Pesan Hati-hati Dibalik Sebuah NIP

syirikOleh: Muhlis H. Pasakai

Perjalanan hidup seorang anak manusia berawal dari sebuah cita-cita, angan-angan dan segenap impian dipeluknya erat-erat.

Fase kehidupan yang panjang melewati masa transisi yang beragam. Tak sedikit yang menggugurkan cita-cita masa kecilnya, karena melihat dunia luar yang keras.

Melompat jauh ke alam kekinian. Manusia tumbuh seiring perubahan sosial. Dari sebuah masa dapat berbeda dengan masa kini. Dari cara pandang hingga kebutuhan-kebutuhan praktis dapat mengalami pergeseran. Manusia dituntut lentur mengalir diatas kontur sosial yang dinamis.

Seiring dinamika kehidupan manusia, seluruh aspek kehidupan dipaksa terseret oleh arus perubahan. Namun tidak semua sisi kehidupan harus mengalir menuju hilir, sebab ada tonggak-tonggak asas yang tetap menancapkan kekuatannya.

Ada sebuah fenomena sosial yang menarik untuk diamati. Sebuah gelombang pemujaan terhadap profesi. Di seluruh lapisan masyarakat saat ini mendambakan profesi PNS (Pegawai Negeri Sipil). Tak ada salahnya memang memilih karir sebagai abdi negara, namun kerangka mindset dan kultur pencapaiannya yang menurut penulis harus detelaah secara proporsional.

Alasan yang mendominasi adalah jaminan masa tua (pensiun). Paradigma pun membaja, seorang pelajar dianggap telah berhasil setelah menyandang sederet nomor dibawah namanya (NIP). Bahkan ada yang radikal mensugesti perspektifnya melalui pernyataan “kehidupan belum aman sebelum menjadi PNS”, ketakutan akan masa depan akan terus menghantui sebelum berstatus sebagai PNS.

Taraf kehidupan ekonomi dapat didongkrak dengan kemudahan transaksi finansial, ngutang di bank dapat menjadi solusi untuk sebuah kebutuhan besar, yang pembayarannya tidak perlu membebani pikiran karena gaji mengalir tiap bulan. Pakaian rapi dan sepatu kinclong, kendaraan mewah, asesori dan atribut necis adalah daya tarik bergengsi lainnya. Seorang PNS secara otomatis memiliki status sosial ditengah-tengah masyarakat, kebanggaan ditengah-tengah keluarga.

Inilah yang menginspirasi orang nekat menempuh segala cara demi menjadi PNS. Orang rela meninggalkan kampung halaman, migrasi demi mencari sebuah NIP. Orang rela menyogok asal dijamin terangkat menjadi PNS.

Fenomena yang tak kalah menariknya, akibat seseorang tidak berprofesi sebagai PNS terkadang lamarannya ditolak. Begitupula diantara orang tua dari pihak laki-laki yang memberikan syarat kepada anaknya untuk menikahi perempuan yang berstatus PNS. Betapa kuatnya pengaruh PNS dalam kehidupan seseorang.

Orang-orang pun berlomba-lomba untuk menjadi PNS, sebab 1001 harapan dibalik sebuah NIP. Tidak jarang orang menjadi stres, sebab perjalanan pengabdiannya tidak menemui titik cerah menjadi seorang PNS. Itulah karena bakti yang diberikannya sebagai tenaga honorer atau sukarela misalnya semata-mata untuk menebus impiannya menjadi seorang pegawai negeri sipil, harapan yang terlalu besar itu seakan-akan membuat hidupnya akan bermasalah jika tidak terangkat menjadi PNS. Itulah sebabnya kenyataan ketika gagal terasa sulit diterima, karena daya adiktif menjadi PNS yang berlebih.

Ketergantungan inilah yang harus diwaspadai. Seakan-akan rezeki ditentukan oleh NIP, seakan-akan kehidupan mendatang susah senang tergantung pada status PNS. Ketika kita bertanya, semua orang menolak untuk mengakui hal itu, tapi pandangan itu dapat menyusup dengan lembut dalam alam pemikiran kita. Paradigma yang sedemikian parah ini dapat menggiring pada kesyirikan dan kekufuran, sebab kesyirikan bukan hanya dalam hal ritual ibadah tapi juga dalam soal pemikiran1.

Jika kita melihat pejabat yang korup di negeri ini, atau pelayanan yang tidak profesional oleh aparatur negara, atau tingginya tingkat pengangguran boleh jadi salah satu sebabnya berangkat dari persoalan paradigma ini.

Manusia boleh fleksibel terhadap berbagai dinamisasi kehidupan, tapi persoalan mendasar dalam perkara aqidah jangan ikut digadaikan. Itulah maksud paragraf 4 diatas.

Allahu A’lam Bisshowab..

Sinjai, Ramadhan 1434 H./ Agustus 2013 Miladiyah

1Baca “Pembaruan Islam dan Orientalisme dalam Sorotan”, Daud Rasyid, Akbar, cet. Pertama, 2002, hal.2.

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: