Apakah Syariat Islam Membolehkan Berhubungan Intim dengan Budak Wanita?

Ust. Muhammad Muafa, M.Pd
Pengasuh Pondok Pesantren IRTAQI,Malang-Jawa Timur

{وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ} [المؤمنون: 5 – 7]

Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas. (Al-Mukminun; 5-7)

Budak dalam ayat tersebut memang bermakna hamba sahaya, yakni orang yang belum merdeka. Budak wanita yang dimiliki dengan sah secara syar’i dalam hukum Islam boleh disetubuhi sebagaimana istri tanpa akad nikah.

Terjemahan “budak” sebenarnya diambil dari lafadz ” مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ” . Lafadz مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ secara harfiah sebenarnya bermakna “yang dimiliki oleh tangan kanan mereka” karena lafadz Aiman adalah bentuk jamak dari kata Yamin yang bermakna tangan kanan. Setelah itu, lafadz ini dipakai sebagai ungkapan yang memberi makna kepemilikan budak.

Dalam Al-Qur’an, lafadz مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ hukum asalnya bermakna budak yang bersifat umum, baik budak laki-laki maupun budak wanita. Dalam surat An-Nisa’ misalnya Allah berfirman;

{وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ} [النساء: 36]

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. (An-Nisa; 36)

Allah memerintahkan berbuat baik kepara orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, Ibnu sabil dan juga para budak. Yang dimaksud budak dalam ayat tersebut maknanya umum baik budak laki-laki maupun budak perempuan.

Hanya saja, jika konteks pembicaraan adalah terkait menjaga kemaluan, maka makna ” مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ ” adalah budak perempuan. Misalnya Firman Allah berikut ini;

{فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ} [النساء: 3]

Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil , Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki (An-Nisa; 3)

Dalam ayat di atas, Allah menganjurkan, jika khawatir tidak bisa berbuat adil ketika berpoligami, maka hendaknya menikahi satu wanita saja, atau cukup memiliki budak. Rekomendasi memiliki budak bermakna memiliki budak wanita, karena budak yang dimiliki tersebut direkomendasikan dalam konteks menggantikan satu istri. Tidak mungkin budak dimaknai budak lelaki, karena budak lelaki dimiliki tidak dimaksudkan untuk menjaga kemaluan.

Penggunaan serupa ada dalam firman Allah berikut ini;

{يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَحْلَلْنَا لَكَ أَزْوَاجَكَ اللَّاتِي آتَيْتَ أُجُورَهُنَّ وَمَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ} [الأحزاب: 50]

Hai Nabi, Sesungguhnya Aku telah menghalalkan bagimu isteri- isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki (Al-Ahzab; 50)

Maksud lafadz ” وَمَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ ” adalah budak perempuan, karena Allah menyebut budak setelah menghalalkan bagi Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam menikahi wanita-wanita dengan membayar mahar. Tidak mungkin budak dalam ayat ini difahami budak laki-laki karena konteksnya adalah pernikahan yang menjaga kehormatan.

Demikian pula ayat dalam surat Al-Mukminun yang telah disebutkan diatas. Makna budak dalam ayat tersebut adalah budak wanita, karena konteks ayat adalah membicarakan persoalan menjaga kemaluan. Dalam tafsir Jalalain, ketika menafsirkan ayat dalm surat Al-Mu’minun tersebut dinyatakan;

تفسير الجلالين (6/ 190)
أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانهمْ” أَيْ السَّرَارِي

“Au maa malakat Aimanuhum” artinya; budak-budak wanita (Tafsir Al-Jalalain, vol.6 hlm 190)

As-Syaukani berkata ketika menafsirkan ayat ini;

فتح القدير الجامع بين فني الرواية والدراية من علم التفسير (3/ 679)
{ أو ما ملكت أيمانهم } … والمراد بذلك الإماء

“Au maa malakat Aimanuhum”,……… maksudnya adalah para budak wanita (Fathul Qodir, vol.3 hlm 679)

Jadi, makna budak dalam ayat ini adalah budak wanita dan ayat ini sekaligus menjadi dalil bahwa Allah mengizinkan lelaki yang memiliki budak secara syar’I untuk mensetubuhinya sebagaimana istri. Budak wanita bisa disebut Milkul Yamin, Jariyah, Amah, atau Surriyyah. Hanya saja, budak wanita yang telah disetubuhi lebih khusus disebut dengan istilah Surriyyah.

Hajar adalah Surriyyah nabi Ibrahim. Mariyah Al-Qibthiyyah dan Roihanah binti Syam’un adalah Surriyyah nabi Muhammad. Umar memiliki banyak Surriyyah, demikian pula Ali. Para Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in juga dikenal banyak memiliki budak. Artinya, kepemilikan budak wanita dan kebolehannya dalam Islam bukan hanya dinyatakan secara konsep dalam Nash-Nash tetapi juga dipraktekkan oleh pembawa risalah serta para Shahabat berikut genarasi sesudahnya.

Ibnu Qudamah dalam kitabnya: Al-Mughni menyebut bahwa kebolehan lelaki mensetubuhi budak wanitanya adalah hukum fikih yang sudah tidak ada ikhtilaf lagi. Beliau berkata;

المغني (24/ 407)
وَلَا خِلَافَ فِي إبَاحَةِ التَّسَرِّي وَوَطْءِ الْإِمَاءِ

“tidak ada perbedaan pendapat kebolehan memiliki budak wanita dan mensetubuhi budak-budak wanita” (Al-Mughni, vol 24 hlm 407)

Seorang muslim yang memiliki budak diperintahkan berbuat baik kepada budaknya. Bukhari meriwayatkan;

صحيح البخاري (1/ 52)
عَنْ الْمَعْرُورِ بْنِ سُوَيْدٍ قَالَ لَقِيتُ أَبَا ذَرٍّ
بِالرَّبَذَةِ وَعَلَيْهِ حُلَّةٌ وَعَلَى غُلَامِهِ حُلَّةٌ فَسَأَلْتُهُ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ إِنِّي سَابَبْتُ رَجُلًا فَعَيَّرْتُهُ بِأُمِّهِ فَقَالَ لِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا ذَرٍّ أَعَيَّرْتَهُ بِأُمِّهِ إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ إِخْوَانُكُمْ خَوَلُكُمْ جَعَلَهُمْ اللَّهُ تَحْتَ أَيْدِيكُمْ فَمَنْ كَانَ أَخُوهُ تَحْتَ يَدِهِ فَلْيُطْعِمْهُ مِمَّا يَأْكُلُ وَلْيُلْبِسْهُ مِمَّا يَلْبَسُ وَلَا تُكَلِّفُوهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ فَإِنْ كَلَّفْتُمُوهُمْ فَأَعِينُوهُمْ

Dari Al Ma’rur bin Suwaid berkata: Aku bertemu Abu Dzar di Rabdzah yang saat itu mengenakan pakaian dua lapis, begitu juga anaknya, maka aku tanyakan kepadanya tentang itu, maka dia menjawab: Aku telah menghina seseorang dengan cara menghina ibunya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menegurku: “Wahai Abu Dzar apakah kamu menghina ibunya? Sesungguhnya kamu masih memiliki (sifat) jahiliyyah. (para budak adalah) Saudara-saudara kalian (dan mereka) adalah tanggungan kalian, Allah telah menjadikan mereka di bawah tangan kalian. Maka siapa yang saudaranya berada di bawah tangannya (tanggungannya) maka jika dia makan berilah makanan seperti yang dia makan, bila dia berpakaian berilah seperti yang dia pakai, janganlah kalian membebani mereka sesuatu yang di luar batas kemampuan mereka. Jika kalian membebani mereka, maka bantulah mereka.” (H.R. Bukhari)

Sebelum Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam wafat, diantara yang beliau wasiatkan adalah berbuat baik kepada para budak. Ahmad meriwayatkan;

مسند أحمد (24/ 271)
عَنْ أَنَسٍ قَالَ
كَانَتْ عَامَّةُ وَصِيَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ حَضَرَهُ الْمَوْتُ الصَّلَاةَ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ حَتَّى جَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُغَرْغِرُ بِهَا صَدْرُهُ وَمَا يَكَادُ يُفِيضُ بِهَا لِسَانُهُ

Dari Anas, ia berkata; “kebanyakan wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelang kematiannya adalah shalat dan berbuat baik kepada hamba sahaya, dan hingga ketika nyawa beliau sudah di tenggorokan lisannya masih saja mengatakan wasiat tersebut.” (H.R.Ahmad)

Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam juga memuji jika seorang lelaki yang memiliki budak wanita, budak itu dirawat dengan baik, dididik, dimerdekakan, lalu dinikahi. Kata Nabi, orang seperti ini pahalanya dua kali. Imam Muslim meriwayatkan;

صحيح مسلم (1/ 366)
عَنْ الشَّعْبِيِّ قَالَ رَأَيْتُ رَجُلًا مِنْ أَهْلِ خُرَاسَانَ سَأَلَ الشَّعْبِيَّ فَقَالَ يَا أَبَا عَمْرٍو إِنَّ مَنْ قِبَلَنَا مِنْ أَهْلِ خُرَاسَانَ يَقُولُونَ فِي الرَّجُلِ إِذَا أَعْتَقَ أَمَتَهُ ثُمَّ تَزَوَّجَهَا فَهُوَ كَالرَّاكِبِ بَدَنَتَهُ فَقَالَ الشَّعْبِيُّ حَدَّثَنِي أَبُو بُرْدَةَ بْنُ أَبِي مُوسَى عَنْ أَبِيهِ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثَةٌ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمَنَ بِنَبِيِّهِ وَأَدْرَكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَآمَنَ بِهِ وَاتَّبَعَهُ وَصَدَّقَهُ فَلَهُ أَجْرَانِ وَعَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَدَّى حَقَّ اللَّهِ تَعَالَى وَحَقَّ سَيِّدِهِ فَلَهُ أَجْرَانِ وَرَجُلٌ كَانَتْ لَهُ أَمَةٌ فَغَذَّاهَا فَأَحْسَنَ غِذَاءَهَا ثُمَّ أَدَّبَهَا فَأَحْسَنَ أَدَبَهَا ثُمَّ أَعْتَقَهَا وَتَزَوَّجَهَا فَلَهُ أَجْرَانِ

Dari Asy-Sya’bi dia berkata, “Saya melihat seorang laki-laki penduduk Khurasan bertanya kepada asy-Sya’bi, ia tanyakan, ‘Wahai Abu Amru, orang-orang sebelum kami dari penduduk Khurasan berkata tentang seorang laki-laki yang membebaskan budak wanitanya kemudian menikahinya, maka laki-laki itu seperti orang yang mengendarai untanya? ‘ Lalu asy-Sya’bi menjawab, ” Abu Burdah bin Abu Musa telah menceritakan kepadaku, dari ayahnya, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Ada tiga orang manusia yang diberi pahala dua kali lipat: seorang lelaki Ahli Kitab yang beriman kepada nabinya, ketika ia berjumpa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian beriman kepadanya, mengikuti dan membenarkannya, maka dia mendapat dua pahala. Kedua, seorang hamba sahaya yang menunaikan kewajibannya terhadap Allah dan kewajibannya terhadap tuannya, maka dia juga mendapat dua pahala. Ketiga, ialah seseorang yang mempunyai hamba sahaya perempuan, dia memberinya makan dengan baik, mendidiknya dengan sebaik-baik pendidikan, lalu memerdekakan dan menikahinya, maka dia juga mendapat dua pahala.” (H.R. Muslim)

Hanya saja, kepemilikan budak harus bisa dibenarkan secara syar’i. Artinya tidak boleh memiliki budak secara bathil, misalnya membeli orang merdeka, merampok kemudian memperbudak, memperbudak orang yang tidak bisa membayar hutang, dan semisalnya. Kepemilikan budak harus benar dan syar’I seperti budak yang diperoleh dalam Jihad (perang melawan orang kafir), hibah atas kepemilikan budak yang sah, jual beli atas budak yang dimiliki secara sah dsb.

Saat ini, budak sudah tidak ada, namun bukan berarti hukum-hukum fikihnya dihapus. Hukum fikih perbudakan berlaku kembali jika sebab-sebab yang membuat perbudakan syar’i muncul kembali (misalnya Jihad dan Futuhat dilakukan lagi). Wallahua’lam.

Dikutip dari suara-islam.com pada 27 Romadhon 1433 H./ 16 Agustus 2012 Miladiyah.

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: