Untuk Sahabatku di Ponder (Versi Esai)

Ponder

Oleh: Uban Pamungkas al Muhlis

Masih terngiang kenangan di Pondok itu. Beberapa tahun yang lalu. Dari gelak tawa hingga tangis sedu. Dari belas kasih hingga baku hantam. Ada teh sisri, yang bikin tenggorokan manis hingga keesokan harinya. Nutri sari yang menjadi andalan Djemba-djemba, teh gelas, atau extra joss susu. Langganan ‘tusuk-tusuk‘/bakso tusuk tiap sore. Mas pendek jadi pelarian jika Keso tak datang, atau pangsit diseberang jalan pada malam hari, atau nasi kuning jika malam hampir subuh, atau nasi bungkus versi 5000 di sore hari. Mas Her sang ketua Ponder, yang rajin bereksperimen dengan anti virus, kerjanya online, dan tak menghiraukan keributan. Nugi tukang beli es batu dan memasak, berambut geribo dan body gempal, kerjanya tidur melulu sampai tubuhnya selalu dikhawatirkan akan meledak. Djemba-djemba instruktur program, alergi makanan pedas, sekali-kali turun derajatnya jika mengganti tugas Nugi membeli es batu, dan sangat waspada terhadap penyakit turun berok, sehingga selalu sedia jaket besarnya bersablon PERSIPARE. Sangkala, Anelkanya Ponder, sang pengkhianat (sekedar gelar), dikenang dengan pisang kipasnya, dan si tukang booking lapangan. Burung, si jangkung yang mengandalkan Drogba, sayang tak lihai memakai stick, penghuni sekaligus pengurus HIPMI cabang Kulo yang bermotto dari dulu sampai kiamat. Molonk, sang komando HMTI, kerjanya download film dan bikin situs unduh film. Kotak Amal yang makannya sangat lambat, tukang servis laptop, dan hobi badminton. Uban, musuh besarnya Kotak Amal, tukang demo yang mengandalkan sepatu pemotong rumputnya. Asrul, pakarnya sality, punya konsep ‘system’, dan biasa dipanggil Baddu atau Langgo. Bondeng, si nahkoda Jupiter merah, putra asli Makassar yang jadi tempat bertanya tempat-tempat di Kota Makassar. Andi, paling pendek dan paling kecil, tapi paling cepat mengakhiri masa lajangnya. Mas Bur, punggawa nautika bertaraf internasional, sang penantang yang tak pernah jawara. Iccung, anak pesantren yang takut pada hantu. Terkadang juga datang Mustaming, dewa tidur yang menderita kanker rahim, Hahahaaa……..

Rasanya tak muat halaman ini untuk melukiskan pernak-pernik cerita di Pondok Derita (Ponder). Pondok reok berdinding tripleks ini memang menyimpan banyak kisah. Lelucon dan plesetan tak pernah habis disana. Yang serius bisa jadi guyonan. Yang punya masalah, stress, depresi, patah hati, atau hipertensi akan segera pulih jika bertemu para ponderer. Pandai menghujat, menghina, hingga basa-basi yang tak kunjung usai. Episode pembantaian selalu jadi headline, siapapun jadi sorotan, ia akan dikuliti. Meskipun demikian, para ponderer bukanlah manusia super yang tak ada masalah, yang tak bisa serius, atau tak punya prinsip dan idealisme. Hanya saja, para ponderer menghadapi kerasnya metropolitan dengan ritme jenaka, canda dan humor. Semua beban dapat disulap jadi kocak.

Sekilas, para ponderer adalah orang yang hidupnya santai, hanya bersenang-senang, dan tak memikirkan masa depan. Tidaklah demikian, prestasi dan karya dari tangan-tangan mereka tak dapat dipandang sebelah mata. Disana ada yang selalu bergelut dengan listing program, banyak mengerjakan program skripsi dan proyek pemrograman lainnya. Aktivisnya juga tak kalah, disana ada ketua himpunan jurusan, bahkan ada ketua lembaga legislatif dikampus. Orator demonstrannya bahkan sempat nampang dibeberapa stasiun televisi. Ada yang perhatian pada perangkat keras, ada yang terlatih menulis, dan banyak yang tangkas dalam berbagai hal. Kekompakan merajut dalam jaring kebersamaan. Bukan senasib yang menyatukan mereka, orang berada juga ada disana, tapi nama Ponderlah yang membangun hubungan emosional mereka, dalam bingkai satu rasa, dibawah atap Pondok Derita. Bukan pondok mewah, apartemen, atau kontrakan berkelas. Di gubuk tua itu, mungkin tak ada yang istimewa, tayangan televisinya tak karu-karuan, kipas anginnya sempoyongan, atapnya mulai bocor, terkadang gerah, dindingnya kerakan, alas papan yang rapuh dan berlobang, peralatan makan tak terurus, air yang kadang macet, dan listrik yang latto-latto. Itulah Ponder, persis seperti namanya, Pondok Derita.   

Kawan..dahulu kita pernah bersama disana. Segudang kisah telah kita tumpahkan. Kini tersisa bercak-bercak kenangan yang akan mengiringi perjalanan kita selanjutnya. Rasanya begitu bahagia mendengar kesuksesan kalian. Sungguh terharu, ibarat keluarga yang berpisah, merindukan masa-masa kebersamaan itu kembali. Etape selanjutnya, tentu perjalanan kita berbeda.

Setelah kita meninggalkan ponder, renjisan sisa-sisa keriuhan masih dapat kita temukan disana. Kita masih sering bersama, tertawa mengenang masa lalu, dan berbagi pengalaman baru. Iya, itu dulu, saat ade-ade kita masih mewarisi Ponder, kehangatannya masih segar untuk dijamah. Setiap ada momen berkumpul, Ponder masih begitu ramah menyapa kehadiran kita. Tapi kini, Ponder betul-betul hanya menyisakan nama untuk kita. Masa kontrak kampus yang telah memasuki masa tenggat, memaksa pihak yayasan untuk mencari gedung baru. Alhasil, lokasi kampus baru yang jauh dari kampus semula mengharuskan para mahasiswa berpikir cermat untuk mencari kontrakan baru yang tak jauh dari kampus. Ponder yang dahulu menjadi markas kegaduhan, kini jauh dari keriangan para ponderer. Selamat tinggal Ponder, kini penghunimu tak akrab lagi dengan kami. Kami tak mungkin lagi ribut disana sebagaimana dahulu, tapi energimu akan terus mengalirkan resonansi nostalgia sebagai bagian dari sejarah kami. Kami akan selalu mengenangmu.

Penghujung tahun 2012, waktu yang telah lama dinanti. Para ponderer akan kembali menyegarkan riwayat lama. Hajatan berkumpul dan saling menghujat itu akan kembali digelar. Perhelatan itu akan menjadi pesta penggemburan solidaritas.

Bertepatan malam pergantian tahun baru, berkumpullah para ponderer. Dari Kabupaten Barru, Sinjai, Masamba, Sidrap, hingga yang baru saja tiba dari Berau menyatu di malam gegap gempita itu. Suasana kekariban malam itu rasanya tak seindah dahulu, Ponder tak kan pernah tergantikan.

Dalam rangka menghadiri seminar pendidikan di Universitas Negeri Makassar, kerinduanku untuk bertemu sahabat-sahabat ponder sekaligus terjawab melalui pesan singkat yang telah kuterima beberapa hari sebelumnya.

Sahabat…!

Pondok itu rasanya asing, tapi disitulah kita berkumpul, tertawa, berbagi, dan saling melepas rindu. Alangkah merekahnya malam itu. Kebahagiaan tersirat diwajah-wajah kita. Aku tak dapat menyembunyikan kerinduanku kepada kalian, tapi direlung-relung hatiku menetes sedih yang sangat. Aku serius kawan, air mataku memang tak tumpah malam itu, tapi hatiku memekik sesedu-sedunya, . Sungguh aku tak kuat menahan sedih, itulah kenapa hingga kutinggalkan kalian lebih awal. Betapa tidak, kalian adalah saudaraku, susah sedih telah kita lewati bersama. Lalu beginikah nilai persahabatan yang kita anggap sejati?. Sahabat..aku ingin mencintai kalian seperti menyayangi diriku sendiri, sebagaimana pesan Nabi kita, “Tidak beriman seseorang dari kalian hingga dia mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri.”(HR. Bukhari-Muslim dari Anas r.a.). Tahukah kalian mengapa aku bersedih?, pernahkah kita bayangkan jika keakraban yang sudah begitu kental diantara kita, tiba-tiba dinodai dengan perseteruan yang sengit, saling menyalahkan, saling menuduh, dan menghancurkan sendi-sendi kekariban yang telah kita bina sekian lama?. Bagaimana mungkin?,  mungkin itu yang kita pikirkan. Jawabannya bukan mungkin kawan, tapi bisa menjadi pasti. Iya, itu pasti akan terjadi jika kita termasuk dalam ayat ini: “Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain….”(QS. Az-Zukhruf: 67). Hari kiamat kawan, the last day of the world yang pasti akan terjadi, disitulah kita akan saling bermusuhan sejadi-jadinya, saling menuduh dan saling menyalahkan, jika….

Jika persahabatan kita ini adalah persahabatan yang saling melalaikan.

Malam ini…termasuk yang disebutkan pada kalimat diatas. Malam dimana kita mengantarkan pergantian tahun baru. Kita ikut memanfaatkan rangkaian perayaan ibadah ummat lain itu untuk berkumpul. Apapun namanya kawan, kita telah bermalam tahun baru. Inilah yang disebut Nabi kita bertasyabbuh alias ikut-ikutan, Man tasyabbaha biqoumin, fahuwa minhum: barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka (HR Abu Daud, dan At-Thabrani). Sekalipun ada yang menghalalkan dengan argumentasi bahwa perayaan malam tahun baru masehi tidak selalu terkait dengan ritual agama tertentu, namun setidaknya kita pahami bahwa  perayaan malam tahun baru pada hakikatnya adalah ritual peribadatan para pemeluk agama bangsa-bangsa di Eropa, baik yang nasrani ataupun agama lainnya. Selain itu, perayaan malam tahun baru penuh dengan maksiat, dimana kebanyakan orang-orang merayakan malam tahun baru dengan minum minuman keras, berzina, tertawa, hura-hura dan bergadang semalam suntuk untuk menghabiskan waktu dengan sia-sia. Perayaan malam tahun baru juga adalah perkara yang tidak dibawa oleh Nabi kita. Masih banyak persoalan yang jelas-jelas dituntunkan Nabi kita yang belum dapat kita laksanakan, lalu mengapa kita mesti mencari-cari hal-hal baru yang tidak dituntun.

Aku tahu, yang bersama kita ada non muslim. Tapi sahabat..toleransi kita terhadapnya bukan dalam bentuk mengikuti rangkaian ibadahnya, sebab kita harus paham baik-baik bahwa toleransi itu bukan dalam urusan yang didalamnya ada unsur ‘ibadah dan syiar pengakuan akan keyakinan mereka. Masih banyak kebaikan-kebaikan yang dapat kita berikan kepadanya tanpa harus masuk dalam perkara ‘ibadahnya. Ini sebuah konsistensi identitas kawan, sekali kita muslim, pantang untuk menjadi abu-abu.

Sahabat, sebenarnya sejak dahulu aku tak pernah ridho dengan pesta-pesta bermotif tasyabbuh ini, apalagi pada tahun 2009 saat aku menahkodai Lembaga Da’wah Kampus. Tapi lisanku pengecut, belum dapat mengeluarkan kata-kata lugas, melainkan metafora atau sindiran halus yang sangat moderat. Hari ini, jika lisanku kembali bungkam, alangkah brengseknya aku sebagai sahabat setia.

Sahabat…relakah kita saling menyalahkan kelak, marah dan mimik geram untuk saling membantai?, dimana lagi keindahan yang dahulu kita semai?, saat kita bermain futsal, berlibur ke Pangkep, dan seterusnya.

Sungguh indah melepas kerinduan kita, jika kembali berkumpul dalam suasana haru, tapi bukan lagi dalam rangka malam pergantian tahun baru. Aku tunggu reuni itu kawan. Insyaa Allah.

Sahabat…semoga tulisan ini akan meretas kegelapan batin di tengah kolonialisme perspektif.

Makassar, akhir tahun 2012

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

4 Responses to Untuk Sahabatku di Ponder (Versi Esai)

  1. Yahya says:

    saya terharu dengan tulisan ini saudaraku….. Insya Allah aku akan berusaha mempertemukan kita semua kembali di momen yang lebih afdal

  2. mahfudaska says:

    Ponder never dead kawan…
    Selalu ada di hati kami smua
    Smua ada di sana di pondok derita kita. Tangis. Tawa. Suka n duka.
    Tak akan pernah terlupakan.
    Inilah kami para jiwa penghuni ponder.
    Jiwa yg lemah. Tp slalu brsama memberikan pelngkap dari stiap kekurangan kami.
    Psti ada masa di mana smua akan brkumpul dan mngenang masa indah di ponder. Insya Allah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: