MEMOAR MERAH

imagesOleh: Muhlis H. Pasakai

Sekujur tubuhnya basah kuyup. Ia berusaha menarik kakinya menaiki anak tangga. Tangannya gemetaran sembari meraih sehelai sarung penghangat. Ia menggigil. Pipinya pucat pasi. Badannya yang kurus nyaris tak kuat lagi berdiri. Nafasnya tertahan tertatih-tatih.

Itu ayahku. Ia sakit. Ia belum pulih. Baru dua hari yang lalu ia beranjak dari pembaringannya. Sepekan dirawat sang mantri. Katanya tipes.

Ia baru saja di guyur hujan deras, padahal ia diminta istirahat dalam tempo yang lama. Aku tahu bagaimana sosok ayahku. Beberapa waktu terakhir, ia selalu mengeluh keletihan, tapi ia sangat bertanggung jawab terhadap keluargaku. Tak kenal lelah, ia menguras keringatnya untuk makan keluargaku, biaya sekolahku dan juga kakakku. Walaupun terkadang aku membantahnya, aku sangat iba melihatnya waktu itu.

Sehari setelah itu, ayahku telah tiada. Ia meninggalkan kami. Aku seperti baru dilahirkan. Dunia seakan baru terpampang dihadapanku. Sebagai anak laki-laki, ibu dan kakakku kini menaruh tanggung jawab besar di pundakku.

Semasa hidupnya, bersama kami, ayahku sudah banyak menderita. Dari migrasi, penjara, hingga pengucilan oleh keluarga kami sendiri. Walaupun ia berusaha menyembunyikan kesedihannya, aku juga tahu tatkala ia dicaci, diremehkan, atau dihujat.

Sejak kecil, aku selalu dimotivasi untuk belajar, agar tak senasib dengannya. Itulah kenapa ia bersikukuh menyekolahkanku, hingga ia harus menjadi buruh kemana-mana. Hingga menjelang akhir hayatnya, ia masih sempat membangun mimpi-mimpinya, menyebut-nyebut tetanggaku yang anaknya melanjutkan kuliah ke luar negeri. Ayahku terlanjur menaruh harapan besar padaku. Sayang, sebelum semua itu terwujud, ia telah pergi meninggalkan tumpukan harapannya.

***

Keluargaku hanya menggantungkan hidup dari sebidang tanah yang digarap musiman. Itupun sebelum perluasan jalan. Satu tahun kemudian, sisanya pun semakin sempit dikikis ketika ada proyek irigasi. Semua itu diambil oleh pemerintah secara cuma-cuma. Ganti rugi hanya diberikan kepada beberapa orang yang bersikeras. Setelah itu, ayahku terpaksa menjadi buruh untuk memenuhi kebutuhan keluargaku.

***

Ibuku menyekolahkan aku di Pesantren sepeninggal ayahku, sebab biaya pendidikan di Pesantren lebih murah dibanding sekolah umum. Di Pesantren aku banyak mendapat pelajaran berharga. Disana aku belajar bahasa Arab, ilmu nahwu, yang tidak didapatkan di sekolah-sekolah umum. Jujur, sejak pertama kali disini, aku sudah terpikat dengan suasananya, tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya. Di lingkungan pesantren aku bisa merasakan kehangatan, ustad-ustad seperti orang tuaku sendiri.

Kecintaanku pada dunia santri membuat prestasiku melaju kencang, tak tanggung-tanggung, waktu itu aku termasuk santri yang akan dikirim belajar ke Pesantren-Pesantren Modern. Kebahagiaan ini sanggup mengobati luka ibuku. Ia mulai banyak dibicarakan tetanggaku, soal prestasiku di Pesantren. Aku sangat terharu saat ibuku mengujungiku di Pondok, ia menceritakan pujian orang padanya, aku bahkan meneteskan air mata, sebab kebahagiaan ini tak sempat ikut dirasakan oleh ayahku.

Sepekan sebelum aku diberangkatkan ke salah satu Pondok Pesantren di Pulau Jawa, ibuku mengalami kecelakaan saat berbelanja untuk bekalku. Sebenarnya ustad sudah menyarankan untuk tidak memikirkan soal bekal, tapi maklumlah orang tua. Aku pun tidak ingin mengecewakannya. Keberangkatanku terpaksa ditunda, sebab luka ibuku parah, bahkan ia sempat dirawat di Ruang Intensif. Untuk menutupi biaya Rumah Sakit, aku berencana menjual sisa lahan peninggalan ayahku. Sebelumnya aku berusaha mencari keadilan, tapi saat saya bertandang ke kantor Polisi, para petugas hanya menatapku sinis, mungkin karena melihat jenggotku, atau celanaku yang tidak isbal. Salam yang kuucapkan pun tak dibalas, padahal setahu saya mereka adalah orang Islam. Saat saya menanyakan soal kecelakaan yang menimpa ibuku, tidak ada jawaban yang jelas, bahkan dijawab dengan intonasi suara yang kasar. Akhirnya aku berputus asa.

AlhamduliLLAH, segala puji bagi ALLAH. Sebelum ibuku diizinkan keluar, biaya Rumah Sakit telah dilunasi oleh ustad-ustad di Pesantren.

Dikemudian hari, akhirnya kuketahui bahwa pelaku penabrakan ibuku adalah anak seorang perwira Polisi. Pantaslah dilindungi oleh institusinya.

Kini ibuku cacat, kaki kirinya tak lagi normal, ia harus berjalan menggunakan tongkat atau dipapah oleh kakakku. Aku tak tega meninggalkan mereka. Akhirnya kuutarakan pada ustad-ustad di Pesantren untuk membatalkan keberangkatanku. Mereka pun sangat mendukung keputusanku, dengan dalil-dalil birrul walidain.

***

Aku melanjutkan kuliah setelah mengabdi satu tahun di Pesantren.

Walaupun dengan penampilanku yang sedikit berbeda, dengan cepat aku akrab dengan mahasiswa baru lainnya.

Menjadi mahasiswa memang rasanya berbeda, cara berpikir sangat dinamis. Walaupun bersentuhan dengan berbagai pemikiran di berbagai lembaga mahasiswa, corak kepesantrenanku terlanjur mengakar kuat.

Aku sangat menikmati langgam kampus di semester pertama awal-awal kuliahku. Berbagai kegiatan kemahasiswaan kuikuti dengan semangat membukit.

Masa itu tak lama kunikmati. Menjelang akhir semester, ujian kembali menimpa keluargaku. Kakakku menjadi korban perkosaan kelompok preman yang melibatkan oknum petugas. Akibat tekanan yang berat, ia membunuh dirinya dengan gantung diri dalam kamar. Tak lama setelah itu, ibuku pun menyusulnya. Kesengsaraan membuatnya tak berselera makan, hingga tubuhnya kurus tersisa tulang-belulang, sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.

Kini aku sebatang kara. Para ustad yang dahulu dekat denganku di Pesantren juga satu per satu melanjutkan pendidikannya ke Timur Tengah.

Berhari-hari aku tidak masuk kuliah untuk menuntut keadilan atas pelaku pemerkosaan kakakku, tapi hasilnya tak ada sama sekali. Setiap kali aku mengunjungi lembaga hukum, aku hanya di pingpong kesana kemari. “Sementara dilakukan penyidikan!”, itulah jawaban yang selalu disajikan padaku, entah sampai berapa lama. Sampai aku merasa tak kuasa lagi, aku menjadi pesimis terhadap penegakan hukum di negeri ini.

Peristiwa ini sekaligus mengacak-acak kearifanku. Dahulu aku selalu menatap persoalan dengan teduh, penuh pertimbangan, dan sangat toleran. Kini, peristiwa yang baru saja mengorbankan keluargaku yang tersisa, seakan mengaduk-aduk seluruh maklumat yang ada dikepalaku.

***

Rasanya penindasan sudah terlalu banyak kualami, mulai dari pengambilan tanah pencaharian keluargaku yang sewenang-wenang oleh pemerintah setempat, kasus salah tangkap ayahku, perlindungan aparat kepolisian terhadap pelaku penabrakan ibuku, hingga ketak seriusan aparat hukum atas kasus pemerkosaan kakakku. Semua ini terakumulasi membuat darahku mendidih. Bagiku, negara hanya hadir ketika membayar pajak, sweeping, dan operasi penertiban. Selebihnya, kesejahteraan rakyat dan equality before the law hanya menjadi slogan di pasar politik.

Jalan ini kutempuh bukan karena ideologi. Semua ini adalah puncak dari kekecewaanku terhadap negara. Tatkala suara tak lagi didengarkan, gerakan mahasiswa tidak murni lagi, begitu juga NGO. Inilah jalan yang paling sakti untuk melampiaskan kegeraman.

Tulisan ini kurangkai mengingat jiwaku yang terancam akhir-akhir ini. Jika aku ditakdirkan meninggalkan dunia ini, semoga tulisan ini dapat menyentuh hati semua orang. Pada dasarnya aku bukanlah orang keras seperti yang kalian sangkakan. Jangan pernah salahkan Pesantren, karena aku tidak pernah dididik jadi orang keras di Pesantren, tapi negara yang mengajariku seperti ini.

Akhirnya, kuucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada siapapun yang telah merasakan ekses dari tindakan kami.

———————————————————————————————————————-

Berlinangan air mataku, bercampur sedih dan iba, saat membaca tulisannya hingga akhir. Ia tak sekedar sahabatku, bahkan lebih dari saudaraku sendiri. Sejak hari pertama kuliah, kami sudah akrab. Dia manusia terikhlas yang pernah kukenal. Sabar, peduli dan ramah. Hampir setiap hari ia menyempatkan diri menyapaku di kost, entah mengerjakan tugas atau sekedar ngobrol dan bercanda. Ia juga orang yang cerdas, bahkan penerima beberapa program beasiswa dan memenangkan berbagai lomba karya tulis ilmiah. Ia juga dikenal sebagai aktivis. Pantaslah, di kampus, kami tercengang saat mendengar, apalagi menyaksikan beritanya di media. Satu tahun terakhir ini ia memang mengalami perubahan drastis, jarang ditemui di kampus.

Satu pekan yang lalu, berselang beberapa bulan lamanya, ia tiba-tiba menemuiku di kamar kost. Kami sempat bercanda, walaupun sepertinya ia kelelahan. Tak seperti biasanya ia berlama-lama, padahal aku belum sempat menanyakan soal perubahannya akhir-akhir ini, sekaligus menanyakan aktifitas dan dominsilinya. Ia hanya menitip rangselnya, rangsel berumur tua yang menjadi andalannya itu. Aku sempat bertanya dalam hati, tak biasanya keluar tanpa rangsel. Saat kutanya, ia hanya tersenyum dan menjawab “aku ingin pulang kampung, menikmati keindahan yang esensi”. Mendengar jawaban itu, aku tak banyak bertanya, seperti biasa, bahasanya selalu dihemat dengan kepadatan makna. Entahlah apa maksudnya, yang pasti aku meyakini ia akan pulang kampung. Sebenarnya, aku masih ingin sekali bersamanya. Aku ingin bertanya, dan membantunya jika ia ada masalah. Aku tulus ingin ikut merasakan apa yang sedang dialaminya. Rasanya, orang sepertinya, aku rela berkorban. Betapa tidak, sudah dua tahun lebih kami bersama, tak pernah aku mendengar darinya sepatah kata yang kasar, marah, atau menampakkan hasad dan kebencian, sebaliknya ia tak pernah mengeluh, ringan tangan, mudah berempati, bahkan tak jarang ia mengorbankan barang pribadinya untuk membantu kebutuhan teman kami yang mendesak. Sayang, satu tahun terakhir ini ia tak lagi bersama kami, entah dimana, dan apa yang sedang dilakoninya.

***

Sebelum aku dan rumah kostku ikut digeledah, rangsel titipan itu telah kuungsikan kerumah pamanku.

Setelah peristiwa itu, aku merasa trauma dan tertekan. Untuk mengobati suasana hati dan pikiranku, akhir pekan kuhabiskan dikampung halaman. Tak terlupa, rangsel angker itu ikut kuamankan.

Tadi sore, aku memberanikan diri menyentuh tas itu. Sedih bercampur takut, dan ngeri membayangkan sosoknya yang kusaksikan di tv. Perlahan aku membukanya, kutemukan beberapa lembar buku tebal. Tak heran, sebab selama bersamanya, sahabatku ini memang kutu buku. Yang menarik perhatianku, selembar buku catatan bersampul merah kusam. Entah apa isinya, gemetar rasanya jemariku untuk menyentuhnya, sebab darahnya masih terbayang semerah sampul buku itu, namun rasa penasaranku melebihi kesadisan yang menimpanya.

Itulah penggalan kisahnya, yang kutemukan dalam catatan hariannya, beberapa hari setelah tewasnya diberondong peluru densus anti teror. Selamat jalan kawan..!, engkau meninggalkan kami dengan menyandang status “teroris”.

Sinjai, 17 Agustus 2013 Miladiyah

Cerpen ini dilombakan pada Obor Award 2013

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: