Pelajaran dari es krim di siang hari

Oleh: Muhlis H. Pasakai

Hari itu terik sangat tajam menyengat, sekujur tubuh dapat bermandi peluh. Kami sedang bercengkerama melepas penat dengan keluarga, para sepupu yang sedang berbadan dua. Keintiman kami menggelitik kesibukan orang-orang untuk ikut bergabung, akhirnya keramaian berseloroh menambah gerahnya siang itu.

Tak lama kami menikmati nuansa kekerabatan, sejuk sedang mengundang telinga kami, saat mendengar suara penjual es krim. Tak perlu bersabar terlalu lama, rasa ingin mendinginkan tenggorokan segera saja terpenuhi. Iya, es krim dengan aneka rasa dapat kami pilih gratis, saat paman kami jadi berselera mentraktir melihat para ponakannya keriangan. Maklum, waktu yang panjang tak disadari telah merenggut kekariban kami , ini adalah momen yang sangat indah dinanti.
Menikmati es krim yang lezat adalah hal yang menyenangkan ditengah hari seperti ini, rasanya yang rupa-rupa telah kami seleksi sesuai selera.

Kami pun menikmati pilihan masing-masing sambil melanjutkan lelucon pengocok perut. Sela waktu yang tak lama, kami mengalihkan percakapan pada soal rasa es krim yang sedang kami cicipi itu, ada yang mengaku lebih nikmat pilihannya dengan rasa coklat, ada pula yang beraroma stroberi dan lainnya. Tiba-tiba seorang dari kerabat kami yang dari tadi menikmati pilihannya dengan lahap mencoba lebih serius, ia baru sadar bahwa pilihannya berbeda dari yang kami nikmati bersama. Ia tertarik pada jenis rasa yang baru saja kami bicarakan, rupanya jenis es krim yang dipilihnya tak termasuk dari segala rasa yang kami sebut. Aku pun menambah kacau nafsu makannya setelah membacakan komposisi pilihannya yang hanya terdiri dari pemanis, pewarna, dan air, berbeda dengan kami yang setidaknya mengandung susu.

Walaupun sudah lebih banyak yang dinikmatinya, seleranya menjadi hilang setelah menyadari jenis es krim kami lebih nikmat dan bergizi dari pilihannya. Padahal, ia telah menikmati dengan gairah dahaga yang hebat sejak dari tadi. Rupanya kesadaran yang lahir dari penginderaannya telah merampas kenikmatannya sendiri.

Dalam kehidupan ini, betapa banyak jenis kenikmatan yang kita berangus hanya gara-gara mengintip- ngintip kenikmatan level atas milik orang lain. Nampaknya rasa ‘nikmat ’ itu sangat ditentukan oleh sebuah pembandingan. Rasa ‘nikmat’ adalah sesuatu yang universal adanya,yang segala kenikmatan itu pada dasarnya nikmat, lalu kemudian menjadi tidak nikmat ketika dibandingkan dengan yang lebih nikmat darinya.

Kesimpulannya, perasaan nikmat terhadap segala sesuatu merupakan sebuah bentuk provokasi terhadap diri sendiri dalam merespon segala bentuk ‘nikmat’ orang lain.

Sinjai, Safar 1433 H./Januari 2012 Miladiyah

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: