar, tapi perlu sejenak berhenti menyalahkan dan menyimak sudut pandang yang berbeda soal sakit hati ini. Inilah yang dimaksudkan penulis, yaitu jenis sakit hati dilihat dari jenis hati itu sendiri.

Tatkala hati terluka parah, memang sepertinya seluruh objek diluar kita ikut-ikutan bersalah jadi penyebabnya . Oleh karena itu, sebelum terlalu banyak menjatuhkan hukuman kepada mereka itu, cobalah berhenti sejenak memandang keluar, mari melihat jenis hati yang kita punya. Jangan-jangan sakit hati yang kita derita bukan soal saktinya yang melukai, tapi hati kita yang memang hiper sensitif. Kalau hati kita masuk dalam jenis ini, jangankan dicaci, sekedar orang batuk saja, bisa membuat sakit hati kita. Sebaliknya kalau hati kita berjenis under sensitif, jangankan dihina, digampar sekalipun, kita masih sanggup menemukan madu dihati kita, sehingga jenis ini tidak sembarangan terluka.

Dua jenis hati ini, walaupun kelihatannya remeh saja, tapi hati-hati, sebab besok lusa anda bisa saja dipaksa mengangguk-angguk atas eksistensinya.

Belum cukup sampai soal jenis, macam hati ini rupanya bukan rumus yang konstan, walaupun tak dapat juga disebut dinamis, karena jenisnya bukan hal yang automatically melainkan telah menempuh proses dalam pembentukannya. Tentang apakah ia akan menjadi under sensitif atau hiper sensitif rupanya dapat saja disetting. Itulah kenapa paragraf sebelum ini, kita harus berhati-hati, karena ketidak sadaran kita akan jenis hati ini, dapat menjadikan kita tidak mengenalnya, tak kenal maka tak tahu. Lalu untuk apa kita mengetahuinya? Itulah tadi, karena akan berjenis apa hati kita, kita dapat memberikan stimulasi, mendidik, atau membiasakannya berjenis apa. Hal ini bukanlah inti yang ingin disampaikan pada tulisan ini, tapi terkhusus pada paragraf ini, adalah sebagai anti klimaks yang memberikan pencerahan bahwa pengidap sakit hati bisa diimunisasi.

Kemungkinan saja akan timbul pertanyaan, kalau ada hati jenis hiper sensitif dan ada juga jenis under sensitif, lalu tidakkah ada jenis middle sensitif?. Tentang hal ini, mau dibagi berapapun jenisnya, bukan itu pokok masalahnya, sebab mencari tapal batas pengklasifikasiannya tidak bisa dikalkulator, tapi yang ingin ditekankan adalah bahwa dua kutub ini dapat dengan mudah dicerna dalam hidup ini. Kita tidak sedang ingin berteori super artikulatif yang berujung pada kebingungan. Sudah terlalu banyak kebingungan-kebingungan retorikatif dinegeri ini.

Kesimpulannya adalah, mari kita cerdas dalam mendeskripsikan hidup ini untuk berselancar ditengah gempuran-gempuran cadas kehidupan. Mereka boleh tertawa, berkelik, berpose kanan kiri, tapi jangan biarkan hati diobrak-abrik untuk mengikuti gelombang yang tak terarah itu. Sebab kita punya hati, bukan hati yang manja, bukan hati yang cengeng, tapi hati yang pantang untuk disakiti.

Sinjai, 1432 H./2011 Miladiyah

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: