Selamat datang Jakarta, selamat datang UI.

Selamat Datang Jakarta, Selamat Datang UI…!

Oleh: Muhlis H. Pasakai

Dahulu Jakarta bak sebuah lukisan kota terindah di masa kecilku, kira-kira semacam Paris zaman sekarang. Mendengarkan nama kota itu, segera membawa angan-angan untuk mengkhayalkan sebidang tanah bertahta dengan bangunan-bangunan tinggi dan keindahan kota metropolitan.

Itu halusinasi. Dan akan tetap terawat sebagai sebuah fantasi. Sebatas itu. Belum pernah sekalipun terbayangkan untuk menginjakkan kaki di ibu kota negara kala itu. Masyarakat agraris tradisional tempatku lahir dan tumbuh tidak terlalu dipacu untuk mewujudkan mimpi-mimpi indahnya untuk melakukan rihlah ilmiah/ perjalanan menuntut ilmu. Selain faktor ekonomi, proporsionalitas kebutuhan dan skala berfikir masyarakat saat itu menjadi arus utama pembekuan itu.

Memasuki usia sekolah, perlahan-lahan iklim pendidikan mulai tajam menyentuh cara pandang para orang tua, walaupun belum sehebat zaman sekarang. Itulah hingga aku pun dapat mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar, walaupun sangat berbeda jika dibandingkan dengan kondisi pelajar masa kini. Dahulu kami harus berjalan kaki dengan jarak yang cukup jauh atau mencari jalan-jalan alternatif yang agak beresiko, seragam yang tak karu-karuan dan alat tulis menulis seadanya. Banyak cerita menarik disepanjang rute perjalanan itu. Anak-anak yang kami anggap lebih tradisional, sedikit lebih telaten, karena lihai menunggangi kudanya ke sekolah.

Menammatkan pendidikan di Sekolah Dasar waktu itu dianggap sudah lebih dari cukup, sebab untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang diatasnya harus meninggalkan kampung, menumpang di salah satu rumah keluarga yang lebih dekat dengan kota.

Perjalananku yang panjang, penuh nuansa sedih dan tawa mengantarkan aku menyelesaikan pendidikan di Sekolah Dasar, walaupun dengan harus berpindah dari sekolah paling selatan ke sekolah ujung utara di Kabupaten Sinjai saat itu, karena sebuah peristiwa.

Jika menyelesaikan pendidikan di Sekolah Dasar saja dengan terseok-seok, apatah lagi hingga ke perguruan tinggi!, membayangkan pun pada saat itu tak mungkin. Itulah yang sangat terkesan, menyentuh hingga memancing haru ketika membayangkan cerita masa lalu itu diatas sebuah pesawat dalam penerbangan menuju ibu kota negara, Jakarta, yang perjalanan itu dahulu hanya sebuah ilusi. Bukan soal ketidakmungkinan itu saja, tapi ada sebuah cerita kecil dari sudut kampung masa bayiku.

Jakarta menjadi sebuah nama yang dalam istilah seksologi  disebut “Sex Appeal” menjadi pusat, ikon kesuksesan dengan pancaran daya tarik dan wangi semerbaknya yang sanggup menghipnotis semua kalangan, mulai dari yang mimpi jadi selebriti, birokrat, akademisi, sampai yang nafsu jadi politisi.

Perjalanan pertamaku ke Ibu Kota ini mengisahkan sebuah cerita lain. Seperti yang diceritakan oleh Ibundaku. Ditengah padang rerumputan yang lebat nan hijau, mereka sedang membanting tulang. Aku pun asyik bermain dalam ayunan ditengah padang yang senyap dari orang-orang itu, hanya ditemani serangga, semut dan kawan-kawannya. Konsentrasi mereka untuk segera menyelesaikan pekerjaan itu akhirnya terpecah setelah mendengar suara tangisanku. Ibuku pun menghampiri, mengayun, bernyanyi sambil  berujar “Jangan menangis anakku sayang…kita bekerja agar hasilnya kelak kau gunakan ke Jakarta”. Ucapan itu keluar bak angin lalu.

Mengapa harus jakarta? Katanya Jakarta waktu itu adalah sebuah kota tujuan yang selalu ramai dibicarakan keindahannya. Simbol kesuksesan waktu itu adalah mereka yang telah berkunjung ke Jakarta. Tanpa terbesit sedikitpun dipikirannya akan keseriusan katanya, semua itu hanya upaya untuk mendiamkan tangisanku, tapi Tuhan sepertinya mengamininya.

Panen merica ditempat ayunanku dulu itulah yang mengantarkanku melakukan sebuah kunjungan studi ke Universitas Indonesia, sekaligus mengunjungi beberapa tempat di ibu kota negara, Ja Kar Ta.

Aneh bin ajaib sekaligus nyata..!

Akhirnya, biasakanlah mengucapkan sesuatu yang baik-baik saja, kapan, kepada siapa, dan dimanapun itu walau hanya sekedar lelucon.

Makassar,2009 M.

 

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

6 Responses to Selamat datang Jakarta, selamat datang UI.

  1. mm says:

    subhanalloh (biasakanlah mengucapkan sesuatu yang baik-baik saja, kapan, kepada siapa, dan dimanapun itu walau hanya sekedar lelucon.)

  2. mm says:

    ada kmiripan dengan kisahku (tak menyangka bisa menginjakkan kaki diibu kota indonesia jakarta) & bahagia jg krna bisa singgah bandung,jogja & banyuwangi .

    (buah dr mengabdi slma kurang lbh 4 tahun)

  3. mm says:

    UMM ……

    Liburan keliling pulau jawa .(paket Liburan dr Boz slama mengabdi kurang lebih 4 taon)

    do’akan smoga nnti dapet paket Umroh .Aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: