Menjawab Tafsir Orientalis dan Liberalis

Salah satu rangkaian acara MABIT Nuzulul Quran dan Grand Launching IMANQu di AQL Islamic Center adalah diskusi tentang tafsir Orientalis dan Liberalis. Adapun pembicara yang hadir adalah Ust. Mukhlis dan Ust. Adnin Armas. Mereka adalah para inisiator Majelis Intelektal Ulama Muda Indonesia (MIUMI).

Menurut Ust. Mukhlis, masalah utama penafsiran Liberalis adalah “Al-ummiyyah Addiniyyah”, yaitu ketidakpahaman (buta) terhadap agama. Banyak orang yang menafsirkan ayat Al-Qur’an tidak diikuti dengan ilmu dan pengetahuan yang cukup, sehingga yang terjadi adalah menafsirkan Al-Qur’an untuk mencari pembenaran bukan mencari kebenaran.

“Semangat yang terlalu besar disertai dengan logika yang terlalu bermain, namun tidak didukung oleh pemehaman yang baik, membuat banyak masyarakat Indonesia terjerumus dalam pandangan liberal ini,” demikian penjelasan ust. Mukhlis

Melengkapi pemaparan ilmiah Ust. Mukhlis, Ust. Adnin pun menjelaskan panjang lebar tentang pemahaman dan asal mula pertentangan terhadap Al-Qur’an, yang berakhir pada tafsir orientalis dan liberalis. Ia menerangkan bahwa bagi kaum liberal, Al-Qur’an merupakan produk budaya tertentu di masa tertentu, sehingga banyak tafsir yang sudah ketinggalan zaman dan tidak relavan lagi untuk diimplementasikan di zaman sekarang.

“Bagaimana mungkin orang belajar Islam dengan yang bukan Islam ? Orang belajar Al-Qur’an dengan yang tidak mengerti Al-Qur’an. Hasilnya adalah penafsiran dengan makna yang melenceng dari hakikat awal ayat sebenarnya,“ ujar Ust. Adnin Armas.

Peluang tafsir liberalis selalu muncul dari ayat-ayat mutaghayyirat, dimana penjelasannya kurang terperinci di dalam Al-Qur’an. Akan tetapi para mufassir Islam tetap memiliki kesepakatan terhadap nilai-nilai Islam yang sesuai dengan ketentuan Syarat dan Aqidah. Contoh : banyak penafsiran ayat tentang zina, namun semuanya sama-sama mengatakan hukumnya haram. Banyak penafsiran tentang penetapan awal mula puasa, namun semuanya sepakat untuk berpuasa pada 1 Ramadhan. Banyak muffasir yang menjelaskan tentang hukum pergaulan perempuan dan laki-laki, namun semuanya sepakat bahwa kodrat manusia adalah hidup berpasang-pasangan.

Di akhir diskusi, kedua pemater menjelaskan bahwa kita tidak perlu menghiraukan perilaku dan pendapat mereka yang menafsirkan Al-Quran secara liberal.

“Perluas wawasan dan pengetahuanmu, dan kau akan menemukan jawabannya,” dekimian tutur Ust. Adnin mengakhiri diskusi yang mencerahkan pada malam hari tersebut. (SA. Rahmi – YI Lead)

Dikutip dari bachtiarnasir.net pada 21 Romadhon 1433 H./10 Agustus 2012 Miladiyah.

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: