H.Agus Salim/ Masyhudul Haq

H. Agus Salim lahir di Kota Gadang, Sumatera Barat. Nama kecilnya adalah: Masyhudul Haq. H. Agus Salim dikenal sebagai pejuang kemerdekaan Indonesia, yang menguasai paling sedikit 7 (tujuh) bahasa asing.

Antara tahun 1906-1911, Agus Salim menjadi staf konsulat Belanda di Jeddah. Pada tahun 1915, dia bergabung dengan Sarekat Islam (SI), dan menjadi pemimpin kedua setelah H.O.S Tjokroaminoto. Tahun 1929, saat SI berganti nama menjadi Partai Sarikat Islam Indonesia (PSII), Agus Salim menjadi pengganti H.O.S. Tjokroaminoto. Pada Konferensi Kaum Buruh Internasional di Jenewa (Swiss) pada tahun 1929, Agus Salim ditunjuk sebagai penasihat teknik delegasi Serikat Buruh Negeri Belanda.

H. Agus Salim berperan besar pada masa perjuangan kemerdekaan R.I, antara lain: sebagai anggota Volksraad (1921-1924), anggota panitia 9 Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Beberapa jabatan H. Agus Salim setelah Indonesia merdeka adalah: menteri luar negeri (periode presidensial), menteri muda luar negeri Kabinet Sjahrir II (1946) dan Kabinet III (1947), menteri luar negeri Kabinet Amir Sjarifuddin (1947), menteri luar negeri Kabinet Hatta (1948-1949). Ketika Agresi Militer Belanda II, Agus Salim ditangkap bersama Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta. Di bidang jurnalistik, Agus Salim pernah menjabat ketua pada Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia di tahun 1952. H. Agus Salim wafat pada tanggal 4 November 1954 di Jakarta, dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. (Almanak Sejarah Indonesia – LSB)

(Sumber: http://www.anri.go.id)
==================================================================================================

Haji Agus Salim (lahir dengan nama Mashudul Haq (yang bermakna “pembela kebenaran”); Koto Gadang, Bukittinggi, Minangkabau, (8 Oktober 1884–Jakarta, 4 November 1954) adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia.

Beliau menempuh pendidikannya di ELS (Europeese Lagere School) dan HBS di Jakarta. Agus Salim terkenal sebagai orang yang cerdas dan pandai, beliau menguasai sembilan bahasa asing, di antaranya Belanda, Inggris, Jerman, Perancis, Arab, Turki dan Jepang. Pada waktu muda beliau merantau sampai ke Arab Saudi untuk memperkaya pemikiran dan ilmunya. Haji Agus Salim pernah menjadi penerjemah di Konsulat Belanda di Jeddah Arab Saudi.

Tokoh yang terkenal dengan penampilan khasnya memakai kopiah dan berjanggut, menjabat sebagai Menteri Luar Negeri pada periode 3 Juli 1947 – 20 Desember 1949. Pada masa jabatannya beliau mengetuai delegasi Indonesia dalam Inter-Asian Relation Conference di India dan berusaha membuka hubungan diplomatik dengan sejumlah Negara Arab, terutama Mesir dan Arab Saudi.
Beliau merupakan salah satu diplomat ulung Indonesia yang dikenal sering mewakili Indonesia di berbagai konferensi dan pertemuan Internasional. Sosoknya telah dikenal di kalangan masyarakat Internasional. Karena keluasan ilmunya, beliau diminta memberikan kuliah agama Islam di Cornell University dan Princenton University, Amerika Serikat.

Latar belakang

Agus Salim lahir dari pasangan Angku Sutan Mohammad Salim dan Siti Zainab. Ayahnya adalah seorang kepala jaksa di Pengadilan Tinggi Riau.

Pendidikan dasar ditempuh di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah khusus anak-anak Eropa, kemudian dilanjutkan ke Hoogere Burgerschool (HBS) di Batavia. Ketika lulus, ia berhasil menjadi lulusan terbaik di HBS se-Hindia Belanda.

Setelah lulus, Salim bekerja sebagai penerjemah dan pembantu notaris pada sebuah kongsi pertambangan di Indragiri. Pada tahun 1906, Salim berangkat ke Jeddah, Arab Saudi untuk bekerja di Konsulat Belanda di sana. Pada periode inilah Salim berguru pada Syeh Ahmad Khatib, yang masih merupakan pamannya.

Salim kemudian terjun ke dunia jurnalistik sejak tahun 1915 di Harian Neratja sebagai Redaktur II. Setelah itu diangkat menjadi Ketua Redaksi. Menikah dengan Zaenatun Nahar dan dikaruniai 8 orang anak. Kegiatannya dalam bidang jurnalistik terus berlangsung hingga akhirnya menjadi Pemimpin Harian Hindia Baroe di Jakarta. Kemudian mendirikan Suratkabar Fadjar Asia. Dan selanjutnya sebagai Redaktur Harian Moestika di Yogyakarta dan membuka kantor Advies en Informatie Bureau Penerangan Oemoem (AIPO). Bersamaan dengan itu Agus Salim terjun dalam dunia politik sebagai pemimpin Sarekat Islam.

Karir politik

Pada tahun 1915, Salim bergabung dengan Sarekat Islam (SI), dan menjadi pemimpin kedua di SI setelah H.O.S. Tjokroaminoto. Peran Agus Salim pada masa perjuangan kemerdekaan RI antara lain:
• anggota Volksraad (1921-1924)
• anggota panitia 9 BPUPKI yang mempersiapkan UUD 1945
• Menteri Muda Luar Negeri Kabinet Sjahrir II 1946 dan Kabinet III 1947
• pembukaan hubungan diplomatik Indonesia dengan negara-negara Arab, terutama Mesir pada tahun 1947
• Menteri Luar Negeri Kabinet Amir Sjarifuddin 1947
• Menteri Luar Negeri Kabinet Hatta 1948-1949
• Penerjemah dan pembantu notaris kongsi pertambangan di Indragiri
• Tahun 1906, bekerja di Konsulat Belanda Jeddah, Arab Saudi
• Jurnalis Harian Neratja, Hindia Baroe, Fadjar Asia,Moestika
• Ketua Dewan Kehormatan PWI (1952)
• Ketua Sarekat Islam menggantikan HOS Cokroaminoto (1915)

Karya tulis
• Riwayat Kedatangan Islam di Indonesia
• Dari Hal Ilmu Quran
• Keterangan Filsafat Tentang Tauchid, Takdir dan Tawakal
• Muhammad voor en na de Hijrah
• Gods Laatste Boodschap
• Jejak Langkah Haji Agus Salim
• Karya Terjemahan Menjinakkan Perempuan Garang (dari The Taming of the Shrew karya Shakespeare)
• Karya terjemahan Sejarah Dunia (karya E. Molt)
• Karya terjemahan Cerita Mowgli Anak Didikan Rimba (dari The Jungle Book karya Rudyard Kipling)

Di antara tahun 1946-1950 ia laksana bintang cemerlang dalam pergolakan politik Indonesia, sehingga kerap kali digelari “Orang Tua Besar” (The Grand Old Man). Ia pun pernah menjabat Menteri Luar Negeri RI pada kabinet Presidentil dan di tahun 1950 sampai akhir hayatnya dipercaya sebagai Penasehat Menteri Luar Negeri.

Pada tahun 1952, ia menjabat Ketua di Dewan Kehormatan PWI. Biarpun penanya tajam dan kritikannya pedas namun Haji Agus Salim masih mengenal batas-batas dan menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik.

Setelah mengundurkan diri dari dunia politik, pada tahun 1953 ia mengarang buku dengan judul Bagaimana Takdir, Tawakal dan Tauchid harus dipahamkan? yang lalu diperbaiki menjadi Keterangan Filsafat Tentang Tauchid, Takdir dan Tawakal.

Ia meninggal dunia pada 4 November 1954 di RSU Jakarta dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

(Sumber:inforingankita.blogspot.com)

Disadur pada 25 Syawwal 1433 H./12 September 2012 Miladiyah.

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: