Memoar angkatan LX, Akta IV UMPAR

Oleh: Muhlis H. Pasakai

Image

Dikelas itu dulu , kita memintal sayap, untuk mengepakkan di langit masa depan…

Satu caturwulan kita lalui, melukis angan di kedalaman mimpi…

Mengurai asa diruang panas si tembok putih, hiasan dinding AC bisu…

Ahad, 11 Maret 2012…

Hari terakhir menabuh guratan apik tinta pena di medan ujian…

Pengantar Pendidikan, Telaah Kurikulum, Perkembangan Peserta Didik …

Lembar soal penyapa pamit yang segera melintas memisah kita…

Bening-bening embun menari sepanjang waktu…

Diatas daun kekariban…

Ditengah hembusan rupa sikap…

Ada yang menetes …

Ada yang terjaga …

Menaruh tapak langkah dianjang angan…

Ada laku yang mencipta riang…

Ada perangai yang kasap menyentuh rasa…

Semua jadi bingkisan…

Untuk ditawa atau ditangis…

Sahabat…jangan menyisakan sedan untuk dikenang…

Sebab banyak putri tawa riang disana…

Biarkan senyum sekali, mengubur seribu berang…

Biarkan sejuta luka, ditambal sehelai tawa…

Itulah kebersamaan…

Sahabat..jangan hentikan asa ini…

Perjalanan kita masih panjang…

Seribu satu aral kian menanti…

Menabrak keras sebuah pembuktian…

Kehidupan seorang perantau…

Dibumi sesak masalah…

Sahabat…

Dunia terus berjalan meninggalkan kita…

Kematian terus berlari menjemput kita…

Jika keakraban masih ada dihatimu…

Jika aku masih sahabatmu…

Ingin kutitip sebuah pesan…

Hidup…memang tak cukup kata-kata…

Seperti menuang ide dalam naskah…

Hidup…sedang menyeleksi…

Para pendekar sejati, penggenggam bara api…

Mereka yang menggigit keras, hingga hancur berkeping…

Atau gugur berkalang khianat, para pecundang bermuka dua…

Kawan….sebelum kita berpisah…

Berpisah meninggalkan alam fana…

Aku takut…….

Takut akan kesetiaanku…

Kesetiaan paripurna, yang kupersembahkan untuk semua…

Kesetiaan seorang sahabat sejati…

Sahabat sejati…iya, sahabat sejati…

Yang cintanya jauuuh melompati spektrum ruang dan waktu…

Dan…itulah…karena aku telah menemuimu…

Aku takut atas pertemuan itu…

Hingga kalian akan membebaniku…

Kelak dinegeri kepastian…

Jika tak kutitip pesan ini…

Sebelum semua berakhir…

Izinkan setiaku menyambut…

Menyapamu dengan teduh nan semampai…

Sahabat…

Aku ingin mencintai kalian…

Sebelum dunia luluh lantak ditelan kiamat…

Atau jasad kaku direnggut kematian…

Sekali kita ber’azzam…

Pantang kita menyerah…

Untuk tunduk dan patuh pada zaman…

Zaman penjajahan super elit…

Kawaaaaan….

Hari ini kita sedang dijajah…

Oleh kolonial pemikiran dan budaya…

Kita akan dihempaskan pada cadasnya karang ditepi kehinaan…

Hingga remuk berantakan di lembah ‘azab…

Jangan jauuuhh melihat perang…

Sahabat…disini…

Disini…lebih dekat lagi….

Kita kawan…

Tak terasa parasit telah mengekang kesuburan kita…

Kita telah lalai dari lima waktu…

Lisan kita kering dari lafaz-lafaz suci…

Akal kita tumpul dari dalil-dalil…

Katanya kuno dan terkungkung…

Cukup…cukup kawan…

Hentikan…

Kita tabuh genderang perang…

Hingga tubuh berlumuran bakti…

Ksatria pembela naqli…

Inilah pesan setiaku…

Yang kutitip dipundakmu…

Jangan khianati kawan…

Jangan menyerah walau pahit…

Karena kita adalah petarung-petarung zaman dinegeri asing…

Parepare, Rabi’ at Tsani 1433 H./ maret 2012 miladiyah.

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: