Jilbab Bukan Produk Budaya, Tapi Syariat. Hari Genee Gak Jilbab!

Zamannya yang edan atau manusianya yang edan. Bagaimana tidak dikatakan aneh, pakaian laki-laki semakin modern, justru lebih elegan dan tampil rapi menutup auratnya. Sedangkan perempuan, semakin modern dan metropolitan, malah semakin terbuka tidak karu-karuan. Inilah yang disebut westernisasi budaya, meniru budaya pop di Barat yang tak punya batasan aurat, hanya menutup kemaluannya saja.

Masih segar dalam ingatan, begitu rumit dan panjangnya perjalanan UU Pornografi di negeri ini. Meski sudah memiliki UU Pornografi, tetap saja tak bisa membendung pornografi dan pornoaksi, bahkan pornografi semakin menggurita. Apalagi jika menggugat pakaian yang sudah menjadi budaya di masyarakat. Mereka yang anti syariat, mengira bahwa menutup aurat dalam batasan-batasan ajaran islam itu sebagai produk budaya. Padahal, jilbab itu bukan produk budaya, melainkan murni wahyu.

Demikian dikatakan Wasekjen MIUMI Ustadz Fahmi Salim kepada Voa Islam di Kemenag RI, Jakarta, belum lama ini. Fami mengajak para aktivis dakwah untuk mengembalikan umat Islam kepada fitrahnya. Sehingga nilai-nilai Islam dapat dipahami secara utuh, baik dalam hal berbudaya, berpakaian, hingga memilih idola.

Jika ingin mempertahankan pakaian adat lokal, bisa digunakan strategi, yakni tetap memakain pakaian adat, tapi harus menutup aurat. Misalnya dengan kaos dan celana panjang, atau rok panjang. Pakaian adat tidak bertentangan dengan Islam yang baku, tapi perlu kita sempurnakan. Kalau ada yang masih terbuka, kita tutup. Jadi wanita tetap pakaian adat Jawa, Minang, yang modenya bisa dimodifikasi, dan disempurnakan dengan jilbab.

Fahmi membantah, bahwa jilbab dikatakan kaum liberal sebagai upaya Arabisasi. “Salah besar jika jilbab dianggap sebagai bentuk Arabisasi. Mengingat, di Arab pada masa jahiliyah, wanitanya tidak beraurat, dadanya terlihat, begitu juga tangan, dan kaki.”

Jilbab itu bisa disesuaikan dengan budaya setempat. Model jilbab tidak satu, setiap negara memiliki kekhasannya sendiri. Aturan universalnya adalah menutup aurat, menjulurkan jilbab, tidak memperlihatkan lekuk tubuh, dan tidak transparan.

Perlu diketahui, bahwa jilbab ada nilai akhlak di dalamnya. Jilbab justru melindungi perempuan dari perbuatan jahil laki-laki. Dengan berjilbab, wanita muslimah tampil terhormat, dihargai, dan lebih elegan.

“Jilbab bukan hanya secara dzohirnya yang ditutupi, tapi juga menjilbabkan hati dan perilaku wanita agar tidak pecicilan. Jangan berjilbab, tapi masih pacaran, ikhtilat, itu perlu dilurusklan, perlu secara bertahap dan terus memperbaiki akhlaknya agar sesuai dengan norma-norma Islam.

Disadur dari voa-islam.com pada 16 Jumadil ‘Ula 1433 H.

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

2 Responses to Jilbab Bukan Produk Budaya, Tapi Syariat. Hari Genee Gak Jilbab!

  1. Jilbab: menutup aurat dg beradaptasi dg pakaian budaya setempat. Karena kata “jilbaabun” berasal dari kata “jalbaba” yg artinya “beradsptasi atau menyesuikan”.

    • Terima Kasih atas komentarnya..
      Dikamus mana kita dapat menemukan penjelasan arti kata jilbaab seperti itu?, mhon maaf kami tidak paham persis, namun dlm lisanul arab kami pernah membaca bahwa al jilbaab itu tsaubun asau minah khimar, duuna rrida tugotti bihil mar’ah ro’saha wa sadraha..Jika memg betul apa yg disebutkan sbg beradaptasi, itu sgt berbhaya jika hrs beradaptasi diwilayah non muslim. Mgkn ada baiknya tdk semata2 menyandar pd arti kata, tpi juga syara’…Terima Kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: