Akulah pemimpin paling gagal


Oleh: Muhlis H. Pasakai

Presiden Zine el-Abidine Ben Ali di Tunisia, Hosni Mubarak di Mesir, Muammar Khadafi di Libya, Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh, Bashar al-Assad di Suriah, Perdana Menteri Yordania Marouf Bakhit, Presiden Aljazair Abdel aziz Bouteflika, Presiden Sudan Omar Al-Bashir dan sebagainya. Inilah sederet pemimpin Timur Tengah yang telah mengalami tuntutan massa dan gejolak politik untuk melengserkannya, setidaknya mencuat dalam kurun 2 tahun ini. Nama-nama ini hanyalah sebagian dari daftar sejarah penggulingan kekuasaan yang pernah ada. Di Republik ini sendiri telah mencatat sejarah reformasi 1998, walaupun buntutnya masih menimbulkan fatamorgana. Akhir-akhir ini kita juga kian mudah menjumpai luapan kekecewaan terhadap rezim kabinet IB jilid II.

Jika kita bertanya, mengapa orang-orang melakukan aksi protes terhadap pemimpinnya?, secara akumulatif dapat disimpulkan bahwa karena mereka menyebut pemimpinnya gagal.

Lalu, bagaimanakah pemimpin yang disebut gagal itu?. Banyak ciri pemimpin gagal yang di tuangkan dalam berbagai tulisan maupun pernyataan-pernyataan lisan, namun bukan ciri-ciri tersebut yang akan disadur dan diurai pada tulisan ini. Secara umum dapat dikatakan bahwa kegagalan seorang pemimpin karena persoalan integritas, kebijakan yang tidak atau kurang presisi, rentannya terhadap kompromi-kompromi politik yang berakibat pada pengacuhan hak-hak warganya, dan berbagai alasan politik, sosial dan ekonomi.

***

Kata “pemimpin” dalam KBBI berarti orang yg memimpin, sementara “memimpin” itu sendiri adalah : (1) mengetuai atau mengepalai (rapat, perkumpulan, dsb), (2) memenangkan paling banyak, (3) memegang tangan seseorang sambil berjalan (untuk menuntun, menunjukkan jalan, dsb); membimbing, (4) memandu, (5)melatih (mendidik, mengajari, dsb) supaya dapat mengerjakan sendiri.

Dalam banyak artikel dan buku-buku kepemimpinan kita juga akan menemukan berbagai definisi pemimpin. Betapapun ramainya terjemahan itu, tulisan ini tidak untuk menelaah setiap interpretasi yang berkaitan dengan kepemimpinan. Ada satu hal yang menarik untuk dicermati dalam kaitannya dengan sebuah kepemimpinan, yaitu pengkaderan. Pemimpin boleh kuat secara politik, atau berhasil mempertahankan tampuk kekuasaannya, tapi jika lengah dalam membenahi embrionya, maka generasinya akan prematur. Luasnya cakupan tentang sebuah kepemimpinan tentu merambah hingga urusan masa depan lembaga atau negara yang dipimpinnya. Seorang pemimpin yang visioner adalah yang sanggup menyiapkan penyambut estafet pada masa transisi kepemimpinannya, begitupula orang-orang yang akan dipimpin setelahnya. Disudut inilah penulis mencoba merefresh kepadatan terjemahan kita akan seorang pemimpin agar tidak terlalu jauh menjangkau berbagai warna bahasa tapi lupa dengan soal-soal ini.

Pemimpin yang hebat adalah pemimpin yang hebat orang-orang yang dipimpinnya.

***

Menjadi pemimpin dalam sebuah lembaga adalah hal yang sangat menarik. Mengasah kemampuan sosial, keterampilan komunikasi, manajerial, dan kekuasaan. Itulah yang dapat kusimpulkan semenjak memulai aktifitas kelembagaan formal lingkup internal kampus. Sejak masih berstatus mahasiswa baru, aku sudah disuguhkan sebuah tanggung jawab kepemimpinan dengan dipilihnya sebagai vice president pada sebuah study club Bahasa Inggris. Tampaknya pengalaman kelembagaan terus berlanjut, HMTI (Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika), KPU-KEMA (Komisi Pemilihan Umum KEMA), LDK-FKMI (Lembaga Da’wah Kampus-Forum Kajian Mahasiswa Islam), hingga berakhir di MPM (Majelis Permusyawaratan Mahasiswa). Dari sekian lembaga internal ini, dua diantaranya mendudukkan aku di pucuknya, yakni LDK-FKMI dan MPM.
Napak tilas perjalanan di berbagai lembaga internal ini cukup mewarnai kehidupan intelektualku, sikap, dan khas perilaku organisasiku.

Menjadi orang yang punya pengaruh dalam pengambilan kebijakan disebuah lembaga bukanlah pekerjaan sederhana. Kritik dan pujian adalah paket yang telah dilazimkan. Skala kepemimpinan dilembaga ini tentu memiliki ukuran keberhasilannya sendiri. Inovasi dan kreatifitas tentu dilibatkan dalam mengukur progresifitas lembaga. Warna pergerakan di internal kampus dan pengaruh organisasi eksternal nampaknya tak lengah membentuk pelaku organisasi. Kebutuhan warga dan orientasi kekinian adalah cetakan untuk mengukur kemapanan dan keberhasilan kepemimpinan waktu itu. Aku tak mau ketinggalan mengikuti permainan dan langgam percaturan diarea ini, hingga aku pun turut dibikin teler dengan segala situasi. Idealisme yang coba kumasukkan tampaknya mengalami banyak erosi demi sebuah tatanan lembaga yang akomodatif, moderat, dan dinamis pluralis.

Terlepas dari huru-hara kepemimpinan di skala kecil ini, ada sebuah kerangka besar yang dapat diteropong lebih pampat. Rupanya aku telah lebih dari sekedar layak disebut paling gagal, setelah melihat secara utuh masa laluku di sebuah lembaga yang memiliki potensi paling futuristik. Lembaga yang kumaksud adalah LDK-FKMI. Aku boleh gagal disemua lembaga yang pernah kusinggahi, tapi LDK-FKMI inilah yang menyerap banyak perhatianku akhir-akhir ini, terlebih tatkala hidayah yang sekian lama kujemput akhirnya ALLAH SWT melapangkan dada ini untuk memahaminya di akhir-akhir perjalanan studi strata satu.

Bisa kubayangkan, betapa aku dapat melakukan perubahan besar dinegeri ini melalui lembaga kecil ini. Aku dapat meyakini, jika pabrik LDK-FKMI ini dapat berproduksi seperti yang telah kurencanakan, mereka yang telah ditempa, bukan hanya akan berani diadu intelektualnya, tapi punya integritas dan spirit baja yang pantang dalam memperjuangkan yang haq. Mereka akan menjadi mesin-mesin regenerasi yang berkualitas, yang sanggup mewarnai lingkungannya. Jika begini, secara bertahap generasi dan masyarakat akan terdidik, sehingga sosok pemimpin generasi “dua ‘Umar” (‘Umar ‘Ibnul Khattab dan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz) akan muncul dengan sendirinya insya ALLAH.

Sayang seribu sayang, mimpi tak berujung manis, LDK-FKMI keburu di bikin lumpuh oleh sebuah kebijakan membabi buta yayasan. Pembekuan harus diteguk sedan. Belum berakhir disitu, LDK-FKMI tak dapat diaktifkan lagi setelah HMJ kembali dilegalkan, lengkaplah sudah kegagalan visioner UKM keagamaan ini.

Bukan tentang pembekuan semata yang sedang mengiris perih batinku, LDK-FKMI betul-betul akan menelan pahitnya kenyataan. Setelah toga resmi bertengger dikepalaku, aku akan segera meninggalkan singgasana aktifitas da’wah dikampus. LDK-FKMI boleh dibantai habis-habisan, boleh diporak-porandakan, tapi selama aku masih di Makassar, jiwa raga ini akan jadi garansi LDK-FKMI pantang untuk surut di medan da’wah. Qodarullah, aku tak dapat berkarir di Makassar, aku harus kembali ke tanah kelahiran. Inilah puncak sebuah kegagalan yang pernah kurasakan, tatkala kutinggalkan lembagaku dalam keadaan koma, saat mereka yang menjadi pengurus digenerasi setelahku tak memiliki power.

Aku tak kuat menahan rasa rendah dan lemahnya diriku, ketika mengenang muka-muka adik-adikku yang baru saja kuperkenalkan da’wah kepada mereka, yang antusias mengikuti kajian yang kuberikan, lalu bubar berserakan setelah aku tiada. Tak ada lagi sosok yang mencurahkan perhatiannya kepada mereka, tak ada lagi yang sanggup mengumpulkan mereka untuk melanjutkan visi besar perjuangan Islam. Kampusku semakin jauh dari nuansa islam orisinil yang kucita-citakan.
Dibatasi oleh ruang, tak pernah retak asaku untuk menagih tekadku di jalan ini. Upaya membangun komunikasi dengan pengurus-pengurus dan adik-adikku yang kutinggalkan kian intensif. Teman-teman aktivis da’wah di Makassar juga tak henti-hentinya kuingatkan untuk memperhatikan adik-adik yang kutinggalkan di STMIK Handayani, mereka pun telah membuktikan semangat juangnya, tapi sepertinya mereka yang kutinggalkan dikampus betul-betul seperti anak ayam yang kehilangan induknya, sehingga mereka yang akan membina hanya akan menemukan mushollah yang hampa.

Tak ada lagi figur yang kuat sevisi denganku, sungguh sebuah malapetaka yang menimpaku tak mampu mencetak pengganti, penerus dasar tonggak perjuangan yang telah kuletakkan. Dinegeri ini, aku boleh turun kejalan berteriak habis-habisan menyebut presiden kita gagal, tapi aku harus sadar bahwa akulah yang paling gagal, sebab negeri ini dibangun dari miniatur-miniaturnya, dan LDK-FKMIlah salah satunya, dan aku gagal membangun negeri dari miniatur ini.

Mari..pemimpin dan para calon pemimpin, jangan pulas terlena diatas empuknya takhta kekuasaan, sebab waktu tak terasa akan memisahkan kita dengannya, dan kita harus bertanggung jawab terhadap orang-orang setelah kita.

Parepare, Muharram 1433 H./Desember 2011 Miladiyah.

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: