Cinta Pertama dan Misteri Kemah Berjalan

images (2)Oleh: Muhlis H. Pasakai

Dua belas digit angka itu telah kuhafal mati. Kuulang-ulang dengan cermat kukira salah tindis.

“The number you‘re calling is not active or out of coverage area, please try again in a few minutes”.

Akun jejaring sosialmu pun tak ada lagi yang dapat diakses. Kucari semua ejaan serupa, tak ada lagi namamu.

Gelap menyelimuti ruang-ruang dihatiku. Kucari titik cerah engkau masih setia. Aku berusaha tegar menanti kabarmu. Bayangmu kini lebih nyata, kerinduanku kutumpahkan pada sejumlah halaman album kecil, foto-foto yang kau hadiahkan sehari sebelum berangkat.

Aku serius dengan ikrar yang kau pecahkan dibibirmu. Kau setia dipenantian yang panjang.

 

Bait-bait suci yang membisu didadaku, telah kulafazkan dengan indah padamu. Ungkapan yang membuat telingaku memerah waktu itu. Senyummu tak seperti biasa, sebentar saja, engkau serius. Taut matamu meluluhkan seluruh nyaliku, aku lupa apakah aku bernafas waktu itu, aku tak sanggup melukiskan peristiwanya. Jantungku berdegup kencang, rongga dadaku seakan dibuat ambruk, saat kau membalas dengan ungkapan serupa.

*

Clara, terlalu cepat engkau berlalu. Aku masih ingin melihat senyum di bibirmu yang merona, pipimu yang putih kemerah-merahan, serta bola matamu yang indah berbinar. Khayalku masih terpaut pada tempat dudukmu, tatkala memasuki laboratorium, tempat pertama kali kau melempar senyum padaku, yang membuat tempat tidurku lusuh malam itu.

Apa boleh buat. Ketika ayahmu dipindah tugaskan, aku harus rela melepas kepergianmu. Engkau membisikkan pesan setia ditelingaku, aku menyimpan aroma nafasmu. Butiran air matamu jatuh diatas lengkungan pipimu yang sintal, isyarat yang kuterjemahkan engkau serius dengan ucapanmu.

Semenjak kepergianmu, masih kurasakan getaran nada suaramu yang indah, hembusan nafasmu yang lembut dan pesan singkatmu yang menggoda. Tak lupa, pesan khasmu, seperti juga dahulu, engkau selalu mengingatkan waktu shalatku. Walau pernah kudengar, katanya itu strategi pemurtadan, tapi aku tak peduli. Kita memang berbeda, ayahku pasti geram, jika tahu hubungan asmaraku dengan seorang kristiani.

*

Kini engkau semakin jauh, angin pun tak kunjung mengantar kabarmu. Semua kenangan membisu, menyisakan sayu, saat rayuanmu masih terngiang, lewat ponsel tua hadiah pamanku. Kutatap ulang, namamu persis di nomor kontak itu, angka-angkanya tak ada yang berubah. Hampir sebulan kuulang-ulang, hingga akhirnya aku putus asa. Tumpukan prasangka baikku berguguran satu per satu. Pikiran buruk mulai menghantui perasaanku, mengutak-atik kalimat setiamu yang kupeluk erat-erat.

Kerinduanku semakin membuncah, ia seperti meremukkan kearifan di lubuk hatiku. Punah sudah asa yang tersisa, dirimu tinggalah masa lalu. Kuputuskan mencari sosokmu pada diri wanita lain, dari satu wanita ke wanita yang lainnya. Untaian kata-kata cinta kumuntahkan dengan hebat. Hingga melepas usia SMA, pencarian itu hanya menemukan gadis-gadis hampa.

*

Aku berharap sosok Clara yang lebih nyata dapat kutemukan dikampus. Aku menjelajahi lorong-lorong hati para mahasiswi. Tak kutemukan jejak-jejak Clara disepanjang pengembaraan itu.

Menjelang akhir semester tahun pertama, Clara yang kukenal dahulu semakin fiktif. Tak seorang pun dikampus ini yang sanggup kureplika, kucocok-cocokkan menjadi dirinya. Hatiku, cintaku, perasaanku, dan segenap jiwaku terlanjur direnggut oleh dirinya yang asli. Frustasi sempat menggerogoti hari-hariku, sebelum kucoba bangkit menatap ruang lain dihidupku.

Menjadi mahasiswa serba agresif. Mimbar kebebasan berekspresi terbuka lebar-lebar. Orientasi berpikirku mulai berubah, saat bersentuhan dengan organisasi-organisasi mahasiswa. Sebuah pemandangan baru menawarkan aktualisasi yang bercita rasa elit, bergumul dalam wacana intelektual.

Aku mulai disibukkan dengan diskusi-diskusi pelik. Aku menenggelamkan diriku pada lautan pemikiran barat. Sejenak lembaran-lembaran masa laluku dengan Clara dapat kulupakan, walau bias-bias nostalgia tak pernah kering dari ingatanku. Bayang-bayang romantisnya terlanjur menjulang kokoh di sanubariku.

Sejak rajin mengikuti diskusi-diskusi yang diselenggarakan sebuah institusi liberal, pikiranku sangat kritis terhadap dogma-dogma dan teks-teks literal agama. Pernyataan-pernyataan miring yang sering kuhembuskan kerap kali mengusik kelompok-kelompok kajian Islamis di kampus. Aku banyak menantang mereka yang bergabung dalam halaqah-halaqah tarbiyah, setelah banyak melahap maklumat sekuler karya-karya monumental seperti Farag Fouda, Thaha Husain, Riffat Hasan, Fatima Mernissi, hingga produk lokal Harun Nasution dan Nurcholis madjid. Puncaknya pada sebuah forum diskusi di ruang kuliah, materi yang disajikan seorang penulis makalah kubantai sejadi-jadinya, terkhusus pada persoalan busana yang membungkus seluruh tubuhnya, kecuali kedua mata dan telapak tangannya, yang kusebut kemah berjalan, disambut tawa yang menghabisi percaya dirinya. Argumentasi dalil-dalil agama yang semula ngotot dipertahankan, kesucian dokumen agama itu dikubur oleh suaraku yang lantang disertai logika yang memukau. Terakhir kulihat ia meneteskan air mata, simbol perlawanan sejati seorang perempuan. Aku terpaksa mencukupkan perdebatan itu, kebeningan air matanya yang menetes lembut sangat menyentuh perasaanku.

Pagi-pagi aku bergegas kekampus, semua tulisan di mading sepanjang selasar kubaca sepintas. Kurekam kata-katanya yang unik-unik, mading anak-anak teater. Langkah cepat kuperlambat, saat didepanku judul-judul tulisan menarik, sebuah mading LDK (Lembaga Dakwah Kampus), mataku terpaku pada sebuah tulisan panjang, berjudul “Liberalisasi Islam di Mimbar Akademik dalam Sorotan”. Kritik tajam dalam tulisan itu melumat habis-habisan semua pernyataan yang kulontarkan di forum diskusi kemarin. Tulisan itu sangat ‘ilmiah, sejumlah kitab-kitab klasik menjadi rujukannya. Bagian akhir tertera nama penulis, Musdalifah, mahasiswa yang kupermalukan di ruang kuliah kemarin. Aku segera mengacak-acak rangselku, mencari alat tulis yang bisa kugunakan mencatat referensi tulisan itu.

Aku berlari menuju perpustakaan, sederet buku-buku tebal yang ada dalam catatanku ada disana. Halaman-halaman penting kutelaah baik-baik.

Pikiranku menjadi bimbang, kerangka berpikirku diaduk-aduk oleh karangan para ulama salafusshaleh. Aku tertarik pada sebuah referensi di daftar pustaka salah satu buku itu, Kitabur Raddi Alal Mantiqiyyin, sebuah kitab yang ditulis Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah untuk menghancurkan filsafat Aristoteles.

Melalui bantuan seorang teman yang memiliki kemampuan membaca kitab kuning, akhirnya kitab itu kutemukan disebuah Ma’had ‘Aliy. Ia pula yang mengajariku membacanya dan memahami maksudnya. Bermula dari situlah akhirnya aku diajak bergabung dalam kelompok tarbiyah, kelompok kajian yang dahulu sangat kubenci. Di kelompok kajian yang tingkatannya disebut marhalah ta’rifiyah atau pemula inilah aku banyak menemukan pelajaran-pelajaran berharga. Aku baru sadar, banyak hal-hal mendasar yang belum kupahami dalam agama ini.

*

Setelah melalui etape perjalanan akademik yang melelahkan, akhirnya aku finis tahun ini. Tumpukan teori yang bikin kening berkerut akan menabrak pembuktian. Sejumlah masalah di negeri ini masih kusut. Para sarjana baru diharap dapat menarik benang merahnya. Memintalnya menjadi lebih apik.

Wisuda bulan lalu rasanya sangat sakral, selain puncak pencapaian akademik, sekaligus pesta perpisahan, tak sedikit air mata tumpah mewarnai momentum bersejarah itu. Kuhitung-hitung di kalender gregorian, empat tahun lebih telah kulalui di kota metropolitan. Pernak-pernik kehidupan sosial dan spiritual telah menempaku.

*

Sebelum terbang ke kampung halaman, hari ini kami akan mengambil kenangan akhir dikampus. Berpose bersama dan saling berbagi hadiah. Beberapa alumni lainnya juga berdatangan untuk berpamitan dengan para dosen dan birokrat kampus.

Hari ini aku juga mendapat bingkisan spesial yang dititip ke salah seorang temanku, katanya berisi buku-buku, untuk mensterilkan pemikiran liberalku yang tersisa. Katanya sih kenang-kenangan dari si kemah berjalan. Hehehe..

Saat kutinggalkan gedung rektorat, tiba-tiba terdengar suara dentuman keras dari depan gerbang kampus. Tak lama kemudian, dari sumber suara itu terlihat sesak oleh warga. Aku segera menghampiri kerumunan orang disiang terik itu. Seseorang mengalami kecelakaan. Kulihat tubuhnya yang bersimbah darah segera ditutupi. Terbujur kaku diatas aspal panas.

Musdalifah…Musdalifah…itu Musdalifah. Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Suara itu bersamaan memekik membekukan keramaian. Sekelompok perempuan bercadar menerobos petugas, memeluk dan mencium sang mayat.

Untuk menghindari kemacetan lalu lintas, mayat itu segera di evakuasi.

Belum hilang suara sirine mobil jenazah yang melaju kencang, tiba-tiba hpku berdering. Sebuah pesan singkat dengan nomor baru di inbox segera kubuka. Kulihat pesan terpending sekitar beberapa menit yang lalu.

Bismillah, Akhiy fillah…Msh ingatkh dgn Clara?.Gdis centil yg engkau knal di smp dlu.Ia m’mtuskn komunksi dgmu bkn krn ia tak cnta lg pdmu,tp ia memlhara ksucian cntax sblm halal utk direngkuh kehangatanx.

Stlh pndh k kota,beberp thn yg lalu ia diusir olh ortu & klrgx krn mningglkn agmax.Mnjdi muallaf dn m’gnti nmax mnjd Musdalifah.

Oya,smg buku kenang2n itu brmnfaat..!”

Tanganku gemetar, disusul bibirku. Keringat membasahi sekujur tubuhku.

Musdalifah, ia adalah Clara, perempuan bercadar, berhijab besar itu. Sebuah truk oleng menggilas tubuhnya, memisahkan sukma dari raganya. “Allahummagfirlahaa warhamhaa wa a’afihaa wa’fu’anhaa”.

Sinjai, September 2013

Cerpen Peserta LMCR 2013

 

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: