Bom dan Cadar

Segala puji bagi Allah yang telah menyempurnakan agama ini sehingga tidak lagi membutuhkan penambahan atau pengurangan, tidak lagi membutuhkan Nabi atau Rasul lagi setelah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sampai akhir zaman nanti sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam itu sebagai agama bagimu.” (QS. sl-Maidah [5] : 3)

Shalawat dan salam kita haturkan kepada penutup para Nabi, Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang telah meninggalkan agama ini dalam kondisi terang-benderang; malamnya seperti siang. Tidak ada satu perkara pun yang bisa mendekatkan kepada surga, melainkan telah dijelaskan olehnya. Demikian juga, tidak ada satu perkara pun yang bisa menjauhkan dari api neraka, melainkan telah beliau jelaskan sekaligus memperingatkan umat untuk menjauhinya. Imam Thabarani telah meriwayatkan perkataan Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu; “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan kami dalam keadaan tidak ada seekor burung pun yang mengepakkan kedua sayapnya di udara melainkan beliau telah menyebutkan kepada kami ilmu tentangnya.” Ia berkata; “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

‘Tidak tersisa sesuatu pun yang dapat mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari api neraka, melainkan telah dijelaskan kepada kalian.’”1

Hadits ini dengan jelas menyatakan bahwa segala sesuatu yang bisa mendekatkan kita kepada surga telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan segala sesuatu yang bisa menjauhkan kita dari api neraka telah dijelaskan juga oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Peristiwa peledakan bom di Legian, Bali, pada tanggal 12 Oktober 2002, sampai hari ini masih hangat dibicarakan di mana-mana. Terlebih ketika diberitakan bahwa istri-istri dari sebagian pelaku peledakan tersebut mengenakan cadar. Akhirnya memunculkan berbagai macam komentar miring, diantaranya adalah komentar sebagian orang bahwa antara bom dan cadar itu terdapat hubungan yang sangat erat ibarat eratnya hubungan antara suami dan istri. Bahkan ada yang sampai menyamaratakan (gebyah uyah) bahwa semua wanita yang bercadar, suaminya adalah teroris! Belum lagi kalau kita lihat dari sikap kebanyakan orang bila melihat wanita yang bercadar. Semua mata akan tertuju kepadanya seolah-olah mereka berkata; “Inilah pendukung teroris!” Lalu, bagaimana sikap kita? Apakah kita akan ikut berkomentar sebagaimana orang berkomentar? Yaitu tanpa didasari dengan ilmu dan semata-mata hanya berdasarkan analisa-analisa akal atau ra’yu (pendapat)!!! Semestinya kita sebagai seorang Muslim setiap mengucapkan suatu ucapan dan melakukan suatu perbuatan, apalagi dalam bersikap, haruslah berdasarkan ilmu sebagaimana yang dikatakan Imam Bukhari -rahimahullah ta’ala-, “Bab Ilmu Didahulukan Sebelum Ucapan dan Perbuatan dengan dalil firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

‘Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tiada sembahan yang haq kecuali Allah dan mohonlah ampun atas dosamu.’ (QS. Muhammad [47] : 19)

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan berilmu (berpengetahuan) terlebih dahulu sebelum ucapan dan perbuatan.”2

Ingat, tolok ukur kebenaran (kebaikan) itu bukan akal atau pendapat, bukan juga hawa nafsu, tetapi syari’at atau wahyu. Memang kalau berdasarkan akal atau perasaan saja komentar-komentar diatas seolah-olah pas, seperti komentar bahwa antara bom dan cadar hubungannya erat sekali ibarat hubungan suami dan istri karena memang sebagian istri para pelaku pengeboman itu bercadar. Akan tetapi, mari kita lihat dengan tolok ukur syariat sebagaimana ucapan ‘Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu; “Seandainya agama itu dengan pendapat (akal atau ra’yu) niscaya bagian bawah khuf (sepatu atau kaos kaki) itu lebih berhak diusap daripada bagian atasnya. Dan sungguh saya melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap bagian punggung (atas) kedua khufnya.”3

Begitu pula ucapan Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu ketika mencium Hajar Aswad; “Sesungguhnya saya mengetahui bahwa kamu hanyalah batu yang tidak bisa mendatangkan mudharat dan juga tidak bisa mendatangkan manfaat. Seandainya saya tidak melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu niscaya saya pun tidak akan menciummu.”4

Dua riwayat generasi salaf dari kalangan sahabat –generasi yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala ridhai- diatas menjelaskan kepada kita bagaimana cara yang benar dalam menerima syari’at. Tidak menjadikan akal sebagai tolok ukur kebaikan atau keburukan karena tolok ukur kebaikan atau keburukan adalah dalil-dalil syar’i5. Sebab, tidak dinyatakan baik melainkan apa yang diyatakan baik oleh syari’at, dan tidak dinyatakan buruk melainkan apa yang dinyatakan buruk oleh syari’at. Oleh karena itu, akal tidak boleh dijadikan tolok ukur kebaikan atau keburukan. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan kebaikan dan keburukan berdasarkan akal atau ra’yu adalah orang-orang yang sesat.6

Untuk itu, sekali lagi mari kita lihat permasalahan ini dengan tolok ukur al-Qur’an dan as-Sunnah menurut pemahaman Salaful-Ummah. Kalau kita tidak mampu melihat langsung dengan tolok ukur tersebut, maka hendaknya kita bertanya kepada ulama yang memahami al-Qur’an dan as-Sunnah menurut pemahaman Salaful-Ummah dalam rangka mengamalkan perintah Allah:

“…maka bertanyalah kamu sekalian kepada orang-orang yang berilmu apabila kamu tidak mengetahui.” (QS. an-Nahl [16] : 43)

Mari kita simak keterangan-keterangan para ulama tentang hukum bom dan cadar.

Pertama, mari kita simak fatwa Syaikh Abul Hasan Musthafa bin Ismail as-Sulaimani al-Misri tentang (peledakan) bom dalam kitabnya, Silsilah al-Fatawa asy-Syar’iyah7,sebagai berikut:

Tanya: Kami mendapati beberapa orang yang mengaku aktifis Islam melakukan tindak penculikan sejumlah tokoh atau melakukan peledakan terhadap gedung-gedung perkantoran dan pertokoan. Apabila ditegur, mereka membantah dengan berkata; “Perbuatan seperti ini telah dilakukan oleh para sahabat dengan seizin Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu pada peristiwa terbunuhnya Ka’ab bin al-Asyraf, seorang thaghut Yahudi.” Apakah perbuatan seperti itu benar dan tepat sesuai dengan metode Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah? Dan apakah cara yang seperti itu dapat menolong agama Islam? Kemudian apa nasehat Anda kepada mereka?

Jawab: Alhamdulillah, semua orang sudah mengetahui sikap Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah terhadap masalah ini. Terutama orang-orang yang telah mengenal dakwah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah, baik melalui buku-buku, kaset-kaset dakwah, atau yang lainnya. Barangsiapa yang mau berhenti sejenak untuk merenungkan hal itu, maka akan tampak jelas baginya bahwa cara-cara seperti itu adalah fitnah (menimbulkan malapetaka) dan dapat menghalangi orang untuk beragama Islam. Bahayanya lebih besar daripada manfaatnya. Walaupun pelakunya melakukan hal itu dengan niat ikhlas semata-mata untuk membela agama, namun keadaan mereka sama seperti yang dilantunkan dalam sebuah syair:

“Sa’ad menggiring onta-ontanya sambil berselimut.

(Maka dia pun ditegur); Wahai Sa’ad, bukan begitu cara menggiring onta!”

Para tokoh ulama Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah abad ini telah memberi peringatan akan bahaya cara-cara seperti itu. Diantara mereka adalah Samahatusy-Syaikh ‘Abdul-‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz –rahimahullah-, muhadits abad ini Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani -rahimahullah-, dan ahli fiqih dan ushul Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin –rahimahullah-, serta ulama lain yang sejalan dengan mereka. Akan tetapi, di lain pihak, banyak pemuda belia yang dangkal ilmunya dan kurang pengalamannya tidak peduli dengan keterangan para ulama tersebut. Akibatnya, fitnah dan kerusakan tersebar di segala penjuru bumi. Sungguh sangat memilukan.

Betapa banyak orang-orang yang tak bersalah ikut terbunuh! Betapa banyak umat Islam yang menjadi korban kezhaliman karena telah dianggap kafir. Semua itu dilakukan tanpa ada rasa takut ataupun segan sama sekali. Betapa banyak anak-anak dan wanita yang tidak tahu-menahu ikut menjadi korban akibat ucapan-ucapan yang tidak bertanggung jawab lagi tidak dikenal Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah dalam memahami dalil.

Perlu diketahui, kisah tewasnya Ka’ab bin al-Asyraf tidak dapat dijadikan sebagai dalil tindakan mereka, dengan alasan sebagai berikut:

Ka’ab bin al-Asyraf -semoga Allah melaknatnya- sudah jelas kekafirannya. Adapun pemuda-pemuda tersebut memvonis kafir (orang lain) dengan pemahaman yang rusak (salah). Walaupun sebagian mereka ada yang ikhlas, namun keikhlasan itu tidaklah mencukupi hingga terpenuhi syarat yang kedua, yaitu sesuai dengan Sunnah. Diantara mereka pula ada yang memvonis kafir dengan hawa nafsu, atau untuk mengejar keuntungan materi dunia. Boleh jadi orang yang dibunuh tersebut seorang Yahudi atau Nashrani, namun untuk membunuh mereka juga harus dipenuhi syarat-syarat tertentu yang sudah dimaklumi oleh para ulama. Namun, pemuda-pemuda tersebut tidak mau menengok apalagi mempelajarinya.
Pembunuhan atas diri Ka’ab bin al-Asyraf adalah atas anjuran dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berkata kepada para sahabat;

“Siapakah yang bersedia membunuh Ka’ab bin Al-Asyraf karena dia sungguh telah menyakiti Allah dan Rasul-Nya.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentunya tidak akan berucap dengan hawa nafsu, begitu pula para pewaris beliau, yaitu para ulama. Berbeda dengan para pemuda tadi. Mereka bukan ulama dan tidak pula merujuk kepada ulama.
Tewasnya Ka’ab bin al-Asyraf adalah kehinaan bagi Yahudi dan kemuliaan bagi kaum Muslimin. Berbeda dengan tindakan para pemuda tadi. Kenyataannya, tindakan itu justru menghalangi orang untuk menjalankan agama Allah, dan memecah-belah persatuan kaum Muslimin, serta membuka peluang bagi musuh untuk menjajah negeri-negeri kaum Muslimin dengan alasan ‘memberantas terorisme.’ Perbuatan mereka itulah yang mengakibatkan penjara-penjara penuh dengan orang-orang lemah lagi tidak bersalah, dan berujung kepada penghinaan kaum Muslimin. Wallahul-musta’an (Allah sajalah tempat kita memohon pertolongan).

Sungguh amat memilukan! Betapa banyak pemuda Islam yang dahulu wajahnya bersinar ketika menuju masjid untuk menghadiri majelis-majelis ilmu seperti ilmu al-Qur’an, aqidah, dan lain-lain. Namun, ketika mereka ditangkapi karena akibat perbuatan orang lain, akhirnya mereka pun berbalik menjadi aktifis tempat-tempat hiburan dan perusak sendi-sendi agama dan syi’ar-syi’arnya.
Ka’ab bin al-Asyraf dibunuh oleh para sahabat, kemudian mereka berkumpul di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengumandangkan takbir karena gembira atas terbunuhnya Ka’ab bin al-Asyraf.

Adapun pemuda-pemuda tadi, setelah melakukan perbuatan yang menyimpang tersebut, biasanya mereka terus bersembunyi kemudian orang lain yang ditangkap lalu disiksa dengan cambukan hingga kulitnya mengelupas, atau dihajar sampai babak belur, dan sebagainya. Tepat sekali ucapan seorang penyair;

“Orang lain yang berbuat jahat namun aku yang kena getahnya.

Maka nasibku tidak lain seperti nasib jari telunjuk yang menyesali diri.”
Para sahabat hanya membunuh Ka’ab bin al-Asyraf saja sebab hanya dia yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam izinkan untuk dibunuh bukan yang lain. Berbeda dengan aksi-aksi peledakan terhadap gedung-gedung perkantoran yang didalamnya terdapat ratusan bahkan ribuan orang yang beraneka-ragam, ada yang jahat ada yang baik. Apakah sama seratus mereka dengan Ka’ab bin al-Asyraf?

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menunda proses penaklukan kota Makkah karena adanya sejumlah orang mukmin yang belum diketahui dengan pasti. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

“Dan kalau tidaklah karena laki-laki yang mukmin dan perempuan-perempuan yang mukminah yang tidak kamu ketahui bahwa kamu akan membunuh mereka yang menyebabkan kamu ditimpa kesusahan tanpa pengetahuanmu (tentu Allah tidak akan menahan tanganmu dari membinasakan mereka). Supaya Allah memasukkan siapa yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Sekiranya mereka tidak bercampur-baur, tentulah Kami akan mengadzab orang-orang kafir diantara mereka dengan adzab yang pedih.” (QS. al-Fath [48] : 25)

Padahal penaklukan kota Makkah adalah kemenangan besar bagi kaum Muslimin, sebagaimana telah disebutkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun, penaklukan tersebut ditunda agar jiwa kaum Muslimin yang berada disana dapat diselamatkan, begitu pula jiwa beberapa orang yang tidak boleh dibunuh.
Ka’ab bin al-Asyraf dibunuh tanpa adanya pengkhianatan. Pembaca bisa melihat keterangan al-Qadhi ‘Iyadh tentang masalah ini yang dinukil oleh Imam Nawawi di dalam Syarh Shahih Muslim (XII:371). Adapun yang dilakukan pemuda-pemuda tadi, pada umumnya dilakukan dengan berbagai macam kecurangan, bukan sekadar kamuflase atau siasat. Sebabnya (pun berbeda), pada waktu itu kaum Muslimin memiliki kekuatan, adapun sekarang hanya kepada Allah saja kita mengadu akan asingnya kebenaran dan pengikutnya.
Terbunuhnya Ka’ab bin al-Asyraf membawa maslahat yang jelas. Berbeda dengan apa yang dilakukan para pemuda tadi yang nyata-nyata membawa kerusakan. Kenyataan yang ada menjadi bukti atas semua itu. Merupakan musibah besar apabila tidak merujuk kepada ulama. Tepatlah ucapan seorang penyair:

“Wahai segenap kaum, apakah mereka memiliki pendukung dari seorang ahli fiqih atau seorang Imam yang diikuti atas kebid’ahan yang mereka lakukan?

Seperti Sufyan ats-Tsauri yang telah mengajarkan pada manusia hakikat wara’ (sikap hati-hati),

Atau seperti Sulaiman at-Tamimi yang meninggalkan tidur (untuk shalat malam) karena rasa takutnya kepada Dzat Yang Maha Melihat,

Atau pahlawan Islam, yaitu Imam Ahmad, imam yang selalu dielu-elukan para pembaca (penuntut ilmu),

Imam yang tidak takut terhadap cambukan dan kilatan pedang yang menakutkan bagi setiap orang.”

Ada sebagian orang berdalil dengan fatwa Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa (XXVIII:546-547). Ketika tentara musyrikin menjadikan tawanannya dari kaum Muslimin sebagai tameng (menghadapi pasukan Muslimin), beliau membolehkan pasukan Muslimin untuk membunuh mereka semua, kemudian semuanya nanti akan dibangkitkan berdasarkan niat masing-masing. Tetapi hal itu dibolehkan apabila kejahatan orang-orang musyrik tersebut sudah mengganas dan tidak dapat dicegah kecuali dengan cara seperti itu. Dan hal ini termasuk dalam kaidah; “memilih mudharat yang paling ringan.” Adapun perbuatan pemuda-pemuda tadi adalah sebaliknya, yaitu memilih mudharat yang paling berat. Bagaikan seorang pemburu yang berburu dengan ketapel. Ia tidak bisa melumpuhkan buruan dan tidak dapat menewaskan musuh, tetapi hanya meretakkan gigi atau mencederai mata seperti yang disebutkan dalam hadits ‘Abdullah bin Mughoffal dalam Shahihain. Penjelasan lengkap masalah ini tidak dapat dimuat dalam fatwa yang sederhana ini. Keterangan lebih lanjut dapat pembaca temukan di tempat lain, insya Allah.

Nasehat kami kepada kaum Muslimin adalah agar mereka senantiasa berada dibawah bimbingan ulama. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

“Keberkahan itu bersama para sesepuh ulama kamu.”8

Dan hendaknya mereka senantiasa menekuni dakwah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah yang ditegakkan diatas landasan ilmu dan proses belajar mengajar, ditegakkan dengan ketenangan dan penyebaran nasehat serta kesabaran. Dan agar mereka lari meninggalkan pemikiran-pemikiran tersebut sebagaimana larinya (seseorang) dari terkaman harimau. Kemudian nasehat kami kepada pemuda-pemuda tersebut agar mereka bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam menghadapi umat ini dan dalam berdakwah kepada agama Allah. Hendaklah mereka mengevaluasi diri. Sungguh diantara mereka ada yang benar-benar ikhlas, jujur dan tulus membela agama. Diantara mereka ada yang ahli ibadah, zuhud, dan bahkan ibadah kita kalah dengan ibadah mereka. Semoga kami bukanlah berlebih-lebihan dalam memuji mereka! Hendaklah mereka selalu berkonsultasi kepada para ‘ulama dengan penuh kejujuran dan semata-mata untuk mencari kebenaran didalam semua masalah yang ada, sehingga mereka menjadi penuntut ilmu dengan sebenarnya dan menjadi rahmat bagi seluruh umat manusia. Dan hendaklah mereka menghidupkan kembali majelis-majelis ilmu syar’i. Janganlah mereka tertipu dengan ucapan; “Kita sekarang berada pada zaman teknologi, bukan zaman Fathul-Bari.” Maka ingatlah bahwa ‘semua kebaikan ada dalam mengikuti Salaf (sahabat, tabi’in, dan atba’ tabi’in), sedang semua kejelekan ada dalam mengikuti kebid’ahan Khalaf (ahli bid’ah).’

Telah sampai berita gembira kepada kami bahwa sekelompok besar dari mereka mulai menyadari besarnya bahaya dan kerusakan akibat perbuatan mereka dan mereka rujuk meninggalkan kekeliruan mereka. Semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan. Demikianlah dugaan baik kami kepada orang-orang yang ikhlas, yaitu segera bertaubat kepada Allah dari kesalahan dan segera menjauhi tindakan-tindakan yang dinyatakan sesat oleh ulama. Semoga Allah menambah pengetahuan dan ke-istiqamah-an kita didalam menjalani agama ini.

Kami memohon kepada Allah semoga memudahkan kita untuk melaksanakan ketaatan dan semoga menjadikan kita sebagai pembimbing kepada hidayah, bukan sebagai orang yang sesat dan menyesatkan. Dan semoga Allah mematikan kita dalam keadaan selamat, tidak terfitnah dan tidak pula sebagai juru fitnah. Sesungguhnya Dia-lah satu-satunya penolong dan Yang Maha Kuasa atas segalanya. Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga serta para sahabat.”

Kedua, tentang cadar. Disini kami akan sampaikan hukum cadar secara ringkas. Cadar bukanlah pakaian adat bangsa Arab sebagaimana yang telah dituduhkan oleh sebagian orang awam; dan juga bukan pakaian istri para teroris. Akan tetapi, cadar adalah pakaian yang berlandaskan syariat. Ada dua pendapat tentang hukum memakai cadar yang tentunya berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah menurut pemahaman Salaful-Ummah. Pendapat pertama mengatakan wajib, diantaranya adalah pendapat Imam Syafi’i dan Imam Ahmad.9 Sedangkan pendapat kedua berpendapat bahwa meskipun cadar itu disyari’atkan namun tidak sampai kepada derajat wajib, yang berpendapat seperti ini diantaranya Imam Abu Hanifah dan Imam Malik.10 Yang jelas masing-masing pendapat memiliki dalil yang kuat dan ada ulama yang menyatakannya.

Adapun yang menjadi permasalahan sekarang ini adalah banyak diantara wanita yang bercadar kurang bisa menempatkan diri di tengah masyarakat bahkan terkesan menutup diri, akhirnya menjadi sorotan dan membuat masyarakat apriori. Sesungguhnya pakaian itu bukanlah suatu masalah di tengah-tengah masyarakat. Mungkin ada, tetapi itupun pada awal-awalnya saja. Asal yang memakai pakaian tersebut bisa menempatkan diri di tengah masyarakat -yang tentunya sebatas bermasyarakat yang jelas-jelas tidak melanggar syariat, seperti ikut bergabung dalam kegiatan-kegiatan sosial. Kalau tahu (mendengar) tetangganya sakit, segera menengok. Kalau tetangganya ada yang meninggal, hendaknya secepatnya ber-takziyah ikut bela-sungkawa. Syukur-syukur ikut memandikan, mengkafani, dan menyhalati sambil mengajari mereka bagaimana cara yang benar yang sesuai dengan apa yang telah dicontohkan oleh Nabi kita, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalau ada tetangga yang melahirkan, hendaknya cepat-cepat menengok, syukur-syukur sambil membawa hadiah sebagai ungkapan rasa kegembiraan. Dengan begitu, insya Allah yang tadinya dicurigai menjadi dikagumi, yang tadinya masyarakat apriori menjadi simpati.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu memberikan bimbingan hidayah kepada kita semua, untuk meniti jalan yang lurus, jalan yang telah ditempuh oleh para Nabi, shiddiqin, syuhada’, dan shalihin. Amin, ya rabbal ‘alamin, wa shalallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa sallam.

Catatan Kaki:

1. ^ al-Mu’jam al-Kabir (II/155, hadits no. 1647). Juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad (V/162), al-Bazzar (IX/341, hadits no. 3897), dan Ibnu Hibban (I/267, hadits no. 65), dengan lafadz semakna dan tanpa tambahan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhirnya.
2. ^ Shahih Bukhari, Kitab al-‘Ilm Bab X.
3. ^ HR. Abu Dawud (162), al-Baihaqi (I/292), ad-Daruquthni (I/75), ad-Darimi (I/181), al-Baghawi (239), dan Ahmad (943 dan 970) dari berbagai jalan dan dinyatakan shahih oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam at-Talkhish al-Khabir (I/160). (Hadits ini tentang berwudhu sambil mengenakan alas kaki berupa kaus kaki, sepatu, dan semisalnya).
4. ^ HR. Bukhari (1610) dan Muslim (1270).
5. ^ al-Qur’an dan as-Sunnah.
6. ^ Fatawa asy-Syatibi hal. 181. Lihat al-I’tisham (I/111 & 144). Dalam hal ini terdapat perincian lain yang panjang dalam Madarij as-Salikin. (I/230-257) oleh al-‘Allamah Ibnul-Qayyim dan an-Nubuwwat (hal. 104) oleh Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah. Lihat juga Ilmu Ushul al-Bida’ (hal. 119-120) oleh Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali bin Abdul-Hamid al-Halabi al-Atsari.
7. ^ Edisi ke-2, bulan Jumadil Ula 1418 H, fatwa nomor 39, hal. 49-52.
8. ^ Hadits shahih riwayat Abu Ya‘la di dalam Musnad-nya dan al-Albani mencantumkannya dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah (no. 1778).
9. ^ Adapun ulama abad ini seperti Syaikh Bin Baz dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin -rahimahumallah-. Baca Risalatul-Hijab karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin.
10. ^ Adapun ulama abad ini seperti Syaikh Nashiruddin al-Albani -rahimahullah-. Baca kitab beliau “Jilbab al-Mar’ah al-Muslimah.”

Disadur dari ahlussunnah.info pada 5 Sya’ban 1433 H.

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: