Si muka berang

Oleh: Muhlis H. Pasakai

Tok tok tok,”obat nyamuknya bu..!”,orang tua yang semula membelakang itu berbalik lalu menyuguhiku raut mukanya yang kaku. Parasnya tampak muram, bibirnya ditekuk melonjong. Sangat jelas ia sedang gusar. Ia perlahan mendekatiku, “apa?, mau beli apa?, kemari uangmu..cepat, cepat..!”. “Obat nyamuk bakar bu.”, demikian jawabku. “Apa?, baygon..”, tanyanya lagi sambil dijawab sendiri. “Bukan bu, ada ngga vape?”. “Ah..baygon saja.!”, ibu tua itu berkeras yang terlanjur menjangkau merek baygon. “Iya bu, ngga apa-apa”, jawabku.

Aku sengaja mempersingkat proses jual beli itu. Aku tak kuat lagi melihat muka ibu tua yang payah itu. Ia pasti baru saja ada masalah. Tampak dimimiknya ia sedang dilanda stres tingkat tinggi.

Aku baru beberapa hari menginjak kota peraih anugerah adipura 7 kali berturut-turut ini. Dugaanku terhadap ibu tua itu bisa salah, lagipula baru kali ini aku bertransaksi disana. Mungkin ia memang ada masalah, atau wataknya yang pemarah.

Hari hari berikutnya aku terkadang punya niat untuk membeli sesuatu di toko itu, tapi aku trauma dengan kontur muka si ibu tua yang hipertentif itu.

Suatu saat aku sedang nyantap malam, dengan seorang sepupu tempatku menumpang dirumahnya. Entah kenapa tiba-tiba dia bertanya, “Lis, kamu biasanya belanja dimana?”. “Di depan masjid itu, memang kenapa?”, jawabku sambil bertanya. “O..yang si ibu tua itu.?, yang sering marah-marah kan?”, tanyanya lagi. “Iya..”, aku menjawab sambil tertawa. “O..jadi si ibu itu memang kerjanya marah-marah kalau melayani pembeli..”, ucapku lagi sambil ngangguk-ngangguk. “ Makanya aku tanya, aku berpikir kuat gak kamu belanja disana..?, aku malas banget belanja disitu, tukang marah!..orang-orang juga jarang kesitu, biasanya anak-anak sekolah banyak gak jadi belanja disitu..!”, paparnya dengan nada canda.

Kini aku tahu, kalau ibu tua yang kuvonis habis-habisan ada masalah hari itu ternyata memang mengidap tabiat pemarah. Aku tertawa saat sepupuku menceritakan kisah-kisah kemarahan si ibu tua itu. Aku membayangkan betapa lucunya menyaksikan postur mukanya yang bengis dan kasap, padahal orang yang sudah berumur sepertinya seharusnya memiliki rupa yang adem nan bijak.

Aku jadi tak sabar ingin menyaksikan muka berang si ibu tua yang ku tafsir kocak itu. Keesokan harinya aku segera bertandang kesana, dari jauh toko itu sudah mengundang geli, menggambarkan sosok pemiliknya yang gusar melayani pembelinya.

Aku jadi berlama-lama disitu, memilih-milih barang yang akan kubeli. Semakin ia menunjukkan mukanya yang jengkel itu, semakin aku ingin tertawa menyaksikannya. Mengapa tidak, orang setua ini tak sepantasnya memiliki roman muka yang garang.

Setiap aku ingin berbelanja, aku tak khawatir lagi menghampiri si ibu tua bermuka masam itu. Ditengah keengganan orang-orang berbelanja ditempatnya, aku bisa membeli barang sesuka hati tanpa menghiraukan kegalakan ibu tua itu, sebab mukanya yang buas bisa kusulap jadi lawak yang mengaduk-aduk geliku. Menyambut wajah asli ibu tua itu akan merepotkan bagiku, sebab dialah satu-satunya penjual yang dekat dari rumahku. Oleh karena itu, kegarangannya harus kuterjemahkan jadi terapi tawa yang jenaka.

***

Banyak hal dalam hidup ini yang kontra dengan harapan dan keinginan kita. Memutuskan untuk hengkang dan memboikot, atau memaksa agar sesuai keinginan, apalagi dalam waktu yang prematur terkadang tidak jadi solusi. Benturan dan kebencian yang diakibatkan dapat mewabah dari tekanan individu menjadi depresi sosial. Banyak warna asli dalam kehidupan ini, yang tekstur asalnya memang demikian buruknya, tapi selalu tersedia terjemahan yang dapat mengubah warna aslinya menjadi artistik yang dapat menciptakan keharmonisan yang unik sarat estetika.

***

Cerita lain yang serupa adalah perilaku melecehkan yang sering diperbuat temanku. Setiap aku mengirimkan pesan singkat yang berisi da’wah seperti ucapan-ucapan yang tidak masyru’/tidak disyariatkan, eh..malah sesingkat itupula ia membalasnya dengan ucapan itu yang ditujukan padaku, bahkan ia mempublikasikannya di jejaring sosial dengan ucapan-ucapan yang dilarang itu plus ditujukan kepadaku dengan menyebut namaku secara lugas disitu.

Setiap aku mengirim pesan-pesan da’wah pada daftar nomor diponselku, tak lengkap rasanya jika tak kukirim ke nomornya. Aku sudah memastikan bakal datang balasan konyol yang menggelikan. Jika aku butuh untuk tertawa, aku tak perlu repot menanti siaran lawak.

Sikap kekurangajaran itu tak sanggup mengutak-atik amarahku, sebab ia telah kutafsir jadi sebuah lelucon.

Betapapun acuhnya terhadap pesan-pesan berbau ceramah yang kusampaikan, reaksi ketidaksopanannya membuktikan pesanku sampai dan ia telah membacanya. Lagipula hinaan ini adalah bagian kecil dari bumbu-bumbu kelezatan dalam da’wah. Inilah alasan lain yang semakin memperkokoh ketegaranku menerima hinaan dan celaan dari teman sendiri.

Betapa hidup ini dipenuhi warna keceriaan tatkala kita memiliki banyak cadangan penafsiran.

Parepare, 1433 H./ 1 Januari 2012 Miladiyah

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: