Ustadz Abu Bakar Ba’asyir Rilis Khutbah Idul Fitri 1433 H

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir merilis khutbah Idul Fitri dari balik jeruji besi. Berdasarkan email yang diterima redaksi voa-islam.com, naskah khutbar setebal lebih dari 16 halaman tersebut menekankan pentingnya menegakkan syari’at Islam dalam lingkup negara atau biasa disebut daulah islamiyah. Sebab tauhid tak bisa diamalkan sepenuhnya dibawah negara kafir.

“Maka tauhid dan taqwa tidak mungkin bisa diamalkan sesuai dengan tuntunan alloh dan rosulnya di dalam negara kafir. maka orang islam yang rela jadi warga negara kafir dan tidak berusaha untuk meluruskannya menjadi daulah islamiyah tauhidnya rusak.”

Ustadz Abu juga menilai puasa Ramadhan tak bisa menghasilkan takwa jika tauhid dan imannya yang terancam batal lantaran berwala’ terhadap thaghut

“Maka berdasar keterangan-keterangan di atas, tidak diragukan sedikitpun bahwa N.K.R.I (Indonesia) sejak merdeka sampai hari ini adalah negara kafir karena dasar negaranya ideologi ciptaan akal manusia (pancasila danUUD45) dan hukumpositifnya (K.U.H.P) adalah hukum jahiliyah ciptaan akal manusia membuang hukum Alloh. Maka penguasanya adalah thaghut yang wajib kita ingkari dan kita jauhi meskipun mengaku sebagai muslim dan mengamalkan sholat, puasa, zakat, haji, dia bukan ulil amri dari kalangan orang beriman yang wajib kita taati dan kita bela. Maka kalau kita ummat Islam berwala’ kepada thaghut Indonesia pasti tauhid, iman dan taqwa kita terus di obok-obok sehingga terancam batal dan puasa romadhon yang kita amalkan tidak akan bisa mewujudkan taqwa,” seperti dikutip dalam teks khutbah tersebut. Berikut ini adalah naskah lengkap khutbah Idul Fitri 1433 H oleh ustadz Abu Bakar Ba’asyir.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

قال تعالى:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

{ آل عمران : 102}

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

{ النساء : 1}

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

{ الأحزاب : 70-71 }

أما بعد فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد صم وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار.

KAUM MUSLIMIN DAN MUSLIMAT ROHIMAKUMULLOH

Dengan izin Alloh saya sampaikan doa : TAQOBBALALLOHU MINNA WA MINGKUM. Semoga ibadah shoum romadhon yang telah kita amalkan di ridhoi dan diterima oleh Alloh SWT. Amiin yaa robbal aalamiin.

IKHWAANI ROHIMAKUMULLOH.

Tujuan utama di syare’atkannya shoum romadhon adalah agar kaum muslimin sempurna taqwanya sebagaimana telah ditegaskan oleh Alloh SWT dalam firmanNya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”. (QS. Al-Baqarah : 183)

Taqwa adalah berperan mewujudkan kemuliaan dunia akherat, orang yang bertaqwa adalah orang yang mulia di dunia dan di akherat, maka orang yang paling mulia disisi Alloh adalah orang yang paling bertaqwa sebagaimana dijelaskan dalam firmanNya:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Alloh ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Alloh Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS. Al-Hujuraat : 13).

Oleh karena tingginya nilai taqwa, maka taqwa dinyatakan oleh Alloh sebagai sebaik-baik bekal kehidupan, ini dinyatakan dalam firmanNya:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

“Berbekallah dan Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa” (QS. Al-baqarah : 197)

Dan juga dinyatakan sebagai sebaik-baik pakaian, dalam firmanNya :

وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ

“dan pakaian taqwa itulah yang paling baik”. (QS. Al-A’raaf : 26)

Demikianlah tingginya nilai taqwa dalam kehidupan dunia akherat, maka sudah sewajarnya setiap mukmin harus berusaha keras untuk mewarnai kehidupannya dengan sebenar-benar taqwa seperti yang diperintahkan oleh Alloh SWT dalam firmanNYa:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. (QS. Ali-‘Imran : 102)

IKHWANI ROHIMAKUMULLOH

Taqwa artinya menjaga perjalanan hidup agar tetap berada diatas hukum Alloh, jangan sampai melanggarnya, ini tidak mungkin bisa diamalkan kecuali dengan pengamalan tauhid yang benar. Maka orang bertaqwa mesti karena pengamalan tauhidnya benar dan orang yang pengamalan tauhidnya rusak tidak mungkin bertaqwa.

KAUM MUSLIMIN DAN MUSLIMAT ROHIMAKUMULLOH.

Pada akhir-akhir ini banyak ummat Islam yang tauhidnya rusak karena di rusak oleh penguasa-penguasa thaghut (yakni penguasa yang menolak mengatur negara yang dikuasainya dengan hukum Alloh secara murni dan kaffah 100% meskipun dia mengaku sebagai muslim dan sholat), yang menguasai negara-negara mereka. Thaghut-thaghut itu menjerumuskan mereka ke lembah kemusyrikan dan kemungkaran, sebagaimana ditegaskan oleh Alloh SWT dalam firmanNya:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ

“dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya (pemimpin-pemimpinnya) ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran)”. (QS Al-Baqarah : 257).

Dalam ayat tersebut Alloh SWT menegaskan bahwa peranan kepemimpinan thaghut adalah mengeluarkan rakyatnya dari cahaya (tauhid dan iman) mereka dijerumuskan ke dalam berbagai kegelapan hidup (syirik, mungkar, maksiat), yang dimaksud syirik bukan hanya menyembah berhala tetapi termasuk syirik mengganti hukum Alloh dengan hukum ciptaan manusia untuk mengatur negara/kehidupan yakni syirik hukum. Semua thaghut menjerumuskan ummat Islam yang rela hidup di negara yang dikuasainya ke dalam syirik hukum ini termasuk thaghut di Indonesia. Hukum ciptaan DPR mereka wajibkan untuk diamalkan meskipun bertentangan dengan hukum Alloh. Misalnya hukum Alloh menentukan bahwa orang Islam yang murtad di hukum mati, sedang hukum jahiliyah di negara thaghut menetapkan bahwa muslim yang murtad tidak boleh dihukum karena itu hak asasinya harus dihormati. Kalau ada orang Islam yang mengamalkan hukum Alloh menghukum mati muslim yang murtad di tangkap dan dihukum. Maka karakter thaghut banyak menghukum orang-orang Islam karena mengamalkan hukum Alloh dan mentaati perintahNya karena bertentangan dengan hukum yang diciptakan oleh akal dan hawa nafsunya. Oleh karena itu Alloh dan semua Rosul memerintahkan agar ummat Islam mengingkari dan menjauhi thaghut, ini ditegaskan dalam firmanNya:

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لاَ انْفِصَامَ لَهَا

“Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Alloh, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus”. (QS Al-Baqarah : 256)

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sesungguhnya kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Beribadahlah (mengabdilah) kepada Alloh (saja), dan jauhilah thaghut itu”, (QS. An-Nahl : 36)

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آَمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالاً بَعِيدًا

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya”. (QS. An-Nisa’ : 60)

Dan Alloh melarang orang-orang beriman mengangkat orang-orang kafir (baik kafir asli atau thaghut yang mengaku muslim dan sholat, puasa, haji) menjadi pemimpin mereka dan melarang mentaati ajakan mereka, karena peranan kepemimpinan dan ajakan mereka menjerumuskan kepada kemurtadan, ini diterangkan dalam firman-firmanNya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka Sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (QS Al-Maa’idah : 51)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَتُرِيدُونَ أَنْ تَجْعَلُوا لِلَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا مُبِينًا

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Alloh (untuk menyiksamu)?” (QS An-Nisaa’ : 144)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا فَرِيقًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ يَرُدُّوكُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati ajakan sebahagian dari orang-orang yang diberi Al kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman”. (QS Ali-‘Imran : 100)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا الَّذِينَ كَفَرُوا يَرُدُّوكُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati ajakan orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi”. (QS Ali-‘Imran : 149)

Maka demi keselamatan tauhid, iman dan taqwa kaum muslimin, Alloh memerintahkan orang-orang beriman hanya boleh mentaati kepemimpinan Alloh, RosulNya dan ulil amri (pemimpin) dari kalangan orang-orang beriman saja dan menyelesaikan persoalan hidup harus dengan hukum Alloh saja, ini ditegaskan dalam firmanNya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الاَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الاَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Alloh (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (QS An-Nisaa’ : 59)

Dan Alloh SWT juga menegaskan bahwa pemimpin orang-orang beriman itu hanya Alloh, RosulNya dan orang-orang beriman yang taat, ini dijelaskan dalam firmanNya:

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آَمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ

“Alloh pelindung (pemimpin) orang-orang yang beriman; dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)”. (QS Al-Baqarah : 257)

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ

“Sesungguhnya penolong (pemimpin) kamu hanyalah Alloh, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Alloh)”. (QS Al-Maaidah : 55)

Karena hanya kepemimpinan Alloh, RosulNya dan orang beriman saja yang berperan menyelamatkan tauhid, iman dan taqwa dan melenyapkan kemusyrikan dan kemungkaran sebagaimana dijelaskan dalam firmanNya:

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آَمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ

“Alloh pelindung (pemimpin) orang-orang yang beriman; dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)”. (QS Al-Baqarah : 257)

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Alloh mengeluarkan orang-orang beriman dari berbagai kegelapan yakni kemusyrikan, kemungkaran, kemaksiatan, kejahatan dan lain-lain, dan mereka dimasukkan dalam cahaya hidup yakni tauhid, iman dan taqwa.

IKHWANI FIDDIIN ROHIMAKUMULLOH

Pelajaran penting yang diajarkan oleh Alloh kepada orang-orang beriman yang terkandung dalam ayat-ayat tersebut adalah : bahwa tauhid, iman dan taqwa orang-orang beriman akan rusak dan bisa lenyap bila mereka rela hidup dibawah kepemimpinan thaghut atau orang-orang kafir yakni rela menjadi warga negara kafir.

Dan tauhid, iman dan taqwa mereka hanya selamat bila mereka hidup di bawah kepemimpinan Alloh, RosulNya dan ulil amri dari kalangan orang beriman yakni artinya rela menjadi warga negara Islam/khilafah. Maka Alloh SWT menegaskan bahwa barangsiapa mengkafiri thaghut (menolak jadi warga negara semua negara kafir) dan beriman kepada Alloh (hanya bersedia berwala’ (loyal) kepada daulah Islamiyah/khilafah), hidupnya berpegang teguh kepada tali yang kokoh tidak akan putus artinya tauhid, iman dan taqwanya kokoh. Ini diterangkan dalam firmanNya :

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا

“Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Alloh, Maka Sesungguhnya ia Telah berpegang kepada buhul tali yang amat Kuat yang tidak akan putus”. (QS Al-Baqarah : 256)

Dan Alloh menegaskan kepalsuan iman orang yang mengaku beriman tapi mau berhukum kepada thaghut (rela jadi warga negara kafir dan menerima hukum jahiliyah mereka). Ini ditegaskan dalam firmanNya:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آَمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلالا بَعِيدًا

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya Telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka Telah diperintah mengingkari thaghut itu. dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisaa’: 60)

Maka para ulama’ robbaniyyin (yakni ulama’ yang konsekwen berpegang teguh kepada hukum Alloh) menegaskan: barangsiapa yang beriman kepada Alloh ia wajib mengingkari thaghut (pemerintah kafir), dan barangsiapa tidak mengingkari thaghut (rela jadi warga negara kafir) ia tidak beriman kepada Alloh.

Ini artinya: barangsiapa beriman kepada Alloh ia wajib menolak berwala’ (mengakui, loyal) kepada pemerintahan kafir, maka barangsiapa yang dengan kerelaan berwala’ kepada pemerintahan kafir, hakekatnya dia tidak beriman kepada Alloh yakni tauhid dan imannya batal, karena tauhid dan iman kepada Alloh tidak mungkin bersatu dalam hati dengan iman/loyal kepada thaghut.

Maka mukmin yang tauhid, iman dan taqwanya benar hanya bersedia berwala’ (loyal) kepada Alloh, RosulNya dan ulil amri dari kalangan orang-orang beriman, ini artinya dia hanya bersedia berwala’ (loyal) kepada Daulah Islamiyah/Khilafah dan berbaro’ (berlepas diri) dari semua macam negara kafir, tidak ada tawar menawar. Yang dimaksud Negara kafir yang setiap mukmin wajib berbaro’ (berlepas diri) dari padanya adalah negara yang berdasar ideology ciptaan akal manusia (demokrasi, nasionalis, sosialis, kapitalis, pancasila dan lain-lain) dan hukum positifnya adalah hukum ciptaan akal manusia yang banyak bertentangan dengan hukum Alloh, meskipun mayoritas rakyatnya umat Islam, dan di dalamnya banyak masjid, suara adzan, perayaan maulid nabi dan madrosah-madrosah, perguruan-perguruan tinggi Islam dan lain-lain dan meskipun presidennya sholat, puasa, haji dan mengamalkan ibadah mahdhoh (ritual) lain-lainnya.

Adapun Daulah Islamiyah yang setiap mukmin wajib berwala’ (loyal) kepadanya adalah negara berdasarkan Al-quran dan Sunnah dan dasar hukum positifnya adalah hukum Alloh secara murni dan kaffah meskipun mayoritas rakyatnya orang-orang kafir yang bersedia tunduk di bawah naungan Daulah Islamiyah dan ulil amrinya orang beriman laki-laki yang taat kepada Alloh dan RosulNya.

Maka berdasar keterangan-keterangan di atas, tidak diragukan sedikitpun bahwa N.K.R.I (Indonesia) sejak merdeka sampai hari ini adalah negara kafir karena dasar negaranya ideology ciptaan akal manusia (pancasila dan UUD 45) dan hukum positifnya (K.U.H.P) adalah hukum jahiliyah ciptaan akal manusia membuang hukum Alloh. Maka penguasanya adalah thaghut yang wajib kita ingkari dan kita jauhi meskipun mengaku sebagai muslim dan mengamalkan sholat, puasa, zakat, haji, dia bukan ulil amri dari kalangan orang beriman yang wajib kita taati dan kita bela. Maka kalau kita ummat Islam berwala’ kepada thaghut Indonesia pasti tauhid, iman dan taqwa kita terus di obok-obok sehingga terancam batal dan puasa romadhon yang kita amalkan tidak akan bisa mewujudkan taqwa. Ini semua terbukti dengan kehidupan ummat Islam Indonesia yang ditimpa kehinaan dilecehkan thaghut dan pengikut-pengikutnya, di timpa berbagai fitnah yang tidak mampu mengatasinya secara tuntas. Karena sejak merdeka mereka menerima hidup di bawah pemerintahan kafir tidak tegas berbaro’ daripadanya. Ini artinya hidup mereka menyalahi Al-quran dan Sunnah. Maka Ummat Islam Indonesia wajib bertaubat, satu-satunya jalan taubatnya adalah mereka wajib berjuang dengan cara yang sesuai dengan tuntunan Alloh dan Rosul yaitu dengan cara Da’wah dan Jihad untuk menegakkan Daulah Islamiyah sebagai satu-satunya syarat pengamalan tauhid dan taqwa yang sesuai dengan tuntutan Alloh dan RosulNya, sehingga dengan pertolongan Alloh tauhid, iman dan taqwa mereka kokoh dan dapat mengatasi fitnah dan kehinaan yang menimpa kehidupan mereka.

IKHWAANI FIDDIIN ROHIMAKUMULLOH

Bertauhid tidak cukup hanya melafalkan Laa Ilaha Illalloh dan mengimaninya dalam hati bahwa tidak ada Tuhan selain Alloh, tetapi disamping itu harus bersedia hidup hanya untuk beribadah/mengabdi hanya kepada Alloh saja dengan cara mengatur kehidupan dari mulai pribadi, keluarga, masyarakat dan negara dengan hukum Alloh/syare’at Islam secara murni dan kaffah 100%.

MAKA PENGAMALAN TAUHID YANG BENAR DAN BERSIH DARI SYIRIK (YAKNI HIDUP HANYA UNTUK BERIBADAH KEPADA ALLOH DENGAN AMALAN MENGATUR KEHIDUPAN DENGAN SYARE’AT ISLAM SECARA MURNI DAN KAAFFAH DAN MENGINGKARI/ MENJAUHI TIDAK BERHAKIM KEPADA THAGHUT) HANYA BISA DIAMALKAN DALAM DAULAH ISLAMIYAH/KHILAFAH. Orang Islam yang tinggal di negara kafir tidak mungkin bisa mengamalkan tauhid dan taqwa yang benar dan bersih dari syirik karena thaghut (penguasa negara kafir) pasti melarang orang Islam yang tinggal di negara yang dikuasainya mengamalkan syare’at Islam secara murni dan kaaffah sebagai syarat pengamalan taqwa dan tauhid yang benar dan bersih dari kemusyrikan dan thaghut memaksa mereka untuk taat, setia dan berhakim kepadanya (thaghut).

Semua negara kafir dasar negaranya adalah ideology bathil/syirik ciptaan manusia (demokrasi, nasionalis, sosialis, pancasila dan lain-lain) dan hukum positifnya adalah hukum jahiliyah ciptaan akal dan hawa nafsu manusia, dasar negara yang syirik dan hukum positif negara yang bertentangan dengan hukum Alloh ini wajib dipercayai, didukung dan diamalkan oleh rakyatnya termasuk ummat Islam yang rela tinggal di negara kafir tersebut. MAKA TAUHID DAN TAQWA TIDAK MUNGKIN BISA DIAMALKAN SESUAI DENGAN TUNTUNAN ALLOH DAN ROSULNYA DI DALAM NEGARA KAFIR. MAKA ORANG ISLAM YANG RELA JADI WARGA NEGARA KAFIR DAN TIDAK BERUSAHA UNTUK MELURUSKANNYA MENJADI DAULAH ISLAMIYAH TAUHIDNYA RUSAK.

Di Indonesia juga orang-orang Islam tidak mungkin bisa mengamalkan tauhid dan taqwa secara sempurna dan bersih dari syirik, karena Indonesia negara kafir yang berdasar ideology bathil/syirik pancasiladan UUD 1945 dan diatur dengan hukum jahiliyah ciptaan akal dan hawa nafsu manusia (K.U.H.P), maka thaghut penguasa N.K.R.I melarang orang-orang Islam mengamalkan syare’at Islam secara murni dan kaaffah untuk mengatur kehidupan dan memaksa mereka untuk setia dan membela dasar dan hukum positif negara yang terlaknat itu. Kalau ada yang berusaha mengamalkan syare’at Islam secara murni dan kaaffah dan menolak setia dan menolak membela dasar dan hukum positif negara yang terlaknat itu dituduh radikal/ekstrim, kalau ada yang memperjuangkan tegaknya daulah Islamiyah/khilafah dituduh teroris. Syare’at Islam boleh diamalkan dengan cara bercampur aduk dengan ideology negara (syirik) dan hukum-hukum jahiliyah yang berlaku dalam negara dan syare’at Islam hanya boleh di amalkan secara sepotong-sepotong tidak kaaffah, JADI THAGHUT MELARANG UMMAT ISLAM YANG TINGGAL DI BAWAH KEKUASAANNYA MENGAMALKAN SYARE’AT ISLAM MENURUT TUNTUNAN AL QUR’AN DAN SUNNAH (MURNI DAN KAAFFAH) DAN MEMBERI KELONGGARAN MEREKA MENGAMALKAN SYARE’AT ISLAM ASAL MENURUT LANGKAH SETAN (TIDAK MURNI DAN SEPOTONG-SEPOTONG). Inilah yang dimaksud thaghut mengeluarkan mereka dari cahaya dan mereka dijerumuskan ke dalam kegelapan yang tercantum dalam QS. Al Baqarah: 257. MAKA MUSLIM DI INDONESIA YANG SETUJU DENGAN SISTEM PEMERINTAHAN KAFIR YANG ADA, TAUHIDNYA RUSAK KARENA THAGHUT HANYA MENGIZINKAN MEREKA MENGAMALKAN SYARE’AT ISLAM MENURUT LANGKAH SETAN DAN MELARANG MEREA MENGAMALKAN SYARE’AT ISLAM MENURUT TUNTUNAN ALLOH DAN ROSULNYA BAHKAN TAUHIDNYA TERANCAM BATAL BILA TIDAK BERUSAHA MELURUSKANNYA MENJADI DAULAH ISLAMIYAH.

MAKA AGAR BISA MENGAMALKAN TAUHID DAN TAQWA SECARA SEMPURNA, UMMAT ISLAM TERMASUK DI INDONESIA WAJIB BERJUANG DENGAN CARA DAKWAH DAN JIHAD UNTUK MENEGAKKAN DAULAH ISLAMIYAH/KHILAFAH. DAULAH ISLAMIYAH/KHILAFAH ADALAH SUNNAH NABI DAN TUNTUTAN TAUHID, KARENA IA MERUPAKAN SYARAT SEMPURNANYA PENGAMALAN TAUHID. Maka ummat Islam haram hukumnya rela menjadi warga negara kafir karena melanggar sunnah dan ia tidak mungkin bisa mengamalkan tauhid yang bersih dari syirik, maka ia wajib berjuang merubahnya menjadi daulah Islamiyah, bila tidak mampu ia wajib hijroh ke daulah Islamiyah dimana saja, kalau tidak mampu dan terpaksa tinggal di negeri kafir ia harus tetap membenci dan memusuhi thaghut/ pemerintahan kafir itu dalam hati karena Alloh dan selalu berdoa:

وَمَا لَكُمْ لا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ نَصِيرًا

“Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri Ini (Makkah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!”. (QS. An-Nisaa’: 75)

KETERANGAN

Disebut makkah dalam terjemahan ayat tersebut diatas karena makkah waktu itu negeri kafir yang dikuasai Quraisy Kafir. Adapun kalau kita baca sebagai do’a kita yang tinggal di Indonesia yang dimaksud negeri ini dalam ayat tersebut adalah N.K.R.I yang masih kafir.

MAKA PENGAMALAN DIINUL ISLAM DENGAN SISTEM DAULAH / KHILAFAH ADALAH PERINTAH ALLOH YANG TELAH DIAMALKAN OLEH RASULULLOH SAW DAN DIIKUTI OLEH PARA SAHABAT TERUTAMA KHULAFAUR RASYIDIN SERTA UMMAT ISLAM YANG HIDUP SESUDAHNYA.

Jadi pengamalan Dinul Islam secara berdaulah Islamiyah dan berkhilafah adalah berdasar perintah Alloh, Sunnah Nabi SAW dan Ijma’ (kesepakatan bulat) sahabat yang wajib diamalkan tidak boleh ditolak dengan alasan apapun.

MAKA JELASLAH TANPA KERAGUAN SEDIKITPUN BAHWA MENEGAKKAN DAULAH ISLAMIYAH/KHILAFAH ADALAH MERUPAKAN KEWAJIBAN POKOK UMMAT ISLAM. PERKARA YANG PENTING INI HARUS DIPAHAMI DAN DISADARI OLEH UMMAT ISLAM. APABILA PERKARA YANG PENTING INI TIDAK DIHIRAUKAN UMMAT ISLAM PASTI DIKUASAI THAGHUT AKHIRNYA AKAN TERUS MENERUS HIDUP DALAM KEHINAAN, KETAKUTAN, PERPECAHAN, KELEMAHAN YANG AKHIRNYA DITINDAS DAN DIBANTAI OLEH ORANG-ORANG KAFIR SEPERTI PEMBANTAIAN DI BOSNIA DAN MYANMAR DAN RUSAK TAUHID, IMAN DAN TAQWANYA TERJERUMUS KE DALAM KEMUSYRIKAN. (Na’udlubillah min dzalik)

Maka kalau ada Ulama yang menentang perjuangan menegakkan negara Islam/ Khilafah termasuk di Indonesia, mereka adalah ulama syaitony jangan sholat bermakmum di belakang mereka. Karena menentang perjuangan menegakkan Daulah Islamiyah/ Khilafah berarti menentang sunnah Nabi dan menyetujui berwala’ kepada negara kafir ini berarti menentang pengamalan tauhid secara sempurna dan bersih dari kemusyrikan dan juga berarti mendukung praktek-praktek kemusyrikan dalam negara kafir.

Ulama ada tiga macam. Berikut adalah macam-macam ulama di zaman ini yang disampaikan oleh Asy Syaikh. Abu Dujanah Ash Shamy:

Seseorang yang berilmu, ia melaksanakan amanah ilmunya, menjelaskan yang haq kepada umat manusia yang masih awam tanpa ada rasa takut kepada sesama manusia. Sebagaimana firman Alloh Subhaanahu Wa Ta’ala:

الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالاتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلَّا اللَّهَ وَكَفَى بِاللَّهِ حَسِيبًا

“(yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Alloh, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Alloh. dan cukuplah Alloh sebagai pembuat perhitungan.” (QS. Al-Ahzab: 39)

Mereka jumlahnya minoritas di setiap zaman, yang selalu memerangi antek-antek setan. Dengan perantaraan mereka-lah hujjah Alloh ditegakkan ke atas makhluk-Nya. Mereka-lah orang yang paling berhak menjadi pewaris para Nabi dan Rosul, pelita di kegelapan dan cahaya bagi bumi ini. Mereka-lah para ulama yang selalu dipuji dalam Al Qur’an dan Sunnah Rasululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam. Alloh Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman tentang mereka:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

“…..Sesungguhnya yang takut kepada Alloh di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Alloh Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Faathir: 28)

Kalau bukan karena rahmat dan kasih sayang Alloh kepada umat ini melalui para ulama ini, niscaya cahaya kebenaran akan mati lalu sirna lah bekasnya, akan tetapi Alloh tidak akan pernah berhenti untuk menyempurnakan cahaya-Nya.

Seseorang yang berilmu, memahami Al Qur’an dan Sunnah Rasul Shollallohu ‘alaihi Wasallam, akan tetapi ia tidak menunaikan hak keduanya baik dengan mendakwahkan, mengajarkan kepada umat, menyebarkannya maupun berjihad diatas keduanya. Ia bahkan menyembunyikan kebenaran dan tidak menjelaskannya kepada umat manusia. Ulama seperti ini termasuk diantara mereka yang dilaknat Alloh dan dilaknati (pula) oleh semua makhluk yang dapat melaknati, sebagaimana firman Alloh Subhaanahu Wa Ta’ala:

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang Telah kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah kami menerangkannya kepada manusia dalam Al kitab, mereka itu dila’nati Alloh dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati” (QS. Al-Baqarah: 159)

Alloh juga menyamakan mereka dengan keledai yang mengangkut buku, sebagaimana firman-Nya:

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, Kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Alloh itu. dan Alloh tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS. Al-Jumu’ah: 5)

Seseorang yang berilmu, memahami Al Qur’an dan Sunnah Rasul Shollallohu ‘alaihi wasallam, tetapi ia tidak menunaikan hak atas keduanya, bahkan mencampur-adukkan yang haq dengan yang bathil, menolak kebenaran itu lalu merubahnya, menyokong kebathilan bahkan menghiasinya sehingga seolah-olah itu adalah kebenaran. Inilah orang-orang yang pertama kali masuk neraka jahannam meskipun ia seorang hafidz dan pemikir ternama. Sebagaimana disebutkan Alloh dalam firmanNya:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آَتَيْنَاهُ آَيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الارْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang Telah kami berikan kepadanya ayat-ayat kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), Kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), Maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.”

“Dan kalau kami menghendaki, Sesungguhnya kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (QS. Al-A’raaf: 175-176).

Inilah sejahat-jahatnya setan dalam wujud manusia.

Maka ulama yang wajib kita hormati dan kita taati adalah ulama macam pertama yakni ulama robbani. Pernyataannya dalam menyampaikan al haq sangat tegas yakni:

“JIKA KAMI MENGATAKAN KEBENARAN PASTI KAMI AKAN MATI DAN JIKA KAMI TIDAK MENGATAKAN KEBENARAN PASTI KAMIPUN AKAN MATI MAKA KAMI AKAN MATI DENGAN MENGATAKAN KEBENARAN, DAN KAMI TETAP AKAN MENGATAKAN KEBENARAN MESKIPUN TARING-TARING ANJING MENCABIK-CABIK DAGING KAMI, MESKIPUN PARUH-PARUH BURUNG MEMATUK-MATUK KEPALA KAMI, HIDUP KAMI HANYA UNTUK ALLOH, KAMI MATI KARENA MEMBELA AGAMA ALLOH” (Pernyataan Sikap Ulama’ Robbani, oleh Asy Syaikh. Abu Dujanah Ash Shamy)

Adapun ulama macam ketiga yakni ulama syaitony tidak boleh kita dekati dan tidak boleh kita dengar nasehat dan fatwanya, harus kita tentang karena mereka adalah ulama syaitoniyyiin anshorut thaghut (pembantu thaghut).

KAUM MUSLIMIN DAN MUSLIMAT

Maka dengan izin Alloh mari kita bangkit berdakwah dan berjihad menegakkan Daulah Islamiyah dengan tekad sampai menang berkat pertolongan Alloh SWT agar kita dapat mengamalkan tauhid dan taqwa sebenar-benarnya atau mati dalam perjuangan suci ini, insyaAlloh syahid, jangan karena sibuk mencari isi perut ingin damai dengan thaghut yang menghalangi perjuangan suci yang insyaAlloh diridhoi oleh Alloh, resapi firman Alloh ini:

فَلا تَهِنُوا وَتَدْعُوا إِلَى السَّلْمِ وَأَنْتُمُ اْلاَعْلَوْنَ وَاللَّهُ مَعَكُمْ وَلَنْ يَتِرَكُمْ أَعْمَالَكُمْ

“Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas dan Alloh pun bersamamu dan dia sekali-kali tidak akan mengurangi pahala amal-amalmu” (QS Muhammad: 35)

وَلاَ تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لاَ يَرْجُونَ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). jika kamu menderita kesakitan, Maka Sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Alloh apa yang tidak mereka harapkan. dan adalah Alloh Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS An-Nisaa’ : 104)

Dengar seruan ulama’ ahli sunnah ini:

عشْ كَِريمْاً أَوْمُتْ شَِهيْدًا

“HIDUP MULIA ATAU MATI SYAHID”

Hidup mulia artinya hidup di bawah naungan Daulah Islamiyah/khilafah atau hidup di isi berjihad menegakkan Daulah Islamiyah/Khilafah, ini adalah karakter kehidupan mukmin, seperti ditegaskan oleh Alloh dalam firmanNya:

وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آَوَوْا وَنَصَرُوا أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Alloh, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka Itulah orang-orang yang benar-benar beriman. mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfaal: 74)

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Alloh dan Rasul-Nya, Kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Alloh. mereka Itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al Hujarat: 15)

Mati syahid artinya mati karena berjihad menegakkan Daulah Islamiyah/Khilafah.

Berjihad boleh dengan menggerakkan ummat Islam untuk revolusi.

Hidup kita sekarang ini hina karena kita hidup dibawah telapak thaghut dan kita rela di kurung di dalam negara kafir, sehingga kita dipaksa untuk menghormati kemusyrikan dan bertoleransi dengan berbagai macam kemungkaran dengan alasan demi kerukunan nasional.

Sehingga tauhid dan taqwa kita rusak, karena kita tidak berjihad untuk melawannya sehingga tegak daulah Islamiyah/khilafah karena kita sibuk mengurusi isi perut. Ketahuilah bahwa kunci kekuatan dan kemuliaan hidup ummat Islam adalah: Daulah Islamiyah/Khilafah dan hidupnya ada kesadaran dan semangat jihad fie Sabilillah

Karena pentingnya jihad Alloh memerintahkan Rosululloh Saw agar mengobarkan semangat jihad kaum muslimin.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِئَةٌ يَغْلِبُوا أَلْفًا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لاَ يَفْقَهُونَ

“Hai nabi, Kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.” (QS. Al-Anfaal: 65)

Para sahabat menyatakan: “Kamilah yang telah membaiat Muhammad Saw untuk selalu berjihad selama hayat dikandung badan”

KAUM MUSLIMIN DAN MUSLIMAT ROHIMAKUMULLOH

Apa arti sholat kita, dzikir kita, puasa kita, kalau kita terima hidup hina semacam ini tidak berjihad untuk mencapai hidup mulia dibawah naungan daulah Islamiyah, karena disibukkan mencari isi perut. نعوذ بالله من ذلك

Sekali lagi tidak ada hidup mulia kecuali hidup di bawah naungan daulah Islamiyah/khilafah atau berjihad menegakkan daulah Islamiyah/khilafah bukan hidup yang hanya disibukkan cari aman dan menikmati makanan dan rela di bawah telapak kaki thaghut.

Wahai kaum muslimin ketahuilah bahwa perjuangan menegakkan dienul Islam tidak mungkin mendapatkan pertolongan Alloh hingga menang kecuali dengan jihad fii sabilillah, tidak ada kemenangan dan kejayaan yang bisa di capai oleh kaum muslimin tanpa jihad. Tanpa jihad perjuangan kaum muslimin selalu kalah dan hidup mereka ditimpa kehinaan terus menerus. Hal ini ditegaskan oleh Rosululloh Saw dalam sabda beliau:

“Jika manusia sudah kikir dengan dinar dan dirham, berjual beli dengan i’nah (semacam riba), puas dengan mengikuti ekor-ekor sapi (sibuk mengurusi peternakan) dan meninggalkan jihad fii sabilillah, Alloh pasti akan menimpakan atas mereka kehinaan dan tidak akan diangkat kehinaan itu hingga mereka kembali kepada diin (semangat jihad)” (HR. Ahmad, At-Thobari, Al Baihaqi, Ad-Daulabi)

Hadits ini menegaskan kalau kaum muslimin hidupnya disibukkan mencari isi perut dan meninggalkan jihad maka Alloh akan menimpakan kehinaan hidup yang tidak teratasi kecuali dengan mengamalkan kewajiban jihad.

Sabda Beliau lagi: “Barang siapa yang tidak pernah berperang (dijalan Alloh) dan tidak meniatkan dirinya untuk berperang (dijalan Alloh) niscaya ia mati diatas salah satu cabang kemunafikan” (HR. Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i)

Maka mari kita bangkit berjihad menegakkan daulah Islamiyah di bumi Alloh Indonesia ini meskipun dengan menggerakkan revolusi dengan tekad sampai menang dengan pertolongan Alloh atau terbunuh dijalan Alloh. Resapi firman-firman Alloh ini:

وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آَوَوْا وَنَصَرُوا أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka Itulah orang-orang yang benar-benar beriman. mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfaal: 74)

لَكِنِ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا مَعَهُ جَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ وَأُولَئِكَ لَهُمُ الْخَيْرَاتُ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلاَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama Dia, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. dan mereka Itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan, dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung.

Allah Telah menyediakan bagi mereka syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. At-Taubah: 88-89)

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَاْلاِنْجِيلِ وَالْقُرْآَنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Sesungguhnya Alloh Telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Alloh; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu Telah menjadi) janji yang benar dari Alloh di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Alloh? Maka bergembiralah dengan jual beli yang Telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 111)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?

(yaitu) kamu beriman kepada Alloh dan RasulNya dan berjihad di jalan Alloh dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.

Niscaya Alloh akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar. (QS. Ash-Shaaf: 10-12)

Wassalam,

01 Syawwal 1433H

(Ust. Abu Bakar Ba’asyir)

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: