Membenahi negeri dari 2 buah bibir

Oleh: Uban Pamungkas

Apakah negeri kita sudah berubah jadi cerita legenda pewayangan layaknya mahabrata yang berkisah tentang perseteruan dua kelompok sepupu Pandawa dan Kurawa?, yang setiap episodenya selalu diwarnai pertarungan hebat ilmu kanuragan. Apakah negeri ini sedang bercita-cita jadi Somalia, sudan, atau kongo?. Entahlah, yang jelas majalah Foreign Policy telah memasukkan Indonesia ranking 64 dalam daftar Negara gagal (The Failed State Index)2011.
Tak perlu melihat daftar Negara gagal yang diranking oleh Foreign Policy tersebut untuk melihat wajah Indonesia. Pergolakan dari Aceh hingga Papua, dari motif SARA hingga dugaan pelanggaran HAM, sudah memproyeksikan bagaimana tidak kondusifnya negeri ini.

Dinegeri yang sudah berumur tua ini, para pahlawan yang telah menyumbangkan jiwanya menitipkan bangsa ini bukan sekedar teritorial belaka. Budaya dan harmonisasi masyarakatnya adalah mutiara cita-cita kemerdekaan yang diwariskan kepada generasinya.

Negara dibenua manapun di planet bumi ini, tak ada leluhur yang menyulap tatanan masyarakat yang kuat ala ajian anarkisme vandalistis. Keluarga besar harimaupun tak pernah menyekolahkan anak-anaknya untuk saling memangsa. Dibuku-buku sejarah purbakalapun, dari jenis pithecanthropus hingga hobbit tak pernah ditemukan catatan tawuran mereka. Lalu, apakah penghuni negeri ini mencoba berdalih pada watak genetik Qabil sebagai hereditas moyang yang secara otomatis akan diwariskan, takdir yang tak dapat ditolak, sehingga habituasi konflik adalah hal yang acceptable bak beriman pada takdir. Yang pasti, apa yang salah, tidak dapat berubah menjadi kebenaran dengan alasan eksistensinya pada masa lalu.

Hiruk pikuk kehidupan bermasyarakat ditengah kabut kegelapan ini, tak akan pernah usai jika hanya berakhir diujung pena, aksi demo dijalan, atau debat diatas meja diskusi. Mari kita berharap, bahwa para elit, pemangku kekuasaan, atau seluruh elemen masyarakat tak akan membiarkan negeri bersemboyan bhinneka tunggal ika ini semakin meluncur ke curam kehancurannya. Walaupun harapan ini akan segera menemui puncak kekecewaannya, itu soal lain. Mungkin, banyak hal yang telah dilakukan oleh orang-orang yang serius ingin memperbaiki negeri ini, dari kalangan mahasiswa, LSM, politisi, akademisi, birokrat, hingga praktisi dan social worker. Siapapun mereka, kita patut mengapresiasi niat baik tersebut, terlepas dari jalan yang mereka tempuh berbeda dan kadang kontroversi.

Ditengah geliat munculnya berbagai kalangan yang prihatin atas keterpurukan dinegeri ini, munculnya aktivis HAM, anti kekerasan, dan organisasi-organisasi sosial dan keagamaan yang mengatasnamakan rakyat, sebagai bagian dari entitas Negara, setiap kita tidak perlu menunggu untuk berlembaga, atau duduk di senayan, atau dekat dengan cikeas, kita juga dapat berbuat untuk negeri ini. Terlalu banyak yang bisa diperbuat tanpa harus berdasi, atau memeras pikiran mengkaji dan melahirkan teori kenegaraan, sudah terlalu panjang sejarah orang-orang bertoga dinegeri ini dalam merumuskan teori ini dan teori itu, kajian ilmiah a sampai z, penelitian x dan y, sampai sinus dan cosinus yang sekian lama dipelajari entah kemana.

Mari, rakyat kecil, yang selalu tajam mata hukum padanya, kita tak perlu menunggu terlalu lama elit-elit dinegeri ini merumuskan konsep Negara yang baik, sudah terlalu banyak waktu yang kita berikan kepada mereka, dari satu periode ke periode berikutnya. Perjalanan panjang ini telah membuat kita cerdas, jika harapan orang tua kita, kakek kita, nenek moyang kita yang dahulu ikut menyetor nyawanya untuk republik ini tak dapat lagi kita nikmati, untuk apalagi kita berdiam diri membiarkan nahkoda negeri ini membawa kita kemana saja ia mau. Jika perjuangan-perjuangan kita tak lagi dihiraukan, perjuangan-perjuangan kita hanya dinanti oleh kematian, maka berhentilah, jangan bunuh diri, mari kita menyimpulkan bahwa permainan dinegeri ini, kapten negeri ini tak lagi layak untuk kita. Mari kita putuskan gaya-gaya permainan itu, dengan tidak mengikuti model-model dan langgam berpolitik mereka, menjadikan mereka kuno dan murahan dihadapan kita, kita lebih maju ketimbang mereka, kita boleh jadi rakyat pinggiran, tapi kita bukan robot yang bisa diprogram seenaknya oleh mereka. Mari kita mengucapkan kepada mereka “gayanaji..”.

Ayo, kita menata kehidupan ini dari sekarang, menciptakan tatanan kehidupan masyarakat yang harmonis tidak harus memeras saraf otak untuk berpikir, apalagi dibuat semakin rumit bagi rakyat kecil. Memang memikirkan sebuah Negara yang besar tidaklah simpel, tapi kita tidak harus menyibuk-nyibukkan diri pada hal-hal yang konseptual besar-besar seperti seorang filsuf untuk membangun Indonesia, sebab orang gila pun sepertinya sudah mengerti kondisi Negara kita sekarang, sudah terlalu telanjang bagi kita untuk menilai Negara warisan pendiri bangsa dan para pahlawan kita ini. Tidak terlalu banyak yang harus dikerjakan, tapi memang dinegeri kita sepertinya mereka senang bersibuk-sibuk sok pintar ria.

Mari kita melompat jauh, meninggalkan kesuraman-kesuraman yang dipertontonkan kesebelasan negeri ini, lihat di sawah-sawah sana, anak-anak kita yang bermain lumpur, irama lambaian padi disemilir angin, suara ramah tetangga-tetangga kita yang ributnya bukan main, lingkungan yang dihiasi gelak tawa dan harmonika kerukunan, berbagi pisang goreng dipagi hari, kerja bakti dihari libur, bersama ternak-ternak dan irama burung pelatuk, suasana kekeluargaan yang wangi semerbak, wajah anak-anak sekolah yang merekah dengan cita-citanya, dan panorama kampung yang tenteram nan damai, itulah yang harus diterjemahkan dalam konteks kekinian, bukan politik belah bambu, politik rabun ayam, politik pencitraan, dan jenis politik-politik lainnya yang membingungkan dan memporak-porandakan keintiman keluarga dan tetangga.

Melihat kondisi Negara kita hari ini, kesemrawutan memang serba komplit, tapi kita harus berbenah, ikut mewarisi harapan pendahulu kita, walau sekedar memulai dari kedua buah bibir, melebarkan dan tersenyum ketika bertemu dan berinteraksi dengan sesama, sebab senyum adalah pintu rumah setiap pribadi. Hari ini, sepertinya senyum memang dijual mahal, eksklusif hanya untuk mereka yang berparas,berpunya, dan berjabatan. Ayo kita membiasakan memberi senyuman kepada anak-anak kita, ibu bapak kita, tetangga-tetangga kita, kepada pelanggan kita, dan kepada siapa saja, bukan senyum yang artificial, bukan senyumnya para artis sinetron, atau senyum model dan selebriti didepan kamera, bukan pula senyumnya politisi yang sedang berkampanye.

Mari kita menikmati hangatnya berbagi senyum..!

Pare-pare 1432 Hijriah/2011 Miladiyah.

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: