Aku pencuri pisang goreng

Oleh: Uban Pamungkas Al Muhlis

Hari itu adalah hari yang menjengkelkan lagi buat saya dan teman-temanku, yaitu hari dimana jadwal mata pelajaran eksak tiba, ada matematika, fisika, dan kawan-kawannya yang membuat kening berkerut dan keringat bercucuran, ditambah sorot mata dan muka bengis para pengajarnya yang menghancurkan selera intelektual.

Jika hari ini tiba, pagi-pagi buta aku bergegas, dibalut seragam sekolahku yang rapi. Sementara itu, teman-temanku telah menanti dibukit “kanrenni”, tempat strategis yang selalu kami jadikan persembunyian tatkala sedang membolos dari sekolah.

Pagi-pagi?. Iya, untuk mendahului jadwal berangkatnya para guru. Ini adalah strategi untuk melancarkan rencana pembakangan terhadap mata pelajaran yang super rumit itu.

Akupun berangkat dengan semangat yang sangat meyakinkan orang tuaku, keluarga, dan tetanggaku bahwa aku ini orang yang rajin dan disiplin ke sekolah. Dengan tergesa-gesa aku mempersingkat langkah menuju arah bukit “kanrenni”. Aku yakin teman-temanku yang lebih cermat telah mendahuluiku disana. Ternyata betul, hanya saja kali ini tidak seramai biasanya, hanya ada seorang yang kutemui. Ternyata yang lainnya tidak berangkat ke sekolah, dan yang lainnya lagi sedang menempati lokasi persembunyian yang berbeda. Meskipun demikian, tidak menyurutkan semangat kami untuk betah ditempat sepi ini.

Matahari sudah beranjak tinggi dengan sorot sinarnya yang mulai menyengat, sepertinya para guru dan siswa tak ada lagi yang lalu-lalang dijalanan. Ini waktu yang aman untuk beranjak keluar, bergabung dengan orang lain yang bukan anak sekolahan, mengisi waktu untuk menunggu sampai jam pulang tiba. Ada banyak kesibukan di waktu ini, kadang main domino, cerita sampai tidak tahu kemana ujungnya, kadang minum minuman keras, dan masih banyak lagi kegiatan hura-hura lainnya. Ditengah keasyikan ini tetap harus waspada terhadap segala ancaman yang dapat membocorkan aktifitas pembolosan ini, baik ke pihak guru maupun ke orang-orang di rumah atau tetangga lainnya.

Matahari telah tepat diatas kepala,tidak lama lagi waktu pulang sekolah akan tiba, kami segera meninggalkan segala aktifitas untuk mengamankan diri ditempat semula. Sebelum pulang, kami selalu menyempatkan diri untuk istirahat membaringkan badan sejenak.

Waktu istirahatku tiba-tiba terusik dengan nyanyian perut tanda kelaparan, maklum sejak pagi tadi belum sedikitpun makanan yang mengisi perut kami. Tiba-tiba ide cemerlang temanku muncul, “Eh..dengar tidak, suara mesin gergaji itu (senso dalam bahasa daerahku)?.” Tanyanya dengan serius. “Iya, kenapa?.” Jawabku, “Kamu lapar kan?.” Tanyanya lagi, “Iya.” Jawabku kembali. “Biasanya nih..kalau ada suara seperti itu..artinya ada kue disana, kan lumayan bisa mengganjal perut, stok kalori untuk pulang, kan lumayan jauh kita akan berjalan kaki..” Tandasnya meyakinkan. “He..he..he..pintar juga kamu.” Balasku dengan tawa membenarkan ucapannya. Meskipun suara mesin itu datangnya jauh dari hutan, kami nekat untuk menelusurinya. Ternyata dugaan temanku benar, tepat beberapa meter dihadapan kami tampak setumpuk pisang goreng yang telah ditata rapi dalam sebuah mangkok besar yang transparan dan minuman siap saji di dekatnya, untungnya lagi tukang gergaji itu sedang menebang pohon berdiameter besar yang letaknya cukup jauh dari pisang goreng itu. Semak belukar lebat yang melindungi kami dari pandangan para pekerja semakin meyakinkan aksi pencurian pisang goreng akan sukses. Tanpa pikir panjang temanku dengan gesit segera mengambil mangkok yang berisi pisang goreng itu lalu membawanya lari. Sebelum jauh meninggalkan tempat itu, kami sepakat untuk tidak mencuri semua pisang goreng itu, apalagi dengan tempatya sekaligus, heheheee. Rasa iba kami tiba-tiba muncul ketika memikirkan bagaimana nasib para pekerja nantinya setelah tenggorokannya kering dan perutnya menciut kelaparan. Akhirnya temanku menyisakan sebagian kecil dan mengembalikannya ketempat semula. Kami segera meninggalkan tempat itu dengan membawa lari sebagian besarnya. Setelah sampai ditempat persembunyian, pisang goreng itupun kami makan dengan lahapnya. “Alhamdulillah, lumayan juga, ternyata pisang goreng curian enak juga..” Ucapku sambil tertawa.

Matahari mulai melesat menuju barat, suara keramaian mulai terdengar, tidak salah lagi pasti siswa-siswa lain yang sudah pulang. Kamipun ikut bergabung, layaknya siswa lainnya yang baru pulang mendapatkan pelajaran dari bapak ibu guru di sekolah.
***

Kisah ini terjadi sejak aku duduk dibangku SMP, ini hanyalah salah satu dari sekian banyak pengalaman brutal yang pernah kualami. Masa itu memang masa yang sangat kritis dimana kita mencari jati diri, yang salah satu pembentuknya adalah lingkungan pergaulan, sehingga benarlah sebuah pepatah Arab yang mengatakan “al-insan ibnul bi’ah” yang artinya manusia itu anak lingkungan. Lingkungan pergaulan mengambil peran besar dalam menentukan corak kepribadian seseorang.

Melalui sebuah proses yang panjang, kebiasaan seperti ini perlahan saya tinggalkan. Saya yakin dan percaya Allah Subehanahu Wa Ta’Ala membuka dan melapangkan dada setiap kita untuk mendapatkan hidayahNYA, jika kita mau..!.

Makassar, 2009

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s