MUTIARA HARGA CAKAR; Potret Murahnya Harga Sebuah Kecantikan

financial_stressOleh: Muhlis H. Pasakai

Cepetan…ikut gak.?

Iya entar, tunggu..tunggu..

Lama banget sih dandannya.!”

Iya dong, biar cowo-cowo pada naksir”

Hemm..jeans baru ya.?, singset banget”

Iya iyalah, hari gini pake rok, mau dilirik siapa?”

Inilah petikan percakapan fiksi yang merefleksikan gejala sosial keremajaan yang sedang meluncur menuju lembah kegelapan.

Gairah di usia remaja memang sedang mendidih untuk meluapkan perasaannya. Semua bentuk keindahannya akan dieksploitasi untuk memperkokoh identitas femininnya. Mereka yang enggan dibatasi oleh norma agama akan membengkak menumpahkan ekpresinya. Disambut oleh modernisasi yang melesat cepat mengendalikan corak aktualisasinya. Hak Asasi Manusia membentuk payung tempat mereka bernaung. Nilai-nilai sosial yang permisif meningkatkan imunitasnya dari sorotan spiritual. Nilai-nilai agama menjadi ompong tak bernyali, ditinggalkan dan dicampakkan bak rongsokan sampah.

Gayung bersambut. Langgam sosial yang alergi terhadap kaidah-kaidah agama akan menumbuh suburkan kebebasan. Otomatis, kehidupan yang serba bebas menjadi rentan terhadap penetrasi heterogenitas budaya asing. Nilai-nilai lokal yang kontra terhadap arus kebebasan ini terus ditekan untuk disingkirkan dari gelanggang interaksi sosial. Kebebasan serta-merta menjamur menjangkiti seluruh klaster kehidupan masyarakat. Dalih kebebasan semakin menguat seiring distorsi intelektual, seakan kebebasan berpikir menjadi ciri tradisi ‘ilmiah.

Gaya hidup merupakan salah satu sasaran empuk pembusukan nilai-nilai kebebasan. Bebas bergaul, bebas berbusana, dan bebas berekspresi. Generasi yang masih labil menjadi latah dan menganggap tidak ada masalah dengan penampilannya. Tren yang berkembang justru semakin menguatkan pendiriannya. Melalui media yang sarat muatan selebritas, mereka didikte untuk berpenampilan gaya artis. Apa yang menjadi style mutakhir para selebriti, kesitulah kecondongan mereka untuk mereplika mode serta gaya busananya.

Pemandangan menjadi rimbun dengan para dara yang menyuguhkan kemolekan fisiknya. Mulai dari rambut yang terurai indah, lekuk tubuh yang sintal, hingga kemerduan suara yang menggoda. Mereka terinspirasi untuk mempertontonkan jati dirinya yang ayu sebagai seorang wanita. Mereka menganggap seperti itulah perwujudan eksistensinya sebagai makhluk yang diciptakan dengan kodrat feminin. 

Saudariku…

Mari kita jedah sejenak. Sudah mantapkah kita untuk berpenampilan seperti ini?, mengikuti busana sensual para selebriti, mengeksplor kecantikan-kecantikan yang ada pada diri kita untuk dipamerkan pada etalase ruang publik, untuk dinikmati oleh siapa saja. Agar kita merasa puas membuat ngiler para lelaki.

Mari kita jedah sejenak. Yang manakah yang kita sebut menjajakan kehormatannya?. Apakah mereka yang disebut WTS, PSK, dan sejenisnya?. Kehormatan yang manakah yang kita maksud?. Apakah kehormatan itu terletak pada “bagian tertentu” dari tubuh yang dijajakan para perempuan jalang?. Jika iya, betapa kaum perempuan itu miskin kehormatan, jika kehormatannya hanya sebatas area itu. Apakah kita mengira perzinahan itu hanya terjadi pada seorang pelacur?, padahal sekedar…

Seorang perempuan yang mengenakan wewangian lalu melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka perempuan tersebut adalah seorang pelacur.” (HR. An Nasa’i, Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad).

Saudariku…

Sampai kapan kita begini?. Merawat tubuh dan wajah selembut-lembutnya, untuk selanjutnya ditampilkan secara murahan untuk disaksikan oleh mata semua orang. Untuk apa semua itu?. Untuk mencari pasangan cakep, kaya, idola, dsb.?. Jika iya, maka kelak yang berhasil engkau gaet akan menikahimu karena mencintai keindahan fisikmu. Lalu bagaimana jika fisikmu tak indah lagi?. Bersiaplah untuk menerima kadar cinta yang low level, disebabkan karena usiamu yang mulai menua, atau suamimu yang mulai jenuh dengan kecantikanmu. Itupun resiko paling minimal, fatalnya engkau akan dicampakkan. Itukah yang namanya cinta sejati?. Cinta yang engkau dapatkan dari hasil penjajakan keindahan tubuh dan kecantikan wajahmu.

Saudariku…

Seberapa besarkah cinta yang engkau persiapkan untuk suamimu kelak?. Orang yang sangat engkau cintai, yang akan memberimu anak dan kasih sayang. Sanggupkah engkau membayangkan betapa pengkhianatnya engkau terhadap suamimu. Engkau telah mengaku mencintainya, tapi engkau rela membagi haknya kepada orang lain. Jika engkau sungguh-sungguh mencintainya, maka dirimu adalah spesial untuk suamimu. Semua keindahan fisikmu seyogyanya engkau persembahkan hanya kepada suamimu tercinta. Tapi, jikalau sekujur keelokan tubuhmu telah dinikmati oleh mata orang lain, lalu yang mana lagi yang engkau spesialkan untuk suamimu. Jika engkau beralasan bahwa orang lain hanya dapat melihatnya sementara suamiku dapat menyentuhnya, maka engkau harus kembali ke bangku SD belajar tentang panca indera. Apakah engkau mengira kepuasan itu hanya terletak pada indera peraba?. Tidak saudariku, semua indera ini memiliki kepuasannya masing-masing, indera pengecap puas dengan kelezatan makanan, alat pencium puas dengan aroma yang wangi, pendengaran dengan untaian suara yang nyaman, peraba dengan tekstur yang lembut, dan mata dengan hal-hal yang indah dipandang. Jika keindahan tubuhmu dapat dinikmati oleh mata orang lain, lantunan suara merdumu dapat didengar orang lain, aroma parfum wangimu dapat dicium orang lain, lalu apa bedanya dengan suamimu?. Jika hanya urusan ranjang yang engkau sisakan untuk suamimu, betapa rendahnya kualitas cintamu.!

Saudariku…

Sebelum jauh terjerembab dalam jebakan-jebakan perspektif kebebasan, kami ingin mengajak untuk menengok kembali nilai-nilai yang selama ini kita anggap kadaluarsa. Sebelum terlalu jauh dihipnotis oleh paham kebebasan, ketahuilah bahwa pada dasarnya kebebasan itu tidaklah bebas dari nilai sama sekali. Jika saat ini kita menganggap diri kita bebas dari aturan-aturan agama yang melarang ini dan itu, maka betul kita tidak diatur lagi oleh agama tapi bukan berarti kita bebas, tapi justru terikat pada konsep yang lain, mungkin liberalisme, pluralisme, relativisme dan sebagainya. Jadi, kita tidak sedang bebas, hanya berpindah dari nilai ke nilai yang lain. Seperti inilah strategi sebuah ideologi untuk berkuasa terkadang berkedok kebebasan, padahal pada hakikatnya adalah sebuah penjajahan.

Saudariku…

Engkau adalah mutiara. Engkau adalah aset yang sangat berharga. Cara pandang yang berkembang untuk tampil dengan busana sensual adalah cara untuk menurunkan derajatmu laksana cakar yang diobral di pasar-pasar tradisional. Padahal sesungguhnya engkau tak layak berpenampilan rendahan seperti itu. Engkau adalah makhluk yang mulia, dari jenismulah diambil menjadi perhiasan dunia yang paling indah, “Dan dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholehah”(HR. Muslim). Disisi lain, kerusakan yang terjadi terhadap kaummu akan berakibat fatal, itulah sebabnya kita diingatkan,“Hati-hatilah pada dunia dan hati-hatilah pada wanita karena fitnah pertama bagi Bani Isroil adalah karena wanita.” (HR. Muslim), itu pulalah kenapa dalam Al Qur’an salah satu perbendaharaan dunia yang menjadi ujian bagi manusia adalah wanita, ia pun ditempatkan pada urutan pertama, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS. 3:14).

Saudariku…

Sebelum terlambat, mari segera berbenah. Mari kembali ke fitrah wanita yang terhormat, yang menjaga tubuhnya dari pandangan orang lain, (1).“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. (QS Al-Ahzab [33]: 59); (2).Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka…”(QS. An Nur: 30-31); (3).“Bahwa anak perempuan apabila telah cukup umurnya, maka mereka tidak boleh dilihat akan dia melainkan mukanya dan kedua telapak tangannya hingga pergelangan” (H.R. Abu Daud)”;(3) “Wahai Asma` sesungguhnya seorang wanita itu apabila telah baligh (haid) tidak boleh baginya untuk menampakkan tubuhnya kecuali ini dan ini (Rasulullah menunjuk muka dan telapak tangan).”(HR. Abu Dawud).Mari kita tinggalkan busana mini di tempat umum (jika bersama suaminya terserah). Jika engkau tak mengindahkannya, potensi kerusakan akan segera antre berdatangan, “Tidaklah kutinggalkan sepeninggalku godaan yang lebih berbahaya bagi kaum lelaki daripada (godaan) wanita.”(Muttafaq `Alaih), inilah kenapa kaum lelaki banyak berbuat senonoh, asusila, pelecehan, itu juga disebabkan karena bangsa kalian sendiri yang memantik, oleh karena itu salah satu tujuan menutup seluruh tubuh pada QS.Al Ahzab diatas adalah agar terhindar dari godaan, “Demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.” (QS Al-Ahzab [33]: 59). Selain itu, jika ditinjau dari berbagai aspek, masih banyak kerugian yang diakibatkan dari pakaian yang ketat.

Saudariku yang terhormat…

Sebelum kulit keriput, mata berkunang-kunang, dan jalan terseok-seok, mari kita berhitung dari sekarang sebelum kita menyesal, jangan menjadikan agama sekedar pelarian dimasa tua. Tak khawatirkah dengan hadis Nabi ShallaLLahu ‘Alaihi WaSallam, ..dan aku melihat ke dalam neraka maka aku menyaksikan kebanyakan penduduknya adalah wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim). Tak takutkah dengan ancaman,“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.”(HR. Muslim). 

Allahu A’lam.

Semoga Bermanfaat.!

Sinjai, Jumada at Tsani 1434 H./Mei 2013

(Tulisan ini adalah pesanan salah seorang sahabat. Beliau merasa bertanggung jawab melihat gaya busana kaum wanita disekitarnya. Berprofesi sebagai pedagang, ia banyak berinteraksi dengan para wanita. Keinginan menyampaikan nasehat secara lisan terasa berat baginya. Oleh karena itu, beliau meminta penulis untuk menyusun artikel sederhana ini untuk dicetak dan ia bagikan kepada orang yang menurutnya tepat sebagai sasaran tulisan ini)

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: