MENGAPA KITA MENOLAK HERMENEUTIKA?

-KRITIK TERHADAP STUDI AL-QUR’AN KAUM LIBERAL-

Oleh: Fahmi Salim, M.A.
(Wakil Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia/MIUMI
& Komisi Penelitian MUI Pusat)

RASULULLAH SAW BERSABDA:
ILMU ISLAM INI AKAN DIPIKUL OLEH ORANG-ORANG YANG ADIL (TENGAHAN) DARI SETIAP GENERASI, MEREKA LAH YANG MENAFIKAN PENAKWILAN ORANG-ORANG JAHIL, PEMALSUAN ORANG-ORANG BATIL, DAN PENYELEWENGAN ORANG-ORANG EKSTREM
(HR. AL-BAYHAQI, DALAM SUNAN KUBRA)

Pengantar
Judul diatas adalah judul yang sama untuk buku yang, pada awalnya, saya tulis untuk meraih gelar Magister dari Fakultas Ushuludin Jurusan Tafsir, Universitas al-Azhar Kairo pada Desember tahun 2007 silam. Syukur Alhamdulillah, buku tersebut menjadi salah satu nominator terbaik dalam IBF Award tahun 2011 lalu yang diberikan bersamaan dengan penyelenggaraan IBF ke-10 dengan tema besar, “Khazanah Islam untuk Peradaban Bangsa”.

Fokus utama buku itu adalah mengkritisi metode hermeneutika yang digadang-gadang kelompok liberal sebagai metode paling pas dalam memahami Al-Qur’an saat ini. Mengapa dan ada apa dengan ‘Hermeneutika’? Setelah ditelusuri, ternyata filsafat pemahaman teks ala Barat inilah yang menjadi “alat buldoser” paling efektif yang berada di belakang upaya sekularisasi dan liberalisasi pemahaman Al-Qur’an yang terjadi secara massif. Di tangan para pengasong sekularisme dan liberalisme, metode hermeneutika untuk mengkaji Al-Qur’an ini ingin menggusur dan mengkooptasi ajaran-ajaran Islam yang baku dan permanen (tsawabit), agar compatible dengan pandangan hidup (worldview) dan nilai-nilai modernitas Barat sekuler yang ingin disemaikan ke tengah-tengah umat Islam.

Liberal Islam
Kata liberal diambil dari bahasa Latin liber, free. Liberalisme secara terminologis berarti falsafah politik yang menekankan nilai kebebasan individu dan peran negara dalam melindungi hak-hak warganya.

Sejarah liberalisme termasuk juga liberalisme agama adalah tonggak baru bagi sejarah kehidupan masyarakat Barat dan karena itu, disebut dengan periode pencerahan. Perjuangan untuk kebebasan mulai dihidupkan kembali di zaman renaissance di Italia. Paham ini muncul ketika terjadi konflik antara pendukung-pendukung negara kota yang bebas melawan pendukung Paus.
Prinsip dasar liberalisme adalah keabsolutan dan kebebasan yang tidak terbatas dalam pemikiran, agama, suara hati, keyakinan, ucapan, pers dan politik. Di samping itu, liberalisme juga membawa dampak yang besar bagi sistem masyarakat Barat, di antaranya adalah mengesampingkan hak Tuhan dan setiap kekuasaan yang berasal dari Tuhan; pemindahan agama dari ruang publik menjadi sekedar urusan individu; pengabaian total terhadap agama Kristen dan gereja atas statusnya sebagai lembaga publik, lembaga legal dan lembaga sosial.

Pemikiran Islam liberal sebenarnya berakar dari pengaruh pandangan hidup Barat dan hasil perpaduan antara paham modernisme yang menafsirkan Islam sesuai dengan modernitas; dan paham posmodernisme yang anti kemapanan. Upaya merombak segala yang sudah mapan kerap dilakukan, seperti dekonstruksi atas definisi Islam sehingga orang non-Islam pun bisa dikatakan Muslim, dekonstruksi Alquran sebagai kitab suci, dan sebagainya. Islam liberal sering memanfaatkan modal murah dari radikalisme yang terjadi di sebagian kecil kaum Muslimin, dan tidak segan-segan mengambil hasil kajian orientalis, metodologi kajian agama lain, ajaran HAM versi humanisme Barat, falsafah sekularisme, dan paham lain yang berlawanan dengan Islam.

Tema ini telah menarik perhatian penulis semenjak digelindingkannya suatu upaya sistematis untuk meliberalkan kurikulum ‘Islamic Studies’ di perguruan-perguruan tinggi Islam di Indonesia. Semenjak langkah strategis itu diluncurkan di era kepemimpinan Munawir Syadzali di Departemen Agama dan Harun Nasution di IAIN Jakarta tahun 1980-an, sederet nama para penganjur dan pengaplikasi hermeneutika untuk studi Islam tiba-tiba menjadi super stars dalam kajian Islam di Perguruan Tinggi Islam Indonesia. Sebut saja misalnya: Hassan Hanafi (hermeneutika-fenomenologi), Nasr Hamid Abu Zayd (hermeneutika sastra kritis), Mohammad Arkoun (hermeneutika-antropologi nalar Islam), Fazlur Rahman (hermeneutika double movement), Fatima Mernissi-Riffat Hassan-Amina A. Wadud (hermeneutika gender), Muhammad Syahrur (hermeneutika linguistik fiqih perempuan), dan lain-lain yang cukup sukses membius mahasiswa dan para dosen di lingkungan Perguruan Tinggi Islam di Indonesia baik negeri maupun swasta, hingga kini.

Bahkan beberapa tahun silam (2005) dengan munculnya Counter Legal Draft (CLD) Kompilasi Hukum Islam oleh Tim Pengarusutamaan Gender Depag RI, yang merombak dan melucuti banyak hal aspek-aspek yang qath’i dalam sistem hukum Islam, meski telah ditolak dan digagalkan, telah mengindikasikan suatu upaya serius untuk menjadikan produk tafsir hukum ala hermeneutika ini sebagai produk hukum Islam positif yang mengikat seluruh umat Islam di tanah air. Itulah salah satu dampak terburuk dari tafsir model hermeneutika ini yang berkaitan dengan hajat hidup umat Islam Indonesia dalam soal pernikahan, perceraian, pembagian harta waris, dan lain-lain.

Antara Hermeneutika dan Tafsir
Hermeneutika itu apaan sih? Mungkin banyak umat yang belum faham maksudnya sehingga tidak ‘melek’ akan bahayanya jika diterapkan untuk Al-Qur’an. Membaca dan memahami kitab suci dengan cara menundukkannya dalam ruang SEJARAH, BAHASA dan BUDAYA yang terbatas, adalah watak dasar hermeneutika yang dikembangkan oleh peradaban Barat sekuler yang tidak sejalan dengan konsep tafsir atau takwil dalam khazanah Islam.

Metode hermeneutik ini secara ‘ijma’ oleh kelompok liberal di Indonesia bahkan di dunia ditahbiskan sebagai metode baku dalam memahami ajaran Islam baik dalam Qur’an maupun Sunnah. Dalam buku yang ditulis tokoh Paramadina untuk mengenang 40 tahun pidato pembaruan Cak Nur disebutkan, “Islam ingin ditafsirkan dan dihadirkan secara liberal-progresif dengan metode ‘HERMENEUTIK’, yakni metode penafsiran dan interpretasi terhadap teks, konteks dan realitas. Pilihan terhadap metode ini merupakan pilihan sadar yang secara instrinsik built-in di kalangan Islam Liberal sebagai metode untuk membantu usaha penafsiran dan interpretasi.“ (Budhi Munawar Rachman: Reorientasi Pembaruan Islam, hlm. 388)
Selain itu, penggunaan hermeneutika untuk menafsirkan Qur’an ini berangkat dari dekonstruksi konsep wahyu yang diistilahkan TANZIL oleh Al-Qur’an (Fusshilat: 42; As-Syu’ara: 192-195). Menurut Prof. M. Naquib Al-Attas, pendiri ISTAC Malaysia, konsep wahyu ‘TANZIL’ itu memiliki 2 kekhasan yang tak dapat dicari tandingannya dalam konsep kitab suci manapun dalam agama lain. Kedua ciri khas itu adalah, 1) wahyu Islam diperuntukkan untuk umat manusia secara keseluruhan (tanpa membedakan waktu dan tempat) dan 2) hukum-hukum suci yang terkandung dalam wahyu itu tidak memerlukan ‘pengembangan’ lebih lanjut dalam agama itu sendiri. (SMN. Al-Attas, Islam and Secularism, Kuala Lumpur: ISTAC, 1993, hlm 31-32)
Bertolak belakang dengan konsep TANZIL itu, kaum liberal malah memuji konsep wahyu dalam pengertian Kristen yg dikemukakan oleh L.S. Thornton sebagai “a made of divine activity by wich the Creator communicates himself to man and, by so doing, evokes man’s response and cooperation”. (sebuah aktifitas ketuhanan yang mana Pencipta mengkomunikasikan kehendaknya kepada manusia, yang menyulut dan akhirnya melibatkan respon dan kerjasama manusia dalam proses pewahyuan itu, lihat Montgomery Watt dalam Islamic Revelation in the Modern World, hlm. 6). Konsep wahyu ala Kristen ini lah yang ingin mereka paksakan untuk memahami ulang konsep Al-Qur’an (Ulil Absar dkk, Metodologi Studi Al-Qur’an, Jakarta: Gramedia, hlm.57).

Dari konsep wahyu Al-Qur’an yang disamakan dengan Kristen ini, maka kaum liberal mengajukan modifikasi metode tafsir agar sesuai dengan zaman sekarang. “Modifikasi ini terasa sangat dibutuhkan ketika berhadapan dengan ayat-ayat partikular, seperti ayat-ayat uqubat, hudud, qishash, waris dsb. Ayat-ayat tersebut dalam konteks sekarang, alih-alih bisa menyelesaikan problem-problem kemanusiaan, yang terjadi bisa-bisa merupakan bagian dari masalah yg harus dipecahkan melalui prosedur tanqih” (Metodologi Studi Al-Qur’an, hlm.166-167).

Di bagian lain buku itu dengan lugasnya Ulil dkk menyatakan bahwa, “Ayat-ayat semacam itu disebut fiqih (?!) Al-Qur’an. Sebagai sebuah fiqih, ayat-ayat itu sepenuhnya merupakan respon Al-Qur’an terhadap kasus-kasus tertentu yang berlangsung dalam lokus tertentu, masyarakat Arab. Dengan demikian, kebenaran ayat-ayat tersebut bersifat relatif dan tentatif sehingga memerlukan penyempurnaan, pembaharuan & penyulingan. Membiarkan fiqih Al-Qur’an sama persis dengan bunyi harfiahnya hanya akan mengantarkan Al-Qur’an pada perangkap yang mematikan spirit dan elan vital Al-Qur’an” (Metodologi Studi Al-Qur’an, hlm.167)
Dewasa ini, gagasan dan tuntutan untuk melakukan pembacaan sekaligus pemaknaan ulang teks-teks primer agama Islam disuarakan dengan lantang. Tujuannya adalah agar teks-teks primer Islam, yang telah menjadi pedoman dan panduan lebih dari 1 milyar umat Islam, dapat ditundukkan untuk mengikuti irama nilai-nilai modernitas sekuler yang didiktekan dalam berbagai bidang. Seruan itu disuarakan serempak oleh para pemikir modernis muslim baik di Timur-Tengah maupun di belahan lain dunia Islam, termasuk Indonesia. Berbagai seminar, workshop dan penerbitan buku hasil kajian dan penelitian digiatkan secara efektif untuk mengkampanyekan betapa mendesaknya “pembacaan kritis” dan “pemaknaan baru” teks-teks Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Berbagai produk olahan isu-isu pemikiran yang diimpor dari Barat seperti sekularisme, liberalisme, pluralisme agama, dan pengarusutamaan gender telah menjadi menu sajian yang lezat untuk dihidangkan kepada komunitas muslim.

Kita patut curiga dan bertanya: apakah tidak sebaiknya upaya pembacaan dan pemaknaan ulang wacana agama itu diarahkan sebagai pembaruan metode dakwah Islam dan revitalisasi sarana-sarana pendukungnya di era kontemporer ini, sesuai dengan perkembangan zaman? Kita sangat memerlukan pemikiran segar dan cemerlang untuk mendakwahkan prinsip-prinsip dan pandangan hidup Islam dengan metode yang cocok dengan kemajuan zaman. Jika ini yang terjadi, maka kita dengan senang hati menyambut seruan itu.

Namun jika yang terjadi adalah mengkaji ulang bahkan sampai pada taraf mengubah prinsip dan pokok-pokok agama dengan dalih keluar dari kungkungan ideologis nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah, membatalkan absolusitas nash Al-Qur’an dengan analisa historisitas teks atau relativisme teks, juga dibagian lain ingin melakukan studi kritik literatur dan sejarah seperti yang dipraktekkan kalangan liberal Yahudi dan Kristen atas Bible sejak 3 abad silam, atau bahkan dengan memunculkan pandangan bahwa nash Al-Qur’an dan Sunnah telah out of date dan hanya menghalangi proses integrasi umat Islam dengan nilai-nilai globalisasi kontemporer. Jika benar ini yang terjadi di lapangan pemikiran, maka logika semacam ini ditolak mentah-mentah, baik keseluruhan maupun rinciannya.
Terdapat sekian banyak bahaya tersembunyi di balik seruan di atas. Yang penting di antaranya berujung kepada pelumeran dan peluruhan inti dan pokok dinul Islam serta melarikan diri dari kewajiban-kewajibannya. Padahal salah satu tujuan Islam yang mulia adalah terbentuknya umat yang kokoh kuat dalam setiap segi kehidupannya, terutama dalam bidang pandangan hidup yang pasti, barometer akidah, syariah, dan akhlaq yang jelas dan tidak tergerus oleh perubahan zaman yang silih berganti.

Beberapa faktor diatas itulah yang telah mendorong penulis untuk mengkaji dasar-dasarnya, menelusuri akar sejarah hermeneutika hingga diterapkan untuk mengganti metodologi tafsir dan takwil Al-Qur’an yang khas dalam tradisi keilmuan Islam. Selain tentu saja menilisik isu-isu paling mendasar dan krusial secara analitis-kritis di dalam buku ini.
Penulis juga memandang suatu agenda yang mendesak di kalangan cendekiawan muslim, agar mengkaji secara kritis asal-usul dan perkembangan metodologi pemahaman terhadap sumber-sumber agama Islam yang kini dipaksakan oleh Barat untuk suatu proyek hegemoni dan kolonialisme pemikiran di dunia Islam. Imbasnya tentu saja akan merasuki pendidikan tinggi Islam, sebagai center of exellence, yang diproyeksikan untuk melahirkan sarjana-sarjana agama Islam, namun minus kebanggaan dan penguasaan terhadap perbendaharaan intelektual yang telah mengakar sepanjang kurun perjalanan Islam sebagai agama sekaligus peradaban.

Memang di lingkungan Universitas al-Azhar Mesir, kiblat ilmu-ilmu keIslaman di dunia, tradisi tahkik (studi editing-filologi naskah klasik) dan penelitian tentang studi kritik tafsir Al-Qur’an (ad-Dakhil fi al-Tafsir) -terutama naskah-naskah tafsir klasik yang tak jarang terdapat dampak Israiliyyat dan pendapat-pendapat aneh yang menyalahi kode etik ilmiah, kebahasaan, maupun riwayat hadis dla’if dan palsu-, telah tumbuh subur dan mengesankan. Namun penelitian tentang tantangan-tantangan keilmuan Barat kontemporer terhadap khazanah tafsir Al-Qur’an dan juga metodologi studi Al-Qur’an yang kini gencar diupayakan berorientasi sekuler-liberal, belum banyak yang melakukannya. Harapan penulis, buku ini dapat memenuhi hasrat keilmuan tersebut dan mampu menjadi karya pionir untuk menjawab tantangan paradigma sekuler-liberal dalam kajian-kajian Al-Qur’an.

Pandangan Prof. Al-Attas tentang Tafsir dan Hermeneutika
Al-Attas adalah sarjana muslim kontemporer pertama yang telah memahami keunikan sifat ilmu tafsir dan membedakannya dari konsep dan praktik Barat mengenai hermeneutika, baik yang bersumber dari Bibel maupun teks-teks lainnya. Al-Attas menggarisbawahi bahwa ilmu pertama di kalangan umat Islam (ilmu tafsir) bisa berkembang karena sifat ilmiah struktur bahasa Arab. Tafsir, kata dia, “benar-benar tidak identik dengan hermeneutika Yunani, Kristen, dan tidak sama dengan ilmu interpretasi kitab suci dari kultur dan agama lain” (lihat the Concept of Education in Islam). Ilmu tafsir Al-Qur’an sangat penting karena ia merupakan ilmu dasar yang diatasnya dibangun seluruh struktur, tujuan, pengertian pandangan dan kebudayaan agama Islam.

Tafsir adalah satu-satunya ilmu yang berhubungan langsung dengan nabi, sebab beliau telah diperintahkan oleh Allah swt untuk menyampaikan risalah kenabian, …agar kamu dapat menjelaskan kepada manusia apa-apa yang diturunkan kepada mereka (an-Nahl: 44)
Karena Al-Qur’an diwahyukan dalam bahasa Arab dengan mengikuti cara-cara retorika orang-orang Arab, orang-orang yang hidup sezaman dengan nabi bisa memahami makna ayat Al-Qur’an berikut konteks ketika diturunkannya (asbab al-nuzul). Meski demikian, terdapat aspek-aspek ayat dan ajaran Al-Qur’an yang memerlukan penjelasan dan penafsiran nabi, baik secara verbal maupun behavioral yang kemudian dikenal sebagai Sunnah. Dalam beberapa koleksi hadis terdapat bab khusus yang membahas penafsiran Al-Qur’an yang disebut kitab atau bab al-Tafsir. Jadi pengetahuan tentang hadis dan Sunnah menjadi salah satu prasyarat yang sangat mendasar bagi pemahaman dan penafsiran Al-Qur’an. Prasyarat lain, menurut al-Suyuthi, adalah pengetahuan ilmu linguistik Arab, seperti leksikografi, tata bahasa, konjugasi dan retorika, ilmu fiqih, imu ragam bacaan Al-Qur’an, ilmu asbab al-nuzul, dan ilmu nasikh mansukh.

Penafsiran dan penjelasan Al-Qur’an seperti yang dibahas diatas, kebanyakan berdasarkan analisis semantik dengan pertimbangan latar belakang sosial-historis agar dapat memperoleh pengertian yang tepat. Kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an mengenai metafisika, hukum-hukum sosial dan sains tidak dibatasi oleh kondisi sosial historis ketika diturunkannya. Sementara itu, Fazlur Rahman dalam ‘Islam and Modernity’ kelihatan terlalu menekankan pentingnya latar belakang sosio historis turunnya ayat-ayat Al-Qur’an.

Namun, Al-Attas dengan tetap mengakui perlunya hal itu, menolak mentah-mentah jika kondisi sosio-historis itu dijadikan asas untuk merelatifkan ajaran hukum dan etika. Jika demikian, nabi semestinya tidak akan menyusun kitab suci Al-Qur’an seperti yang kita dapati sekarang ini yang tidak mengikuti urutan sejarah. Semua pertimbangan ini yang seluruhnya didasarkan pada sifat ilmiah bahasa Arab dan adanya dukungan sejarah yang autentik, telah membantu menghasilkan tafsir-tafsir Al-Qur’an yang otoritatif, yang tidak terdapat dalam tradisi-tradisi kitab suci lainnya.
Sangat jelas bahwa ilmu-ilmu penafsiran Al-Qur’an sangat berbeda dari hermeneutika atau ilmu penafsiran kitab-kitab Yunani, Kristen, atau tradisi agama lain. Dasar yang sangat fundamental dari perbedaan-perbedaan itu terletak pada konsepsi mengenai sifat dan otoritas teks serta keautentikan dan kepermanenan bahasa dan pengertian kitab suci tersebut.

Umat Islam secara universal mengakui Al-Qur’an sebagai kata-kata Tuhan yang diwahyukan secara verbatim kepada nabi, dan banyak yang menghafal dan menulis ayat-ayatnya ketika nabi masih hidup. Adanya pelbagai variasi bacaan Al-Qur’an telah diketahui dan diakui oleh orang-orang terdahulu yang berwenang sebagai sesuatu yang tidak signifikan; perbedaannya hanya dalam kata-kata yang mengandung pengertian yang sama. (Jami’ al-Bayan at-Tabari; Adrian Brokett, The Values of Hafs and Warshs Transmissions for the Textual History of the Qur’an, dalam Rippin, ed., Approaches)
Sebaliknya, orang-orang Yunani, seperti juga Hindu, tidak pernah memercayai adanya nabi atau wahyu. Pandangan keagamaan, tradisi dan adat istiadat orang Yunani kebanyakan didasarkan pada mitologi dan puisi, khususnya oleh Homer dan Hesiod, dan pada spekulasi para filosof mereka yang beragam. Penafsiran terhadap mitologi dan puisi boleh jadi sangat subjektif atau sangat dipengaruhi oleh kondisi politik keagamaan yang berlaku. Metode terpenting yang digunakan secara alami adalah metode kiasan ‘allegory’, sebuah tradisi Yunani yang diprakarsai oleh Theagenes dari Rhegium (abad ke-6 sm). Penafsiran kiasan umumnya melibatkan penolakan literer atau meninggalkannya sama sekali.

Bibel berbahasa Ibrani (atau materi-materi pembentuk PL), menurut para cendekiawan mereka, sepenuhnya tidak dibangun atas dasar ilmiah historis yang menunjukkan keasliannya, tetapi berdasarkan keimanan belaka.

“Teks Ibrani yang sekarang di tangan kita memiliki satu kekhususan; meski usianya cukup lama, ia datang kepada kita dalam bentuk manuskrip-manuskrip yang agak terlambat. Oleh karena itu, dengan perjalanan waktu (lebih kurang hingga seribu tahun) banyak yang telah berubah dari aslinya. Tidak ada satupun dari manuskrip-manuskrip itu yang datang lebih awal dari abad ke-9 M.” (J. Alberto Soggin, Introductioan to the Old Testament; From its Origin to the Closing of the Alexandrian Canon [London: SCM Press Ltd., 1976)
Kehadiran kitab suci tertulis yang terlambat, sebenarnya tidaklah dengan sendirinya berarti negative, jika semua isinya dihafal secara sempurna oleh sejumlah besar orang yang sezaman dengan Jesus dan yang integritasnya tidak perlu diragukan lagi. Dengan demikian, secara praktis mustahil terjadi kesalahan, seperti dalam kasus keterpeliharaan Al-Qur’an.

Sebelum menerapkan secara tepat hikmah khusus dan umum yang terdapat dalam kitab suci ke dalam situasi sosial-historis yang berbeda-beda, pertama-tama kita harus memahami secara benar pengertian-pengertian yang orisinil dari ayat-ayat dalam kitab suci itu. Di sini, jelas bahwa pengetahuan mengenai pengertian-pengertian orisinil dalam kitab-kitab suci Yahudi dan Kristen tidak dapat diperoleh, dan pada gilirannya akan memberikan jalan bagi suatu perkembangan yang oleh Gray disebut dengan metode yang tidak sehat dalam penafsiran. (George Buchanan Gray, “Bibel”)
Berdasarkan pengamatannya yang ringkas mengenai semangat dan kecenderungan fundamental terhadap hemeneutika dan pemahamannya yang mendalam mengenai keunikan karakter tafsir sebagai ilmu, Prof. Al-Attas menggarisbawahi dengan perkataan yang pasti bawa tafsir benar-benar merupakan suatu metode ilmiah.

Hal ini disebabkan tafsir yang benar adalah yang berdasarkan ilmu pengetahuan yang mapan mengenai ‘bidang-bidang makna’ (semantical fields), seperti yang disusun dalam bahasa Arab, diatur dan diaplikasikan di dalam Al-Qur’an, serta tercermin dalam hadis dan Sunnah. Oleh karena itu, Al-Attas menyatakan bahwa di dalam tafsir tidak ada ruang bagi dugaan yang gegabah, atau ruang bagi “interpretasi-interpretasi yang berdasarkan pembacaan atau pemahaman subjektif atau yang hanya berdasarkan ide relativisme historis, seakan-akan perubahan semantik telah terjadi dalam struktur-struktur konseptual kata-kata dan istilah-istilah yang membentuk kosakata kitab suci.” (CEII dan Commentary)
Tafsir Al-Qur’an adalah interpretasi berdasarkan ilmu pengetahuan yang mapan. Ia adalah kata benda infinitive yang diderivasi dari kata kerja transitif ‘fassara’ yang, menurut leksikolog Arab klasik, berarti menemukan, mendeteksi, mengungkapkan, memunculkan atau membuka sesuatu yang tersembunyi, atau membuat menjadi jelas, nyata, atau gamblang, menerangkan, menjelaskan atau menafsirkan.

Di situ, tafsir, untuk diterapkan terhadap Al-Qur’an, menunjukkan arti memperluas, menjelaskan, atau menginterpretasikan cerita yang ada dalam Al-Qur’an, dan memaklumkan pengertian kata-kata atau ekspresi yang janggal, serta menjelaskan keadaan ketika ayat-ayat itu diwahyukan. Pengertian tafsir yang telah mapan adalah suatu usaha untuk memberikan arti melalui bukti nyata atau eksternal (dalalah zahirah) sebagai bandingan dari bukti internal atau tersembunyi (dalalah bathinah) yang terkandung dalam ta’wil atau interpretasi yang lebih mendalam. (lihat al-Itqan karya As-Suyuthi dan al-Ta’rifat karya Al-Jurjani)

Pandangan Al-Attas ketika menyatakan, dalam tafsir tidak ada ruang bagi dugaan yang gegabah, penafsiran atau pemahaman subjektif yang hanya berdasarkan ide relativisme historis, tidak berarti kebiasaan-kebiasaan seperti itu tidak pernah dilakukan dalam pelbagai karya tafsir, sebab hal itu memang terjadi dan akan terus terjadi. Meskipun demikian, dugaan-dugaan dan penafsiran subjektif itu dengan sendirinya dan pada kenyataannya BUKAN-lah tafsir, walaupun merupakan karya besar yang diberi nama tafsir. Namun, karena adanya syarat-syarat yang jelas dan diterima secara luas, seperti yang disebutkan di atas, anggota masyarakat yang terdidik secara Islami tentu dapat bersikap secara tepat ketika menghadapi pelbagai penafsiran Al-Qur’an yang tidak bermutu dan diakui itu.

Karena kenyataan bahwa ilmu-ilmu yang disebutkan di atas sangat diperlukan dan telah dikodifikasikan serta dapat diperoleh dengan mudah, ilmu tafsir Al-Qur’an adalah sesuatu yang telah direalisasikan dan karena itu TIDAK terbuka kemungkinan bagi generasi yang akan datang untuk melakukan perubahan-perubahan yang fundamental. Sudah tentu generasi mendatang dapat memberi tambahan pengertian yang lebih luas terhadap tafsir otoritatif yang telah ada, khususnya dalam aspek-aspek ilmu alam, tetapi mereka tidak dapat begitu saja mengesampingkan penjelasan-penjelasan spiritual, etika, dan hukum serta hubungan latar belakang historisnya.

Metode ilmiah tafsir, karena sifat ilmiah bahasa Arab, dapat dibuktikan dari kenyataan bahwa hasil-hasil kerja tafsir yang betul adalah ilmu pengetahuan yang pasti, sama pastinya dengan ilmu eksakta, seperti ilmu fisika dan matematika. Kesalahan juga dapat terjadi pada ilmu pasti, baik dalam formulasi paradigma dan prosedurnya maupun dalam aplikasinya, atau pada keduanya. Namun, tafsir sebagai ilmu pasti tidak mungkin salah, karena didasarkan pada aturan linguistik dan bidang semantik mengenai makna yang baku serta pandangan hidup Al-Qur’an dan Sunnah nabi yang sahih.
Tafsir sebagai ilmu pasti tidak memberikan penjelasan final, karena hal itu termasuk dalam ruang lingkup ta’wil. Pandangan Al-Attas mengenai sifat ilmiah tafsir adalah suatu jawaban yang tajam terhadap pandangan yang menyesatkan para penulis muslim yang dipengaruhi, secara langsung atau tidak, oleh perkembangan-perkembangan yang terjadi dalam sejarah sains dan sosiologi ilmu pengetahuan, dan perkembangan umum hermeneutika.

Karena sifat Al-Qur’an yang tidak diragukan lagi dan kodifikasi hadis-hadis nabi yang dilakukan secara ilmiah, metode dan produk-produk tafsir bahkan ta’wil, seperti diuraikan oleh Al-Attas, bukanlah usaha yang serampangan dan subjektif yang mencerminkan kondisi sosial historis dan orientasi ideologis para penafsir, sebagaimana terjadi pada penafsiran teks-teks keagamaan atau teks-teks lainnya.

Sehingga jelaslah bahwa tafsir dan ta’wil bukanlah pemahaman serampangan dan subjektif yang mengikuti perubahan-perubahan sosial-historis, meskipun rujukan-rujukan historis tetap dipertimbangkan. Fakta bahwa orang-orang Islam terpelajar dan bijaksana yang memahami dan mempertahankan tafsir para pakar otoritatif di masa lampau dengan menghilangkan batasan-batasan etnis, geografis, sosial-ekonomis, dan historis adalah argumentasi yang lebih dari cukup untuk mendiskreditkan pendapat bahwa tafsir dikondisikan dan dibatasi oleh situasi-situasi sosial historis dan ekonomi.

Hermeneutika dan Dekonstruksi Hukum Islam
Salah satu pintu masuk diterapkannya hermeneutika untuk menafsir ulang doktrin hukum Islam adalah adanya prinsip maslahat dan maqashid syari’ah dalam konstruksi hukum Islam. Anehnya, kaum liberal berani menganulir teks-teks syariah atas nama pemenuhan kemaslahatan manusia, seakan-akan syariah hadir untuk merampas kemaslahatan manusia. Mereka mengklaim dengan hal itu tidak ingin merobohkan syariah, melainkan hendak menjaga maqashid dan substansinya, tanpa harus terikat dengan bentuk formalnya. Mereka hendak membatalkan dan merobohkan seluruh bangunan fikih dan ilmu ushul fikih Islam, dan mencukupkan diri dengan konsep maqashid yang cenderung sekuler (karena telah diplintir) untuk menjustifikasi semua produk hukum dan peradaban Barat modern dan postmo. Alias semuanya bisa dibenarkan atas nama maqashid syariah. Itu sama saja menghancurkan hukum-hukum syariah atas nama syariah itu sendiri.

Dengan kedok falsafah maqashid, kita disuruh mengubah hukum keluarga dalam Islam; mencegah talak jatuh oleh suami, mengharamkan poligami, membolehkan muslimah kawin dengan non muslim, dan menyamakan bagian waris anak laki-laki dan perempuan dll atas nama memelihara maslahat umum yang menjadi tujuan syariat yang utama! Sehingga mazhab penganulir teks ini berkesimpulan boleh menganulir hukum hudud dan sistem sanksi Islam lainnya yang ditetapkan oleh teks-teks Qur’an yang pasti atas nama maslahat dan maqashid.

Penulis berhasil mengidentifikasi beberapa visi dan landasan berfikir yang mendasari fenomena pembacaan hermeneutis atas kitab suci Al-Qur’an. Prioritas tujuan dari riset ini adalah munculnya fakta pengaruh ideologi para penganjur hermeneutika untuk Al-Qur’an di balik gerakan sistematis ini. Sehingga, hemat penulis, persoalan ini tidak lah relevan bila dikaitkan dengan urusan metodologi yang digunakan mereka. Karena letak persoalan serius justru karena ideologi sekulerisme yang diinfiltrasikan ke dalam Islam dan alam pandangan hidup umat Islam, dengan satu tujuan besar yaitu pengosongan Islam dari ajaran-ajarannya yang luhur dan melumpuhkannya agar tidak berlaku efektif dalam kehidupan umat.

Ulama besar Mesir yang konsern mematahkan argumentasi kaum liberal Mesir, Dr. Yusuf Al-Qardhawi menyindir pendekatan interpretasi model ini sebagai sikap latah dan minder di hadapan Barat sehingga mengekor worldview dan model interpretasi mereka. Ia menyatakan,

يريدون أن ننظر بعين الغرب ونسمع بأذن الغرب ونفكر بعقل الغرب فما رآه الغرب حسنا فهو عند الله حسن وما رآه الغرب قبيحا فهو عند الله قبيح … من هنا يريدون أن يفرضوا علينا فلسفة الغرب في الحياة ونظرة الغرب الى الدين وفكرة الغرب عن العلمانية ونظريات الغرب في القانون والاجتماع والسياسة واللغة والثقافة!
“Kaum sekuler-liberal ingin umat memandang sesuatu dg kacamata Barat, mendengar dg kuping Barat, dan berfikir dengan nalar/framework Barat. Sehingga Apa saja yg bagus menurut Barat maka baik menurut Allah, dan Apa saja yg dinilai buruk oleh Barat maka ia pun buruk menurut Allah. Mereka hendak memaksakan kepada kita filsafat Barat dalam soal bagaimana kita harus hidup, pandangan Barat ttg agama, konsep Barat ttg sekularisme dan berbagai teori Barat dlm bidang hukum, sosial, politik, bahasa dan kebudayaan!” (Kitab Dirasah fi Fiqh Maqashid Syari’ah: 2007, hlm.96)

Ilmuan Barat Menampik Hermeneutika
Seorang sarjana Barat modern menyatakan bahwa hermeneutika tidak cocok untuk diterapkan dalam konteks Islamic Studies, seperti terungkap dari Prof. Joseph van Ess, professor emeritus dan pakar teologi Islam di Universitas Tuebingen Jerman:

“We should, however, be aware of the fact that German hermeneutics was not made for Islamic studies as such. It was originally a product of Protestant theology. Schleiermacher applied it to the Bible. Later on, Heidegger and his pupil Gadamer were deeply imbued with German literature and antiquity. When such people say text they mean a literary artifact, something aesthetically appealing, normally an ancient text which exists only in one version, say a tragedy by Sophocles, Plato’s dialogues, a poem by Holderlin. This not necessarily so in Islamic studies.” (Irene A. Bierman (ed), Text & Context in Islamic Societies Reading, UK: Ithaca Press, 2004, hlm. 7)

Jadi, menurut beliau, hermeneutika Jerman tidak pernah digagas untuk kajian Islam, sebab asal mulanya adalah produk pemikiran teologi Protestan. Schelairmacher menerapkannya dalam kajian kritis Bible, lalu dilanjutkan oleh Heidegger dan Gadamer untuk kajian susastra dan naskah-naskah kuno. Intinya metode tersebut tidak lah cocok diterapkan untuk Islamic studies. Namun terus saja fakta tersebut diabaikan, dan kelompok liberal terus menerus menjajakan hermeneutic untuk menafsirkan firman Allah swt.

Kesadaran palsu para penganjur sekularisasi teks Al-Qur’an dan ilmu-ilmu Al-Qur’an telah mendorong mereka untuk menyederhanakan persoalan seakan hal ini berkaitan erat dengan problematika metodologi yang digunakan untuk menganalisis Al-Qur’an. Padahal target mereka tak lain adalah untuk mengimpor ‘sisa-sisa limbah’ metodologi yang telah menyesaki ilmu humaniora peradaban Barat, yang mana hal itu belum tentu cocok dengan prinsip-prinsip Islam dan rincian-rincian ajarannya. Limbah metodologi Barat itu diproyeksikan untuk menyerang dan melumpuhkan Islam yang telah diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw. Tujuan riset yang telah kami tulis terkait dengan tema ini di dalam 3 pasal secara berurutan adalah sebagai berikut:

1) Riset ini telah menjelaskan betapa jauhnya berbagai pendekatan metode yang diimpor dari Barat itu dengan spirit nilai-nilai Al-Qur’an, karena berbenturan keras dengan hal-hal aksioma di dalam Islam.
2) Riset ini berhasil menunjukkan ketidakmampuan metode-metode humaniora Barat untuk sampai kepada hasil apa pun. Karena memang metode humaniora tersebut lahir sesuai dengan setting pemikiran Barat dan untuk melayani kepentingan analisis karya-karya sastra yang ditulis oleh manusia, bukannya untuk menafsiri risalah Allah swt.

Dan masih tersisa lagi satu persoalan dasar bahwa ilmu-ilmu humaniora tersebut tidak pernah berhasil untuk menjadi hakim dan kata putus dalam studi-studi Al-Qur’an. Alasannya sederhana, bahwa secara logis amat mustahil sesuatu yang relatif dapat mengatur dan menentukan nilai yang absolut. Fakta keilmuan inilah yang selalu diperhatikan oleh para pakar ilmu syariah dalam seluruh rentang sejarah peradaban Islam.

Ilmu-ilmu humaniora Barat tidak dapat menjadi wasit bagi nash Al-Qur’an. Logikanya adalah mustahil menengahi Al-Qur’an dengan teori-teori yang sangat spekulatif dan relatif. Ilmu-ilmu humaniora Barat dibangun untuk memenuhi tujuan tertentu jadi sudah tidak objektif lagi, seperti diungkap oleh Jabir al-Haditsi dalam artikelnya yang berjudul “Azmat al-‘Ulum al-Insaniyyah” (Krisis Ilmu Humaniora) di dalam jurnal al-Fikr al’Arabi edisi 37. Objektifitas ilmiah yang diklaim ada dalam kajian humaniora Barat adalah “hipokrasi” intelektual yang mesti diungkap sebagai skandal. Krisis internal dalam kajian humaniora ini sebenarnya berdimensi ideologis, sehingga tidak pernah melahirkan kesepakatan di antara golongan intelektual Barat yang bergelut di dalamnya.
Selain itu aspek teknis dari krisis internal itu tercermin dalam tidak adanya teori tafsir yang utuh dan komprehensif dalam ilmu humaniora Barat, seperti diungkap oleh Michele Foucoult. Hal ini bisa dibuktikan bahwa teori interpretasi sejak Marx, Freud, Nitsche adalah tidak berkesudahan. Sebab bagi mereka bahaya paling besar adalah kepercayaan terhadap suatu tanda-tanda yang memiliki wujud asli dan bersifat final. Guna menetapkan teori interpretasi, berbagai pendekatan dilakukan, tetapi suatu hal yang pasti bahwa setiap takwil dipaksa untuk mentakwilkan (reinterpretasi) dirinya sendiri. Tidak ada lagi kerangka acuan bagi proses interpretasi. Michele Foucault mengakui hal itu dengan mengatakan hampir mustahil membuat ensiklopedi bagi seluruh tehnik interpretasi dalam ilmu humaniora Barat, bahkan sangat sedikit sekali yang ditulis untuk tujuan ini.

Penutup
Dari ulasan di atas, terbukti bahwa fenomena pembacaan hermeneutik atas Al-Qur’an yang didasari oleh perkembangan ilmu humaniora Barat tak lain untuk meliberalkan tafsir Al-Qur’an dari kaidah-kaidah metodologis yang pasti. Dalam konteks inilah, maka mereka dimungkinkan untuk bisa melontarkan apa saja tanpa ada rasa malu untuk mempertanyakan legitimasi dan akar justifikasi pemikiran-pemikiran mereka. Jika demikian, tak ada gunanya bagi kita untuk menerima metode pembacaan teks yang sekuler untuk diterapkan bagi nash Al-Qur’an. Bahkan, sudah seharusnya kita membendung dan memerangi program liberalisasi dan sekularisasi studi Al-Qur’an karena jelas-jelas akan membahayakan visi misi Al-Qur’an seperti yang ditanzilkan oleh Allah swt.

Dikutip dari fahmi-salim.blogspot.com pada 21 Romadhon 1433 H./10 Agustus 2012 Miladiyah.

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: