Dua Pallipa

imagesOleh: Muhlis H. Pasakai

Mungkin judul ini agak unik, tapi ini adalah sejarah yang sulit untuk dilupakan. Iya, kisah perjuangan mahasiswa dalam menyelesaikan studinya.

Dahulu aku sering membaca, tentang orang-orang yang tidur beralaskan koran. Seperti dalam dongeng, walaupun dimuat dalam berita. Sekarang bukan lagi, sebab itu kualami.

Kuliah, meninggalkan kampung halaman, orang tua dan keluarga. Ada yang memilih untuk menumpang dirumah keluarga, ada juga yang tinggal di asrama, namun lebih banyak yang memutuskan untuk ngontrak atau kost. Tinggal dirumah kost memang terkadang lebih simpel, bebas dan tidak merepotkan. Meskipun demikian, sisi negatifnya cukup dipertimbangkan kebanyakan orang tua, apalagi dirumah kontrakan yang tidak memiliki aturan bertamu, bapak/ibu kost yang tidak tegas dan disiplin. Untuk itu, banyak pengelola rumah kontrakan mengkhususkan pondok untuk putri begitupula putra, sehingga mereka mudah dikontrol dalam pergaulan. Bagaimanapun modelnya, yang penting pada saat tinggal dirumah kost adalah duit. Semakin mahal tarifnya, semakin mewah tempat dan fasilitasnya. Semua ini, bagi mahasiswa yang orang tuanya serba berkecukupan. Untuk seukuran keluargaku, sangat berhitung untuk mengeluarkan biaya kamar kontrakan sebab biaya kuliah saja sangat berhemat. Oleh karena itu, menumpang pada keluarga adalah solusinya. Meskipun awalnya terasa berat, pilihan itu terpaksa kutempuh. Selain terasa terbebani untuk terus menumpang, jarak yang cukup jauh dari kampus menjadi kendala tersendiri bagi saya. Biaya transportasi jika dihitung-hitung terus membengkak. Akhirnya aku harus berjalan kaki setiap hari dengan jarak tempuh satu kilometer lebih.

Keputusan Musyawarah Besar yang dilaksanakan oleh HMJ memasukkan nama saya sebagai salah satu pengurus untuk Periode 2008/2009. Untuk selanjutnya, pengurus akan menunjuk penghuni wisma organisasi. Berhubung karena kepanitiaan MUBES ini terdiri dari saya sendiri selaku sekretaris, maka ketua dan sekretaris panitialah yang dipercayakan menghuni wisma organisasi tersebut.

Sejak tahun ini, aku tak direpotkan lagi dengan perjalanan ke kampus dan keseganan menumpang di rumah keluarga. Hanya saja di tempat ini sangat sederhana, kami berdua hidup seakan tak beraturan. Ramai, dan hampir tak ada milik pribadi. Dari kendaraan hingga sabun mandi seakan menjadi milik bersama dengan penghuni wisma di organisasi-organisasi tetangga, makanan apalagi. Makan tak teratur, tidur pun serampangan. Awalnya memang terasa asing, tapi lama-lama asyik juga. Walaupun tidur beralas koran, fisik tak kekar, dan makan seadanya, tapi kami selalu tertawa, ngumpul berbagi, dan beragam aktivitas di sore hari. Dari tempat inilah aku ditempa untuk dapat hidup, walau tak senormal biasanya.

Aku berdua dikamar ini. Memang banyak perbedaan diantara kami. Dari asal daerah, hingga pandangan-pandangan tertentu. Tapi kami memiliki kesamaan yang unik, yaitu kegemaran memakai sarung. Inilah pemandangan berbeda yang tak pernah ada dalam sepanjang sejarah penghuni wisma. Tak tanggung-tanggung, sampai menjelang jadwal kuliah tiba, kami terkadang masih akrab dengan sarung tersebut. Begitupula jam kuliah usai, tak jarang kami langsung berpose dengan busana kampung itu. Kami bahkan pernah mendapat teguran dari senior. Mungkin karena tidak menampilkan citra seorang mahasiswa yang rapi dan disiplin. Entahlah, tapi yang pasti kami merasa nyaman dengan balutan sarung ini. Prestasi?, kami tak mau kalah dengan mereka yang tampil necis. Bahkan tak jarang kami jadi tempat konsultasi beberapa junior, tempat mengerjakan tugas bersama, dan yang paling penting disinilah aku banyak bersentuhan dengan warna-warni pemikiran mahasiswa.
Dalam kehidupan manusia ini, banyak perbedaan yang terkadang berujung pada konflik dan kesenjangan. Pada saat manusia sedang konsentrasi untuk melihat perbedaan itu, maka itu dapat menjadi potensi benih-benih permusuhan. Perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Ada perbedaan yang dapat mengakurkan, tapi banyak perbedaan yang dapat menimbulkan perpecahan. Ada perbedaan yang memang harus diperdebatkan, tapi adapula perbedaan yang dapat dinikmati.

Pada dasarnya tak semua hal kami akur dikamar ini. Terkadang kami harus berbeda dalam beberapa hal. Tapi kami dapat diikat kembali dengan kesamaan yang unik ini. Tidak harus sama dalam poros dukungan politik, dalam agama, atau dalam identitas mencolok lainnya. Tapi sama dalam persoalan sederhanapun, jika kita sanggup memliharanya, dapat menciptakan keharmonisan.

Itulah kami yang menyebut diri “Dua Pallipa”, artinya dua orang yang selalu memakai sarung. “Lipa” adalah bahasa bugis yang berarti sarung.

Semoga ada manfaatnya.!

Makassar, 2008

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: