Hikmah…


18 Tahun Belajar Adab

IMAM IBNU QASIM salah satu murid senior Imam Malik menyatakan,”Aku telah mengabdi kepada Imam Malik bin Anas selama 20 tahun. Dari masa itu, 18 tahun aku mempelajari adab sedangkan sisanya 2 tahun untuk belajar ilmu”. (Tanbih Al Mughtarrin, hal. 12)

Enggan Dilihat Saat Pimpin Majelis yang Ramai

MAM SUFYAN ATS TSAURI rahimahullah Ta’ala jika memperoleh kabar bahwa sultan hendak mengnjunginya di halaqah ilmu baik itu di madrasah Al Asyrafiyah atau di masjid Umawi maka beliau memilih tidak mendatangi majelis karena takut sultan akan melihatnya sedang beliau berada di sebuah majelis ilmu yang dihadiri banyak manusia.

Dan berkenaan dengan hal itu, Sufyan At Tsauri menyampaikan bahwa tanda keikhlasan adalah menyembunyikan kebaikan agar tidak terlihat oleh manusia sebagaimana ia takut kaburukannya diketahui oleh manusia. (Tanbih Al Mughtarrin, hal. 16)

Jangan Tanya Saudaramu Puasa Atau Tidak

IBRAHIM BIN ADHAM Rahimahullah Ta’ala menyampaikan,”Janganlah bertanya kepada saudaramu mengenai puasanya. Sesungguhnya jika ia mengatakan ‘saya puasa’ hatinya senang dengan hal itu dan jika ia mengatakan ‘saya tidak puasa’ mambuat ia sedih. Dan keduanya merupakan tanda-tanda riya’. Dan hal itu juga aib bagi yang ditanya dan membuka auratnya oleh penanya.” (Tanbih Al Mughtarrin, hal. 9)

Demikianlah ulama terdahulu amat peka terhadap indikasi riya’, sedangkan kita manusia di zaman ini kadang tidak mampu mendeteksinya dan menganggapnya sebagai hal yang biasa.

Ketika Ada yang Menyebut Anda Bodoh

SHALIH AL MARRI rahimahullah adalah seorang ahli ibadah Bashrah yang wafat 172 H. Suatu saat beliau menyampaikan mengenai indikasi riya pada hati manusia,”Barang siapa mengklaim bahwa dirinya ikhlas dalam ilmu maka hendaklah ia melihat dirinya jika manusia menyebut dia jahil dan riya’. Kalau dadanya lapang terhadap penilaian itu maka ia benar. Kalau ia sempit dada karena penilaian itu maka ia memang beramal dengan riya`”. (Tanbih Al Mughtarrin, hal. 15).

Siapa Orang yang Ikhlas?

YAHYA BIN MUADZ suatu saat ditanya kapan seseorang menjadi orang yang ikhlas? Beliau pun menjelaskan bahwa seorang disebut mukhlis kalau perilakunya seperti perilaku bayi yang tidak menghiraukan siapa yang memujinya dan siapa yang mencelanya dari kalangan manusia. (Tanbih Al Mughtarrin, hal. 8)

Para ulama lainnya juga menyebutkan hal yang serupa, bahwa seseorang disebut telah memperoleh derajat mukhlis jika pujian dan celaan manusia memiliki derajat yang sama dalam pandangnya.

Dikutip dari hidayatullah.com pada 6 Sya’ban 1433 H.

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: