“Tidak ilmiah” memecah kebuntuan, evaluasi bagi para tukang tanya

Oleh: Muhlis H. Pasakai

images (1)Hari itu suhu ruang kuliah akan kembali gerah, topik-topik diskusi kembali digulirkan. Para sarjana dari berbagai disiplin ilmu akan beradu kecerdasan dan wawasan. Para penyaji materi akan menghadapi tekanan-tekanan intelektual dan mental dari vokalis-vokalis kritis.

Didepan telah duduk para pemateri yang akan memaparkan makalahnya, mata kuliah “Perkembangan Peserta Didik”. Sesi pertama berjalan lancar, para peserta menyimak materi yang disajikan dengan seksama.

Memasuki sesi tanya jawab, ruang kuliah mulai pengap dengan suara penanya. Berbagai komentar dan tanggapan bermunculan dari para peserta diskusi. Adu argumentasi tak terhindarkan, pembantaian pendapat pun tak terelakkan.

Disini, suasana seperti itu biasa. Setiap ruang diskusi yang terbuka, perbedaan dan egoisme menjadi barang yang sensitif. Kendati alot dan panas, diskusi ini hanya menunggu penyelesaian diujung jarum jam dan terkadang nyeleneh.

Puncaknya tatkala seorang peserta diskusi bertanya tentang perkembangan fisik manusia yang mengalami perbedaan disetiap fase pertumbuhan, penanya menyebutkan bagian fisik wanita (mohon maaf -payudara-) yang setelah mencapai usia tertentu tidak lagi tumbuh sebagaimana intensitas pertumbuhan sebelumnya. Ia meminta penjelasan tentang hal-hal yang dapat mempengaruhi laju tidaknya intensitas pertumbuhan itu, dan mengapa hal tersebut dapat terjadi.

Pemateri menjajaki setiap halaman buku dan makalahnya untuk mencari jawaban dari pertanyaan yang diajukan. Alhasil, dengan bantuan rekan-rekan kelompoknya, berbagai pengaruh sebagaimana maksud pertanyaan dapat disampaikan, dari aspek psikologis, biologis, maupun sosiologis.

Penanya mengomentari dengan berbagai statemen yang menggambarkan ketidakpuasannya terhadap jawaban yang diberikan. Tampaknya penanya menuntut jawaban yang sangat presisi, entah karena keinginannya untuk dibuktikan secara ilmiah layaknya proses melelehnya lilin atau sekedar ingin membingungkan. Hal ini membuat suasana berpikir manjadi kacau diruang itu.

Walaupun telah dijawab sesuai literatur yang digunakan pemateri, pertanyaan ini nampaknya berkembang hingga melahirkan berbagai pernyataan yang mengarah pada kebingungan tingkat tinggi (high level confusion).

Disatu sisi, penjelasan pemateri pada dasarnya telah sesuai berdasarkan literatur dan referensi yang memadai. Sementara disisi yang lain, sikap kritis dan ‘ilmiah mahasiswa sepertinya sedang menggerogoti pemikiran untuk menuntut jawaban super ideal nan empirik.

Walaupun awalnya sikap kritis dipoles dengan sedikit kelakar, selanjutnya seakan-akan menjadi maklumat yang mengaduk-aduk kejernihan berpikir para audiens termasuk dosen pengampu. Kebimbangan berpikir sedang menimpa para intelektual muda ini.

Para mahasiswa lulusan berbagai kampus ini nampaknya sedang terprovokasi pada permainan cara berpikir yang kalut. Mereka pun digiring oleh atmosfir berpikir yang super objektif, sehingga pertanyaan yang mulanya sederhana, dirumit-rumitkan.

Pemaparan dengan referensi yang ada sebenarnya telah memberikan jawaban sesuai kaidah-kaidah ilmu pengetahuan, tetapi seperti itulah terkadang keserakahan intelektual dan cita rasa gurauan menuntut berbagai jawaban menjadi mengada-ada.

Situasi ini terus bergulir hingga seorang peserta diskusi menawarkan sebuah jawaban, dengan tetap mempertahakankan gaya bahasa kedaerahannya. “Begini saudara…ini saya punya jawaban. Tapi tidak ilmiahji ini” Ungkapnya disertai nada senyum. Ia kemudian melengkapi jawabannya, “Coba dibayangkan, kalau perkembangan ini sampai diusia seperti ini tidak berhenti, kira-kira apa yang akan terjadi?. Sedangkan begini saja sudah hebatmi besarnya.”. Para peserta diskusi menyambut dengan gelak tawa sembari mengiyakan. Jawaban ini sekaligus memaksa para audiens untuk mengubur sikap keserakahan ilmiahnya, setelah dibantah oleh pernyataan yang konon “tidak ilmiah”.

***

Beginilah potret ruang kuliah mahasiswa, kampus para cendekiawan muda akan ditetaskan. Mereka bergulir dengan wacana logika, ilmiah, filsafat, retorika dan berbagai embel-embel yang menjadi ciri khas sebagai pelajar, aktivis, dan agen pembaharu. Sayangnya, derasnya arus gelanggang berpikir ilmiah ini terkadang menyeret ke lembah kekufuran.

Inilah salah satu wajah tensi pergulatan berperisai ilmiah dikalangan pelajar bermartabat “maha” ini.

Pertanyaan-pertanyaan terkadang merupakan wajah lain dari sebuah penolakan.”

Akhirnya, pada kesimpulannya ‘ilmiah tidak ‘ilmiah hanya dibatasi oleh waktu. Sesuatu disebut ‘ilmiah karena pada saat itu dianggap memenuhi kaidah-kaidah ilmu pengetahuan yang sudah sampai/ diketahui. Diwaktu yang lain, jika pengetahuan manusia bertambah/ berubah, kondisi yang disebut ‘ilmiah sejak awal dapat digugurkan. Dengan demikian, kondisi ‘ilmiah dalam hal seperti ini tidak dapat menjadi pegangan/ acuan mutlak manusia. Jika manusia mengandalkan kemampuan intelektual untuk melakukan pembuktian ‘ilmiah yang diseret ke dalam persoalan keyakinan, maka lunturlah nilai keyakinan tersebut sebab ia dinamis oleh waktu. Oleh karena itu, manusia butuh pegangan yang tidak mempan digerus oleh waktu (Nash-Nash Agama).

***

Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.” Mereka berkata: “Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?” Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil.

Mereka menjawab: ” Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami; sapi betina apakah itu.” Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.

Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya.” Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya.

Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu).”

Musa berkata: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya.” Mereka berkata: “Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya.” Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu. (Al Baqoroh :67-71)

***

Diwayatkan dari Abu Hurairah r.a., dari Rasulullah saw. bersabda,“Tinggalkanlah sesuatu yang tidak aku anjurkan kepada kamu. Karena sesungguhnya kebinasaan umat terdahulu ialah karena mereka banyak bertanya dan selalu menyelisihi Nabi mereka. Jadi, apabila aku perintahkan sesuatu kepada kamu, maka lakukanlah semampu kamu. Dan apabila aku melarang kamu dari sesuatu, maka ditinggalkanlah!” (HR Bukhari [7288] dan Muslim [1337]).

Diriwayatkan dari al-Mughirah bin Syu’bah r.a., dari Rasulullah saw. Bersabda,“Sesungguhnya, Allah telah mengharamkan atas kalian durhaka terhadap ibu bapak, [1] mengubur hidup-hidup (membunuh) anak perempuan, [2] menahan harta sendiri dan terus meminta kepada orang lain.[3] Dan Allah membenci atas kamu tiga perkara; Qiila wa qaala[4], banyak bertanya [5], dan membuang-buang harta,[6] ” (HR Bukhari [1477] dan Muslim [1715]).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, “Rasulullah saw. Bersabda,‘Sesungguhnya, Allah meridhai tiga perkara atas kalian dan membenci tiga perkara. Allah ridha kalian hanya menyembah-Nya semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu yang lain, berpegang dengan tali Allah dan tidak bercerai-berai.[7] Dan ia membenci qiila wa qaala, banyak bertanya dan membuang-buang harta’.”(HR Muslim [1715]).

Parepare, Rajab 1433 H./ Mei 2012 Miladiyah

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: