Ayam Penguasa

gambar-kartun-lucu-ayam-jantanOleh: Muhlis H. Pasakai

Sebagaimana bunyi hukum rimba, yang kuat dialah yang berkuasa. Nampaknya itulah yang sedang berlaku pada masyarakat ayam di bawah kolong rumahku.

Disini, suasana seperti itu biasa. Sebuah pemandangan natural yang dapat menjadi terapi kesehatan, khusunya bagi yang nafsu makannya sedang menurun. Di teras rumahku, makan sambil menghirup udara segar, dikelilingi pepohonan hijau nan rindang, tiupan angin pegunungan yang menyapa ramah, dan pemandangan alam yang indah nun jauh disana. Ditambah lagi, setiap menyantap makanan, suasana pasti menjadi meriah dengan irama suara ayam yang memperebutkan makanan yang jatuh. Stress, beban pemikiran dan pening-pening segera terlupakan saat menikmati suasana kampung yang sejuk di teras gubuk reokku.

Ada yang menarik sejak lama mengundang perhatianku, yaitu ketika makanan yang jatuh diperebutkan oleh hiruk pikuk bangsa ayam. Dimanapun, sebuah komunitas ayam pasti memiliki seekor penguasa. Ayam jantan yang menjadi penguasa itulah yang akan bertindak seenaknya pada ayam-ayam lainnya.

Yang menarik adalah karena kekuasaannya, ayam penguasa ini menjadi sibuk dan sepertinya tidak dapat menikmati makanan yang jatuh tersebut. Ketika makanan itu jatuh mengarah pada ayam yang lain, sang penguasa pun berlari untuk merebut makanan itu, namun dalam waktu yang hampir bersamaan makanan lain jatuh pada ayam yang lainnya lagi, sang penguasa itu pun berlari lagi untuk merebut makanan yang baru jatuh itu, walaupun makanan yang sedang dipatuknya masih banyak. Itulah yang terus terjadi pada sang ayam penguasa. Sebenarnya jumlah makanan yang jatuh pertama jumlahnya dapat mengenyangkannya, sekiranya sang penguasa itu konsentrasi untuk menghabisinya, tapi karena kekuasaannya melahirkan keserakahan untuk mencaplok semua makanan yang jatuh. Alhasil, makanan yang ditinggalkan dilahap oleh ayam yang lain. Ketika makanan lainnya lagi berjatuhan ditempat yang berbeda-beda, sang penguasa semakin sibuk kesana-kemari mematuk disemua tempat jatuhnya makanan itu, walaupun hanya sekali dua kali patukan. Akhirnya, ayam lain yang lebih fokus pada satu tempat lebih cepat kenyang dibanding sang ayam penguasa yang disibukkan mondar-mandir dengan maksud dapat merebut semua makanan yang jatuh.

Dari potret unik ini mencerminkan watak parasit yang selalu menginang pada sebuah kekuasaan, dapat berupa hasrat menindas, keserakahan, dan ambisi besar mempertahankan kekuasaannya.

Penulis ingin mengatakan bahwa pada dasarnya manusia yang normal selalu ingin memiliki dominasi (kekuasaan) atas manusia lainnya. Namun yang dapat menjadi pelajaran dari cerita singkat suku ayam ini adalah sebuah maklumat kecil, “kekuatan atau kekuasaan adalah sumber pelanggaran”. Orang berani melakukan pelanggaran karena memiliki dalih bercorak kekuatan atau kekuasaan. Sebagai contoh, seseorang berani melakukan pelanggaran lalu lintas karena mungkin bapaknya seorang petugas atau minimal keluarganya, atau ia merasa aman karena anak pejabat, atau paling minimal ia mengandalkan kekuatannya sebagai pembalap, walaupun cuma pembalap liar. Begitu pula dengan jenis pelanggaran-pelanggaran yang lain, dominasi motif kekuasaan sangat mewarnainya. Pembunuhan, pencurian, korupsi dan berbagai macam kejahatan dapat menjadi timbul dan lancar disebabkan karena bersandar pada dalil kekuasaan. Orang yang merasa dirinya bagian dari penguasa akan merasa pede untuk menindak dan berperilaku seenaknya. Mungkin berbeda dengan rakyat kecil, mereka sangat patuh terhadap aturan dan takut melakukan pelanggaran sekecil apapun karena tidak memiliki sandaran pembela sebagaimana orang-orang yang berada dalam lingkaran penguasa.

Gerombolan perampok dinilai sangat bengis ketika menghabisi nyawa korbannya. Tapi seorang penguasa yang dzalim dapat menyakiti bahkan membantai ratusan, ribuan sampai jutaan manusia.

Poin kedua, adalah berhati-hatilah terhadap kekuasaan yang dimiliki, sebab bisa jadi akan senasib dengan sang ayam penguasa yang merasa memiliki kekuasaan besar tapi dijajah oleh nafsu kekuasaan itu sendiri.

Semoga pelajaran singkat dari kisah sosial bangsa ternak, ayam ini dapat bermanfaat. Allahu A’lam.

Sinjai, Rabi’ at Tsani 1434 H./Maret 2013 Miladiyah

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: