Biaya Masuk PT Melangit, Orang Miskin Dilarang Kuliah?


“Orang Miskin Dilarang Sekolah”, itulah salah satu judul buku karya seorang penulis Yogyakarta, Eko Prasetyo, beberapa tahun silam. Apalagi kini, setelah Undang-undang Perguruan Tinggi disahkan pada Jumat (13/7/2012) lalu, orang miskin benar-benar ‘dilarang’ sekolah. Pasalnya, biaya sumbangan ke Universitas angkanya melangit.

Seorang calon mahasiswa Universitas Airlangga, Surabaya, bahkan tak segan bila harus membayar hingga Rp 500 juta untuk masuk jurusan yang diinginkannya.

Sebelumnya, sejumlah calon mahasiswa jalur mandiri telah menyiapkan sumbangan pembinaan dan peningkatan pendidikan agar bisa kuliah di Unair. Salah seorang pendaftar bernama Dina mengaku tak keberatan menyumbang Rp 300 juta agar dapat masuk jurusan kedokteran. “Saya ingin kuliah kedokteran karena sesuai dengan jurusan saya di IPA,” kata Dina seperti diberitakan Tempo.co, Rabu (25/7/2012).

Salah seorang panitia yang tidak mau disebutkan namanya mengutarakan bahwa ada calon mahasiswa mandiri yang berani menyumbang Rp 500 juta. Namun ia enggan memerinci calon mahasiswa jurusan apa yang tak segan menyumbang sebanyak itu. “Sejauh ini jumlah itu yang paling tinggi,” ujarnya.

Menurut informasi, besaran sumbangan calon mahasiswa bervariasi mulai Rp 15 juta hingga Rp 500 juta. Sumbangan paling tinggi konon pada jurusan kedokteran. Sedangkan jurusan-jurusan lain lebih kecil, yakni berkisar Rp 17 juta, Rp 140 juta, hingga Rp 300 juta.

Menurut Dian, hingga Rabu dinihari, calon mahasiswa yang mendaftar lewat jalur mandiri berjumlah 3.687 orang. Selanjutnya panitia akan meverifikasi persyaratan pendaftar hingga Jumat besok pukul 14.00. Jalur mandiri akan mengisi sekitar 40 persen daya tampung Unair di semua program studi. “Sampai Rabu siang telah ada 1.657 yang diverifikasi,” ucapnya.

Ketua Dewan Pendidikan Jawa Timur, Zainuddin Maliki, menilai sistem pendidikan di Indonesia telah terjebak sistem kapitalis. Calon mahasiswa anak orang berduit, kata dia, bisa masuk lewat jalur tol. Sedangkan calon mahasiswa dari kalangan pas-pasan harus beradu nasib lewat jalur seleksi atau tes. “Ciri pendidikan kapitalistik di antaranya adalah pendidikan yang bagus harus dibayar mahal,” kata Zainuddin.

Menurut Zainuddin, pungutan sumbangan bagi calon mahasiswa di jalur mandiri menimbulkan opini bahwa komersialisasi pendidikan tidak bisa dibantah, meski dengan mudah perguruan tinggi akan mengatakan bahwa sumbangan tersebut untuk biaya subsidi silang bagi mahasiswa yang masuk melalui jalur seleksi, undangan, maupun bidik misi. “Tapi kesan komersialisasinya tidak bisa dihapus,” ujar dia.

Ketua Pusat Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Airlangga Surabaya, Dian Agustia, membantah menarik biaya kelewat mahal kepada calon mahasiswa yang mendaftar lewat jalur mandiri. Sebab, menurut Dian, diterima tidaknya calon mahasiswa tergantung pada grade nilai masing-masing. “Yang menentukan lolos tidaknya bukan besar kecilnya sumbangan, tapi nilai yang bersangkutan,” kata Dian.

Tentang berapa beban biaya yang harus ditanggung calon mahasiswa mandiri, menurut Dian, rinciannya telah dipaparkan secara transparan di website universitas. Dengan demikian, calon mahasiswa dari berbagai program studi bisa dengan mudah mengakses dan melihat informasi biaya kuliah. “Semua telah dijelaskan di website kami,” ujar Dian.

Pendidikan yang materialistis ini, menurut fungsionaris Forum Umat Islam (FUI) Drs. H Bernard Abdul Jabbar, M.Pd hanya akan menghasilkan orang-orang yang materialistis juga. Apalagi jika kurikulumnya sekuleristis, maka produk yang dihasilkan bisa dipastiskan seorang alumni yang sekuleristis-materialistis.

“Kalau biaya kedokteran saja sedemikian mahal, tak heran jika mereka sudah praktik biaya berobat jadi sangat mahal,” katanya.

Mestinya, kata Ustad Bernard, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang telah mendapatkan dana APBN lebih dari 20% itu memurahkan biaya pendidikan di Perguruan Tinggi. Caranya, PT harus mendapatkan subsidi penuh dari negara untuk operasional mereka. Sehinggga PT tidak perlu meminta sumbangan pada calon mahasiswa. “Jangan malah Perguruan Tinggi di BHMN-kan atau dengan istilah lain yang intinya mahasiswa harus bayar mahal,” lanjutnya.

Dilansir dari suara-islam.com pada 7 Romadhon 1433 H.

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

One Response to Biaya Masuk PT Melangit, Orang Miskin Dilarang Kuliah?

  1. Banyak jalan untuk sukses, tidak mesti dengan berkuliah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: