Intelektualitas Melembaga

Ulasan atas sebuah kebijakan mini berdampak besar

Oleh: Muhlis H. Pasakai

Kancah era dinamis telah mempengaruhi seluruh aspek khidupan dibelahan dunia manapun untuk berpacu mengambil ruang dalam pusaran segmentasi arus globalisasi dunia. Mulai dari kehidupan individu, sosial politik, ekonomi, teknologi, olah raga, hingga ideologi harus serba ekstra dalam progresifitasnya jika ingin tampil menjadi bagian dari aktor dipanggung aktualisasi pergaulan masyarakat dunia.

Negara dengan pemerintahnya sebagai representasi entitas masyarakatnya hadir sebagai pemeran utama dalam laga kontestasi bergengsi yang menjadi patron ekspektasi seluruh mata di dunia.

Dalam skala yang lebih kecil, otonomi kelembagaan mendapat peran kebijakan yang signifikan dalam menentukan arah dan kualitas produksi sumber daya manusianya.

Mengikuti arus kompetisi yang ketat mengharuskan setiap lembaga mulai dari populasi yang kecil hingga tataran dunia bersikap ala kebutuhan global.

Tak ada yang membantah ketika intelektualitas disebutkan sebagai zat spektakuler yang dicita-citakan setiap sebuah perangkat kebijakan yang sasarannya sumber daya manusia.

Menjadikan masyarakat yang cerdas dan berkemampuan intelegensi papan atas adalah cita-cita ideal seluruh negeri di dunia, sehingga seluruh komponen bangsa yang memiliki wewenang dalam skalanya masing-masing akan terus bergerak mengejar kecepatan arus yang sedang meluncur menuju gelanggang intelektualisasi. Trend mutakhir ini kemudian menjalar ke setiap lapisan masyarakat, menjadi sebuah kebutuhan primer setiap individu di masa kini. Hal ini semakin nampak manifestasinya pada institusi pendidikan.

Tridarma perguruan tinggi telah menyampaikan lebih lugas alamat seorang cendekiawan sejak di etape bangku kuliah. Pada dasarnya perkuliahan diruangan memang tak sanggup banyak bicara, tapi aktivitas ekstrakurikuler mahasiswa adalah eraman yang potensial menetaskan pelajar-pelajar yang tidak prematur. Lembaga-lembaga kemahasiswaan tak butuh lagi didiskusikan soal ada tidaknya kontribusi super positifnya pada mahasiswa, walaupun kerap kali menjadi ladang penyemaian demonstran. Sudah terlalu banyak sosok gemilang yang ditelorkan melalui lembaga-lembaga kemahasiswaan, tapi kesempatan ini kita tidak sedang memintal sosok-sosok itu. Bayangkan saja, ditempat itulah bakat dan potensi digodok serta diaktulisasikan, mulai dari seni, olah raga, bahasa, kepemimpinan, keagamaan, kewirausahaan, dan berbagai UKM, HMJ, dan study-study club lainnya hingga lembaga legislatif, eksekutif, dan yang berskala nasional. Disini pulalah jaringan dan jangkauan pergaulan serta wawasan menjadi luas.

Organisasi kemahasiswaan ini, negatifnya memang ada tapi positifnya jangan kira. Kita lihat secara asal saja, bahwa tak ada sesuatu yang baik ketika kita melihat buruknya, sebab baik dan buruk tak pernah menempati ruang yang sama. Melihat lembaga mahasiswa, tidak dapat dinilai secara umum, sebab lembaga tersebut memiliki khittah dan cara perjuangannya masing-masing. Ketika kita mengeneralisir melalui kasus-kasus negatif yang kasuistis, maka kita sedang menjadi pengidap rabun ayam.

Apapun visi yang sedang dibangun sebuah lembaga mahasiswa, urusan akademik adalah hal yang memang tak boleh dilepas begitu saja. Tak cantik nampaknya jika dilembaga tersebut alpa dengan asas balance trio Q (IQ, SQ, dan EQ) atau rasa,karsa, dan karya atau kognitif, afektif, dan psikomotor dan banyak lagi olah olah sebutan lainnya.

Pada tahun 2010, sebuah tragedi yang menyakitkan bagi para pelaku organisasi di STMIK Handayani Makassar. Kebijakan yayasan untuk membekukan seluruh lembaga internal kemahasiswaan pasca aksi mahasiswa yang berakhir pada RDP di DPRD Propinsi Sul-Sel. Pembekuan ini tak hanya membuat aktivitas legal melompong, tapi secara sistemik meracuni daya kritis mahasiswa, apalagi jika lembaga eksternal tidak kuat berperan.

Apa yang telah terjadi ini, sudahlah terjadi. Idealnya telah basi di tataran faktual.

Tak lama berselang setelah heningnya aktivitas mahasiswa yang dianggap kritis, maka yayasan pun telah merestui legalnya kembali HMJ, walaupun kali ini organisasi jurusan itu diaktifkan tanpa keterlibatan pendiri-pendiri dan pejuang-pejuang terdahulunya. Sementara itu, lembaga lainnya harus menunggu tanpa kepastian.

Sejak semua lembaga internal dibekukan, bukan lembaga legislatif yang pernah kupimpin yang mengusikku, justru lembaga kecil UKM yang tak usai menggaruk sanubariku. LDK-FKMI adalah harga mati yang harus kuperjuangkan. Setelah dibekukan, sangat terasa dampaknya terhadap aktivitas da’wah dikampus. Da’wah yang kuusung dilembaga ini, baru juga terseok-seok untuk mencoba berdiri, eh..ditimpa pembekuan pula. Mereka yang pernah menjadi aktivis dilembaga ini juga entah kemana pedulinya, padahal mereka adalah harapan untuk menjadi perisai agar LDK-FKMI dapat diaktifkan kembali, namun seakan hanya aku sendiri yang pernah ada dilembaga ini.

Keputusan yayasan untuk membatasi pelegalan lembaga mahasiswa pada HMJ adalah sebuah alasan yang sangat rasional nan ilmiah menurutnya. HMJ dianggapnya sudah cukup mengakomodir segala kepentingan mahasiswa yang dinaunginya, lagipula lembaga yang dianggap layak adalah yang bersolek akademis, yang kegiatan-kegiatannya produktif dalam konteks teknologi dan ke’ilmuan berbasis intelektual. Akhirnya lembaga yang orientasinya seni, keagamaan, dan pecinta alam tak mendapat perhatian, terlebih lagi BEM dan MPM yang dianggap menjadi motor demonstrasi.

Hasil komunikasi yang kubangun dengan pihak birokrat kampus dan yayasan tak banyak membawa harapan. Kebijakan yayasan tak dapat diluluhkan untuk meninjau kembali keputusannya. LDK FKMI tetap tidak dapat diaktifkan. Padahal LDK FKMI adalah lembaga yang paling moderat dalam menyikapi berbagai konflik yang terjadi antara mahasiswa dengan yayasan maupun pengelola kampus, alasan ini tampaknya sah sah saja, namun kesan alasan yang disampaikan adalah karena LDK FKMI tidak menjanjikan lakon intelektualisme dengan kecenderungannya yang fundamentalis. Sepertinya memang ada sebuah pergeseran pandangan setelah melejitnya aksentuasi persaingan merebut tahta intelektualisme.

Hati-hati dengan keterjebakan terhadap slogan-slogan intelek sehingga memandang sekunder kajian-kajian keagamaan. Hati-hati tatkala kita sedang merasa cerdas, akademikus tapi tandus dalam persoalan ibadah praktis sederhana saja, wudhu, bermasbuq, dan kaifiyat ibadah sehari-hari lainnya. Jika kita sedang asyik berintelektual belaka, jangan heran jika lahir manusia-manusia pilon yang berlagak cakap, bicara soal agama, tapi shalatnya bolong melulu, adzan jadi angin lalu, tajwidnya kacau balau. Jangan kaget jika melihat bos-bos yang jabatan, pendidikan, dan argumentasinya luar biasa tapi shalatnya tak karu-karuan.

Jangan pernah bermimpi, sarjana-sarjana yang dihasilkan akan banyak memberikan manfaat jika persoalan-persoalan kecil dalam syariat saja dianak tirikan. Negeri ini boleh berusia ribuan hingga jutaan tahun merdekanya, tapi jika generasinya yang disebut terpelajar seperti ini, pemberantasan korupsi dan sejenisnya hanya retorika dan jualan di pasar politik.

Hati-hati ketika kita sedang memproduksi generasi-generasi penghancur peradaban luhur negeri sendiri.

Makassar, 2011

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: