Beberapa Bukti Manipulasi dan Kecurangan Ilmiah Jalaluddin Rakhmat

Fathimah melaknat Abu Bakar dan Umar?

Pembaca budiman, salah satu aqidah atau keyakinan yang ditanamkan oleh Agama Syiah adalah memisahkan manhaj (metode beragama) golongan Ahlul Bait (keluarga Nabi Muhammad saw.) dengan Golongan Sahabat sebagai bagian yang sangat penting dalam mata rantai silsilah riwayat agama ini dan menganggap sahabat itu kaum pembangkang dan kaum yang pantas dilaknat karena “dosa-dosa mereka”.

Di antara tuduhan Jalaluddin Rakhmat yang merupakan salah satu tokoh penyebar dan pengusung ajaran Syiah di Indonesia adalah menganggap Sahabat Nabi Muhammad saw. sekaliber Abu Bakar sebagai orang yang sudah dilaknat, ia menukil sebuah kisah “permusuhan antara Abu Bakar dan Umar dengan Fathimah” di dalam bukunya Meraih Cinta Ilahi, dengan redaksi sebagai berikut; “Dalam Ibn Qutaibah, Al Imamah wa Siyasah, diriwayatkan pengakuan para sahabat tentang hadis ini: Fatimah bertanya kepada Abu Bakar dan Umar: ‘Kami minta kalian bersaksi demi Allah, apakah kalian mendengar sabda Rasulullah saw, Ridha Fathimah adalah ridhaku, murka Fathimah adalah murkaku. Barang siapa mencintai Fathimah, ia telah membahagiakanku. Barang siapa membuat Fathimah marah, ia telah membuatku marah juga?’ keduanya menjawab: ‘Benar, kami mendengar Rasulullah saw berkata seperti itu’. Fathimah kemudian berkata: ‘Aku bersaksi kepada Allah dan para malaikatNya, kalian berdua telah membuatku marah dan tidak senang. Jika berjumpa dengan Nabi Allah saw, aku akan mengadukan kalian berdua kepadanya’. Abu Bakar menangis keras, hampir pingsan. Fathimah berkata, ‘Demi Allah, aku akan mendoakan (agar Allah membalas perbuatanmu) pada setiap shalat yang aku lakukan’. Abu Bakar keluar dan berkata kepada orang-orang di sekitarnya: ‘Kalian tidur dengan senang sambil memeluk kawan tidur kalian dan meninggalkan aku dengan segala persoalanku. Aku tidak perlu baiat kalian. Lepaskan dari aku baiat itu’.” (Meraih Cinta Ilahi, Hal. 404-405)

Kemudian disebutkan dalam buku istrinya JR, Emilia Renita Az, “40 Masalah Syiah” dengan redaksi sebagai berikut: “Syiah melaknat orang yang dilaknat Fathimah RA”[1] Jadi dengan dalil tersebut ia bisa memasukkan Abu Bakar ke dalam orang yang dimurkai Fathimah, yang jika Fathimah murka kepada seseorang maka orang tersebut juga dimurkai oleh Nabi Muhammad saw. dan dengan jelas kita bisa mengetahui sikap JR kepada Abu Bakar, yaitu ikut melaknat atau murka kepada Abu Bakar karena Fathimah yang notabene Ahlu Bait juga murka kepada Abu Bakar. Inilah anggapan dan pemahaman yang diinginkan JR tertanam di kepala-kepala kita, agar kita juga ikut memurkai Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Mudah-mudahan kita dijauhkan dari keyakinan dan aqidah busuk ini, amiin…

Tanggapan:
1. Kitab Al Imamah wa Al Siayasah yang meriwayatkan kisah “pertengkaran Fathimah dengan Abu Bakar dan Umar” yang dinisbahkan kepada Ulama Ahlu Sunnah, Imam Al Hujjah Al Tsabt Abu Muhammad Abdullah bin Muslim bin Qutaibah (213-176 H), adalah penisbatan dusta! Imam Ibnu Qutaibah sama sekali tak pernah menulis kitab Al Imamah wa Al Siyasah, sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab Al ‘Awashim min Al Qawashim[2] pada halaman 248, sebagai berikut; “tidak shahih semua yang ada dalam kitab tersebut (untuk dinisbatkan kepada Imam ibnu Qutaibah), jikalau benar kitab tersebut dinisbatkan kepada Al Imam Al Hujjah Al Tsabt Abu Muhammad Abdullah bin Muslim bin Qutaibah (213-276 H) niscaya sebagaimana yang dikomentari oleh Ibnu Al ‘Arabi, dikarenakan kitab Al Imamah wa Al Siyasah penuh dengan kebodohan, kepandiran, kelemahan, kebohongan, dan kepalsuan. Saya juga sebutkan dalam kitab saya, Al Muyassar wa Al Qadaah di halaman 26-27, komentar dan argumen para ulama tentang kitab Al Imamah wa Al Siyasah bahwa kitab tersebut bukan milik Ibnu Qutaibah, dan saya tambahkan sekarang dari apa yang telah saya sebutkan (di dalam Al Muyassar wa Al Qadaah) bahwa penulis Al Imamah wa Al Siyasah banyak meriwayatkan (kisah dan peristiwa di dalam buku Al Imamah wa Al Siyasah tersebut) dari dua ulama besar di Mesir, sedangkan Ibnu Qutaibah tidak pernah ke Mesir dan tidak mengambil riwayat dari dua ulama tadi, maka semua itu menunjukkan bahwa kitab (Al Imamah wa Al Siyasah) tersebut didustakan (penisbatannya) padanya ”.

2. Penggalan riwayat hadits yang menyebutkan bahwa ridha dan murka Fathimah adalah juga ridha dan murka Rasulullah saw. adalah hadits yang shahih yang diriwayatkan oleh Amirul Mukminin fil Hadits Al Imam Muhammad bin Isma’il Al Bukhari di dalam kitabnya yang merupakan kitab hadits yang paling shahih di dunia, namun yang perlu dipahami di sini bahwa hadits tersebut punya sabab al wurud (sebab adanya hadits itu). Sabab wurud-nya itu bisa kita lihat di dalam kitab Imam Muhammad bin Isma’il Bukhari, dari Musawir bin Mukhzimah, ia berkata; saya mendengar Rasulullah saw. bersabda sedang beliau di atas mimbar: “Sesungguhnya Bani Hasyim bin Al Mughirah meminta izin untuk menikahkan anak perempuan mereka kepada Ali bin Abi Thalib, maka saya tidak memberi izin, kemudian (sekali lagi) saya tidak memberi izin, kecuali (Ali) Ibnu Abi Thalib ingin menceraikan anakku dan ia menikah dengan anak perempuan mereka, maka sesungguhnya dia (Fathimah) itu bagian dariku, siapa yang membuatnya ia sedih juga membuatku sedih, dan juga membuatku sakit siapa yang menyakitinya”.[3] Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya dari Musawir bin mukhzimah dengan redaksinya sendiri.

Setelah membaca riwayat di atas akan menjadi jelas bagi kita bahwa sebab munculnya hadits “Fathimah bagian dariku, siapa yang membuatnya sedih ia juga membuatku sedih, dan juga membuatku sakit siapa yang menyakitinya” adalah riwayat yang menyebutkan keinginan Ali bin Abi Thalib (suami fathimah) menikahi anak-anak perempuan Bani Hasyim bin Mughirah. Dan jika kita ingin memakai konstruksi berpikir Jalaluddin Rakhmat, maka sebenarnya Ali bin Abi Thalib-lah yang pantas dimurkai oleh Nabi Muhammad saw. karena Ali bin Abi Thalib telah memantik kecemburuan Fathimah dan membuatnya sakit hati.

Namun tentu kita sangat menghormati Ali bin Abi Thalib sebagai Ahlul Bait, Sahabat Nabi, dan orang yang memiliki banyak sekali keutamaan. Akan tetapi kita tetap menganggap beliau sebagai orang yang tidak ma’shum.[4] Maka jelas penjelasan JR ini adalah pembodohan umat dan upaya sistematis untuk mendikotomikan Sahabat dan Ahlul Bait untuk mempropagandakan pemahaman menyimpang JR (Syiah Imamiyah)

Maka sangat tidak pantas bagi seorang yang mengaku ilmuan yang kritis untuk mengeluarkan hadits tersebut dari sabab wurud-nya dan mencoba menampilkan kisah buatan yang tidak ada asalnya, dan dikoneksikan dengan riwayat palsu tadi.

Dilansir dari lppimakassar.blogspot.com pada 29 Safar 1433 H.

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: