Sisi lain dari mesum, selingkuh atau skandal seks lainnya

Oleh: Muhlis H. Pasakaiimages (4)

Menjelang akhir tahun Miladiyah, sebentar lagi catatan sejarah akan diabadikan di sepanjang tahun 2013 ini. Mulai dari prestasi yang membanggakan hingga kasus-kasus memalukan yang membelit negeri ini.

Daftar pelanggaran hukum, kasus korupsi serta peristiwa-peristiwa ekonomi dan sosial politik lainnya boleh jadi mewarnai “catatan akhir tahun” itu. Jika perbuatan mesum dan kawan-kawannya masih dianggap sebagai perbuatan tercela, maka tidak boleh tidak ia juga harus turut ambil bagian sebagai peristiwa yang memalukan di negeri ini.

Sepanjang tahun 2013 ini, tidak sedikit kasus yang bernuansa skandal “cabul” yang dimuat di berbagai media. Mulai dari kabar yang menyeret figur hingga pelajar-pelajar lokal.

Gejala penyimpangan yang selalu menghantui ini tak pernah habisnya untuk dibicarakan. Mulai dari perjuangan konstitusional, sosialisasi hingga seminar-seminar dan demonstrasi telah tersentuh untuk membentuk ramuan penangkalnya.

Telah banyak terungkap latar belakang terjadinya peristiwa senonoh itu berikut solusinya, dari aspek sosiologis hingga psikologis. Tulisan ini akan bercerita sedikit dari bagian ini, yang mungkin tidak mendapat tempat yang banyak untuk dibicarakan. Apa itu?

Setiap manusia yang normal, pasti memiliki hasrat seksualitas terhadap lawan jenisnya. Bukan ini masalahnya, karena justru yang bermasalah ketika ia tidak berhasrat. Bukan pula ketika disalurkan secara sah atau halal. Tapi masalahnya ketika hasrat itu dipoles oleh “keindahan sebuah tantangan”.

Tulisan ini boleh jadi tidak bernilai apa-apa karena tidak didukung hasil penelitian yang memadai. Tapi penulis akan berusaha menyajikan secara sederhana dan menarik untuk ditelaah lebih lanjut.

Manusia selain hidup dengan pola kebiasaan, manusia juga dilengkapi dengan daya kreasi yang selalu ingin mencari dan berekspresi di luar sesuatu yang biasa-biasa itu. Potensi ini sangat cemerlang jika dikanalisasi pada hal-hal yang positif (kecuali dalam perkara syariat Islam yang sudah paten bukan tempatnya berkreasi).

Simak baik-baik. Ada perilaku manusia yang harus dicermati-jika ini benar-, yaitu dorongan merasa hebat jika melanggar norma-norma yang ada, sebab dibalik pelanggaran itulah sesuatu yang diluar biasa-biasa itu dapat dicapai.

Hasrat yang unik untuk menerobos tembok normatif itu memainkan irama lewat naluri manusia yang berdaya seni. Ungkapan “tidak ada seninya” mungkin adalah representasi mini dari hal ini. Sebagai contoh kecil, pengalaman masa lalu penulis dimasa-masa kenakalan remaja, tatkala membolos dari sekolah rasanya tak berseni jika tidak “main kejar-kejaran” dengan guru.

Dorongan nafsu untuk berselingkuh atau mesum dapat saja dipengaruhi oleh fantasi seni untuk menikmati cita rasa yang “menantang”, yaitu merasa sukses melakukan sesuatu yang orang lain tidak dapat dan takut melakukannya. Menikmati sesuatu dibawah tekanan itulah diproduksi menjadi nilai seni yang menantang dalam mewujudkan imajinasi seni seksualitasnya. Walaupun penulis belum menemukan kasus yang persis dalam kitab-kitab tafsir, namun penulis berani mengatakan perasaan seperti ini adalah bagian yang diikrarkan oleh iblis dalam Qur’an surah al-Hijr ayat 39: لأزينن لهم في الﻷرض Pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) dimuka bumi”1. Keindahan dan nilai seni dapat menjadi strategi jitu yang dilancarkan iblis untuk mewujudkan lanjutan ikrarnya ولأغوينهم أجمعين Dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya”2

Dari kasus ini dapat disimpulkan bahwa semua yang dilarang oleh norma agama (Syariat Islam), Syaithon sebagai عدوٌ مبين akan selalu menggombal manusia condong kepadanya, salah satunya melalui perasaan-perasaan yang memiliki cita rasa dan khas tersendiri untuk menikmati hal-hal yang dilarang oleh norma agama.

Jadi?. Walaupun tidak didukung data statistik untuk mengukuhkan gejala unik ini, tapi tulisan singkat ini dapat dicerna baik-baik agar manusia berhati-hati terhadap perasaan-perasaannya yang ingin menikmati sesuatu diluar daripada yang biasa-biasa (diluar yang halal) walaupun sangat indah memikat, karena dorongan itu adalah bentuk peng”indahan” oleh Iblis.

Tentu saja yang dimaksud dalam tulisan ini bukan pada areal lokalisasi, karena para penanti di tempat-tempat lokalisasi dapat dinikmati para pria hidung belang kapan saja tanpa ada rasa tekanan, karena seakan-akan praktek tersebut telah mendapat legalisasi dari pemerintah dan masyarakat (inilah akibat dari sebuah lokalisasi, dengan sendirinya perlahan akan menggiring perspektif bahwa perzinahan ada yang boleh dan ada yang tidak boleh).

Allahu Ta’ala A’lam

Semoga Bermanfaat.

Sinjai, 23 Muharram 1434 H./ 25 November 2013 Miladiyah

Footnote:

1Tafsir Ibnu Katsir Jilid 5 Hal. 123-124, al-Hafizh ‘Imaduddin Abul Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir al-Qurasyi ad-Dimasyqi, tahqiq Dr. Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh, terjemahan M. ‘Abdul Ghoffar E.M. Dan Abul Ihsan al-Atsari, Pustaka Imam asy- Syafi’i, Jakarta, cet.kelima, 2012 M.

2Ibid

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: