Kritik bersahaja, membendung arus berpikir pendewa akal

ImageOleh: Muhlis H. Pasakai

Menyikapi gairah intelektual ilmiah mahasiswa dimana tensi pemujaan terhadap akal semakin melejit menggiring animo mahasiswa khususnya mahasiswa baru, maka mendesak untuk segera mengantisipasi sebelum menjalar jauh menenggelamkan kedalam lumpur hitam pemikiran sesat. Tren pemikiran mahasiswa memang sedang mengalami masa puber, menggeliat mencari ruang untuk mengekspresikan identitasnya sebagai masyarakat ilmiah yang berbudaya.

Hiruk pikuk wacana diskursif berlagak logis ilmiah telah menciptakan akalisasi ditengah kebeliaan pemahaman. Propaganda memukau yang kontras ini memang sedang digandrungi, seakan-akan menjadi sebuah nilai yang mutlak bagi seorang pelajar calon cendekiawan muda, sehingga merasa tak elit jika tak ikut-ikutan dalam drama cetek tersebut.

Keistimewaan transenden akal selalu dihembuskan sebagai syarat dan ciri kemajuan, keilmiahan, dan kemapanan intelektual. Bagi seseorang yang berpikir rasional dan ilmiah harus dapat merujuk pada kaidah-kaidah berpikir yang dapat dibuktikan oleh akal. Jika tidak, maka cara berpikirnya akan disebut latah, ekstrem, dan ortodoks.

Merujuk pada berbagai keterangan dalil-dalil ilmu (pengetahuan) filsafat, akal telah ditempatkan sebagai acuan dalam memandang dan memutuskan segala sesuatu tak terkecuali hukum agama yang telah paten. Akal harus diberikan ruang seluas-luasnya dan sebebas-bebasnya jika ingin mengejar ketertinggalan dari negara-negara maju seperti di Amerika dan Eropa. Orang yang tidak dapat mengupgrade kebebasan berpikir dan daya kritisnya khususnya hal-hal yang berbau ketetapan agama (wahyu), tidak mencerna sesuai logika berpikir manusia maka dicap terkungkung dalam doktrin.

Gaya kecendekiawanan, intelek, dibumbui selebritas yang komunikatif telah menghipnotis hingga membuat teler kepayang khususnya generasi pelajar (mahasiswa).

Tulisan ini akan menyampaikan secara sederhana tentang keterbatasan akal manusia, dalam rangka untuk mengendalikan nafsu para pentolan ‘penyembah’ akal dan pengikut-pengikutnya dalam mengkampanyekan kesesatannya. Upaya ini agar dapat memantik justru kerasionalan mereka dalam memahami capaian klimaks akal yang selalu dielu-elukan tak terhingga. Bukan untuk menolak, tetapi menempatkan akal pada posisinya.

Akal, memang telah menimbulkan berbagai tinjauan tentang wujud (organ) dan letaknya secara zhahir/fisik maupun secara abstrak, baik menurut bahasa ataupun terminologinya, dari pandangan filsafat atau ilmu kalam. Terlepas dari hal tersebut, untuk memudahkan memahami tulisan ini, maka akal yang dimaksudkan penulis adalah akal yang sifatnya abstrak (bukan organ fisiknya) karena inilah area yang harus disterilkan.

Sekarang mari melihat lebih dekat.

Untuk sementara, penulis mengartikan akal sebagai sesuatu yang dapat memberikan respon aktif dari sebuah pengaruh. Kita buktikan pengertian ini dengan sebuah pertanyaan, kapankah sesuatu itu disebut berakal atau tidak?.

Coba simak, mengapa manusia disebut berakal?. Ketika seekor ayam mematuk biji-bijian untuk mengenyangkan perutnya, apakah ayam tersebut dapat disebut berakal?. Apakah binatang ternak yang berlari ketika diburu oleh pemangsa dapat disebut berakal?. Apakah alat elektronik yang mengerjakan tugas sesuai instruksi program dapat disebut memiliki akal?. Apakah daun yang melambai dihembus angin dapat disebut berakal?.

Manusia terkadang disebut berakal ketika mampu membedakan antara yang baik dengan yang buruk. Sementara itu, baik dan buruknya sesuatu berdasarkan kesepakatan yang biasa disebut norma atau aturan. Karena adanya subjek yang harus bersepakat untuk menentukan baik atau buruknya sesuatu, maka baik atau buruk itu tergantung subjek yang menyepakatinya sesuai kebutuhan, kepentingan dan latar belakangnya. Akhirnya, baik atau buruk itu dapat saja berbeda disetiap sekumpulan kesepakatan, apakah berbeda karena pengaruh demografi, sosiologis, politik, budaya atau identitas pembeda lainnya. Konflik horisontal sering terjadi diakibatkan oleh perbedaan ini.

Seekor ayam yang mematuk biji-bijian adalah bentuk respon setelah melihat (menginderai) adanya makanan, selera makan, kelaparan dan sebagainya. Ayam tersebut juga dapat disebut memiliki akal. Begitu juga dengan binatang yang menyelamatkan diri dari pemangsa merupakan bentuk respon setelah mengetahui keselamatannya terancam melalui penginderaan. Binatang tersebut juga dapat disebut memiliki akal. Alat elektronik yang bereaksi sesuai logika program setelah mendapatkan pengaruh juga dapat disebut memiliki akal. Lalu bagaimana dengan sehelai daun yang bergoyang setelah mendapat hembusan angin?. Daun tersebut tidak dapat disebut memiliki akal. Apa perbedaannya?, padahal sama-sama memberikan respon setelah mendapat pengaruh. Daun tersebut tidak dapat disebut memiliki akal sebab responnya adalah respon pasif. Betul ia terpengaruh dari adanya pengaruh, bergerak atau gugur, tapi dikendalikan sepenuhnya oleh yang mempengaruhi. Sementara contoh sebelumnya merespon dengan aktif. Ayam, binatang ternak, dan alat elektronik memiliki kemampuan kendali sendiri setelah mendapat pengaruh sesuai jenis pengaruhnya, tidak tergantung sepenuhnya pada pengaruh. Pertanyaan berikutnya adalah, bukankah alat elektronik juga merespon secara pasif, sebab ia bekerja sesuai program yang telah ditetapkan cara kerjanya oleh programmer. Alat elektronik bekerja dari pengaruh satu ke pengaruh berikutnya, sehingga rentetan respon yang dihasilkan pada dasarnya adalah pasif. Hal tersebut betul adanya, tetapi ia dapat bekerja tidak sesuai dengan intruksi, misalnya ketika mengalami kerusakan. Hal inilah yang membedakan dengan daun yang bergoyang dihembus angin. Alat elektronik dapat bekerja dengan benar sesuai instruksi, dan dapat juga bekerja tidak sesuai intruksi. Sementara daun pasti bekerja sesuai pengaruh yang didapatkan, tidak mungkin daun melambai berlawanan arah hembusan angin. Mungkin kita akan mengatakan, bisa saja, ketika lebih dari dua pengaruh, misalnya angin berhembus ke barat, tapi ada orang yang menariknya ke timur, berhubung pengaruh orang lebih besar maka daun tersebut bergoyang ke arah timur, itu artinya respon daun tersebut juga memungkinkan berlawanan dengan pengaruh. Jawabannya adalah berapa pun jumlah pengaruhnya, daun tersebut tetap tunduk pada pengaruh, yaitu pada pengaruh yang lebih dominan/kuat. Sebagai penegas, respon aktif yang dimaksud adalah adanya peluang untuk bekerja apakah sesuai pengaruh atau bekerja tidak sesuai pengaruh, dapat mengambil keputusan sendiri atau memiliki kemampuan untuk memilih.

Kesimpulan sementara, semua yang dianggap memiliki akal atau berakal, tidak secara otomatis benar, sebab disebut berakal karena adanya peluang untuk salah atau benar.

Sampai disini mungkin kita sudah puas dengan penjelasan diatas. Bahwa pada dasarnya sesuatu itu berakal ketika tidak tunduk sepenuhnya pada pengaruh, dan sesuatu itu tidak berakal ketika dikendalikan sepenuhnya oleh pengaruh, begitu juga berakal berarti bisa benar bisa salah sebab yang tidak berakal sudah tidak ada peluang salah atau benar. Tunggu dulu, sampai disini belum tuntas. Coba simak sekali lagi, dengan adanya contoh daun yang berlawan arah angin akibat pengaruh kedua yang dominan, maka dapat dikatakan bahwa segala sesuatunya berespon sesuai pengaruh yang paling dominan. Kemampuan memilih pada dasarnya juga merupakan ketundukan pada pengaruh yang paling dominan. Ayam, binatang ternak dan alat elektronik sebenarnya juga tunduk sepenuhnya pada pengaruh, tapi pada pengaruh yang dominan. Contohnya ketika kambing yang akan diterkam binatang buas, kambing tersebut akan lari setelah mendapat pengaruh pertama yaitu perasaan takut dan sebagainya, tapi jika ada pengaruh lain yang lebih dominan seperti kakinya lumpuh, maka responnya akan berlawanan dengan pengaruh awal, keputusannya untuk memilih tidak lari disebabkan oleh pengaruh kedua yang lebih dominan, artinya kendali untuk memilih juga tunduk pada pengaruh. Jika demikian berarti segala sesuatu sebenarnya tunduk pada pengaruh, jadi segala sesuatu juga dapat disebut tidak berakal. Tidak ada satupun di dunia ini yang berakal sebab semua berespon sesuai pengaruh yang paling dominan. Jika demikian, berakal tidak cukup diartikan sebagai kemampuan membedakan antara yang baik dengan yang buruk, atau yang benar dengan yang salah, sebab baik dan buruk itu hasil dari sebuah pengaruh. Untuk menyederhanakan, sekarang kita pisahkan terlebih dahulu antara benda mati dengan makhluk hidup, kita sebut saja sedang membahas berakalnya makhluk hidup, adapun benda mati berakal atau tidak, kita tidak ada urusan. Persoalan berikutnya adalah apakah orang tidur dapat disebut berakal berhubung ia adalah makhluk hidup?. Untuk sementara kita sebut saja berakal, berakal versi orang tidur. Lalu bagaimana dengan pernyataan bahwa orang disebut berakal ketika dapat membedakan antara yang benar dengan yang salah?, kita bawa dalam konteks manusia. Sebagaimana pembahasan paragraf ketiga sebelum ini, bahwa kebenaran menurut manusia ditentukan oleh sebuah kesepakatan. Sekarang persoalannya adalah bagaimana sebuah kesepakatan itu benar?. Kesepakatan itu benar atau salah tergantung kesepakatan lainnya. Misalnya ketika ada kesepakatan sebuah kelompok yang dianggap benar, tapi dianggap salah oleh kesepakatan kelompok lainnya, maka akan banyak klaim kebenaran, sehingga kebenaran sendiri menjadi relatif. Begitupula ketika ada kesepakatan yang dianggap benar, lalu dikemudian hari ada kesepakatan baru yang menyalahkannya, maka kesepakatan awal dimansukhkan atau dianulir oleh kesepakatan baru. Jika demikian, mungkin kita akan menyimpulkan bahwa benar dan salah tergantung dan dibatasi oleh waktu. Dua contoh ini menegaskan bahwa kebenaran yang lahir dari manusia diikat oleh ruang dan waktu. Hal ini sekaligus untuk membantah kaum liberal yang ingin menafsirkan aturan agama berdasarkan konteks zaman, jika aturan disesuaikan dengan zaman, maka manusia akan bersandar pada relativitas. Namun mungkin ada yang mengatakan bahwa sekalipun wahyu, maka untuk menyebutnya benar, juga butuh kesepakatan, buktinya bahwa sebenarnya orang Islam itu hanya sepakat bahwa yang benar itu Al Qur’an, karena faktanya kesepakatan orang kristiani dan yahudi berbeda. Jika orang Islam menyebut Al Qur’an tetap benar tanpa kesepakatan, maka orang yahudi dan nasrani juga mengatakan demikian terhadap kitabnya. Pada akhirnya kita dapat terjebak pada relativisme. Kita anggap saja bahwa kebenaran itu memang hasil kesepakatan yang relatif sebab tergantung orang yang memandang sebuah kebenaran itu. Sekarang kita bertanya, apa sumber kesepakatan itu?. Kesepakatan berasal dari sebuah stimulasi, misalnya orang bersepakat setelah didorong oleh kebutuhan. Oleh karena itu, kebenaran itu sendiri tidak dapat diukur berdasarkan kesepakatannya, tapi berdasarkan stimulan kesepakatan itu, apa yang menjadi sumber kesepakatan itu. Mungkin akan muncul pernyataan bahwa sumber-sumber yang dijadikan manusia bersepakat adalah pasti juga hasil kesepakatan, misalnya orang bersepakat bahwa ajaran agama itu benar karena bersumber dari wahyu, wahyu itu tertuang dalam Kitab Suci, sementara kebenaran wahyu dalam Kitab Suci itu sendiri adalah kesepakatan, karena faktanya ada yang tidak bersepakat tentang itu, artinya kesepakatan yang mutlak benar itu ketika tidak ada lagi kesepakatan lain, inilah lahan subur bagi para relativis. Wahyu yang terdapat dalam Kitab Suci disebut kesepakatan karena pembawa risalah agama yaitu Nabi dan Rasul itu ada juga yang tidak mengakui, sehingga agama yang dibawa oleh Rasul butuh pengakuan atau kesepakatan untuk meyakini kebenarannya. Pada kenyataannya, terjadi perbedaan kebenaran antara pemeluk agama yang satu dengan yang lainnya. Diluar itu terjadi juga perbedaan antara yang meyakini adanya agama dengan yang tidak. Lalu untuk membuktikan kebenaran masing-masing, dilakukanlah pembuktian melalui fakta-fakta ilmiah maupun timbangan teori-teori kebenaran yang ada semisal teori kebenaran filsafat. Sampai disitu ternyata apa yang bisa dibuktikan sangat terbatas setelah masuk pada perkara ghaib. Mereka hanya mendiskusikan apa yang dapat dicerna secara bersama. Inilah bukti bahwa akal memiliki wilayah kerja yang terbatas. (Penjelasan tentang perbedaan kebenaran diantara pemeluk agama dan orang yang tidak meyakini agama tidak diulas dalam tulisan ini, silahkan dilihat di debat-debat terbuka antar pemeluk agama atau antar pemahaman, aliran dan sekte-sekte).

Kita tiba pada pokok pesan: akal hanyalah sarana yang terbatas, dibatasi oleh akal itu sendiri. Wilayah jangkauan akal berapa pun luasnya, jangkauannya pasti akan kembali pada pengakuan akal yang menjangkau itu sendiri. Contoh, anggaplah orang mengatakan pikirannya tak dapat dibatasi oleh ruang, maka pikirannya sendiri yang menyimpulkan pernyataan itu. Itu contoh pertama. Sekarang kita lihat contoh lain, tentang apakah binatang berakal atau tidak, hanya dapat disimpulkan oleh akal diluar akal binatang itu. Sehebat-hebatnya manusia mencoba mendekati cara berakalnya hewan, tidak akan pernah manusia berakal hewan. Manusia hanya mempelajari ciri-ciri dan gerak-geriknya. Kepastiannya bahwa manusia tidak pernah memandang, mengunyah, memikirkan menggunakan akal hewan. Manusia hanya menggunakan akal manusia untuk mengatakan hewan berakal begini dan begitu. Begitupula orang yang selalu menyebut-nyebut perbedaan berakalnya manusia dengan berakalnya hewan, hanya menggunakan akal dan penginderaannya sendiri pada objek atau hewan tersebut untuk kemudian kembali pada akalnya sendiri lalu menyimpulkan perbedaan akal hewan dengan manusia seperti ini dan seperti itu, tapi ia tidak pernah berakal hewan dahulu lalu kembali berakal manusia. Seandainya pun ia menjadi hewan, ketika kembali menjadi manusia, pasti yang diingat adalah sebelum dan setelah menjadi hewan, ia pasti lupa ketika menjadi hewan, sebab ketika mengingatnya ia sedang berakal manusia. Begitupula seandainya ketika ia berakal hewan, perbedaan akalnya dengan sebelum menjadi hewan yaitu manusia juga tidak dapat diketahui, sebab ia sedang berakal hewan pada saat itu.

Contoh terakhir, pernyataan ‘akal adalah Tuhan’, sebab orang yang tidak berakal tidak mengenal Tuhan, buktinya orang gila tidak mengenal Tuhan. Sehebat-hebatnya orang yang mengatakan demikian, pasti orang tersebut menyimpulkan berdasarkan akalnya sendiri. Sekalipun ia pernah gila, dan pada saat ia mengungkapkan pernyataannya ia mengaku sudah tidak gila (sadar), dan mengingat persis ketika gila tidak mengenal Tuhan. Hal itu justru semakin menjadi bukti terbatasnya akal manusia, sebab ia hanya mengingat sebelum dan setelah lupa, tapi ia pasti lupa waktu lupa, sehingga tidak tau persis kondisi akalnya waktu lupa itu (waktu gilanya dahulu). Ia hanya menyimpulkan demikian sekarang karena tidak nyambungnya antara ia dengan orang gila tersebut, dalam berkomunikasi, dalam berperilaku, dan sebagainya, walaupun beberapa hal masih sama, mungkin anatomi tubuhnya, cara jalan atau yang lainnya. Orang yang sadar seperti kita mungkin saja disebut gila menurut versi akal para orang gila. Contoh ini sama seperti orang yang tidur, ia hanya ingat sebelum dan setelah lupanya ketika tidur, tapi pasti lupa pada saat lupanya ketika tidur. Yang paling sederhana, coba kita tanyakan pada orang, kapan anda ingat pada saat lupa?, atau kapan anda lupa pada saat ingat?.

Sampai disini menulis sudah merasa cukup untuk menyajikan keterbatasan akal manusia. Tersisa 2 perkara. Yang pertama, apakah kebenaran itu relatif?, untuk disebut sebagai sebuah kebenaran, kebenaran itu butuh ukuran dan acuan. Relativisme sendiri tidak dapat dijadikan acuan sebab sebagaimana pemahamannya, maka relativisme itu sendiri relatif. Jika kebenaran diukur dengan relativisme maka kebenaran itu sendiri tidak ada. Nah, apabila yang dimaksud relatif adalah bahwa sebuah kebenaran berdasarkan acuan tertentu, ada yang menerima dan ada yang tidak menerima, maka pengertian itu dapat diterima. Namun jika yang dimaksudkan adalah bahwa kebenaran yang telah memiliki ukuran dan acuan, relatif berdasarkan ukuran dan acuannya itu, maka ini tidak dapat diterima. Pada dasarnya orang yang berpemahaman relativisme dikhianati oleh pemahamannya sendiri, sebab kebenaran menurut versinya, salah menurut versinya sendiri. Yang kedua, kapan sesuatu itu disebut berakal?, setiap sesuatu berakal sesuai versinya. Manusia berakal sesuai versi manusia berakal. Kapan manusia disebut berakal?, berakalnya manusia tergantung pada yang menyebutnya berakal. Jika orang yang menyebut manusia itu berakal jika tidak memakan makanan basi, maka manusia yang tidak memakan makanan basi adalah berakal menurutnya. Jika agama menyebut manusia berakal jika tunduk pada aturan agama, maka manusia yang membangkang disebut tidak berakal. Sekarang tinggal manusia itu mau disebut berakal oleh siapa.

***

Penulis tidak menggunakan sudut pandang agama tertentu agar dapat dipahami secara universal. Tulisan ini murni hasil telaah pemikiran penulis tanpa menggunakan referensi khusus. Jika terdapat kekeliruan didalamnya dapat didiskusikan.

Semoga bermanfaat.

Allohu A’lam Bisshowab.

Penulis adalah Sekretaris KPU-KEMA STMIK Handayani Makassar

Makassar, 2009

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: