Seorang Bapak

kartun-marah-2Oleh: Muhlis H. Pasakai

Beberapa hari yang lalu, sebuah pesan singkat kukirim kepada salah seorang sahabat lama. Menanyakan kabar serta aktivitasnya. Dalam komunikasi yang singkat itu, saat kutanya soal aktivitas mengajarnya, ia menginformasikan sebuah kabar buruk. Salah seorang diantara siswanya meninggal dunia secara tragis setelah mengakhiri hidupnya dengan meminum pestisida. Innaa liLLahi wa innaa IlaiHi Raaji’uun.

Berdasarkan informasi yang disampaikan, siswa tersebut bunuh diri disebabkan karena konflik yang terjadi antara dirinya dengan ayahnya.

Gejala sosio-psikologis yang timbul akibat hubungan antara seorang anak dengan bapaknya memang mungkin belum pernah mendapat perhatian khusus dalam tinjauan yang serius.

Betapa pun cintanya seorang bapak kepada anak-anaknya, mayoritas kasih sayang ibu masih tak tertandingi. Mungkin itulah kenapa dalam Islam, diperintahkan kepatuhan seorang anak kepada ibunya lebih dominan ketimbang bapaknya.

Dari Abu Hurairah Radiallahu ‘Anhu, ia berkata, “Telah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam lalu ia berkata, ‘ Wahai Rasulullah, siapakah orang yang lebih utama untuk aku berbuat baik kepadanya?’, Rasulullah menjawab,’ibumu’. Dia berkata lagi, ‘kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab,’ibumu’. Dia bertanya lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu’. Dia bertanya lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Bapakmu’.” (Muttafaq ‘Alaih)1

Dalil ini sekaligus menunjukkan kepada para aktivis feminis yang selalu menyuarakan kesetaraan gender. Jika selama ini mereka terkadang menyebut dalil-dalil selalu mensubordinasikan kaum perempuan, maka hadits diatas jelas menunjukkan keutamaan seorang perempuan dibanding laki-laki.

Terkait buruknya hubungan antara seorang ayah dengan anaknya, penulis telah banyak mengoleksi kisah-kisah pilu yang berlatar belakang ketidak harmonisan hubungan tersebut, namun tulisan ini tidak bermaksud mengisahkan cerita itu, melainkan untuk mengajak kepada pembaca khusunya para ayah atau calon ayah untuk sekedar merenungi, melihat dan mempelajari kenyataan-kenyataan unik yang mungkin belum pernah mendapat porsi perhatian khusus.

Soal kasih sayang kepada anak, seorang bapak mungkin hampir menyerahkan sepenuhnya kepada buaian sang ibu. Seorang ayah mungkin hanya berfikir soal nafkah dan fungsi perlindungan. Kecintaan seorang bapak kepada sang buah hati ditumpahkan pada masa-masa lucu dan imutnya seorang anak, tetapi tidak lagi setelah beranjak remaja dan dewasa, apalagi setelah berkeluarga. Berbeda dengan seorang ibu, kasih sayangnya kepada anaknya bisa jadi dibuktikan seumur hidupnya. Itulah mungkin salah satu sebabnya kenapa hubungan seorang anak hingga masa-masa tua dengan ibunya jauh lebih intim ketimbang dengan ayahnya. Hubungan yang renggang antara anak dengan bapaknya ini terkadang lebih mudah terjadi pada seorang anak laki-laki.

Silahkan amati kondisi sosial di lingkungan sendiri…!. Bisa jadi kenyataan-kenyataan ini berbeda, tetapi inilah hasil pengamatan kecil penulis.  Allahu A’lam

Semoga bermanfaat.

Sinjai, 27 Dzulhijjah 1434 H./ 1 November 2013 Miladiyah

Footnote:


1    100 Hadis Populer Untuk Hafalan, Tim Dai Zulfah Saudi Arabia, Terjemahan Ahmad Shadri, Elba, Surabaya, Cet. Kesepuluh, 2012, Hal. 18.

About ubanpamungkas
Bugis Tondong Sinjai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: