Fahmi Salim: Liberalisasi Pemikiran Gagal, Liberalisasi Budaya Sukses!

Bicara soal fashion, tak dipungkiri sudah terjadi secara massif. Di Indonesia, persentase wanita berjibab masih jauh di bawah wanita yang tidak berjilbab. Di masyarakat bawah, sebelum proses modernisasi dan liberalisasi, wanita Indonesia masih tampil berpakaian secar sopan, walaupun tidak berjilbab.

“Semakin ke sini, setelah reformasi, di era kerbukaan, liberalisasi tayangan televisi, kemajuan internet, dan teknologi informasi semakin mudah diakses oleh seluruh strata usia, sehingga terjadilah penurunan atau degradasi dari segi kesadaran masyarakat untuk berpakaian secara sopan dan santun, walaupu tidak berjilbab,” kata Wakil Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Ustadz Fahmi Salim kepada Voa-Islam di kantor Kementerian Agama (Kemenag) RI, Jakarta.

Dalam perspektif umat Islam yang berpegang teguh pada ajaran Islam, salah satu indikator kesopanan, tentu dengan berjilab, menutup aurat. Setidaknya, jika belum berjilbab pun, masyarakat yang mengedepankan etika, masih berpakaian dalam batas-batas kesopanan. Tapi, sekarang hotpants dan tank top (pakaian yang memperlihatkan ketiak) menjadi trend, dengan menonjolkan lekuk aurat tubuh wanita. Ini memprihatinkan.

“Mulai dari anak-anak SMP, SMA, Perguruan Tinggi hingga ibu rumah tangga, suka dan pakai hotpants. Ini menunjukkan, masyarakat kita sedang sakit dan kian jauh dari nilai-nilai agama. Fenomena hotpants itu tidak akan terjadi jika tidak ditopang oleh liberalisasi media massa, mulai dari tayangan televisi hingga akses teknologi informasi, sehingga menciptakan nalar kolektif di tengah masyarakat, lalu berpandangan, pakaian tidak sopan itu dianggap tidak masalah. Akhirnya, pakaian seronok pun jadi budaya dan sesuatu yang biasa (permisif),” kata Fahmi Salim yang juga pemerhati paham sekularisme, pluralisme dan liberalisme.

Liberalisasi Budaya Gagal

Ketika masyarakat menjadi permisif, apakah ini membuktikan program liberalisasi telah berhasil di Indonesia? Menurut Fahmi Salim, liberalisasi dari segi pemikiran memang tidak berhasil. Namun usaha kaum liberal tidak berhenti sampai disitu. Mereka terus menyesatkan umat Islam dengan merubah haluan, masuk ke dunia politik.

“Tak bisa dipungkiri, liberalisasi dalam hal perilaku dan budaya sangat massif, sehingga boleh dibilang sukses. Jadi, meski masyarakat tidak mengenal ide-ide pemikiran yang diusung oleh kalangan liberal, liberalisasi melalui budaya adalah pintu masuk yang sangat efektif untuk melibelisasikan umat Islam Indoenia, khususnya muslimahnya dalam hal berpakaian.”

Tapi ingat, kata Fahmi Salim, liberalisasi budaya, teknologi, dan industri tayangan televisi, bukan soal pemikiran, tapi lebih mengikuti budaya pop. Metode inilah yang dibentuk, dimana ada permainan industri media, dengan pola mencari rating , untuk meraih sebanyak mungkin keuntungan. Ketika budaya pop telah terbentuk, masyarakat akan mudah menjadi permisif, dan memandang sesuatu yang tabu menjadi biasa.

Untuk menghadang gencarnya liberalisasi budaya, harus ada gerakan dari umat Islam yang dipelopori ulama dan aktivis dakwah untuk mencounter melalui budaya pula. “Tugas para dai dan ulama adalah , bukan hanya membentengi umat secara passif, tapi juga pro aktif, dengan memberi edukasi kepada masyarakat tentang perilaku, cara berpakaian sopan dan sesuai syariat, dan tentu saja mengantispasi serta menghindari budaya-budaya pop dari Barat yang tidak sesuai dengan jatidiri bangsa .”

Bagaimana cara mengconter liberalisasi budaya? Fahmi Salim memberi masukan, hendaknya kita membuat program alternative, media harus disampaikan amar maruf nahi mungkar, mengarahkan pada hal-hal yang positif, menggalang petensi umat Islam yang sudah ada, dan bagaimana berdakwah lebih gencar lagi ke tengah masyarakat, sehingga umat jadi tahu tentang nilai-nilai Islam dalam budaya. “Ini bukan tanggungjawab dai saja, tapi juga tanggungjawab guru di sekolah, tokoh masyakat, pemerintah, dan orangtua.”

Keberhasilan liberalisasi di bidang budaya, berawal ketika generasi muda Islam mengidolakan tokoh Barat atau Asia yang telah ter-Baratkan (weternisasi). Itu sangat mungkin. Mereka mengidolak suatu figur, lalu mulai meniru, apa yang menjadi gaya dan ikon tokoh yang diidolakannya itu.

“Ini harus kita tekan, agar tidak menjadi mainstream. Permasalahannya, media kita tidak berpihak pada nilai-nilai luhur budaya bangsa, apalagi agama Islam. Persoalan besarnya justru ada di media. Lady Gaga jika tak dibesarkan oleh media, mustahil diidolakan remaja di seluruh dunia,” tandas Fahmi.

Disadur dari voa-islam.com pada 14 Jumadil ‘Ula 1433 H.

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: