Jawaban Syubhat Nasrani

Oleh: Mamduh Farhan al-Buhairi

(SATU..)

Syubhat: Mengapa shalat pada agama Anda dengan bahasa Arab? Apakah Allah tidak faham kecuali bahasa Arab?

Jawab: Saya berterima kasih atas pertanyaan Anda yang penting ini. Anda memiliki hak untuk mengetahui jawabannya. Anda harus mengetahui bahwa menurut kaum muslimin, di dalam shalat terdapat tiga perkara;

Pertama, membaca al-Qur`an, dan ini tidak boleh kecuali dengan bahasa Arab, dan akan saya jelaskan nati sebabnya apa.

Kedua, lafazh-lafazh dan ungkapan di dalamnya adalah bersifat tauqifiy (paten), tidak boleh kecuali dengan bahasa Arab.

Ketiga; do’a, boleh bagi orang yang tidak bisa berbahasa Arab (atau tidak hafal doa yang berhasa Arab) untuk berdo’a dengan bahasanya, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala memahami seluruh bahasa. Dialah yang menciptakannya, dan Dialah yang mengadakannya, (tetapi tetap diajurkan untuk belajar berdoa berbahasa Arab yang ada dalam al-Quran dan Sunnah).

Dari sini, kita bisa memahami, bahwa boleh menggunakan bahasa apa pun dalam do’a di dalam shalat, jika orang yang shalat tidak mengetahui bahasa Arab. Ada pun membaca al-Qur`an, maka tidak boleh kecuali dengan bahasa Arab, sama saja apakah di dalam shalat atau pun di luar shalat, karena sebab berikut:

Karena al-Qur`an adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan tidak boleh bagi kami untuk mengubah, atau mengganti firman itu walaupun satu huruf.
Karena membaca setiap huruf al-Qur`an adalah bernilai satu kebaikan, dan satu kebaikan berlipat sepuluh kali lipatnya. Seandainya al-Qur`an diterjemahkan, maka pastilah jumlahnya akan bertambah atau berkurang.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjaga kitab-Nya (al-Qur`an) dari penggantian dan perubahan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr (15): 9)

Seandainya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengizinkan bagi setiap orang untuk membaca al-Qur`an dengan bahasa masing-masing, maka pastilah hal itu akan menjadikan perubahan al-Qur`an seperti yang terjadi pada Taurat dan Injil. Selanjutnya, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjaga al-Qur`an dari penggubahan dengan bahasa Arab.
Bolehnya membaca al-Qur`an dengan sejumlah bahasa itu akan membawa kepada kerancuan besar dalam makna al-Qur`an, karena manusia akan berbeda dalam menerjemahkan. Masing-masing orang akan mengklaim bahwa terjemahannyalah yang benar, yang kemudian terpecah belahlah kaum muslimin.

Terakhir, saya ingin Anda memahami bahwa asal syubhat ini adalah kedengkian yang disebabkan akan kegelisahan orang-orang Nasrani terhadap keunggulan bahasa ‘Arab di atas bahasa Latin di negeri Andalusia (Spanyol). Tatkala Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kekuasaan kepada kaum muslimin di negeri Andalusia, mereka mendirikan satu peradaban yang menyinari seluruh negeri Eropa, dan menyebarkan agama Islam serta bahasa Arab di antara putra-putra Andalus. Bersamaan dengan pertengahan abad IX M, mimpi terbesar orang-orang awam di Eropa kala itu adalah agar anak-anak mereka bisa belajar di Universitas Cordova, di hadapan para ilmuwan kaum muslimin yang telah menyalakan lampu peradaban, dan menyinari kegelapan Eropa yang kelam dengan ilmu dan karya-karya mereka.

Adalah para pemuda, dan pencari ilmu, serta orang-orang terpelajar di Eropa melahap bahasa Arab bukan karena bahasa Arab adalah bahasa penakluk yang dengan kekuatan pedangnya menguasai pendidikan, akan tetapi karena bahasa itu adalah bahasa peradaban yang tegak, maka tidak ada jalan untuk bisa mendapatkannya kecuali dengan menguasainya.

Bahkan Gereja di Sevillah terpaksa menerjemahkan Injil ke dalam bahasa Arab. Orang-orang Nasrani yang telah belajar bahasa Arab bisa membacanya. Sebagaimana Bapa Paul Alvarez, salah satu pendeta di masa itu melihat kepada para pemuda Eropa yang keluar dengan diam-diam dari peradabannya dengan pandangan gelisah, seraya meletakkan kepalanya di antara dua tapak tangannya, serpeti orang-orang lain yang fanatik terhadap kaumnya, yang tidak ingin menoleh kepada sejarah dan perjalanan peradaban. Dia menulis:

“Sesungguhnya orang-orang Nasrani suka membaca bait-bait sya’ir Arab dan periwayatan mereka. Mereka belajar kepada para ilmuwan agama dan filosof Arab. Bukan dengan tujuan untuk mendebat mereka, akan tetapi untuk mendapatkan bahasa Arab yang benar dan anggun. Di manakah orang-orang biasa, yang membaca pelajaran al-Kitab dengan bahasa Latin? Atau mempelajari kisah-kisah para Nabi dan orang-orang suci? Duhai ruginya, sesungguhnya seluruh pemuda Nasrani yang berbakat membaca buku-buku berbahaa Arab, dan mempelajarinya dengan penuh semangat. Mereka mengumpulkan perpustakaan besar dengan biaya besar. Mereka tidak menghargai pendidikan keNasranian yang keberadannya sudah tidak layak untuk dipentingkan. Betapa celakanya… orang-orang Nasrani telah lupa, hingga kepada bahasa mereka sendiri. Di antara seribu orang, Anda akan sulit mendapatkan satu orang saja yang bisa menulis surat kepada temannya dengan bahasa latin.” (Tarikh Andalus (123))

Ya, orang-orang Spanyol yang lebih mengutamakan tetap tinggal sebagai orang-orang Nasrani, yang jumlah mereka adalah minoritas bila dibandingkan dengan orang yang mengesakan Allah dan masuk Islam telah memiliki bahasa Arab yang tidak diwajibkan atas mereka. Inilah yang diakui oleh Alvares dalam persaksiannya di atas.

Sekarang, marilah kita bandingkan antara toleransi Islam dalam mempergauli selain muslim, dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang Katolik saat Granada jatuh, dimana mereka mengharamkan kaum muslimin untuk berbicara dengan bahasa Arab, lalu mereka mewajibkan bahasa mereka dengan paksa. Barangsiapa ditemukan membawa buku berbahasa Arab, maka dia akan dihukum dengan hukuman paling kejam. Mereka pun membakar ribuan buku berbahasa Arab yang berisi syariat (ajaran agama), termasuk ilmu duniawi.

Ini semua menjelaskan kepada setiap peneliti yang obyektif akan perbedaan Islam dengan Nasrani. Sekarang tahukah Anda akan sumber kebencian terhadap bahasa Arab?*

Syubhat: Anda mengklaim bahwa ajaran Islam yang pokok adalah “Tauhid.” Pengakuannya: “Tiada Tuhan selain Allah dan hanya kepada Dialah kita wajib sembah sujud dan meminta pertolongan” (QS.1 Al-Fatihah 5). Apakah kiblat dan konsep “Rumah Allah” sesuai dengan konsep Tauhid?

Jawab: Ya, sesuai dengan konsep tauhid. Karena berkumpulnya kaum muslimin di sekitar satu rumah, yaitu Baitullah, dan menghadapnya mereka dengan satu kiblat yang sama yaitu Ka’bah, dan bacaan mereka hanya kepada satu kitab, yaitu al-Qur`an, semua itu turut andil dalam menjaga persatuan kaum muslimin, agar tidak terpecah belah dan berselisih.

Ka’bah, tidak lain hanyalah kiblat, yang kaum muslimin menghadap kepadanya dalam shalat mereka, atas perintah Allah. Itu seperti pandangan persatuan mereka, serta kesatuan tujuan mereka. Mereka menziarahinya, serta thawaf di sekitarnya adalah demi menjalankan perintah Allah. Kaum Muslimin mengetahui bahwa itu hanyalah batu, yang tidak mendatangkan madharat, tidak juga memberi manfaat, akan tetapi kaum muslimin melaksanakan perintah Allah sekalipun belum mengetahui hikmah di belakangnya. Karena itu termasuk kandungan dari “hanya beribadah kepada Allah pencipta alam semesta”.

Tidaklah Islam itu mengajak kecuali hanya menyembah, beribadah dan taat kepada Allah saja, serta mencabut segala perbidatan kepada selain-Nya, manusia atau pun batu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاتَّخَذُوا مِن دُونِهِ آلِهَةً لَّا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلَا يَمْلِكُونَ لِأَنفُسِهِمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا وَلَا يَمْلِكُونَ مَوْتًا وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُورًا

“Kemudian mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apa pun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak Kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) suatu kemanfaatan pun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan.” (QS. Al-Furqan (25): 3)*

Syubhat: Sesungguhnya saya tidak mendapatkan seseorang dari para ulama, dan da’i kaum muslimin yang kami temui di Perancis yang bisa menjawab atas sebuah pertanyaan yang banyak menyulitkan mereka. Yaitu, bagaimana khamer menjadi haram, padahal aslinya adalah anggur yang halal? Ini hanyalah dari itu. Jawaban mereka selalu berputar sekitar perubahan kondisi anggur, karena dengan menjadikannya khomer, maka itu memabukkan. Akan tetapi saya tidak ingin filsafat tersebut, saya ingin mendapatkan jawaban tanpa masuk dalam rincian; bagaimana sesuatu yang diturunkan dari anggur atau apel bisa menjadi haram? Maka apakah mungkin bagi Anda untuk menjawab kami? (Marcell, Perancis)

Jawab: pertama, izinkanlah saya untuk menghaturkan terima kasih kepada setiap ulama dan para da’i yang telah menjawab Anda. Jawaban mereka semua benar. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas mereka dengan kebaikan. Ada pun berkaitan dengan pertanyaan Anda, maka sesungguhnya saya mengetahui apa yang Anda inginkan. Maka janganlah Anda menyangka bahwa ini termasuk kecerdasan. Bahkan itu adalah pengaburan yang dilakukan oleh syetan kepada Anda. Dari jawaban saya, Anda akan yakin dengan kesimpulan saya. Sebelum saya menjawab, saya katakan bahwa dengan logika aneh seperti itu, yang Anda ingin memaksakannya kepada kami, maka Anda pun akan mengalami kekalahan dalam pertandingan ini. Saat itu saya ingin Anda untuk berani mengakui kekalahan Anda. Saya menjawab dengan logika sama yang Anda ingin memaksakannya kepada kami. Yaitu, seharusnya Anda boleh menikahi putri Anda, karena dia itu berasal dari istri Anda yang halal, maka putri itu adalah dari wanita (istri) Anda itu. Sebagaimana Anda lihat saya jawab dengan logika yang sama, maka seharusnya Anda juga mengakui bolehnya pernikahan bapak-bapak dengan putri-putri mereka, agar syubhat Anda ini menjadi semakin kuat atas kami. Saya memohon hidayah kepada Allah bagi Anda.*

Syubhat: Mengapa saat kaum muslimin berhijrah dari Makkah ke Madinah, mereka shalat mengarah ke kiblatnya orang-orang Yahudi (Baitul Maqdis), akan tetapi setelah mereka berhasil mengusir orang-orang Yahudi, Muhammad –Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam- dengan hujjah telah turun kepadanya wahyu untuk mengubah arah kiblati dari Baitul Maqdis ke Makkah yang di dalamnya terdapat Ka’bah?

Jawab: Pertama, Baitul Muqaddas bukanlah kiblat untuk orang Yahudi saja, melainkan juga untuk orang Nasrani. Akan tetapi kala itu orang-orang Yahudi yang marah karena adanya perubahan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah. Penghadapan kiblat kearah Baitul Maqdis kala itu dijadikan oleh orang-orang Yahudi sebagai alasan untuk menolak masuk Islam, dimana mereka di Madinah mengatakan dengan lesan mereka bahwa pengarahan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan orang yang bersamanya ke kiblat (Baitul Maqdis) adalah sebuah dalil bahwa agama mereka (Yahudi) adalah agama yang sebenarnya, dan kiblat mereka adalah kiblat yang sebenarnya. Maka merekalah yang asli dan agama yang benar. Mereka (Yahudi itu) mengatakan, bahwa yang lebih utama bagi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan orang-orang yang bersama mereka adalah kembali ke agama mereka (Yahudi), tidak mengajak mereka untuk masuk Islam.

Pada waktu yang sama, perkara itu menjadi berat atas kaum muslimin bangsa Arab yang mereka sudah terbiasa di zaman jahiliyah untuk mengagungkan Baitul Haram, dan menjadikannya sebagai Ka’bah, dan kiblat mereka. Perkara itu semakin menjadi sulit saat mereka mendengar dari orang-orang Yahudi kebanggaan mereka dengan perkara ini, dan menjadikannya sebagai alasan untuk membenarkan yahudi. Adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri membolak-balikkan wajah beliau ke langit, bermunajah kepada Tuhan, tanpa berbicara dengan lisannya, sebagai bentuk adab kepada Allah, serta menunggu arahan yang diridhai-Nya. Kemudian turunlah al-Qur`an mengabulkan apa yang ada di dalam dada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan wahyu dengan firman-Nya:

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاء فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّواْ وُجُوِهَكُمْ شَطْرَهُ

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya….” (QS. Al-Baqarah (2): 144)

Ketika kaum muslimin mendengar pengalihan arah kiblat, sebagian dari mereka tengah berada di dalam shalat mereka. Maka mereka pun mengalihkan wajah mereka ke arah Masjidil Haram di tengah shalat mereka dan menyempurnakan shalat mereka ke arah kiblat yang baru.

Saat itulah hilang sudah terompet orang-orang Yahudi yang membanggakan mereka, dengan mengalihkannya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan orang-orang yang bersama beliau dari kiblat mereka, yang dengannya mereka kehilangan hujjah yang menyandarkan kebanggaan mereka kepadanya.

Sekarang, biarkanlah saya menjelaskan kepada Anda dan juga kepada kaum muslimin, terutama para penuntut ilmu, akan hikmah dialihkanya kiblat dari Ka’bah pada awal tinggal mereka di Madinah. Sungguh ini adalah sebuah kejadian besar di hati mereka, dan memiliki pengaruh besar dalam kehidupan mereka. Hikmahnya adalah agar menjadi jelas siapa yang mengikut Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan siapa yang membelot. Adalah orang Arab mengagungkan Baitul Haram dalam masa jahiliyah mereka. Mereka menjadikannya sebagai simbol keagungan mereka. Saat Islam ingin membersihkan hati untuk Allah, serta melepaskannya dari ketergantungan kepada selain-Nya, dan membebaskannya dari segala keterpikatan, dan segala kefanatikan kepada selain manhaj Islam yang terikat dengan Allah secara langsung, yang bersih dari segala endapan sejarah dan kesukuan, maka mencabut mereka dengan sekali cabutan dari arah baitul haram yang kemudian memilihkan mereka untuk sementara waktu ke arah masjidil Aqsha, demi membersihkan mereka dari endapan jahiliyah, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan masa jahiliyah agar menjadi tampak siapa yang mengikuti Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan ikhlas dan siapa yang membelot karena bangga dengan keterpikatan jahiliyah yang berkaitan dengan jenis, kaum, bumi, dan sejarah.

Dikarenakan pembimbing dan pengajarnya adalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka pasrahlah kaum muslimin, dan menghadap ke arah kiblat yang telah ditentukan untuk mereka. Saat perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala turun untuk mengarah ke Masjidil Haram, maka hati kaum muslimin pun terikat dengan hakikat yang agung, yaitu bahwa rumah tersebut adalah rumah yang dibangun oleh Ibrahim dan Isma’il ‘Alaihima Salam agar menjadi murni untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.

(DUA..)

Syubhat: Mengapa kaum muslimin menyembah batu hitam (hajar aswad), dan ini jelas dari perbuatan mereka yang selalu menciuminya dan sujud ke arahnya.

Jawab: Sesungguhnya pertanyaan Anda tersebut adalah bukti nyata bagi penipuan dan pembodohan yang dilakukan oleh sebagian pendeta, karena kaum muslimin tidak sujud kepada hajar aswad, dan tidak pula menyembahnya. Jadi, darimana para pendeta yang menyimpang itu mendapatkan pemahaman yang salah ini? Jawabannya tidak lepas dari dua kemungkinan; bisa jadi mereka itu adalah orang-orang yang bodoh terhadap agama Islam, kemudian mereka tularkan kebodohan mereka kepada Anda; atau bisa jadi mereka sengaja berdusta dan menipu demi menolong kebatilah mereka agar Anda tetap berada di atas agama mereka, meskipun dengan cara dusta.

Sesungguhnya hajar aswad adalah dari bebatuan sorga. Saat Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintah Ibrahim ‘Alaihi Sallam untuk membangun Ka’bah, maka dia pun bergegas untuk meninggikan pondasi bangunan Ka’bah. Kemudian Ibrahim ‘Alaihi Sallam meminta putranya, Isma’il ‘Alaihi Sallam mencarikan sebuah batu yang nantinya akan menjadi tanda awal thawaf. Maka saat Isma’il mulai mencari, dia tidak menemukan. Lalu dia kembali kepada ayahandanya tanpa membawa batu. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan bersama Jibril ‘Alaihi Sallam sebuah batu dari sorga yang sekarang berada pada tempatnya hingga hari ini.

Hajar aswad terdapat di rukun (pojok Ka’bah) sebelah selatan timur di bagian luar Ka’bah. Keberadaannya sebagai tanda dimulai dan berakhirnya sebuat putaran thawaf, dan dengannyalah putaran thawaf menjadi sempurna.

Kaum muslimin saat mencium hajar aswad, mereka melakukannya hanya karena mengikuti Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang telah memerintahkan kita untuk mencontoh manasik hajinya, bukan karena menyembah hajar aswad, dan tidak pula sujud kepadanya, sebagaimana Anda klaim. Kaum muslimin tidak menjadikan satu perantara pun antara mereka dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan mereka tidak beranggapan bahwa ada sesuatu yang memiliki kekuasaan untuk mendatangkan madharat (bahaya) dan manfaat selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka menafikan (menolak) adanya kekuasaan makhluk apa pun, sebagaimana mereka beranggapan bahwa hubungan ibadah antara makhluk dan sang Pencipta adalah hubungan langsung tanpa perantara. Dan bahwa para hamba tidak membutuhkan perantara yang bisa memberikan pertolongan hingga mereka menuju dan mendekat kepadanya selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan mereka mengaggapnya sebagai perbuatan syirik besar (menyekutukan Allah) yang mengeluarkannya dari agama Islam. Mereka berkeyakinan bahwa segenap ibadah, tidak boleh diarahkan atau ditujukan kepada makhluk mana pun, apakah makhluk itu seorang malaikat yang dekat kepada Allah, atau seorang Nabi yang diutus oleh Allah, lebih-lebih lagi sebuah batu yang tidak bisa mendatangkan madharat dan memberikan manfaat.

Sesungguhnya mencium hajar aswad bukanlah sebuah syarat, tidak pula sebuah kewajiban atas kaum muslimin. Cukuplah Anda ketahui bahwa Khalifah Umar bin al-Khaththab Radhiallahu ‘Anhu, termasuk murid utama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, saat dia thawaf di sekitar Ka’bah dan datang pada hajar aswad, dia berkata,
إِنِّيْ أَعْلَمُ أَنَّكِ حَجَرٌ لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ، وَلَوْلاَ أَنِّيْ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُكِ مَا قَبَّلْتُكِ

‘Sesungguhnya aku tahu bahwa engkau adalau sebuah batu yang tidak bisa mendatangkan madharat, dan tidak bisa memberikan manfaat, seandainya saja aku tidak melihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menciummu, maka aku tidak akan pernah menciummu.’

Sesungguhnya perkataan khalifah ini adalah sebuah ketetapan yang menguatkan sebuah aqidah (keyakinan) yang sangat penting, yaitu bahwa kami tidak menyembah batu, dan kami tidak menyentuhnya agar mengangkat madharat, atau memberikan manfaat, tidak juga berdo’a memohon kepadanya. Akan tetapi kami menciumnya hanya karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menciumnya. Ini adalah sebuah penjelasan dari Khalifah Umar Radhiallahu ‘Anhu kepada umat Islam, serta sebagai pelajaran sekaligus nasihat yang dalam dari pelajaran aqidah yang shahih, dan sebagai bentuk ittiba’ (mengikut) Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Syubhat: Apakah bisa kami fahami, bahwa kaum muslimin dengan shalat mereka menghadap ke Ka’bah, berarti mereka itu menyembah Ka’bah selain Allah? Apakah Ka’bah itu adalah rumah Allah? Apakah kalian berkeyakinan bahwa Allah bertempat tinggal di dalam sebuah rumah di Makkah?

Jawab: Dulunya, kami berharap agar ada salah seorang pendeta yang mau ikut dalam dialog damai ini di majalah Qiblati, daripada mereka menanamkan tipu muslihat atas agama Islam ini kepada akal Anda. Namun biar bagaimana pun, saya akan menjawab Anda. Saya katakan: sesungguhnya Ka’bah tidaklah disembah selain Allah, akan tetapi kaum muslimin menghadap kepadanya dalam shalat dan thawaf mengelilinginya, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan mereka untuk melakuklan yang demikian. Maka kaum muslimin, dengan perbuatan tersebut adalah sekedar mentaati perintah Rabb (TUHAN) mereka, bukan menyembah Ka’bah. Inilah ibadah yang benar, yaitu mentaati Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dulu, jika ada seorang muadzdzin (tukang adzan) ingin adzan, maka dia menaiki Ka’bah dengan kedua kakinya, kemudian mengeraskan suara adzan di atas atap Ka’bah. Maka apakah bisa diterima oleh akal, bahwa sesuatu yang disembah kemudian dinaiki/diinjak dengan kedua kakinya?!!

Kemudian, istilah baitullah (rumah Allah) tidaklah mesti bermakna bahwa Allah bertempat tinggal di dalamnya, karena setiap masjid di manapun berada di dunia ini adalah disebut baitullah (rumah-rumah Allah). Dinamakan demikian karena Allah Subhanahu wa Ta’ala disembah di dalamnya, bukan karena Allah tinggal di dalamnya. Bahkan sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan kehormatan darah seorang muslim lebih agung di sisi-Nya daripada kehormatan Ka’bah yang dimuliankan oleh Allah. Suatu hari, Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma pernah melihat ke Ka’bah seraya berkata, ‘Betapa agungnya engkau, betapa agungnya kehormatanmu, dan seorang mukmin lebih agung kehormatannya daripadamu.’ (HR. at-Turmudzi (1955), Shahih at-Turmudzi (2032))

Tidaklah kehormatan darah dalam syariat Islam terbatas atas pemeluk Islam saja, tetpi juga berlaku bagi non muslim. Allah telah menjadikan Islam menjaga darah, sebagaimana ia juga menjaga harta dan kehormatan. Di antara orang-orang yang aman darah mereka (tidak boleh diganggu) adalah orang-orang yang datang ke negeri Islam, maka mereka masuk di bawah perjanjian dengan kaum muslimin dan suaka mereka. Jadi mereka adalah orang-orang yang terlindung darah mereka. Hal ini ditetapkan berdasarkan teks-teks syariat dan kesepakatan umat Islam.

Syubhat: Telah lewat bahwa Anda telah mengatakan pada salah satu jawaban Anda terhadap Surat Wanita Nasrani, bahwa anjing adalah najis, dan bahwa malaikat tidak mau turun dengan kehadiran anjing. Ini adalah ucapan dari Anda tanpa dalil akal (logika) yang bisa menjadikan non muslim puas dengannya. Kami tidak menginginkan sebuah dalil pun dari al-Qur`an, atau ucapan Nabi Anda, karena kami tidak mengakuinya. Akan tetapi kami menginginkan dalil penafian keberkahan dari anjing, dan ini adalah mustahil, karena anjing adalah hewan yang diciptakan oleh Allah, jadi dia itu diberkahi. Kami pun juga bisa mengatakan bahwa domba-domba yang Anda pelihara adalah hewan-hewan najis, dan tidak diberkahi. Akan tetapi kami berkeyakinan bahwa anjing dan kambing memiliki manfaat besar terhadap manusia, dan Allah telah menjadikannya diberkahi agar seluruh manusia bisa mengambil faidah darinya. Saya mohon Anda menetapkan ucapan Anda dengan logika, jika tidak, maka ucapan Anda tidak ada gunanya bagi kami.

Jawab: Sesungguhnya saat saya menjawab dari al-Qur`an dan sabda Nabi kami Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, penyebabnya adalah karena penanya yang Nasrani tersebut menuduh kaum muslimin bahwa para malaikat lari dari anjing (takut anjing). Maka untuk membuktikan ketidak benaran tuduhan tersebut saya haruslah berdalil dengan al-Qur`an dan sabda Nabi kami Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Adapun berkaitan dengan permintaan Anda akan sebuah dalil logika akan kenajisan anjing dan tidak adanya keberkahan padanya, maka saya jawab sebagai berikut:

Berkenaan dengan kenajisan anjing, maka tidak membutuhkan dalil logika. Ilmu modern telah membuktikan bahwa anjing membawa penyakit dalam. Dimana dia membawa lima puluh virus. Dan kebanyakan ditemukan di air liurnya. Sebagaimana telah ditetapkan oleh ilmu modern bahwa air liur anjing berbeda dengan air liur hewan lain. Anda bisa dengan mudah mengecek kebenaran pernyataan ini, karena hal itu telah masyhur dan diketahui oleh para ilmuwan Nasrani dan selain mereka.

Adapun klaim Anda bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan keberkahan pada anjing, maka ini adalah sebuah ucapan tanpa bukti (dan berkata atas nama Allah secara dusta). Maka di sini saya yang meminta Anda untuk mendatangkan dalil logika untuk menetapkan kebenaran klaim Anda. Saya yakin, Anda tidak akan bisa menetapkannya, dan saya akan menetapkan tidak adanya keberkahan pada anjing sepanjang Anda bertanya kepada saya.

Pertama, bukanlah menjadi sebuah syarat bahwa setiap makhluk yang dicipatakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah diberkahi. Jika tidak demikian, maka syaitan yang terkutuk pun adalah makhluk ciptaan Allah, dan sungguh mustahil dia diberkahi.

Adapun tercapainya keberkahan bagi anjing, maka saya akan membuat perumpamaan yang terdiri dari sejumlah pertanyaan, dan jawabannya akan menghantarkan Anda kepada kebenaran masalah ini:

Berapa kali ajing hamil dalam setahun? Yang dikenal adalah dia hamil 3 hingga 4 kali.

Berapa kali kambing hamil dalam setahun? Yang diketahui adalah sekali atau dua kali.

Berapa anjing yang dikandung dalam setiap kehamilan? Yang diketahui adalah sekitar enam hingga delapan anjing.

Berapa kambing yang dikandung dalam setiap kehamilan? Yang diketahui adalah satu, dan jarang sekali dua.

Maka kita akan menemukan dengan bahasan angka bahwa anjing lebih banyak perkembang biakannya daripada kembing. Akan tetapi kenyataannya bahwa jumlah kambing jauh lebih banyak daripada jumlah anjing.

Saya bertanya kepada Anda, mengapa hal itu terjadi? Sesungguhnya jawabannya adalah karena sebab keberkahan yang dijadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala pada kambing-kambing. Dan tidak menjadikannya pada anjing. Disini lah saya berjanji dan meminta kepada setiap muslim dan muslimah yang membaca ucapan ini untuk berkata Allahu Akbar.

Saya juga ingin Anda mengetahui perkara penting lain, yaitu bahwa kami bisa mengambil manfaat dari segala sesuatu yang berasal dari kambing; kulit, daging, tulang, dan tanduknya, (bahkan juga kotorannya untuk pupuk). Adapun anjing, maka jika dia mati maka tidak bisa diambil darinya sesuatu pun. Sebagaimana Anda juga jangan lupa bahwa setiap Nabi adalah penggembala kambing (bukan pemelihara anjing). Akan tetapi mustahil bagi seseorang untuk berbangga, apapun agamanya, bahwa dia adalah seorang penggembala anjing.

Saya berharap Anda tidak fanatik kepada anjing, setelah saya menjawab Anda akan najisnya anjing dengan dalil logika yang Anda inginkan, serta ketidak berkahannya. Dan kambinglah yang membawa keberkahan. Dan terima kasih bagi Anda.

Syubhat: Anda kaum muslimin menolak ilmu modern, dan ini jelas dengan penafian kalian akan berputarnya bumi.

Jawab: Syubhat ini menunjukkan akan kelemahan Anda yang amat sangat. Ketika Anda tidak menemukan sesuatu pun yang bisa Anda pegang untuk mengalahkan kaum muslimin, maka Anda pun mencari-cari pada catatan kuno Anda, barangkali Anda mendapatkan sesuatu yang merugikan kami. Biar bagaimanapun, permasalahan rotasi bumi bukanlah termasuk ilmu syar’i. Akan tetapi itu adalah permasalahan ilmu dunia. Sebagian besar agama, termasuk diantaranya adalah Nasrani, semuanya menafikan rotasi bumi, sebagai bentuk tertinggalnya keilmuan ratusan tahun lalu yang manusia hidup di dalamnya, bila dibandingkan dengan keadaan kita pada hari ini. Bahkan Bibel telah pergi lebih jauh dari hal tersebut. Bibel bahkan menganggap bahwa bumi ini persegi empat, dan ini adalah ucapan yang lebih buruk dari penafian rotasi bumi. Disebutkan dalam (Yehezkiel 7: 2)
حزقيال 7 : 2 (قَدْ جَاءَتِ النِّهَايَةُ عَلَى زَوَايَا الأَرْضِ الأَرْبَعِ).

“akhirnya bisa datang ke empat penjuru (pojok) bumi”.

Agar saya bersikap obyektif dan amanah, maka dalam jawaban ini saya juga katakan bahwa ada sebagian ulama muslim yang menafikan rotasi bumi karena keyakinan mereka bawa bumi ini datar, bukan bulat. Kemudian setelah mereka, datanglah sejumlah penuntut ilmu yang taklid kepada mereka, dan menukil dari mereka tanpa pemahaman. Akan tetapi wajib bagi kita untuk perhatian terhadap satu perkara penting; yaitu bahwa terdapat satu perbedaan besar antara pemahaman yang salah dengan penyebutan Bibel bahwa bumi ini persegi empat. Dan sebaliknya kita temukan bahwa al-Qur`an telah mensifati bumi dengan bentuk bola.

Setelah kemajuan ilmu yang dialami oleh manusia, maka pandangan ilmiah pun berubah pada mayoritas muslim dan Nasrani serta selain mereka. Kemudian mereka pun berkeyakinan akan rotasi bumi. Kemudian tetap tersisa sejumlah kecil dari seluruh agama yang tetap bersikukuh dengan pendapatnya yang lahir dari para pendahulunya, yaitu bahwa bumi tidak berotasi. Ini adalah buah dari kekurangan besar dalam memahami masalah rotasi bumi. Mereka menyangka dengan pemikiran sederhana bahwa rotasi bumi tidak bisa dirasakan. Sebagaimana mereka menyangka bahwa seandainya terjadi rotasi bumi, maka termasuk perkara yang mustahil kita bisa tetap tegak di permukaannya. Ini adalah sebuah ungkapan yang menunjukkan ketiadaan penguasaan teori ilmiah dan ilmu falak.

Yang wajib Anda fahami adalah bahwa al-Qur`an tidak menafikan rotasi bumi. Lihatlah apa yang dikatakan oleh salah satu ulama besar kaum muslimin zaman ini, yaitu Syaikh al-Albani j. Dia berkata, ‘Kami, pada dasarnya tidak meragukan bahwa masalah rotasi bumi adalah sebuah hakikat ilmiah yang tidak menerima perdebatan. Pada waktu yang kita berkeyakinan bahwa bukan termasuk profesi syariat secara umum dan al-Qur`an secara khusus berbicara tentang ilmu falak, dan rincian ilmu falak… (Kaset no. I/497)

Perlu diketahui bahwa ahli falak kaum muslimin, dulu adalah orang yang pertama kali menetapkan rotasi bumi beratus tahun yang lalu, kemudian diikuti oleh sejumlah ulama syariat.

Sekalipun masalah rotasi bumi ini bukan masalah aqidah, tetapi terdapat sebagian ulama Islam yang menafikan rotasi bumi, dan banyak juga ulama kaum muslimin yang mengatakan rotasi bumi. Dari sinilah kami memahami bahwa syubhat tersebut tidak memiliki nilai sama sekali dalam dialog antara kami dengan Anda. Terutama bahwa saya termasuk orang yang menetapkan rotasi bumi. Boleh bagi Anda untuk melihat kembali pada pembahasan saya dalam majalah ini dari edisi 11 tahun II hingga edisi 09 tahun III. Dan sesungguhnya orang yang menafikan rotasi bumi tidak akan masuk neraka sebagaimana orang yang menetapkan rotasi bumi juga tidak masuk sorga (karenanya). Maka barangsiapa mati di atas keyakinan ini atau itu, maka dia tidak akan ditanya tentangnya pada hari kiamat. Oleh karena itulah, kami menginginkan agar dialog diantara kita adalah dalam permasalahan aqidah agama yang keyakinan terhadapmya bisa menghantarkan ke sorga atau berakibat neraka.

Sebagai penutup, saya selalu menyambut Anda sebagai seorang tamu di majalah Qiblati, termasuk seluruh pembaca Nasrani. Anda sekalian memiliki hak untuk bertanya sesuka Anda, maka hati kami terbuka untuk semuanya.

(TIGA..)

Terima kasih atas jawaban Syeikh Mamduh dalam edisi Nopember 2010 mengenai “jawaban syubhat kristiani dan syiah.” Selanjutnya saya masih butuh penjelasan atas dua hal yang sering dituduhkan oleh umat kristiani terhadap Al-Quran yang mulia. Saya memperoleh pertanyaan dari misionaris mengenai Al-Quran :

Syubhat (1): Penyebutan Maryam ibu Yesus sebagai saudara perempuan Harun dan anak kandung Imran (QS.19:28)([1]). Mereka menganggap Allah Subhanahu wa Ta’ala mengira Maryam saudara perempuan Musa dan Harun yang adalah anak Imran. Padahal antara keduanya ada selisih waktu sekitar 1400 tahun. Mengapa Maryam disebut saudara perempuan Harun? Menurut misionaris, ini adalah kesalahan penulisan Sejarah dalam AlQuran.

Jawab:

Bismillahirrahmanirrahim. Sesungguhnya, orang-orang yang membuat keragu-raguan tentang al-Qur`an tidak mengetahui kalau penyebutan ukhtu Harun (saudari Harun) bukanlah penamaan pertama kali oleh al-Qur`an, melainkan al-Qur`an hanya mengisahkan apa yang pernah terjadi, yaitu apa yang dikatakan oleh kaum Maryam kepadanya, dan panggilan yang mereka lontarkan kepadanya, saat dia mengandung ‘Isa ‘Alaihi Sallam. Mereka mengingkari kehamilan tersebut, lalu menuduh kehormatan, kemuliaan, dan kesuciannya. Maka mereka berbicara dengannya dengan panggilan ya ukhta Harun (Wahai saudari Harun), maksudnya adalah ‘Engkau dari keluarga baik-baik, suci, lagi dikenal keshalihan, ibadah dan kezuhudannya, maka bagaimana hal ini bisa terjadi pada dirimu?’

Sekalipun telah pasti bahwa orang-orang Yahudi berbicara dengannya dengan panggilan wahai saudari Harun, tetapi para ulama ahli tafsir telah berselisih pendapat akan penentuan pribadi tersebut. Di antara mereka ada yang menyebut bahwa dia adalah Nabi Harun, saudari Musa ‘Alaihi Sallam. Di antara mereka ada yang menyebut bahwa dia adalah seorang laki-laki shalih dari kaumnya pada masa itu, di mana Maryam ‘Alaiha Sallam mencontohnya, dan menyerupainya dalam kezuhudan, ketaatan, dan ibadah. Maka dia pun dinisbatkan kepadanya. Maka jadilah maksud mereka dalam pembicaraan itu adalah, ‘Wahai orang yang serupa, dan meniru laki-laki shalih itu, tidaklah ayahmu seorang keji, tidak juga ibumu seorang pelacur, maka darimana anak di perutmu itu?

Perlu diketahui pula bahwa kala itu banyak tersebar nama Harun di tengah Bani Israil hingga hari ini.

Apakah yang dimaksud itu adalah Nabi Harun ‘Alaihi Sallam atau Harun lain yaitu seorang shalih kala itu, maka bagi kami hal ini tidak penting, karena al-Qur`an hanyalah menceritakan dan menukil apa yang terjadi kala itu.

Jika kita mengambil kemungkinan pertama, yaitu bahwa yang dimaksud adalah Nabi Harun ‘Alaihi Sallam, maka yang dimaksud oleh orang-orang Yahudi adalah bahwa dia termasuk dari keturunannya. Kemudian saya akan membuat satu contoh dari Bibel. Dan itu adalah sebuah pukulan menyakitkan bagi para pembuat keragua-raguan terhadap al-Qur`an tersebut, sebuah pukulan telak yang membantah syubhat tersebut.

Bibel telah menyebutkan bahwa orang-orang Yahudi menyebut Yesus dengan Putra Dawud: “Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata: “Kasihanilah kami, hai Anak Daud.” (Matius (9:27))

Maka apakah Yesus benar-benar Anak Dawud? Tentu saja tidak, lalu mengapa ucapan mereka ini tidak diingkari dengan mengatakan ini adalah kesalahan penulisan sejarah dalam Bibel?!!

Sekarang, terjerumuslah orang-orang bodoh itu ke dalam kuburan yang mereka gali, jatuh ke dalam keburukan amal-amal mereka. Dengan logika sama yang mereka inginkan untuk menetapkan penyimpangan al-Qur`an yang mulia karena mengisahkan sebutan ucapan Yahudi “Wahai saudari Harun”, maka kita temukan bahwa Bibel menyebut Yesus dengan sebutan Putra Dawud!!

Sesungguhnya kita merasa malu untuk menuduh penyimpangan Bibel dengan sebab ini, karena Bibel telah pasti penyimpangannya dengan dalil yang lebih besar dan terang benderang. Cukuplah dengan banyaknya ragam Bibel, perselisihan dan pertentangannya sebagai bukti. Sementara mereka tidak malu menuduh al-Qur`an salah menulis sejarah hanya dengan syubhat yang tertolak ini. Ini adalah sebuah bukti akan kelemahan mereka dalam menetapkan penyimpangan al-Qur`an.

Di sini kami bertanya kepada orang-orang yang meragukan keabsahan al-Qur`an yang mulia, ‘Bagaimana mungkin Yesus adalah Anak Dawud, sementara jarak antara dia dan Dawud ‘Alaihi Sallam lebih dari jarak antara Maryam dan Harun’Alaihi Sallam? Bahkan bagaimana mungkin Yesus adalah Andak Dawud, sementara dia datang dari jalan Roh Kudus?!!

Sesungguhnya perkara yang wajib diketahui oleh para pembuat keraguan terhadap al-Qur`an tersebut bahwa penisbatan seorang manusia kepada manusia lain yang memiliki kedudukan di antara kaumnya (seperti Dawud) adalah dalam rangka pemuliaan. Oleh karena itulah kita temukan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Aku adalah seorang Nabi, tidak ada kedustaan, aku adalah Putra Abdul Muthallib.’ Padahal beliau adalah Muhammad Putra ‘Abdullah Putra ‘Abdul Muththallib. Akan tetapi beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memuliakan nasabnya kepada kakeknya.

Sesungguhnya saya mampu untuk membuat keragua-raguan pada akal orang-orang Nasrani yang awam, dan menyesatkan mereka dengan kedustaan, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian pendeta terhadap orang-orang awam kaum mulimin. Kemudian saya klaim bahwa Bibel telah menguatkan al-Qur`an yang menyebut Maryam sebagai Saudari Harun. Telah disebutkan dalam Keluaran (15:20-21): “Lalu Miryam, nabiah itu, saudara perempuan Harun, mengambil rebana di tangannya, dan tampillah semua perempuan mengikutinya memukul rebana serta menari-nari. Dan menyanyilah Miryam memimpin mereka: “Menyanyilah bagi TUHAN, sebab Ia tinggi luhur; kuda dan penunggangnya dilemparkan-Nya ke dalam laut.”

Akan tetapi karena saya percaya diri, dan beriman bahwa jalan hidayah dan jalan sorga tidak akan ada kecuali dengan keikhlasan dan kejujuran bersama Allah, oleh karenanya saya tidak berdalil akan penyimpangan Bibel dengan dalil ini sebagaimana yang dilakukan oleh orang yang suka mempermainkan ayat. Karena Maryam yang dimaksud di situ bukanlah Maryam Ibu Isa ‘Alaihi Sallam.

Saya berangan-angan, daripada sibuk menafikan persaudaraan antara Maryam dan Harun, hendaknya para pendeta itu menyibukkan diri mereka dengan menjelaskan sebab yang menjadikan Bibel menulis tuduhan zina terhadap Maryam tanpa memberikan pembelaan dan pensucian. Dan yang wajib mereka lakukan, jika mereka jujur, adalah memuji al-Qur`an dan meninggikan urusannya, karena al-Qur`an adalah satu-satunya Kitab Suci yang membela Maryam ‘Alaiha Sallam, serta mensucikannya, dan mengumumkan kesuciannya, serta meninggikan urusan dan kehormatannya.

Cukuplah al-Qur`an dengan menasabkan al-Masih ‘Alaihi Sallam kepada ibunya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, ‘al-Masih Putra Maryam’, ‘Isa Putra Maryam’, sementara Bibel telah menasabkan al-Masih kepada Yusuf an-Najjar!!

‘Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: “Bukankah Ia ini anak Yusuf?” (Lukas; 4:22)

‘Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: “Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.” (Yohannes 1:45)

‘Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas?’ (Matius 13:55)

Bahkan Bibel menjadikan al-Masih memiliki saudara: ‘Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia.’ (Markus 6:3)

Maka Kitab yang manakah yang telah diubah-ubah, al-Qur`an yang mulia ataukah Bibel? Kami menunggu jawabnnya.

Syubhat (2): Kontradiksi ayat menurut mereka dalam Al-Quran seperti dalam hal berapa hari penciptaan Jagad Raya ?Pertama: Bumi dan langit diciptakan dalam 6 masa. Hal ini terdapat dalam surah : QS.7:54([2]) “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam ENAM MASA, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang” . Juga dalam QS.10:3([3]) “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam ENAM MASA, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan.”

Kedua, dalam, QS. 41: 9 – 12([4]) ternyata disebutkan dalam 8 masa (2 + 4 + 2) bukan enam masa, “Katakanlah Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam DUA MASA ……… Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam EMPAT MASA. …… Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam DUA MASA”.

Bagaimana menjelaskan hal ini ?

Semoga dapat segera dijawab karena pertanyaan-pertanyaan ini menyebar di berbagai brosur dan literatur kristen berwajah Islam sebagai upaya mengguncang keyakinan kaum muslimin terhadap al-Quran. Tidak lupa saya ucapkan Terima kasih atas perhatian dan penjelasannya, saya sangat berharap jawaban nantinya dibaca juga oleh umat Kristiani yang senantiasa melontarkan syubhat-syubhat terhadap Al-Quran tanpa ilmu. Sukses untuk MAJALAH QIBLATI.

Jawab: Tidak ada pertentangan dan kontradiksi dalam ayat-ayat tersebut. Pertentangan dan kontradiksi itu hanyalah ada pada akal-akal mereka saja. Dikarenakan empat pada hari-hari yang pertama adalah hasil dari dua ditambah dua. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan bumi pertama kali pada dua hari, kemudian menjadikan di dalamnya pasak, yaitu gunung-gunung, kemudian menjadikan keberkahan di dalamnya dari air, dan tanam-tanaman. Dan berbagai rizqi yang disimpan di dalamnya dalam dua hari berikutnya, maka jadilah penciptaan bumi dan segala isinya itu dalam empat hari. Maka firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ مِن فَوْقِهَا وَبَارَكَ فِيهَا وَقَدَّرَ فِيهَا أَقْوَاتَهَا فِي أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ سَوَاء لِّلسَّائِلِينَ

“Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.” (QS. Fushshilat: 10)

Keempat hari itu adalah hasil dari dua hari pertama dan dua hari yang lain, maka jadilah totalnya empat hari, yaitu memasukkan dua hari yang telah disebutkan pada ayat sebelumnya:

قُلْ أَئِنَّكُمْ لَتَكْفُرُونَ بِالَّذِي خَلَقَ الْأَرْضَ فِي يَوْمَيْنِ وَتَجْعَلُونَ لَهُ أَندَادًا ذَلِكَ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Katakanlah: “Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (yang bersifat) demikian itu adalah Rabb semesta alam”. (QS. Fushshilat: 9)

Maka tidaklah keempat hari itu berdiri sendiri dari dua hari yang pertama. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan langit dalam dua hari, jadi totalnya adalah enam hari, dengan menambahkan empat dan dua.

Sesungguhnya saya bertanya kepada orang-orang yang membuat keragu-raguan terhadap al-Qur`an tersebut, yang ingin menetapkan bahwa al-Qur`an merupaka karya Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, apakah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bodoh tidak tahu bahwa 2+4+2 sama dengan 8? Apakah hilang dari beliau bahwa penciptaan langit dan bumi dalam ayat lain adalah pada enam hari?

Kemudian bagaimana mungkin perkara ini hilang dari orang-orang Kafir Arab yang cerdas dalam berniaga, serta orang-orang yang menolak dakwah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk berhujjah dengan kesalahan ini, agar mereka bisa menegaskan dan menetapkan bahwa al-Qur`an adalah bikinan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam? Terutama bahwa ayat-ayat al-Qur`an dulunya turun secara terpisah-pisah, yaitu satu, dua atau tiga ayat bersamaan? Artinya sangat mudah untuk menyingkap kesalahan tersebut. Akan tetapi ini tidak pernah terjadi, sementara sekarang datang kepada kita orang yang tidak faham bahasa Arab, lantas berkeinginan untuk menetapkan penyimpangan al-Qur`an dengan syubhat tersebut.

Maka apakah seorang berakal itu bisa membayangkan bahwa orang yang bisa memalsu Kitab Mulia seperti al-Qur`an itu mungkin bisa berbuat salah dengan kesalahan yang seorang anak SD saja tidak mungkin salah karenanya?

Kami memuji Allah, serta bersyukur kepada-Nya akan karuni akal ini. (AR)*

[1] Yaitu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

| يَا أُخْتَ هَارُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ امْرَأَ سَوْءٍ وَمَا كَانَتْ أُمُّكِ بَغِيًّا

“Hai saudara perempuan Harun[902], ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina”, (QS. Maryam: 28)

[2] Yaitu Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ رَبَّكُمُ اللّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَالأَمْرُ تَبَارَكَ اللّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. al-A’raf: 54)

[3] Yaitu Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ رَبَّكُمُ اللّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ الأَمْرَ مَا مِن شَفِيعٍ إِلاَّ مِن بَعْدِ إِذْنِهِ ذَلِكُمُ اللّهُ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ أَفَلاَ تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian Itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Yunus: 3)

[4] Yaitu Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قُلْ أَئِنَّكُمْ لَتَكْفُرُونَ بِالَّذِي خَلَقَ الْأَرْضَ فِي يَوْمَيْنِ وَتَجْعَلُونَ لَهُ أَندَادًا ذَلِكَ رَبُّ الْعَالَمِينَ (9

وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ مِن فَوْقِهَا وَبَارَكَ فِيهَا وَقَدَّرَ فِيهَا أَقْوَاتَهَا فِي أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ سَوَاء لِّلسَّائِلِينَ(10

ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاء وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ اِئْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ (11

فَقَضَاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ فِي يَوْمَيْنِ وَأَوْحَى فِي كُلِّ سَمَاء أَمْرَهَا وَزَيَّنَّا السَّمَاء الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَحِفْظًا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ (12

“Katakanlah: “Sesungguhnya Patutkah kamu kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya? (yang bersifat) demikian itu adalah Rabb semesta alam”. dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui.”(QS. Fushshilat: 9-12)

(EMPAT..)

Syubhat: al-Qur`an telah menyebutkan kebatilan agama Islam di dalam ayat:

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَسْتُمْ عَلَى شَيْءٍ حَتَّى تُقِيمُوا التَّوْرَاةَ وَالإنْجِيلَ

“Katakanlah: “Hai ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, dan Injil.” (QS. al-Maidah (5): 68), kami mendapati bahwa ayat tersebut menyebutkan Taurat dan Injil dengan jelas, ini mengharuskan untuk berpegang teguh kepadanya bukan berpegang teguh dengan al-Qur`an. Ini adalah sebuah dalil akan kebatilan agama Islam.

Jawab: Saya tidak tahu apa gunanya kedustaan dan tipu muslihat dalam menetapkan keyakinan agama yang wajib diimani oleh seorang manusia dengan jujur dan ikhlas, sehingga dia jujur terhadap dirinya sendiri dan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Anda telah memangkas ayat tersebut dan tidak menyempurnakannya, padahal lanjutan ayat di atas berbunyi:

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَسْتُمْ عَلَى شَيْءٍ حَتَّى تُقِيمُوا التَّوْرَاةَ وَالإنْجِيلَ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ

“Katakanlah: “Hai ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikit pun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu”. (QS. al-Maidah (5): 68)

Sesungguhnya maksud ayat dengan apa yang diturunkan dari Tuhan kalian adalah al-Qur`an. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menurunkan setelah Taurat dan Injil selain al-Qur`an. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui ayat tersebut justru memerintahkan ahlul kitab untuk menjadi muslim dan beriman dengan al-Qur`an yang mulia.

Saya berharap sekali lagi, jujurlah kepada Allah dan kepada diri Anda sendiri. Saya bisa memaklumi Anda, karena mungkin saja Anda menukil syubhat ini tanpa meyakinkan diri terlebih dahulu. Di sini, saya kira Anda telah membongkar sendiri tipu muslihat para pendeta terhadap Anda, dan kepada banyak orang Nasrani yang tertipu oleh mereka. Saya memohonkan hidayah kepada Allah bagi kami dan Anda.

Syubhat: Bagaimana Anda menginginkan dari kami untuk beriman dengan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai nabi, sementara al-Qur`an meminta kami untuk bershalawat kepadanya, dan mendoakan rahmat baginya sebagaimnya datang dalam ayat bershalawat dan salamlah kalian atasnya, seharusnya kamilah yang lebih butuh kepada rahmat Allah, ternyata kami mendapati nabi kalian Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merasa perlu untuk didoakan.

Jawab: Wajib bagi Anda untuk mengetahui bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak butuh kami bershalawat kepadanya, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memulai ayat dengan firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (٥٦)

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. al-Ahzab: 56)

Allah Subhanahu wa Ta’ala memulai dengan diri-Nya sendiri untuk bershalawat kepada beliau, lalu para malaikat-Nya. Seandainya Allah Subhanahu wa Ta’ala saja yang bershalawat kepada beliau, tanpa menyebut para malaikat, maka pastilah itu sudah cukup sebagai pemuliaan dan pengagungan.

Pertanyaan yang benar, yang seharusnya dilontarkan agar Anda bisa memahami permasalahan ini secara benar adalah, ‘Mengapa Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk bershalawat atas beliau?”

Maka jawabannya adalah:

1. Shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kemanfaatannya yang besar kembali kepada yang bershalawat kepada beliau. Disebutkan dari Anas bin Malik Rahimahullah, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

«مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ، وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ، وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ»

“Barangsiapa bershalawat kepada aku satu kali shalawat, maka Allah akan bershalawat atasnya sepuluh shalawat, dan dihapus darinya sepuluh kesalahan, dan diangkat untuk sepuluh derajat.” (HR. Ahmad (11587), an-Nasa`i (1297))

2. Shalawat bertujuan untuk menguatkan hubungan ruhani dan kecintaan antara kita dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, karena orang yang mencintai sesuatu dia akan memperbanyak mengingatnya.

3. Dengan memperbanyak shalawat dan salam atas Rasulullah, hal itu akan menarik seorang muslim untuk bersuritauladan dengan beliau. Barangsiapa memperbanyak ingat sesuatu maka dia akan tergantung dan bersuritauladan dengannya.

4. Bershalawat dan salam kepada Rasulullah adalah peribadatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan satu ibadah dari ibadah-ibadah yang terbaik.

5. Bershalawat kepada Rasulullah adalah sebuah ketaatan, melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

6. Bershalawat dan salam kepada Rasulullah adalah sebab keberkahan pada diri, usaha dan umur.

7. Bershalawat dan salam kepada Rasulullah menggantikan shadaqah bagi orang yang tidak memiliki harta.

8. Bershalawat dan salam kepada Rasulullah adalah sebab pengampunan dosa-dosa dan pemenuhan berbagai hajat.

9. Bershalawat dan salam kepada Rasulullah adalah sebab bershalawatnya Allah kepada orang yang bershalawat kepada Rasulullah, dan juga penyebab bershalawatnya para malaikat kepadanya.

10. Bershalawat dan salam kepada Rasulullah mewajibkan syafaat beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada hari kiamat, dan penyebab dekatnya seseorang kepada beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

11. Bershalawat dan salam kepada Rasulullah akan memberatkan timbangan seorang muslim pada hari kiamat

Dan manfaat-manfaat lainnya. Jadi, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak butuh dengan kita, tidak butuh dengan do’a kita untuknya, demikian pula shalawat dan salam kita atasnya, sebaliknya kitalah yang mengambil manfaat darinya.

Saya memohonkan hidayah kepada Allah bagi kami dan Anda.

(LIMA..)

Syubhat: Mengapa Anda sekalian berselisih pendapat dalam tafsir al-Qur`an? Dan bersamaan dengan itu Anda mengklaim bahwa Injil itu berselisih, bukankah ini adalah sebuah kontradiksi? Sebagaimana bahwa orang yang meneliti Injil dengan ikhlas, dia tidak akan mendapati perselisihan di dalamnya?

Jawab: Pertama, Anda harus mengetahui bahwa terdapat perbedaan antara perselisihan dalam tafsir dengan perselisihan dalam Kitab Suci al-Qur`an. Tidak pernah ditemukan perselisihan pada diri kaum muslimin atas al-Qur`anul Karim. Al-Qur`an itu satu, tidak berselisih, dan tidak akan berubah pada seluruh tempat di dunia ini sejak turunnya 1400 tahun yang lalu. Al-Qur`an terjaga dengan janji Allah:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ (٩)

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. al-Hijr: 9)

Berbeda dengan Kitab “Suci” Injil yang kita temukan bahwa dia berbeda-beda. Jadi tidak termasuk keadilan Anda membandingkan antara perselisihan dalam tafsir al-Qur`an dengan perselisihan dalam Injil. Bahkan yang wajib adalah Anda bandingkan antara kitab suci al-Qur`an dengan kitab Injil. Akan tetapi karena Anda mengetahui bahwa Anda akan masuk dalam peperangan yang merugikan, Anda mengambil cara tersebut untuk melemparkan syubhat (keraguan) yang dengan karunia Allah hal itu bukanlah perkara samar bagi kami.

Kemudian, Anda harus mengetahui bahwa tidak pernah terjadi perselisihan antara para ulama dalam tafsir keseluruhan al-Qur`an. Akan tetapi yang ada hanyalah bahwa mereka berselisih pendapat dalam tafsir sebagian ayat dari al-Qur`an. Dan tidak diragukan lagi bahwa mayoritas ayat, tidak pernah terjadi perselisihan dalam tafsirnya. Bahkan para ahli tafsir yang salaf (klasik) maupun yang khalaf (kontemporer) bersepakat dengan para ulama atas tafsirnya. Yang demikian itu adalah satu perkara nyata bagi setiap orang yang membaca al-Qur`an, dan membaca kitab-kitab tafsir. Tidak henti-hentinya kaum muslimin secara umum membaca al-Qur`an, mendengar ayat-ayatnya, dan tidak merasa kesulitan akan banyaknya ayat tersebut, bahkan mereka mengetahui maksudnya. Ini sudah cukup dalam merealisasikan hidayah al-Qur`an.

Adapun ayat-ayat, yang jumlahnya sedikit, yang terdapat perselisihan pendapat dalam tafsirnya, maka ayat-ayat tersebut terbagi menjadi beberapa pembagian.

Pertama, khilaf (perselisihan) di dalamnya adalah khilaf tanawwu’ (perselisihan yang bersifat variatif), bukan khilaf tadhot (kontradiksi, berseberangan). Itu adalah khilaf lafzhi (redaksi) dan tidak berpengaruh pada esensi makna. Khilaf tanawwu’, pada hakikatnya bukanlah sebuah perselisihan. Dimana di antara syarat perselisihan adalah kontradiksinya dua ucapan. Ini tidak terjadi dalam pembagian khilaf ini.

Contoh yang demikian adalah tafsir shiratul mustaqim (jalan yang lurus). Sebagian mereka mengatakan: “yaitu al-Qur`an, yakni mengikutinya.”

Sebagian lagi mengatakan, ‘Yaitu agama Islam.’

Maka kedua pendapat ini saling bersesuaian, karena agama Islam adalah mengikuti al-Qur`an. Akan tetapi masing-masing dari keduanya, memberikan perhatian atas satu sifat tidak pada sifat lain.

Sebagaimana bahwa lafazh shirat juga memberikan isyarat kepada sifat yang ketiga. Demikian pula pendapat orang yang mengatakan bahwa ia adalah, ‘as-Sunnah wal-Jama’ah’, dan pendapat yang mengatakan, ‘ia adalah jalan peribadatan kepada Allah.’ Juga ucapan orang yang mengatakan, ‘Itu adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya’ Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan contoh-contoh yang lain. Maka mereka semua memberikan isyarat kepada satu makna dari shirathal mustaqim, akan tetapi masing-masing memberikan sifat dari sifat-sifatnya.

Kedua, masing-masing dari mereka menyebut dari nama yang bersifat umum sebagian macamnya demi memberikan perumpamaan, dan memberikan peringatan kepada yang mendengar atas satu macam makna. Bukan untuk memberikan satu batasan yang sesuai dengan apa yang dibatasi dalam keumuman dan kekhususannya.

Contoh yang demikian adalah apa yang disebutkan oleh Syaikhul Islam dalam Majmu’ Fatawanya (13/232-238), tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ

“Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah.” (QS. Fathir: 32)

Maka telah diketahui bahwa azh-zhalim linafsihi (orang yang menganiaya diri sendiri) mencakup orang yang menyia-nyiakan kewajiban, dan meremehkan perkara-perkara yang diharamkan; dan al-muqtashid (yang pertengahan) mencakup pelaku kewajiban, dan orang yang meninggalkan yang diharamkan; serta as-sabiq (yang terdepan dalam berbuat kebaikan) masuk di dalamnya orang yang bersegera lebih dulu, maka dia mendekatkan diri kepada Allah dengan segala kebaikan disertai dengan menjalankan segenap kewajiban.

Kemudian sesungguhnya masing-masing diantara mereka –yaitu dari kalangan ahli tafsir- menyebutkan perkara ini dalam satu macam dari berbagai macam ketaatan:

Seperti ucapan, ‘As-Sabiq, adalah orang yang shalat di awal waktunya, al-muqtashid adalah orang yang shalat di tengah waktunya, dan zhalim linafsihi adalah yang mengakhirkan waktu ashar hingga matahari telah menguning.’

Yang lain berkata, ‘as-Sabiq, al-muqtashid, dan az-zhalim telah disebutkan di akhir surat al-Baqarah, maka sesungguhnya penyebutan itu adalah penyebutan orang yang berbuat baik dengan shadaqah, penyebutan orang zhalim dengan memakan riba, dan penyebutan orang ‘adil dengan jual beli.’

Maka tidak boleh menjadikan bagian kedua ini sebagai khilaf tadhot (perselisihan yang bersidat kontradiksi), pencelaan dan peragu-raguan terhadap al-Quran yang mulia, karena beberapa sebab:

1. Sesungguhnya perselisihan itu tidak pada ayat-ayat yang berkaitan dengan i’tiqad (keyakinan) Islam, atau tujuan-tujuan syari’at. Akan tetapi perselisihan itu terjadi pada ayat-ayat ahkam (hukum-hukum), seperti perselisihan para ulama dalam tafsir firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلاثَةَ قُرُوءٍ

“Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’…” (QS. al-Baqarah: 228)

Apakah quru’ itu suci dari haidh ataukah haidh?

Atau juga perselisihan itu terjadi pada sebagian ayat al-Qur`an yang berkaitan dengan kisah-kisah, atau nasihat dan semacamnya. Seperti perselisihan mereka dalam tafsir firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَنَادَاهَا مِنْ تَحْتِهَا أَلا تَحْزَنِي قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا (٢٤)

“Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.” (QS. Maryam: 24)

Apakah yang menyeru itu Jibril ataukah Isa ‘Alaihi Sallam?

Perselisihan ini, sebagaimana Anda lihat, tidak berkaitan dengan tulang punggung (penopang) aqidah dan syari’at. Akan tetapi perselisihan itu ada pada perkara fiqih yang Allah menginginkan hal itu terjadi sebagai bentuk rahmat terhadap umat ini, serta ujian juga. Atau perselisihan itu terjadi pada perkara yang pemahaman ayat tersebut tidak bergantung pada pengetahuan tentang maknanya.

2. Perselisihan ini -sekalipun sedikit- kebanyakan terjadi pada abad terakhir. Dan seandainya kita kembali pada tafsir salaf dari para sahabat dan tabi’in pastilah kita tidak akan mendapatinya. Mayoritas perselisihan itu ada pada kitab-kitab tafsir kontemporer.

3. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki hikmat dalam menyamarkan makna sebagian ayat-ayat, agar para mujtahid bersungguh-sungguh, dan membahas ilmu tersebut dalam kitab-kitab dan akal-akal mereka.

Adapun klaim tidak adanya perselisihan dalam Injil atau dalam tafsir Injil, maka ini adalah klaim aneh, yang seorang Nasrani tidak mengklaimnya sendiri. Karena banyaknya kontradiksi di dalamnya. Dimana naskah-naskah Injil, periwayatannya, penerjemahannya berbeda-beda dengan perbedaan yang banyak dan kontradiksi. Sebagaimana banyak sekali sekte-sekte Nasrani dan perselisihan agama mereka. Perselisihan mereka dalam menafsirkan Injil terjadi pada tulang punggung aqidah (keyakinan) mereka; dalam penafsiran trinitas, keEsaan, dan tiga oknum. Dimana itu semua adalah perselisihan kontradiksi yang membuat terbentuknya banyak sekte di tengah mereka yang mereka berselisih dalam pandangan agama dan aqidah mereka.

Adapun Islam dan al-Qur`an, maka tidak ada perselisihan dalam rukum agama dan hakikat yang terpenting di antara ulama Islam Ahlussunnah, yang merupakan mayoritas umat ini dari kalangan para sahabat, dan tabi’in hingga hari ini.*

Syubhat: saat kami membaca sejarah perjalanan Nabi kalian, kami menemukan beberapa perkara aneh; diantaranya adalah suratnya kepada Heraclius, Raja Romawi, dimana datang dalam surat itu tulisan “Masuk Islamlah, kamu akan selamat”. Maka apakah kalimat ini sudah cukup untuk menegakkan hujjah atas Heraclius? Itu adalah satu ajakan yang terang-terangan untuk peperangan jika Heraclius dan kaumnya tidak masuk Islam. Tidakkah Anda melihat bersama saya bahwa ini adalah suatu perkara yang menakjubkan, yang bisa menjadikan Anda sekalian menilik kembali pandangan terhadap agama Anda sekalian?

Jawab: Pertama, dalam surat tersebut tidak hanya terdapat kalimat tersebut. Di dalam surat tersebut juga datang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلا نَعْبُدَ إِلا اللَّهَ وَلا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ

“Katakanlah: “Hai ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah”. (QS. Ali Imran: 64

Maka tampak, bahwa Anda tidak meneliti sejarah dan kejadian pada masa itu, dan Anda akan mengetahuinya di sela-sela jawaban saya apa yang saya maksudkan dengannya.

Anda harus mengetahui bahwa kalimat “Aslim Taslam (Masuk Islamlah, kamu akan selamat)” adalah cukup untuk menegakkan hujjah atas Heraclius dengan dalil bahwa dia mempercayainya, dan mengetahui bahwa Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah Rasul, utusan Allah. Akan tetapi dia tidak meninggalkan kerajaannya dan terhalang dari Islam. Saya tambahkan juga, bahwa Heraclius mengetahui akan tempat datangnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan bahwa saat itu adalah waktu kemunculan beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Telah disebutkan dalam shahih al-Bukhari:

فَأَذِنَ هِرَقْلُ لِعُظَمَاءِ الرُّومِ فِى دَسْكَرَةٍ لَهُ بِحِمْصَ ثُمَّ أَمَرَ بِأَبْوَابِهَا فَغُلِّقَتْ ، ثُمَّ اطَّلَعَ فَقَالَ يَا مَعْشَرَ الرُّومِ ، هَلْ لَكُمْ فِى الْفَلاَحِ وَالرُّشْدِ وَأَنْ يَثْبُتَ مُلْكُكُمْ فَتُبَايِعُوا هَذَا النَّبِىَّ ، فَحَاصُوا حَيْصَةَ حُمُرِ الْوَحْشِ إِلَى الأَبْوَابِ ، فَوَجَدُوهَا قَدْ غُلِّقَتْ ، فَلَمَّا رَأَى هِرَقْلُ نَفْرَتَهُمْ ، وَأَيِسَ مِنَ الإِيمَانِ قَالَ رُدُّوهُمْ عَلَىَّ .وَقَالَ إِنِّى قُلْتُ مَقَالَتِى آنِفًا أَخْتَبِرُ بِهَا شِدَّتَكُمْ عَلَى دِينِكُمْ ، فَقَدْ رَأَيْتُ . فَسَجَدُوا لَهُ وَرَضُوا عَنْهُ ، فَكَانَ ذَلِكَ آخِرَ شَأْنِ هِرَقْلَ .

“Maka Heraclius mengizinkan para pembesar Romawi di dalam satu istana di sekitar rumah miliknya di Himsh, kemudian dia memerintahkan pintu-pintunya untuk ditutup. Kemudian dia muncul seraya berkata, ‘Wahai sekalian orang-orang Romawi, apakah kalian mau mendapatkan keberuntungan dan petunjuk, dan kerajaan kalian akan diteguhkan, maka berbaiatlah kepada Nabi ini. Maka mereka pun berlarian seperti keledai liar menuju pintu, dan mereka mendapati pintu itu telah tertutup. Maka saat Heraclius melihat larinya mereka, dan dia putus asa dari keimanan, dia berkata, ‘Kembalikanlah mereka kepadaku.’ Lalu dia berkata, ‘Sesungguhnya perkataanku tadi, adalah aku ingin menguji kekuatan kalian terhadap agama kalian, dan sungguh aku telah melihatnya.’ Maka mereka pun sujud dan ridha kepadanya. Maka itulah akhir dari perkara Heraclius.”

Di dalam hadits itu juga disebutkan, bahwa Heraclius berkata:

فَلَوْ أَنِّى أَعْلَمُ أَنِّى أَخْلُصُ إِلَيْهِ لَتَجَشَّمْتُ لِقَاءَهُ ، وَلَوْ كُنْتُ عِنْدَهُ لَغَسَلْتُ عَنْ قَدَمِهِ

“Seandainya aku tahu bahwa aku bisa bebas kepadanya, pastilah aku akan berupaya untuk menemuinya, dan seandainya aku di sisinya, pastilah aku akan membasuh kakinya.”

Kemudian ketahuilah bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah diberikan jawami’ul kalim (kalimat ringkas yang memiliki makna dalam), dan tulisan tersebut, dengan keringkasannya, adalah kalimat yang menyeluruh lagi memberikan manfaat, lagi mengandung sastra tinggi bahasa Arab.

An-Nawawi Rahimahullah berkata dalam Syarah Muslim: “Diantaranya, disunnahkannya bersastra, dan meringkas, serta memilih lafal-lafal yang pendek dalam tulisan. Maka sesungguhnya sabda beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, aslim taslam (masuk Islamlah, kamu akan selamat) ada pada puncak peringkasan, dan puncak sastra, serta mengumpulkan segala makna bersamaan dengan keindahannya, serta kesempurnaannya demi keselamatan Heraclius dari kesengsaraan dunia dengan peperangan, penawanan, pembunuhan, pengambilan rumah, harta dan dari adzab akhirat.”

Kemudian, sesungguhnya orang yang memperhatikan dialog yang terjadi antara Heraclius dan Abu Sufyan sebelum keIslamannya, maka dia akan mengetahui bahwa Heraclius telah tahu bahwa Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah benar-benar utusan Allah.

Barangkali Anda sekarang mengetahui bahwa dengan ucapan saya, bahwa Anda tidak memperhatikan sejarah dan kejadian zaman itu. Sebagaimana barangkali telah jelas bagi Anda akan sebab yang menjadikan kami tidak menilik kembali pandangan kami terhadap agama kami dengan syubhat ini dan syubhat yang lain.*

Syubhat: Apakah boleh Nabi kalian -Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam- menceraikan istrinya, Saudah, karena dia telah tua, dan di saat wanita itu masih muda dia menikmati masa mudanya, dan saat dia berusia tua, dia langsung menceraikannya?

Jawab: Sebagaimana biasa, Anda sekalian menyampaikan syubhat, sementara Anda tidak mengetahui rincian dan faktanya. Ditambah lagi kedustaan dan klaim tidak benar yang ada di dalamnya.

Pertama, tidak benar ucapan Anda bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menikahi Saudah Radhiallahu ‘Anha saat dia masih muda. Seandainya Anda mengetahui hakikatnya sekarang, Anda akan malu sendiri terhadap diri Anda. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, saat menikahi Saudah, kala itu Saudah Radhiallahu ‘Anha telah berusia enam puluh enam tahun. Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak menikahinya kecuali bahwa dia, saat pergi ke Habasyah ia bersama suaminya, dan saat kembali dari sana suaminya meninggal dunia. Karena keluarganya masih berada di atas kesyirikan, maka nabi terdorong untuk menikahinya demi memberikan kasih sayang kepadanya, berbuat baik dengan kondisinya, dan menghibur kesendiriannya.

Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah menceraikannya. Akan tetapi yang terjadi adalah bahwa saat ummul mukminin Saudah Radhiallahu ‘Anha telah berusia sangat tua, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merasa kesulitan untuk merawatnya, terutama saat sudah banyak dari keluarganya yang telah masuk Islam. Maka berkatalah Ummul Mukminin Saudah Radhiallahu ‘Anha, ‘Sesungguhnya aku sudah tua, dan kaum laki-laki pun tidak punya hajat dengan aku, akan tetapi aku ingin dibangkitkan nanti di tengah-tengah istri Anda pada hari kiamat.’ Maka turunlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِنْ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا وَالصُّلْحُ خَيْرٌ وَأُحْضِرَتِ الأنْفُسُ الشُّحَّ وَإِنْ تُحْسِنُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا (١٢٨)

“Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. an-Nisa`: 128)

Ayat ini mengajari kita bahwa jika seorang wanita mengkhawatirkan larinya, atau berpalingnya suami darinya, maka dia boleh untuk menggugurkan sebagian haknya untuk suaminya, apakah itu sebagian nafkah, pakaian, atau jatah menginap. Dan boleh bagi suami untuk menerima hal itu. Tidak ada masalah atas sang istri dalam pengorbanannya itu untuk suami, dan tidak masalah atas suami dalam menerimanya. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kembali kepada Saudah dan memperlakukannya dengan sebaik-baiknya.

Maka di manakah sekarang klaim bahwa beliau telah menceraikannya?! Di manakah bukti bahwa beliau menikahi Saudah Radhiallahu ‘Anha pada saat dia masih gadis?! Percayalah kepada saya, sesungguhnya kepayahan saya dalam menjawab bukanlah dari Anda akan tetapi dari mereka yang telah menanamkan syubhat ini di akal Anda, sementara saat kami mengajak mereka untuk berdialog, kami tidak melihat seorang pun dari mereka.*

Syubhat: Sesungguhnya orang yang mengikuti sejarah kaum muslimin, dia akan menemukan bahwa mereka tidak pernah memiliki ilmu hadits. Ilmu hadits itu baru dibuat setelah dua ratus tahun. Kemudian setelah masa yang panjang ini, orang-orang yang disebut belakangan sebagai ahli hadits memutuskan untuk mengumpulkan hadits. Kemudian jadilah mereka mengambil dari orang-orang yang pernah mendengar hadits. Kemudian salah seorang dari mereka berkata, ‘Aku mendengar Fulan berkata, ‘Aku mendengar Fulan dari Nabi kalian -Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam-, maka atas dasar inilah menjadi sulit menghukumi hadits ini sebagai hadits shahih, atau hadits maudhu’. Maka tidak mungkin ada sambungan bagi kalian sebagaimana sebelumnya, karena panjangnya masa itu.

Jawab: Sebagaimana biasa, kami memulai dengan meluruskan kesalahan, dan pemahaman kemudian kami akan menjawab.

Ilmu hadits, tidaklah seperti yang Anda kira, yaitu bahwa ilmu ini baru ada setelah dua ratus tahun. Akan tetapi ilmu itu sudah dimulai sejak generasi pertama di zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan telah mencakup satu bagian besar dari hadits. Apa yang ditemukan oleh orang yang meneliti kitab-kitab yang disusun tentang para perawi hadits dan teks-teks sejarah yang memberitakan biografi mereka, maka kitab-kitab mereka itu akan menetapkan ilmu hadits itu dengan rupa yang sangat luas. Dimana hal ini menunjukkan akan menyebarnya pengkodifikasian hadits, dan banyaknya dalam masa itu.

Di saat kita meneliti secara ilmiah lagi benar, kita akan menemukan bahwa permulaan penulisan hadits telah dilakukan di awal abad kedua, yaitu antara tahun 120 – 130 H. dengan bukti nyata yang menjelaskan kepada kita. Terdapat sejumlah kitab, yang penulisnya telah wafat di tengah abad kedua. Seperti Jami’ Ma’mar bin Rasyid (W. 145 H), Jami’ Sufyan ats-Tsauri (W. 161 H), Hisyam bin Hisan (W. 148 H), Ibnu Juraij (W. 150 H), dan banyak lagi selain mereka.

Kemudian, Anda harus mengetahui bahwa para ulama hadits, telah meletakkan syarat-syarat demi menerima hadits, yang syarat itu mampu menjamin penukilannya melalui berbagai generasi dengan amanah dan kepastian. Hingga menjadikan hadits tersebut tersampaikan seperti halnya didengar langsung dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Terdapat syarat-syarat yang mereka tetapkan dalam perawi (orang yang menyampaikan hadits) yang mencakup di dalamnya puncak kejujuran, keadilan, dan amanah, disertai dengan penguasaan sempurna bagi perilaku, dan pengembanan tanggung jawab.

Sebagaimana syarat itu mencakup kekuatan hafalan, mengikat dengan dadanya (hafalan), atau dengan tulisannya, atau dengan keduanya secara bersamaan. Yang memungkinkan baginya untuk menghadirkan hadits tersebut, serta menunaikannya sebagaimana dia mendengarnya. Syarat-syarat yang disyaratkan oleh ahli hadits untuk hadits yang shahih dan hasan itu pun menjadi jelas. Yaitu syarat-syarat yang mencakup terpercayanya perawi hadits, kemudian selamatnya penukilan hadits di antara matarantai sanad, bersihnya hadits itu dari segala cacad yang tampak maupun yang tersembunyi, serta ketelitian para ahli hadits dalam mempraktekkan syarat-syarat tersebut serta kaidah dalam menghukumi hadits dengan dhai’f hanya karena tidak ada bukti akan keshahihannya, tanpa harus menunggu datangnya dalil yang berseberangan dengannya.

Para ulama ahli hadits tidak mencukupkan diri dengan ini, bahkan mereka meletakkan syarat-syarat dalam periwayatan yang tertulis. Tampak bahwa Anda tidak memperhatikannya. Para ulama ahli hadits telah memberikan syarat periwayatan yang tertulis dengan syarat-syarat hadits shahih. Oleh karena itulah kita menemukan di atas manuskrip hadits rangkaian sanad (transmisi periwayatan) kitab dari satu perawi ke perawi yang lain hingga sampai kepada penulisnya. Kemudian, di atasnya kita menemukan penetapan pendengaran, serta tulisan penulis atau Syaikh yang didengar yang meriwayatkan satu naskah dari naskah penulis atau dari cabangnya. Maka jadilah metode para ahli hadits lebih kuat, lebih hikmah, dan lebih agung dari segala metode dalam menilai periwayatan, dan sanad yang tertulis.

Maka, janganlah Anda menyangka bahwa pembahasan sanad menunggu dua ratus tahun sebagaimana ucapan Anda. Akan tetapi para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah meneliti dan mencari-cari sanad sejak zaman pertama saat terjadi fitnah pembunuhan terhadap Khalifah ar-Rasyid Utsman Radhiallahu ‘Anhu tahun 35 H. yang kemudian kaum muslimin membuat satu contoh istimewa di dunia tentang sanad. Dimana mereka melakukan perjalanan ke berbagai negeri demi mencari hadits, menguji para perawi hadits, hingga perjalanan mencari hadits menjadi syarat pokok penentuan hadits.

Para ulama ahli hadits tidak lalai dari apa yang dibuat-buat oleh para pemalsu hadits dari golongan ahlu bid’ah, dan mazdhab-mazdhab politik. Bahkan mereka bersegera untuk memeranginya dengan mengikuti sarana-sarana ilmiah demi membentengi sunnah. Maka mereka pun meletakkan kaidah-kaidah, serta aturan-aturan bagi para perawi ahli bid’ah, serta penjelasan sebab-sebab pemalsuan hadits dan tanda-tanda hadits-hadits palsu.

Ilmu hadits, dengan berbagai syarat yang ada di dalamnya, tidak pernah ditemukan pada umat mana pun selain umat Islam, satu-satunya umat yang menjaga agamanya. Maka bandingkanlah cara penuh hikmah yang ada pada kaum muslimin dengan kitab-kitab Nasrani yang merupakan dongeng-dongeng yang para peneliti menemukan berbagai kesalahan, kontradiksi dan berbagai perubahan.

Kemudian lihatlah kepada ilmu sanad pada kaum muslimin, yang dengannya mereka menyendiri dari segenap umat manusia, karena mereka telah menjamin keselamatan rangkaian periwayatan hadits hingga sampai kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari segala cacad dengan ilmu isnad yang tidak ada di umat mana pun. Ilmu ini tidak ada pada orang-orang Nasrani. Maka tidak heran jika kita menemukan dalam kitab-kitab mereka, ‘Yesus berkata’, ‘Paulus berkata’ tanpa ada sanad (jalur periwayatannya), dan tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana hal itu bisa sampai.*

Syubhat: Yang menguatkan kebatilan agama Islam adalah bahwa tidak ada seorang Nabi pun yang pernah berhaji selain nabi kalian, dan ini telah pasti dalam kitab-kitab kalian.

Jawab: Ini adalah sebuah ucapan yang tidak benar. Cukuplah bantahan akan syubhat ini adalah hadits yang datang di dalam shahih Muslim bab Iman no. 242:

حَدَّثَنِي ‏ ‏مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى ‏ ‏حَدَّثَنَا ‏ ‏ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏دَاوُدَ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏أَبِي الْعَالِيَةِ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏ابْنِ عَبَّاسٍ ‏ ‏قَالَ ‏ سِرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏بَيْنَ ‏ ‏مَكَّةَ ‏ ‏وَالْمَدِينَةِ ‏ ‏فَمَرَرْنَا بِوَادٍ فَقَالَ ‏ ‏أَيُّ وَادٍ هَذَا فَقَالُوا ‏ ‏وَادِي الْأَزْرَقِ ‏ ‏فَقَالَ كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى ‏ ‏مُوسَى ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏فَذَكَرَ مِنْ لَوْنِهِ وَشَعَرِهِ شَيْئًا لَمْ يَحْفَظْهُ ‏ ‏دَاوُدُ ‏ ‏وَاضِعًا إِصْبَعَيْهِ فِي أُذُنَيْهِ لَهُ ‏ ‏جُؤَارٌ ‏ ‏إِلَى اللَّهِ بِالتَّلْبِيَةِ مَارًّا بِهَذَا الْوَادِي قَالَ ثُمَّ سِرْنَا حَتَّى أَتَيْنَا عَلَى ثَنِيَّةٍ فَقَالَ أَيُّ ثَنِيَّةٍ هَذِهِ قَالُوا ‏ ‏هَرْشَى ‏ ‏أَوْ ‏ ‏لِفْتٌ‏ ‏فَقَالَ كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى ‏ ‏يُونُسَ ‏ ‏عَلَى نَاقَةٍ حَمْرَاءَ عَلَيْهِ جُبَّةُ صُوفٍ ‏ ‏خِطَامُ ‏ ‏نَاقَتِهِ لِيفٌ ‏ ‏خُلْبَةٌ ‏ ‏مَارًّا بِهَذَا الْوَادِي مُلَبِّيًا.

‘Muhammad bin al-Mutsanna menceritakan kepadaku, menceritakan kepada kami Ibnu Abi ‘Adin dari Dawud dari Abul ‘Aliyah dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata, ‘Kami berjalan bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam antara Makkah dan Madinah. Maka kami pun melewati sebuah lembah, lalu beliau bersabda, ‘Lembah apakah ini?’ Maka mereka menjawab, ‘Lembah Azraq.’ Maka beliau bersabda, ‘Seakan-akan aku melihat Musa ‘Alaihi Sallam.’ Lalu beliau menyebut warna kulitnya, rambutnya, sesuatu yang tidak dihafal oleh Dawud, seraya meletakkan kedua jarinya di kedua telinganya, mengeraskan suara seraya bertalbiyah (membaca talbiyah), dengan melewati lembah ini.’ Dia berkata, ‘Kamipun berjalan hingga kami mendatangi gunung kecil.’ Maka beliau bersabda, ‘Gunung apakah ini?’ Mereka menjawab, ‘Harsya atau Lift.’ Maka beliau bersabda, ‘Seakan-akan aku melihat kepada Yunus, berada di atas seekor onta mereka, memakai jubah dari wol, dan tali kekang ontanya adalah sabut tengah melewati lembah ini seraya bertalbiyah.’

Oleh karena itulah, ini adalah satu dalil pasti, dari kitab-kitab kami yang memberikan faidah bahwa para Nabi telah berhaji ke baitullah. Dan sebagaimana Anda meminta kami yang demikian, maka sesungguhnya kami meminta dari Anda satu dalil yang menunjukkan bahwa para Nabi tidak berhaji ke baitullah dari kitab-kitab kalian.

Disadur dari Qiblati.com pada 20 Jumada AtTsaniyah 1433 H.

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: