Penjual gula-gula pun tak pelak kami tipu

Oleh: Uban Pamungkas al Muhlis

Tak habis memang kisah pandir menggelikan, nada-nada kebisingan bajingannya usia beranjak. Kisah ini hampir saja terlupa jika tak kuurut daftar pencurian yang telah kukoleksi sepanjang usia nakal. Mencuri pisang goreng, paling berkesan, karena tulisan tentang kisah tersebut telah terpilih sebagai tulisan terbaik oleh dosen pengampu Bahasa Indonesia dikelasku. Mencuri biji merica dipohon, juga masih segar rasanya saat melihat anak tetanggaku dikampung bermain senapan bambu beramunisi merica, persis tatkala kami dulu sedang doyan bedil-bedil purba itu, jika kehabisan peluru tak ada jalan kecuali menjadi maling, semakin segar dan tua biji itu semakin sempurna suaranya. Ada lagi jenis pencurian kocak masa lalu sekali yang rupa-rupa, namun tak segar lagi karena alur ceritanya yang sudah terlalu usang. Kisah terakhir yang tak kalah kacaunya adalah penipuan kami terhadap penjual gula-gula yang berakhir genting.

Sejak kami masih berseragam putih biru (SMP), kami punya kebiasaan menghabiskan waktu dipasar, entah dengan cara bolos atau memang jadwal pulang telah tiba. Sekolah kami tak dekat dengan pasar, bahkan untuk menjangkaunya butuh biaya tumpangan angkot dengan beberapa uang monyet (Rp.500) atau uang pedang (Rp.1000), tapi begitulah ketika nafsu dan emosi keremajaan kami sedang membuncah, tak peduli dengan membuang-buang materi dan menyia-nyiakan waktu asal detak-detak nadi darah muda kami dapat tersalurkan walaupun dengan cara nyasar.

Hari itu kami merasa lega, kembali dapat menikmati suasana pasar yang gaduh. Hampir tak ada bedanya dengan anak-anak pasar, hanya seragam kusut tak rapi yang menunjukkan identitas kami.

Setelah puas berkeliling pasar tanpa tujuan jelas, kami pun mengisi lambung kami dengan makanan dipinggir-pinggir pasar seadanya. Sebelum kami beranjak pulang, kami luangkan waktu untuk beristirahat diteras-teras sebuah ruko disudut jalan. Kami bertiga waktu itu.

Rasanya kami sudah jemu dengan keriuhan beribu bau di pusat transaksi itu. Saatnya untuk meninggalkan suasana pasar yang sudah bikin puyeng. Uang-uang kertas sisa foya-foya disiapkan untuk transpor. Rupanya seorang rekan kami mengantongi sepotong lembaran uang seribu rupiah, potongannya yang hilang hampir setengah. Kami mencoba mencari solusi agar uang tersebut dapat digunakan, namun potongannya pun tak ketemu. Akhirnya kami memutuskan untuk melipat dengan kreatif uang tersebut untuk mengelabui penjual, seakan-akan uang kertas yang utuh. Gula-gula aneka warna yang dipajang distoples-stoples tak jauh didepan kami merangsang selera nakal kami. Kami setuju untuk menipu sang penjual tua itu. Dengan gagah berani kami melangkah menjalankan niatan keji. Untuk melancarkan aksi penipuan rendahan ini, gula-gula didalam stoples kami ambil terlebih dahulu. Setelah gula-gula ada dalam genggaman rekan kami, uang tersebut pun kami serahkan sambil tergopoh-gopoh beranjak. Rupanya sang penjual itu juga cekatan, saat itu juga ia segera mengetahui aksi bejat kami. Lalu ia berteriak sambil mengejar kami dari jarak yang masih dekat. Kami tak mau kalah, walaupun ditengah keramain, kami tetap nekat melarikan gula-gula seharga seribu rupiah itu. Terjadilah kejar-kejaran. Untungnya para penghuni pasar belum mengambil tindakan spontan untuk ikut menangkapi kami, mereka hanya bingung dan tak tahu bersikap, mungkin karena dibenak mereka kami adalah anak sekolah. Sang penjual nampaknya serius ingin menangkapi kami, dan ia juga pelari yang hebat, kami bahkan kewalahan. Dalam kepanikan, kami terpencar, rekan yang membawa gula-gula itu lari dijalan yang lurus, sementara kami berdua menikung di deretan mobil-mobil yang sedang parkir. Merasa tak akan berhasil lolos dikejar sendiri, rekan yang membawa lari gula-gula itu menyerah sebelum ditangkap langsung oleh sang penjual, ia berhenti dan menyerahkan kembali segenggam gula-gula itu. Sang penjual yang dongkol menarik baju rekanku itu sambil ingin melayangkan tamparan, tapi kami segera menghampiri mereka dengan berbagai upaya mencegahnya, kami bertutur bahwa kami tak tahu kalau uang kami hanya sepotong, ia pun mengurungkan niat kasarnya, walaupun diraut mukanya sangat jelas tak percaya alasan-alasan kami. Sang penjual sepertinya belum usai, ia nampaknya memang sangat emosi. Untuk menghindari amukan pitamnya, kami segera beranjak laju meninggalkannya.

Degup jantung kami akhirnya reda setelah duduk menghirup udara kencang dipintu angkot. Mikrolet yang melaju kencang itu mengantarkan kami pulang, melupakan tragedi cetek yang baru saja terjadi.

***

Seperti juga saya, ketika orang-orang ditanya tentang aksi-aksi konyol seperti ini, jawabannya sederhana, pasti karena kenakalan remaja ini terasa sangat berseni. Tak lengkap rasanya usia belia dilewatkan tanpa kisah-kisah bobrok.

Rupanya kerentanan diusia ini adalah sebuah tantangan bagi kita yang telah melewatinya, untuk merangsang iklim baru diusia anak ini, yaitu pandangan generasi yang baru beranjak, tentang aliran darah panas ditubuh muda mereka. Cita rasa usia muda dapat dinikmati melebihi lezatnya seni seperti yang telah dirasakan generasi pendahulunya, tanpa mengikuti cara-cara kolot mereka dahulu.

***

Generasi muda…saatnya kalian mengetahui, bahwa gaya-gaya kenakalan remaja yang sarat penyimpangan moral dan agama oleh generasi pendahulu kalian sudah terlalu usang. Model-model pemenuhan selera nakal dengan cara-cara zaman dahulu sudah kuno, sekarang saatnya generasi baru untuk mencari pemenuhan hasrat diusia muda dengan cara yang lebih “gaul”. Bukan lagi mereka yang nongkrong-nongkrong di pinggir jalan bermain musik, begadang, tawuran dan bergaul bebas di club-club malam yang disebut gaul. Mereka itu sudah kuno. Hari ini yang “gaul” adalah mereka yang dapat mengenyangkan hasrat seni mudanya dengan berlapang-lapang dimajelis ‘ilmu. Yang keren hari ini adalah mereka yang diusia muda sudah menampakkan sosok cendekiawan muda yang cerdas dan berperangai luhur, idaman para wanita,Hahahaa…. Maka, jadilah figur belia yang gaul dan keren model yang baru ini.

Makassar, 2009 M.

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: