Tirai-tirai hikmah berburu nilai PTK

1Oleh: Muhlis H. Pasakai

Kabar pelik yang telah kudengar sejak awal perkuliahan telah tiba masanya. Urusan yang paling menyulitkan mahasiswa diakhir perkuliahan, tugas proposal PTK (Penelitian Tindakan Kelas) yang diampuh dosen paling dihindari berurusan dengannya, DR. Amaluddin. Sang Doktor yang menjadi momok mengerikan seantero kampus.

Sebelum semua kesukaran mengaramkan energiku, optimisme akan meluluhkan sang Doktor telah kuidam menjelang masa-masa yang menyulitkan ini. Percaya diri yang kubangun dari kesuksesan pada peristiwa-peristiwa preseden akan kembali diuji. Sudah terlalu banyak urusan-urusan yang menggentarkan telah kutaklukkan dengan modal paling wahid, yaitu Iman.

Banyak yang membincangkan berbagai upaya untuk memuluskan tugas PTK ini, pendekatan keluarga, ikatan emosional kedaerahan, dan berbagai ide-ide yang dianggap manjur. Sejenak risauku muncul mendengar kerumitannya, apalagi tak punya hubungan apapun dengan sang doktor wakil rektor satu itu, tapi aku ditegarkan dengan gagah berani oleh keyakinan yang dimiliki seorang yang beriman, segala urusan disandarkan pada Allah Subehanahu Wa Ta’ala. Sebuah keyakinan yang telah kubuktikan berkali-kali, semakin membentengi keyakinanku, kerumitan kali ini pun akan kulibas.

Waktu terus berjalan menuju puncak kerumitan.

Rupanya kepedean yang berlebih tak seindah yang kutaksir. Sejak awal berurusan dengan lembaran-lembaran tugas PTK ini, sudah menguras semangat dan konsentrasiku. Entah sudah yang keberapa kali dicoret dan dicoret, diedit dan dicetak lagi, untuk selanjutnya dicoret lagi. Bukan hanya itu, setiap hasil koreksi akan dikonsultasikan, harus menunggu sang dosen berjam-jam hingga malam hari, kadang dari pagi, sampai berhari-hari, betapa banyak waktu yang disita untuk menanti dalam ketak pastian, inilah yang banyak menguji kesabaran tingkat tinggi para mahasiswa. Banyak kisah ringis disudut-sudut toko* penantian itu. Mahasiswa sekejap membanjiri selasar-selasar tempat penantian untuk menunggu nasib keputusan sang doktor.

Sepertinya keyakinan yang kuhunus kali ini tak setajam masa-masa silam. Tetes peluh telah kutumpahkan demi mendapatkan nilai, menjajal dari toko, kampus, rektorat, hingga rumah sang dosen di Lapadde Mas blok H 69, namun menjelang satu pekanpun jerih penat tak membuahkan hasil.

Mendatangi rumah sang dosen dimalam hari biasanya menjadi ajian mujarab para mahasiswa, namun kali ini berbeda, sudah berapa kali kami menyambangi rumah itu, namun hanya menemukan keramahan yang tersandera dibatin penghuninya. Mulai dari bahasa, mimik, hingga kepedulian tak pernah sejuk disana, hingga pagar besi didepannya serasa ikut-ikutan bersolek garang sampai menginjakkan kaki dipekarangannya pun tak pernah. Menunggu untuk dipersilakan masuk layaknya tuan rumah pada umumnya, seperti sebuah ucapan sakral yang sangat diirit sehingga tak pernah kami dengarkan.

Sudah berhari-hari aku disibukkan dengan urusan payah ini. Sudah terlalu banyak rasanya waktu yang kusia-siakan di teras toko, halaman gaduh penantian. Berpiuh dengan hasil yang menggunduli asaku.

Derita yang mendera semakin menggunung. Teman-teman seangkatanku telah banyak menyelesaikan urusan pelik ini, mendapatkan nilai, dan segera mengurus ijazahnya. Sementara itu, aku masih dirundung catatan-catatan sendu disampul tugasku, tanda belum beres yang terus mengusik bijakku, entah sampai kapan mematamorgana. Akankah aku mengikuti jejak sebagian angkatan-angkatan lalu, yang sampai saat ini mengganjal ijazahnya karena persoalan tugas adi musykil itu?. Kebimbangan akan kepastian ini menjadi hantu disetiap hela nafasku.

Detik waktu terus melintas, menggiring dilembah sendu pesakitan, mengundang tanya seribu rupa, menantang muhasabah ranking kakap. Sedang apakah yang berlaku, dosa apakah yang mengotori menara-menara suci di ngarai spiritual, yang telah kujaga seapik-apiknya dalam pilar-pilar syariat. Betapa tidak tanya ini terus membahana, jika kutilik dengan tatapan cembung, mereka yang urusannya lancar, tak segairah dengan tangkasku dalam menjaga syariat Islam. Mereka yang urusannya tak menemui aral bahkan acuh dengan waktu-waktu yang telah ditetapkan (lima waktu). Lalu murka apakah yang menghempaskan perisai keiltizamanku selama ini?. Ingin kubuka segala lembaran noktah hitam yang mengotori catatan putih yang kurangkai dengan jihad. Helai-helai goresan amal telah kutengok hampir sepenuhnya, memang terlalu banyak bintik hitam yang tumpah disepanjang masa taklifku, jika semua jadi sebabnya sungguh kecelakaan besar bagiku, tapi rasanya perjuanganku mengikis coretan hina itu telah kugigit dengan konsekuen.

Sepertinya keberuntungan dan kelapangan tidak berbanding lurus dengan keimanan. Sungguh aku telah dilengserkan ditepi jurang keraguan, keraguan akan dalil yang selalu kusemai didepan ummat, dalil tentang janji jalan keluar bagi orang beriman dalam QS.Ath-Thalaq: 2, lafaz yang bahkan berapi-api kuyakinkan di orientasi dauroh beberapa pekan sebelumnya di Kabupaten Sinjai.

***

Tragedi spiritual ini telah menempa imanku dalam masa karantina yang singkat.

Perjalanan jiwa ini memang panjang membukit. Kekuatan iman ini memang harus menempuh jalan keras nan pelik, seperti yang telah ditempuh laskar pendahulunya (Salafus Sholih). Sungguh manja imanku ini, sungguh murahan imanku ini, sungguh malu rasanya jika disandingkan para pendekar syariat generasi salaf. Betapa remehnya pendakian yang kutempuh ini, namun telah mengekang langkah sejatiku.

Rupanya sedang salah sangka aku menilainya. Bukan tentang ujian iman belaka yang sedang melilit kematangan langkahku.

Bisa dibayangkan, betapa angkuhnya diri ini, jika semua rintangan kulalui dengan mudah, walaupun dengan modal halal sekalipun. Betapa agung pelajaran ini, mengajak imanku berwisata di gurun hikmah belantara. Dalil yang telah kueja fasih dilisanku, kutancapkan kuat disanubariku, kutabur luas di tengah insan, yang hampir kuhakimi dengan kejahilan, kini membuka rabun ilmuku yang miskin. Jalan keluar yang dijanjikan itu justru semakin menampakkan bobotnya sebagai sebaik-baik perkataan. Jalan keluar yang dibutuhkan hidup ini memang tak selalu seperti selera hasrat kemanusiaan, karena sungguh dangkal ilmu manusia untuk mengurai sebuah kebaikan. Kebaikan tidak harus selalu sama dengan kesenangan dan terjawabnya harapan duniawi.

***

Nilai PTK akhirnya kudapatkan setelah dadaku lapang mencerna gejolak yang ruwet seukuran imanku ini. Betapa bahagia dapat merasakan kenikmatan level awareness, kesadaran tentang mukmin sejati yang hidup dengan harapan dan kekhawatiran.

Jaring-jaring kesombongan memang selalu mengintai dibalik kesuksesan. Kegagalan, kelemahan, dan kekurangan adalah bukti yang membentengi kehambaan seseorang untuk memperkokoh eksistensinya sebagai manusia.

Parepare, Rajab 1433 H./ mei 2012 miladiyah.

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: