Demi Harkat, Para Orang Tua Mengungkung Putrinya dalam Kelajangan

2Oleh: Muhlis H. Pasakai

Kehidupan itu sungguh merenggut, meredupkan lentera kehidupan dengan kegarangan. Sungguh tersiksa, sayup-sayup suara sang putri disudut nestapa. Meteskan derai kesedihan dalam cengkeraman adat, materi dan kebangsawanan.

Dahulu ia ceria melambai, semangat merekah dengan pesona cintanya. Sang putri yang menancapkan angan sejatinya direngkuhan suami tercinta, tempatnya meluapkan tangis dan tawa. Gadis yang menatap masa depan selangit bersama keluarganya di jagat fana.

Sungguh malang, indahnya cinta seorang suami hanya dapat diintai dibalik kejamnya tirai kehormatan. Ya, kehormatan keluarga besar yang tunduk dibawah ketiak adat-istiadat, strata sosial, dan gengsi.

Para orang tua merasa kehilangan martabat ketika putrinya dinikahkan dengan orang yang lebih rendah status sosialnya. Para orang tua sedang mengidap sindrom membanggakan menantu. Para orang tua merasa “tak bermuka” jika putrinya tidak “dihargai” mahal, hingga perkawinan menjadi ajang unjuk kehormatan. Semakin berkelas mahar putrinya, semakin bangga ditengah masyarakat.

Tak terasa, koloni ini terus meluas, menguat, dan semakin kuat. Menghempaskan harmoni cinta dilubuk kegelapan. Sang putri dibalik diam, ingin berteriak: “aku ingin bersuami..!”, memekak nyaris dalam kematian, No Love No Life. Ia ingin berlari, sayang tak kuat. Ada yang nekat, hingga hamil diluar nikah, inilah jalan pintas. Inilah penjajahan sadis dibalik sebuah kebahagiaan palsu.

Banyak pemuda yang luhur berniat suci, tapi kandas oleh seribu rupa syarat. Para orang tua memasang harga dan kriteria elit untuk putrinya, tak peduli mereka sudah saling “mencintai”. Bagaimana tidak generasi ditimpa tsunami stress tingkat tinggi. Aksi asusila, pelecehan, dan kesemrawutan sosial dikalangan remaja boleh jadi ikut memberikan kontribusi besar didalamnya adalah persoalan ini.

Inilah potret kehidupan masyarakat. Sebuah ironi ditengah-tengah kemajuan zaman, akibat diaduk-aduk arus modernisme edan. Para orang tua sedang buta dengan silaunya perbendaharaan dunia, para orang tua sedang dikontrol oleh apa “kata orang”.

Wahai para orang tua, layaknya engkau dikala muda, putrimu juga demikian. Kebutuhannya akan suami bukan perkara biasa. Relakah engkau membiarkan putrimu menua hanya gara-gara calon suaminya yang bukan PNS, bukan ningrat, atau tak sanggup membayar mahar segunung?, padahal mereka sudah saling setuju, seia sekata.

Kita sedang tertipu oleh penjara berjeruji baja di Lembaga Pemasyarakatan, menganggap penderitaan kelas kakap para narapidana dikekang didalamnya. Sayang kita luput mengintip pembantaian dibalik penjara-penjara budaya dan sosial. Para orang tua sedang memenjarakan putrinya untuk menemui sang suami tercinta. Para orang tua sedang membantai perasaan cinta dan gairah feminin putrinya. Sementara itu, orang tua menjadikan putrinya barang dagangan untuk memenuhi perasaan gengsi dan bangganya ditengah masyarakat, tak peduli putrinya rela atau tidak. Inilah penjara yang lebih ganas menguliti kebahagiaan manusia. Para orang tua….bangun dan hayati..!

“Jika datang (melamar) kepadamu orang yang engkau senangi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan putrimu). Jika kamu tidak menerima (lamaran)-nya niscaya terjadi malapetaka di bumi dan kerusakan yang luas” (H.R. At-Turmidzi)

***

 Semoga tulisan ini menjadi penyambung lidah auman singa-singa putri dibalik kebisuannya.

Allahu Ta’ala A’lam..

Sinjai-tanah bugis, 1432 H./ 2011 Miladiy

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: