Rusaknya Umat Islam Disebabkan Kebodohan dalam Ilmu Syar’i

Jika kita melihat kondisi umat islam sekarang ini, baik kaum muslimin yang ada di Indonesia maupun di luar negeri (Indonesia) dengan kondisi kaum muslimin yang ada pada zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tentu amat jauh berbeda.

Dan hal ini bila diibaratkan perbedaannya antara langit dan bumi. Pada saat umat islam dizaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam meskipun sedikit kuantitasnya (jumlahnya), namun kehidupan mereka begitu nyaman, tentram dan selalu dalam keadaan yang tidak pernah mengalami ketertindasan dari orang-orang Islam.

Jikalau umat Islam yang ada dibelahan bumi lainnya sedang dizalimi, maka umat Islam yang ada di Mekkah dan Madinah dengan sigap akan segera bertindak untuk mencegahnya.

Akan tetapi kondisi tersebut jika kita bandingkan dengan realita sekarang ini tentu sungguh sangat jauh sekali berbeda. Kaum Muslimin diseluruh dunia ini tak ubahnya seperti buih yang diombang-ambingkan dilautan yang luas.

Dari segala penjuru manapun, umat Islam selalu menjadi sasaran tembak orang-orang kafir dalam melancarkan agenda dan strategi mereka untuk memusuhi dan memerangi umat Islam. Menurut ustadz Rosyid Ridho Ba’asyir, Lc. saat memberikan taushiyahnya dalam Kajian Rutin Jum’at pagi dimasjid Fauziah Kompleks Madrasah ‘Aliyah Al Mukmin Ngruki Sukoharjo Jawa Tengah pada hari Jum’at (22/6/2012), hal tersebut karena umat Islam sudah tidak perduli lagi dengan ilmu syar’i.

“Rusaknya umat Islam disebabkan kebodohan dalam ilmu syar’i, dan ini penyakit. Maka umat Islam wajib tahu informasi tentang dunia Islam dan kondisi umat Islam, khususnya informasi yang berkaitan tentang ilmu syar’i”, ungkap ustadz Rosyid sapaan akrabnya.

Selain itu ustadz Rosyid juga menerangkan bahwa jika umat Islam sudah tidak mau berusaha mencari dan menuntut ilmu syar’i, maka kaum muslimin akan dengan mudahnya menjadi bulan-bulanan dan permainan orang-orang kafir serta bisa menjadi target-target kepentingan kelompok anti islam.

“Jika umat Islam sudah tidak perduli dengan ilmu syar’i dan tidak mau berusaha untuk mencari dan memahaminya, sehingga mereka bingung Islam itu apa? maka akhirnya yang terjadi adalah kejadian-kejadian besar pada kaum muslimin seperti umat islam mudah dipermainkan, dijadikan target-target kepentingan dan lain sebagainya”, lanjut ustadz muda yang pernah menimba ilmu di Darul Hadits Mekkah Al Mukarromah itu.

Beliau kemudian mencontohkan bagaimana kaum muslimin di Tunisia yang mulai bergejolak lagi setelah revolusi “mainan” beberapa bulan lalu, di Suriah bahkan yang terabru yakni di Burma, begitu mudahnya ditumpahkan darahnya, dihinakan dan para muslimahnya diperkosa oleh orang-orang Kafir. Semua ini menurut beliau bukan karena tidak ada sebabnya. Tapi ini semua karena kesalahan kita sendiri karena tidak mau mempelajari ilmu syar’i dengan benar.

“Jika ada umat Islam disalah satu belahan bumi (Suriah dan Burma-red) yang sedang dibunuh, dihinakan, diperkosa dan lain sebagainya (oleh orang-orang Kafir-red), jangan salahkan orang lain, tapi salahkan diri kita sendiri karena diri kita sendiri tidak perduli lagi dengan ilmu syar’i. Atau seperti di Tunisia sekarang ini yang mulai bergolak lagi, umat islam tidak bisa memanfaatkan kesempatan tersebut kembali, padahal sebelumnya sudah pernah ada Revolusi. Hal ini bukan karena sebab, tapi karena kebodohan mereka dalam memahami ilmu syar’i sehingga dalam mengambil sikap mereka tidak bisa. Dan yang ke-dua karena qudroh (kemampuan) mereka hanya seperti itu saja, sehingga kurang bisa mengambil sikap yang pas dalam melihat kondisi tersebut, dan hal ini tidak jauh beda dengan umat islam di Indonesia,” tegas putra kedua ustadz Abu Bakar Ba’asyir tersebut.

Terakhir beliau memaparkan alasan yang paling mendasar dari kondisi yang dialami kaum muslimin itu semua karena umat Islam tidak ada hubungan yang erat dengan 2 kitab sucinya, yakni Al Qur’an dan Sunah. Kadangkala ada kelompok yang hanya menggunakan Al Qur’an saja sebagai pegangannya dengan meninggalkan hadits-hatits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang kemudian lebih dikenal dengan istilah Ingkarus Sunah. Dan ada pula yang hanya mengamalkan Sunahnya saja kemudian membuang Al Qur’an.

Akan tetapi menurut penjelasan beliau dan yang aling ironi yaitu, bila ada orang yang mengaku dirinya muslim dan menjadikan 2 kitab suci sebagai pedoman hidupnya, tapi dalam kenyataannya 2 kitab suci tersebut malah ditaruh dibelakangnya (tidak dipelajari dan diamalkan).

“Hal ini terjadi karena kita tak punya hubungan kuat antara kita dengan 2 kitab (Al Qur’an dan Hadits), dan Allah swt tidak akan perduli dengan hamba-hamba-Nya yang main-main saja dalam mengaku dirinya Islam dan tidak perhatian dengan syari’at Islam ini dengan benar, karena Allah swt tidak akan memperdulikan dan memperhatikan orang-orang seperti itu,” tutup beliau memberikan penjelasan.

Disadur dari voa-islam pada 3 Sya’ban 1433 H.

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: