Kiprah Aktivis Kritis Yang Masuk Lingkaran Istana

Keberadaan Staf Khusus Presiden dinilai menjadi sangat penting dan membantu Presiden dalam menjalankan roda pemerintahan.

Apalagi orang-orangnya dire­krut dari kalangan aktivis maha­siswa yang vocal. Sudah barang tentu sangat membantu kerja Pre­siden dalam menghadapi berba­gai gesekan politik melalui lobi-lobi yang bisa dilakukan secara personal.

Pemilihan Andi Arif dan Velix Wanggai pun bukan secara kebe­tulan. Keduanya adalah orang yang sangat paham politik prak­tis. Andi Arif adalah bekas aktivis Partai Rakyat Demokrat yang menjadi korban penculikan pada 1998 lalu. Sementara Velix Wanggai bekas aktivis kampus, pernah menjadi Ketua Senat UGM menggantikan Andi Arif.

Velix saat mahasiswa tergolong ak­tivis yang berani menabrak la­rangan pemerintahan Orde Baru saat pemberlakuan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koor­dinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) yang membekukan Dewan Mahasiswa, ia malah mendirikan Dewan Mahasiswa UGM.

Hanya kedua orang itulah da­lam jajaran staf khusus presiden yang memiliki kemampuan po­litik praktis meskipun ditempat di bidang tidak sesuai dengan background politiknya. Tapi Pre­siden SBY tentu tidak mungkin memilih staf khusus yang lain, Dino Pati Djalal, Denny Indra­yana, Julian Aldrin Pasha, Heru Le­lono, Daniel Theodore Sparing­ga, Mayjen TNI (Purn) Sar­dan Marbun, Prof Dr. Jusuf, Kol CAJ Dr Ahmad Yani Basuki Msi.

Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono betul-betul warna-warni. Mulai dari politisi, akademisi, pejabat karir sampai aktivis direkrut untuk masuk da­lam lingkar kekuasaan. Menarik­nya, aktivis yang dulunya lantang menentang kekuasaan kini men­jadi ‘pengikut’ yang patuh.

Inilah orang-orangnya:

Si Kelimis Yang Meledak-ledak

Andi Arief, Staf Khusus Bidang Bantuan Sosial Dan Bencana

Menjelang pengunduran diri Soe­harto pada 21 Mei 1998, ter­jadi sejumlah penculikan terha­dap aktivis mahasiswa. An­di yang kala itu men­jabat Ketua So­li­daritas Indonesia untuk De­mokrasi (SMID) yang berpayung pada Partai Rakyat Demokratik (PRD) hilang dari Rumah Toko mi­lik kakaknya di Bandar Lam­pung. Perculikan terjadi se­kitar pukul 10.20 WIB.

Menurut pengakuan Andi, sa­lah satu tujuan penculikan itu un­tuk menghentikan unsur ra­d­ikal dalam gerakan. Bahkan, saat di in­te­ro­grasi dia ditanya keter­kaitannya dengan tokoh-tokoh pe­nentang yang berniat menja­tuhkan Soeharto. Beruntung, Soeharto akhir­nya lengser pada 21 Mei, sehingga tang­gal 14 Juli di bisa meng­hirup udara bebas.

Kini cerita penculikan itu menjadi masa lalu. Alumni Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu So­sial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada tahun 1996 ini telah berada di lingkar kuasa. Pada 2009 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memilihnya menjadi Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana.

Dia berkantor di Gedung Se­kre­tariat Negara, Jalan Veteran II, Jakarta Pusat, jaraknya hanya se­lemparan batu dengan Istana Ne­gara rumah dinas kepresidenan. Ruang kerjanya, luas dan nya­man. Dia mempunyai beberapa orang staf untuk membantu tu­gas-tugas yang diem­bannya.

Di ruang kerjanya terdapat peta ben­cana di Indonesia. Yup, per­soalan bencana terutama gempa bumi memang menjadi hal yang sering dibincangkannya. Bukan lagi perihal pergerakan, kekua­sa­an apalagi menjungkalkan pengua­sa. Penampilannya pun ki­ni lebih elegan, berbalut safari dan rambutnya selalu tampak klimis.

Sekalipun begitu, gaya aktivis­nya yang meledak-ledak belum sepenuhnya hilang. Saat Bailout Bank Century diper­masalahkan De­wan Perwakilan Rak­yat, Andi ma­lah menuding Mis­ba­khun, ang­gota tim 9 angket century, men­­jadi penye­bab dana penye­lamatan Lembaga Penjamin Simpanan mem­bengkak.

Tahun lalu, Andi juga sempat bikin heboh warga Jakarta. Yakni, saat dia menyatakan Jakarta memiliki potensi gempa 8,7 skala richter (SR) dan akan disa­pu ge­lombang tsunami. Menurut­nya, pusat gempa itu terletak di Selat Sunda yang merupakan gempa purba dan memiliki siklus.

Baru-baru ini, Andi kembali men­dapat­kan ‘temuan’ yang bikin gempar dan meng­undang kontroversi para ilmuwan. Dia mengatakan bahwa, bahwa tim Tim Katastropik Purba ben­tukan Kantor Staf Khusus Pre­siden bidang Ben­cana dan Ban­­tuan Sosial mene­mukan adanya bangunan buatan manusia atau man made di Garut, Jawa Barat, yang masih tertimbun dan ber­bentuk piramida, berusia jauh le­bih tua dibandingkan pi­ramida terkenal yang ada di Giza, Mesir.

Pernah Dituding Hatta Taliwang Bukan Aktivis Eksponen 77/78

Dipo Alam, Sekretaris Kabinet Indonesia Bersatu II

Dalam dua tahun terakhir, nama Sekretaris Kabinet Dipo Alam sering muncul, namun bu­kan karena kinerjanya di kabinet melainkan lantaran pernyataan­nya yang kontroversi.

Dipo lahir di Jakarta 17 No­pember 1949. Dari seorang istri bernama Ninik Setyawati, Dipo dikaruniai dua putri bernama Dian Adiwaskitarini dan Indrika Amalia. Dipo menempuh pendi­dikannya antara lain Fakultas MIPA, Universitas Indonesia se­bagai Sarjana Kimia,(1978), Mas­ter of Engineering Manage­ment, The George Washington Uni­versity, USA (1983), Pro­fessional Degree, Industrial and Engineering Management The George Washington University, USA (1984), Doctor of Science, The George Washington Univer­sity, USA (1989).

Perjalan karir Dipo dimulai dari Ketua Umum Dewan Maha­sis­wa Universitas Indonesia, dan se­belum diangkat menjadi Se­kretaris Kabinet, Dipo adalah Sekretaris Jenderal Organisasi Ne­gara-negara Berkembang (Developing Coun­tries) 8 atau D-8 periode 2006-2008 dan 2009-2010, yang bermarkas di Istam­bul, Turki.

Pada 1974-1978, terjadi gera­kan mengkoreksi kinerja rezim orde baru. Aktivis mahasiswa menentang investasi asing, utang luar negeri, korupsi yang terus me­rajalela, serta pemberlakuan Pancasila sebagai asas tunggal dianggap mengganggu atmosfir perguruan tinggi. Sejumlah ak­tivis seperti Hariman Siregar, Syah­rir dan Dipo Alam harus meringkuk di penjara pada 1974 akibat peristiwa yang kita kenal dengan peristiwa Malari.

Pada Rabu, 6 Januari 2010, Pre­siden Susilo Bambang Yudho­yono melantik Dipo Alam men­jadi Sekretaris Kabinet Indonesia Bersatu II. Sebagai Sekretaris Ka­binet, ia bertugas untuk me­na­ngani berbagai produk hukum se­perti Keputusan Presiden (Kep­pres) dan mengatur persi­dangan dan manajemen kabinet. Pasca pelantikan itulah, sejumlah per­nyataan kontroversial keluar dari mulutnya.

Kini, Dipo menjadi pendukung berat Presiden Yudhoyono. Tak he­ran, disaat kritikan deras mengalir terhadap kinerja Presi­den, Dipo dengan keras melawan.

Februari 2011, sejumlah tokoh lintas agama menyebut Presiden Yudhoyono melakukan kebo­hongan. Tidak terima Presiden dilecehkan, Dipo pun bereaksi. Dalam beberapa kesempatan, Di­po menyebut para pemuka agama itu sebagai burung gagak hitam pemakan bangkai yang tampak seperti merpati berbulu putih. Dia mengatakan itu lantaran, curiga bahwa pernyataan tokoh agama itu terkontaminasi gerakan politik.

Dia juga memprotes saat Sri Sul­tan Hamengkubuwono X mengatakan kisruh politik di Mesir bukan tidak mungkin akan terjadi di Indonesia. Menurut Dipo, seorang pemimpin tidak selayaknya berkata demikian. Dia menilai, ucapan Sri Sultan itu dapat memanaskan kondisi politik di negeri ini, Mesir tidak sama dengan Indonesia, Presiden SBY sudah memimpin sesuai de­ngan undang-undang, dan tak ada keinginan SBY untuk mem­per­panjang jabatannya lagi.

Satu yang bikin heboh adalah, pernyataanya tentang koran dan televisi yang setiap menit dan jam, bahkan sampai gambarnya diulang-ulang, memberitakan ke­bu­rukan dan menyebutkan pe­merintah gagal sehingga terjadi salah paham di masyarakat dan ca­lon investor yang berniat mena­namkan modalnya di Indonesia.

Karena sikapnya ini, dua pucuk pimpinan aktivis era 1977/78, M Hatta Taliwang dan Umar Ma­ra­sabessy merespons dan menya­takan Dipo Alam tidak pernah tergabung dalam aktivitas mereka sebagaimana disebut sejumlah kalangan.

Menurut Hatta Taliwang, Dipo Alam tidak punya kaitan lang­sung dengan Gerakan Mahasiswa 77/78. Saat gejolak politik di akhir 1977 hingga awal 1978, dia sudah tidak menjabat lagi sebagai Ketua Dewan Mahasiswa Uni­versitas Indonesia.

Mereka memiliki data otentik. Dipo Alam memang pernah jadi aktivis mahasiswa, tetapi terakhir hanya dikenal sebagai Ketua De­wan Mahasiswa (Dema) Uni­versitas Indonesia tahun 1976. Penahanan Dipo Alam ketika itu, karena pernah bersama-sama dengan Bambang Sulistomo mengusung Ali Sadikin sebagai calon presiden alternatif.

Penggagas Dewan Mahasiswa UGM

Velix Wanggai, Staf Khusus Presiden Bidang Pembangunan dan Otonomi Daerah

Nama Velix Wanggai mung­kin asing terdengar pada era 1998 atau masa pergerakan, pria asli Papua ini mulai dikenal se­telah Presiden Susilo Bam­bang Yu­dho­yono menjadikan­nya Staf Khusus Bidang Pem­bangunan Daerah dan Otonomi Daerah.

Saat kuliah dulu, Velix juga aktivis di kampusnya Univer­sitas Gadjah Mada (UGM). Pria kelahiran 16 Februari 1972 ini menghabiskan masa kecilnya di Papua. Anak dari pasangan Sofyan Wanggai dan Ita Nurlita ini menghabiskan masa sekolah dasar sampai menengah di Jayapura. Saat bersekolah di SMA Negeri 2 Jayapura, Velix su­dah aktif berorganisasi di Gera­kan Pemuda Ansor, sebuah organisasi pemuda yang ber­afiliasi ke Nahdlatul Ulama.

Lulus SMA pada 1991, Velix lalu berkuliah di UGM. Awal ku­liah, Velix sudah didapuk te­man-teman seangkatannya se­bagai Ketua Angkatan 1991. Dua tahun kemudian, antara 1993-1994, Velix menjadi Ke­tua Umum Jamaah Mushala Fi­si­pol UGM. Kemudian setelah itu, Velix menjadi Ketua Senat Ma­hasiswa Fisipol UGM meng­gantikan Andi Arief, yang sekarang juga menjadi Staf Khusus Presiden.

Saat menjadi Ketua Senat antara 1994-1995 ini, Velix per­nah memimpin sebuah de­monstrasi yang membuat me­rah telinga Rektor UGM saat itu. Velix bersama teman-te­man­nya yang tergabung dalam Komite Pe­negak Hak Politik Ma­hasiswa (Te­­gaklima) menun­tut maha­sis­wa diberikan hak memilih dekan.

Velix juga menimbulkan ke­hebohan, yang mungkin ber­ska­la nasional, ketika pada ta­hun 1994 mendeklarasikan pen­dirian Dewan Mahasiswa UGM. Dewan Mahasiswa me­ru­­pakan sebuah nama yang sudah dikubur Orde Baru dalam Normalisasi Kehidupan Kam­pus/ Badan Koordinasi Kampus atas nama ketertiban umum.

Meski berstatus staf di Bap­penas, gairah berorganisasinya tak pernah hilang. Antara 1998-2000, Velix menjadi Sekretaris Jen­deral Forum Ukhuwah Pemuda Irian Jaya. Saat ber­kuliah di Flinders University, Velix juga menjadi Presiden Persatuan Pelajar Indonesia se-Australia antara 2004-2006.

Tidak seperti Andi Arief, Di­po Alam dan Denny Indra­yana yang pernyataannya ke­rap membuat kontroversi lan­taran membela Presiden Yu­dhoyono, sikap Velix jauh le­bih kalem. Komentarnya di me­dia massa lebih banyak per­soalan Papua.

Di kala Papua bergolak de­ngan sejumlah aksi penem­bakan, Velix mengatakan Presi­den Yudhoyono berkomitmen membangun tanah Papua de­ngan hati sebagai kunci keber­hasilan pembangunan guna mewujudkan Papua yang adil, aman, damai, dan sejahtera.

Menurutnya, pemerintah menyadari adanya komplek­sitas yang dihadapi di tanah Pa­pua. Oleh karena itu, peme­rin­tah akan konsisten menerapkan pendekatan yang menyeluruh bagi Papua, baik penegakan hu­kum, pendekatan politik, eko­nomi maupun sosial budaya.

Dalam berbagai kesempatan pun, Velix meminta mahasiswa Papua mendukung Pemerintah Pusat dalam memajukan pem­bangunan dalam memberikan pemikiran kritisnya.

Tetap Rajin Menulis Buku

Denny Indrayana, Wakil Menteri Hukum dan HAM

Bekas Staf Khusus Presiden Bi­dang Hukum, HAM dan Pem­berantasan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (2009-2011), Se­kretaris Satuan Tugas Pem­be­rantasan Mafia Hukum (2010-2011), Pendiri Indone­sian Court Monitoring, Direk­tur Pusat Ka­jian Anti Korupsi Fa­kultas hu­kum Universitas Gadjah Mada, adalah rentetan titel yang pernah disandang Denny Indrayana.

Akhir tahun 2008, Denny In­drayana kerap muncul di me­dia massa dengan label Direktur Pusat Kajian Anti Korupsi (PUKAT) UGM. Saat itu, dia mem­berikan pandangan kritis ter­hadap kepemimpinan Pre­siden Yudhoyono. Bahkan, pada tahun yang sama Denny me­luncurkan buku dengan ju­dul Negeri Para Mafioso: Hu­kum di Sarang Koruptor.

Dalam bukunya itu, Denny menulis korupsi menjadi keja­hatan luar biasa yang meluluh­lan­tahkan sendi-sendi kehidu­pan bangsa. Berbagai data dan fakta di lapangan menunjukkan betapa korupsi telah membuat bangsa ini kacau balau, salah arah dan mengalami kebang­krutan nasional. Ironisnya, korupsi sudah mendarah daging dan menyebar di lingkungan ek­sekutif, legislatif dan yu­di­katif, bak virus ganas yang me­matikan siapa saja tanpa kenal kompromi.

Menurutnya, mafia peradilan di Indonesia merupakan per­soalan krusial yang paling sulit di­atasi. Hal ini bukan tanpa se­bab. Mafia peradilan adalah se­kelompok “gangster’ atau oknum aparat penegak hukum yang melakukan praktek KKN (Ko­rupsi, Kolusi dan Nepotisme) se­cara sistematis dan rapi.

Beragam cara atau modus diterapkan, mulai dari jual beli pa­sal, manipulasi proyek, peni­lepan dana, hingga penyalahgu­naan jabatan dan wewenang. Na­mun, pada hakekatnya se­muanya bermuara pada satu tu­juan, memperoleh uang meski dengan cara haram. Ya, Ujung-Ujungnya Duit (UUD).

Saat berada di luar peme­rintahan Denny begitu kritis ter­hadap pemerintahan Yudho­yo­no. Ia beberapa kali melontar­kan istilah “pemakzulan” (im­peach­ment) terhadap Presiden Su­silo Bambang Yudhoyono, mi­salnya ketika ramai dibi­ca­rakan aliran dana nonbud­geter Departemen Kelautan dan Pe­rikanan (DKP) dan hak angket BBM. Pada 2007, Denny mengkritisi aliran dana nonbud­geter DKP dengan terdakwa Men­teri Kelautan dan Perika­nan kala itu dijabat Rokhmin Dahuri.

Pada 2008 Denny kembali me­lontarkan istilah pemak­zu­lan, ini terkait dengan hak ang­ket BBM. Ia menegaskan, ke­mungkinan hak angket ber­ujung pada “impeachment” (pe­makzulan) tergantung pro­ses penyelidikan panitia khusus (pansus) hak angket atas kebi­jakan pemerintah menaikkan harga BBM.

September 2008, Denny mengatakan bahwa dirinya di­angkat menjadi Staf Khusus Presiden bidang Hukum sejak 29 Agustus 2008. Dia ber­alasan, ingin berjuang dari dalam.

Pria kelahiran Kotabaru, 11 Desember 1972 ini telah ajeg berada dalam pemerintahan. Bah­kan, baru-baru ini dia kem­bali meluncurkan buku dengan judul “Indonesia Optimis”

Denny juga menulis Indo­nesia Bukan Surga Koruptor. Denny menyatakan bahwa pem­berantasan korupsi di In­donesia tidak berjalan di tempat seperti yang dikatakan oleh banyak pengamat.

Disadur dari rakyatmerdekaonline.com pada 17 Rabi AtTsani 1433 H.

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s